gue gak tau artikel berikut udah ada yang posting belon, :D , kalo belon ya 
sukur deh, mudah-mudahan banyak rekan-rekan sedharma yang memforward ke 
milis-milis laen... 

Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula
orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti agama Islam.

Lantas, Ki Kalamwadi pun menjawab,
"Aku tidak mengerti.
Tetapi guru yang dapat dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa
meninggalkan agama Budha dan berganti memeluk agama Islam.
Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum tahu menjadi tahu."

Putri Campa
Pada zaman dulu Majapahit bernama Majalengka.
Majapahit hanyalah kiasan. Bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit
dianggap sebagai nama kerajaan.

Prabu Brawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa.
Ia menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam.
Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam.

Ketika sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama
itu.
Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa
kecuali kemuliaan agama Islam.

Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad.
Ia mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka.
Sang Prabu mengabulkan.
Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento-Surabaya.

Banyak ulama dari seberang datang ke Majalengka.
Menghadap sang prabu mohon izin tinggal di wilayah pesisir.
Permohonan itu dikabulkan.
Akhirnya berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.

Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam tinggal di daerah
Bonang, termasuk wilayah Tuban.
Sayid Kramat namanya.
Ia maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah.

Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya.
Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama
Budha dan memeluk agama Islam.
Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang
mengikuti ajaran Islam.

Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun.
Menyembah kepada Budi Hawa.
Budi adalah Dzat Tuhan.
Sedangkan Hawa adalah minat hati.

Manusia tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia hanya dapat melaksanakan.
Sedang yang menggerakkan semua ialah budi.

Raden Patah
Sang Prabu mempunyai seorang putra bernama Raden Patah.
Ia lahir di Palembang dari rahim seorang Putri Cina.
Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain
ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen ( Husein ).

Sang Prabu bingung memberi nama putranya.
Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di
pengunungan.
Dari jalur ibu disebut Kaotiang.
Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib.

Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan.
Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu
itu dinamakan Bambang.
Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya
lahir di tempat lain.
Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain.

Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama
Babah Patah.
Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cian dan Jawa disebut Babah.
Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk
menentangnya.

Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak.
Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat.
Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel.

Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak.
Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang.
Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam.
Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya
Pecattanda.

Ajaran Islam makin berkembang.
Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan.
Sunan artinya budi.
Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk.

Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin.
Pada waktu itu para ulama baik budinya.
Belum memiliki kehendak yang jelek.
Banyak yang mengurangi makan dan tidur.

Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut
Sunan.
Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.

Sunan Bonang
Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya.
Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai
Brantas yang meluap.

Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang.
Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat.
Sudah Islam atau masih beragama Budha.

Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan
Bandung Bondowoso.
Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka.
Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka.
Setiap hari itu, mereka bersama-sama makan enak dan bergembira ria.

Kata Sunan Bonang,
" Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah.
Artinya, tidak hitam, putih pun tidak.
Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah."

Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.

Perawan Tua
Hari terik.
Waktu sholat dhuhur tiba.

Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu.
Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah
satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk.
Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud.

Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah.
Tak terlihat laki-laki di sini.
Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun.

" Hai Gadis, aku minta air simpanan yang jernih dan bersih,"
kata sahabat itu.

Perawan itu terkejut.
Ia menoleh.
Dilihatnya seorang laki-laki.
Ia salah paham.
Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya.

Ia menjawab kasar :
" Kamu baru saja lewat sungai.
Mengapa minta air simpanan.
Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai
simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya."

Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit.
Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan.
Tiba di hadapan Sunan Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan.

Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam.
Keluarlah kata-kata keras.
Sunan menyabda tempat itu akan sulit air.

Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua.
Begitu juga dengan kaum jejakanya.
Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua.

Terkena ucapan Sunan Bonang, aliran sungai Brantas menyusut.
Aliran sungai berbelok arah.
Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun.

Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang.
Dan setelah itu kering seketika.
Sampai kini daerah Gedhah sulit air.

Perempuan-perempuannya menjadi perawan tua.
Begitu juga kaum laki-lakinya.
Mereka terlambat berumah tangga.

Demit
Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.
Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing.
Menempati sumur Tanjungtani yang sedang dikerumuni anak cucunya.

Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum
mahluk halus dan menonjolkan kesaktian.
Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang.
Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka
mengganggu lagi.

Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat
menemui Sunan Bonang.
Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan Bonang.
Badannya terasa panas seperti dibakar.

Setan-setan itu berhamburan.
Lari tunggang langgang.
Mereka lapor ke Kediri menemui rajanya.

Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis.
Buto Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha.
Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri.
Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama
negara.

Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya.
Buta sendiri artinya bodoh.
Lo bermakna kamu.
Dan Caya dapat dipercaya.
Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat
dipercaya.

