Menurut Master Sheng Yen, euthanasia tidak banyak membantu. Kalau itu memang sudah buah karmanya, maka biarlah si penderita menerimanya dalam kehidupannya saat ini, kalaupun kita bantu mengakhirinya maka di kehidupan selanjutnya ia masih akan tetap akan menuai buah yang belum dituainya sepenuhnya itu.
Tetapi ini juga jangan diartikan kita pasif, tidak cinta kasih dan semacamnya. Kita dan para sanak keluarganya tetap melakukan kebajikan dan melimpahkan jasa kepada si penderita. Dan kalau si penderita masih sadar dan bisa berkomunikasi, paling baik bila ia bersedia Nian Fo (melafalkan nama Buddha). Karena saat itu alternatif kebajikan yang bisa dilakukan sendiri oleh penderita tersebut relatif sangat terbatas, dan yang paling mudah adalah melakukan Nian Fo. Sukur2 kalau penderita selama hidupnya sering melakukan meditasi, maka ia bisa bermeditasi menghadapi penderitaannya itu. Sesungguhnya euthanasia hampir mirip dengan bunuh diri, tetapi bila bunuh diri dilakukan si penderita sendiri, sedang euthanasia dilakukan oleh keluarga, orang yang dicintai atau para medis yang kasihan melihat penderitaan yang berkelanjutan, pun kadang atas pertimbangan usia (lanjut) atau biaya pengobatan yang relatif sangat mahal dengan peluang sembuh sangat tipis. Tetapi sama dengan bunuh diri, euthanasia bukan menyelesaikan penderitaan, tetapi hanya mengalihkannya ke alam yang lain. Di sinilah pentingnya kita belajar Dharma. Selalu berlaith membina diri dan menanam benih bajik agar kita dapat menghadapi kematian dengan tenang, sadar dan tanpa penderitaan, baik bagi kita sendiri maupun yang ditinggalkan. Dalam filosofi Tiongkok dikenal adanya Wu Fu (lima hokki), salah satunya yang juga merupakan hokki terakhir adalah kematian yang damai dan tenang. Dengan demikian maka kita ataupun orang dekat kita akan terhindar dari problema buah simalakama euthanasia. Salam, siwu On 8/19/06, Chuang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Perkembangan dari Safitri, bayi berkepala dua, ternyata memaparkan > adanya > banyak kelainan2 dlm tubuhnya. Jika kelainan2 ini nantinya terbukti akan > menyulitkan hidupnya dan menyebabkan dia tidak dpt hidup layak sebagaimana > seorang manusia yg sewajarnya bahkan utk ukuran seorang yg difabel > (different ability, isitlah pengganti yg lebih pas ketimbang "cacat"), > maka > apa pendapat rekan2 mengenai isu Euthanasia? Bagaimana pandangan Buddhis > mengenai hal ini? > > Jika saya baca dari buku "Don't Worry Be Healthy Hidup Sehat Tanpa Cemas", > dan jika isi dari buku tsb dpt disebut mewakili pandangan penyusunnya (Dr. > Phang Cheng Kar), maka menurut beliau Euthanasia itu tidak sesuai dgn > ajaran > Buddha. > > Salam > > Chuang > http://chuang.blogs.friendster.com > > > [Non-text portions of this message have been removed] ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