Sebutan itu hampri menyerupai sebutan kyai, yang bermula dari Kyai Daha dan
Kyai Daka.
Kyai artinya melaksanakan tugas anak cucu dan orang di sekitarnya.
Kisah soal kyai ini bermula saat Sang Raja ke rumah Kyai Daka.

Sang Prabu dijamu Kyai Daka.
Sang Prabu suka dengan keramahan itu.
Nama Kyai Daka pun diminta untuk desa yang kemudian berganti Tunggulwulung.
Seterusnya ia diangkat menjadi panglima perang.

Ketika Prabu Jayabaya muksa ( mati bersama raganya hilang ) bersama Ni Mas
Ratu Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga iktu muksa.
Ni Mas kemudian menjadi ratu setan di Jawa.
Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Angin-Angin.

Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti kepada Ni
Mas Ratu Angin-Angin.
Buta Locaya menempati Selabale.
Sedangkan Kyai Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar
agar tidak merusak desa sekitar.

Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas
kasur babut dihias bulu merak.
Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Paji Sektidiguna dan
Panji Sarilaut.
Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis.

Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan
ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang.
Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para setan dan penduduk daerah itu.
Mendengar laporan Nyai Plencing Buta Locaya murga.

Tubuhnya bagaikan api.
Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang.
Para setan dan jin itu bersiap berangkat.
Lengkap dengan peralatan perang.

Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum.
Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai
Sumbre.
Sementara setan dan jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.

Kyai Sumbre berdiri di bawah pohon.
Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara.

Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan jin sedang
menghadang perjalanannya.
Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api.
Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh.
Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang.

Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan
hawa panas.
Dua sahabatnya pingsan dan demam.

Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Source : Posmo No. 2 - 25 Maret 1999

Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru.
Sunan Bonang dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedah
karena tidak jelas agamanya.

" Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak diberi.
Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air.
Sedangkan jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang
kuminai air itu perawan desa."

Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang.
Salah yang tak seberapa, apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi
penderitaannya dirasakan oleh banyak orang.
Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman berat karena
merusak daerah.

Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka.

Debat Soal Kebenaran
Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah.
Buta Locaya berkata masygul :
" Ucapan tuan bukan ucapan yang paham aturan negara.
Itu pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, mengandalkan
kesaktian.

Janganlah sombong.
Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu berbuat
sekehendak hati.
Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa sebab.

Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan, tapi
mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa.
Tuan akan dijauhi orang-orang baik budi bila tetap berbuat demikian.

Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil ?
Aji Saka menjadi raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa
seluruh sumber air di Medang.
Ia Hindu.Suka membuat sulit air.

Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak,
tetapi ternyata tidak demikian.
Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak tahan digoda anak
kecil.
Lekas naik darah.
Sunan apakah itu ?

Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat
kebajikan.
Tuan menyiksa orang tanpa dosa.
Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah menciptakan neraka jahanam.
Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di dalam air mendidih."

Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selam dengan manusia, tetapi hamba
masih memperhatikan nasib manusia.
Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan kepada keadaan semula.
Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba mohon untuk
mengembalikan.
Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba teluh supaya mati.
Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut Selatan."

Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya.
Ia berkata,
" Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku.
Aku hanya bisa membatasi saja.
Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti
semula."

Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya.
" Kembalikan sekarang juga.
Bila tidak, tuan akan hamba ikat."

" Sudah, jangan berbantah lagi.
Aku mohon diri akan berjalan ke timur.

Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang
sedang berkelahi.
Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di
daerah dan kesedihan manusia dengan setan.

Ku mohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya
menjadi asam.
Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam.

Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini
bernama Desa Sumbre.
Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."

Debat Soal Tuhan
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai.
Terkenal sampai kini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan
Kawanguran.
Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan
akal.

Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang
berkepala dua di bawah pohon Trenggulun.
Banyak buah trenggulun yang berserakan.
Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya.

Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin
bertambahlah kemarahannya.

" Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita.
Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan
mengetahui tekat para wanita Jawa.

Sunan Bonang pun berkata,
" Kau ini bangsa hantu.
Jadi kalau berani berdebat dengan manusia, namanya hantu yang sombong.

" Apa bedanya.
Tuan Sunan, saya ratu Hantu,"
kata Buta Locaya

Sunan Bonang berkata,
Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan kelak, bahwa aku berdua
debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.

Ki Kalamwadi berkata :
" Terkenal sampai kini, buah trenggulun bernama kentios karena ucapan Sunan
Bonang.
Semua itu menurut cerita guruku menurut cerita guruku bernama Raden Budi.

Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara.
Ketika menjelang salat asar, beliau akan bersiap salat.
Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba.

Sumur itu kemudian digulingkan.
Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk bersalat.
Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling."

Setelah salat, Sunan melanjutkan perjalanan.
Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon
dadap yang berbunga.
Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya.
Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang
berjatuhan.

Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan.
Patung itu berukuran sangat besar.
Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki.
Lingkar pinggulnya 10 kaki.
Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat.
Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya diludahi.

Buta Locaya marah lagi.
" Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan.
Kini menjadi jelek.
Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya.
Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?"

" Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi
sesaji dan diberi kemenyan.
Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin."

Kata Buta Locaya,
" Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya
dan berkuasa.
Bukan Tuhan, maka mereka layani.
Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah
dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia.

Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ?
Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum.
Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman.

Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh.
Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar.
Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia."

Sunan Bonang Khilaf
Buta Locaya berkata,
" Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ?
Mendapat wahyu agar pandai.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.

Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula,
mendapatkan wahyu mulia.
Dia pun pandai dan kaya ilmu.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.

Tuan perpedoman kitab, orang Jawa pun berpedoman petuah dari para
leluhurnya.
Sama-sama menghargai kabar, lebih baik menghargai kabar dari leluhur sendiri
dengan peninggalan masih bisa disaksikan.

Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup.
Tanah berpasir murah air.
Apa saja ditanam dapat tumbuh.

Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya.
Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya.
Silakan tuan ukur.
Seandainya tidak benar, pukullah.

Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya.
Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi ?
Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini.

Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud.
Tuan akan kami keroyok.
Dapatkah tuan menang ?

Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ?
Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba ?
Mari ke Selabale menjadi murid hamba."

Sunan Bonang :
" Tak sudi mengikuti kata-katamu.
Kau hantu brekasaan."

Buta Locaya berkata,
" Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja.
Abadi selamanya.
Tuan belum tentu seperti hamba.

Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya.
Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan menentang adat, menentang
agama, merusak kebaikan, mengganggu agama leluhur.
Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado."

Sunan Bonang tak menggubris.
Ia berkata :
" Dadap ini bunganya kunamai celung, buahnya bernama kledung, karena aku
kecelung ( sesat ) pemikiran dan salah bicara.
Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan
pemikiran.
[ Sampai kini buah dadap bernama kledung, bunganya bernama celung.]
Sudah, aku akan pulang ke Bonang."

Buta Locaya berkata,
" Ya sudah, silakan tuan pergi.
Di sini tak ayal akan membikin panas.
Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan, menyebabkan mahal air,
dan mengurangi air."

Tak Setuju Serbu Majapahit, Syech Siti Jenar Dibunuh
Posmo No. 3 - 1 April 1999

Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang Patih tentang adanya
surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi
kerusakan di wilaya itu akibat ulah Sunan Bonang.
Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya.

Setelah tiba, Sang Patih melaporkan semua yang telah terjadi.
Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu
kemana.
Berikut babak lanjutan dari Serat Darmogandhul.

Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di
Pulau Jawa pergi.
Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan
meyebarkan agama Islam.
Apabila menolak akan dibunuh.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Patihnya, karena ulama Giripura
telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan
kerajaan sendiri.
Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu.
Maka, diseranglah Giri hingga kocar-kacir.

Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Majalengka, Sunan Bonang
mengajak Sunan Giri ke Demak.
Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati Demak dan mengajak menyerbu
ke Majalengka.

Kata Sunan Bonang,
" Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka yang telah berumur
103 tahun.
Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak menjadi Raja.
Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus.

Jangan sampai ketahuan.
Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud dengan senjata perang.
Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala tentaranya."

Provokasi
Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula tidak mau mengikuti
saran Sunan Bonang.

" Saya takut merusak negeri Majalengka.
Melawan ayah, apalagi melawan seorang raja yang telah memberikan kebahagian
dan kebaikan di dunia.
Kata Kakek saya di Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski
beragama Budha atau pun kafir."

Mendengan jawaban demikian, Sunan Bonang berkata,
" Meskipun melawan ayah dan raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir.
Merusak kafir tua kamu akan masuk surga.

Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar.
Seberapakah pengetahuan santri Ngampelgading.
Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku Sayid Kramat, Sunan Bonang yang
dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul anutan semua umat Islam.

Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang.
Tetapi, semua manusia se Jawa masuk Islam.
Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.

Tuhan masih cinta kepadamu.
Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan dirimu.
Buktinya, kamu diberi nama Babah.

Babah itu artinya tidak baik.
Hidup hanya untuk mati.
Benih Jawa yang dibawa Putri Cina.

Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan
raksasa.
Itu memutus cinta namanya.
Ayahmu tetap berhati tidak baik.

Karena itu, balaslah dengan halus.
Pokoknya jangan kelihatan.
Dalam hati, isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya."

Kemudian, Sunan Giri menyambung,
" Aku tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku
tidak menghadap ke Majalengka.
Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan disuruh memandikan
anjing.

Banyak orang Cina yang datang ke Jawa.
Di Giri banyak yang ku-Islamkan.
Sebab, menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan
surga.

Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu.
Aku takut kepada patih dan ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka
berzikir.
Katanya, sakit ayan pagi dan sore.
Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini."

Jawab sang Adipati Demak,
" Ayahanda memburu tuan itu betul.
Karena tuan Sunan mendirikan kraton.
Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja yang lebih
berkuasa.
Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena Sunan tidak
meyadari makan minum di Pulau Jawa."

Namun, Sunan Bonang berkata lagi,
"Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan rugi.
Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan
kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua.
Atau kepada menantunya, Ki Andayanigrat di Pengging.

Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja.
Mati melawan kafir mati sabilillah, mati menerima surga.
Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir.
Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu
sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan
menghilangkan agama Budha."

Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan
mau merusak Majalengka.
Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan orang tuanya karena
kafir.

Syech Siti Jenar Dibunuh
Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara
datang semua ke Demak.
Berkumpul untuk mendirikan masjid.
Kemudian sembahyang bersama di masjid yang beru didirikan.
Usai sembahyang pintu masjid ditutup.

Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak
akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit.
Bila semua setuju akan segera dimulai.
Semua sunsn dan bupati setuju.

Hanya Syech Siti Jenar yang tidak.
Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar.
Yang disuruh membunuh adalah Sunan Giri.
Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat menjadi raja menguasai tanah Jawa
bergelar Senapai Jimbuningrat dengan patih dari atas angin bernama Patih
Mangkurat.

Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang
berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati.
Berjalan berarakan seprti Grebeg Maulud.
Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung,
para sunan dan para ulama.

Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia.
Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan.
Bagaimana cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.

Terjadi Peperangan
Alkisah, sepulang dari Giri sang Patih melaporkan hasil penaklukan terhadap
Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena.
Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang.
Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang
berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.

Dalam berperang mereka lincah seperti belalang.
Sementara pasukan Majapahit menembaki.
Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima
peluru.
Senapati Setyasena menemui ajal.

Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung.
Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan
Majapahit.
Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri
ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.

Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu
Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah
Kertosono.
Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat
melawan dengan perang.

Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan
dikirim ke Demak.
Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat
terkenal dengan Menak Tanjangpura ) mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah
Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.

Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri.
Para Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam
mendukung.
Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar
Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi
Surya Alam di Bintoro.

Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah
kepada Patih cara menghadap kepada raja.
Surat dari Pati itu bertanggal 3 Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan
wuku Prabangkat.
Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.

Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja.
Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat
itu.

Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut.
Diam membisu, lama tak berkata.
Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang memiliki
kemauan seperti itu
Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak dan merusak Majapahit.

Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka.
Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin.
Tidak masuk akal akan perbuatan jelek mereka itu.

Pikiran sang raja sangat gelap.
Kesedihan itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi
hutan.

Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan
para ulama serta bupati tega melawan Majapahit.
Patih pun menjawab tak mengerti.
Ki Patih juga heren, pemikiran orang Islam ternyata tidak baik, diberi
kebaikan membalas dengan kejahatan.

Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya
sendiri.
Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah
terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyeberkan
agama Islam.
Dari kebingungan hatinya, ia menyumpahi orang-orang Islam.

" Kumohonkan kepada Dewa yang Agung, balaslah kesedihan hamba.
Orang-orang Islam kelak terbaliklah agamanya, menjelma menjadi orang-orang
kucir, karena tak tahu kebaikan.
Kuberi kebaikan membalas dengan kejahatan."

Sabda sang raja yang berada dalam kesedihan itu disaksikan oleh jagad.
Terbukti dengan adanya suara menggeletar membelah bumi.
Terkenal sampai sekarang, ulama terbaik namanya, tengkuknya dikucir putih.

Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang
Prabu meminta pertimbangan dari Patih.
Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk menguasai Majapahit harus dengan cara
peperangan.
Seumpama diminta dengan cara baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja
telah lanjut usia.

Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja.
Jangan sampai merusak bala pasukan.
Patih diminta memanggil Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga karena putra
yang ada di Majapahit belum saatnya maju berperang.

Setelah memerintahkan demikian, sang prabu meloloskan diri pergi ke Bali
diikuti Sabdopalon dan Nayagenggong.
Ketika memberi perintah itu, Pasukan Demak telah mengepung istana.
Maka Sang Raja segera pergi dengan terburu-buru.


Source : Posmo No. 1-3 / 1999

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]





** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke