Fenomena Ehipassiko Marcell dan Dewi Oleh: Abin Nagasena
Pindah agama di kalangan artis, pun di kalangan umum bukanlah hal yang asing lagi. Berpindah dari satu keyakinan ke keyakinan lain bukanlah sesuatu yang tidak boleh dilakukan, walau mungkin dapat mengundang pertentangan yang kadang cukup berat untuk dihadapi oleh sebagian orang. Selama ini kita menyaksikan banyak orang terkenal (public figure) yang berpindah dari agama yang sudah lama mereka anut ke agama yang baru. Umumnya mereka ini adalah pemeluk agama warisan, lebih jelasnya, mereka sejak kecil telah memeluk agama sebelumnya karena mengikuti orang tua (atau bahkan kakek dan nenek) yang jauh sebelumnya sudah memeluk agama tersebut. Beberapa waktu lalu, media pers yang senantiasa memantau aktivitas selebritis sempat heboh dengan berpindahnya Dewi Lestari dan suaminya, Marcell, menjadi umat Buddha. Banyak orang tidak percaya, bahkan hal tersebut terasa aneh. Keanehan ini tidak hanya berlaku bagi para penganut agama Marcell dan Dewi sebelumnya, tetapi juga bagi para umat dari agama lainnya. Kenapa beralihnya keyakinan agama Marcell dan Dewi terasa lebih heboh dari kepindahan agama yang dilakukan para artis lain sebelum ini? Hal ini tidak terlepas dari mindset kita bahwa agama mainstraim di Indonesia adalah Islam, Kristen dan Katholik. Coba lihat ke belakang dan temukan fakta bahwa selama ini perpindahan agama dari banyak artis (dan juga orang awam) selalu bergerak di antara agama-agama mainstraim tersebut. Karena itu, tidaklah heran kalau orang merasa aneh jika Marcell dan Dewi malah memilih menjadi Buddhis (umat Buddha). Tapi, benarkah beralihnya Marcell dan Dewi menjadi umat Buddha adalah hal yang aneh? Agama adalah keyakinan. Meyakini sesuatu harus memiliki landasan yang kuat dan berdasarkan alasan yang kokoh, sebagaimana yang disebut dalam agama Buddha sebagai Ehipassiko - datang dan buktikan. Inilah landasan kokoh yang akan membentuk keyakinan sejati. Selama ini apa yang menyebabkan banyak artis ataupun umat awam berpindah keyakinan? Karena panggilan? Pemahaman? Ataukah pencarian? Ternyata banyak yang bukan karena beberapa alasan tersebut. Ada yang berpindah keyakinan hanya demi untuk melegalkan status pernikahan. Banyak pula yang berpindah keyakinan agar keluarga suami atau istri bersedia merestui hubungan asmara mereka. Sungguh, keyakinan yang demikian ini sepertinya tak lebih merupakan tindakan pelecehan terhadap agama. Buktinya, banyak orang yang setelah bercerai dengan pasangannya, lalu meninggalkan agama barunya dan kembali ke keyakinan lamanya. Coba bandingkan dengan pasangan Marcell dan Dewi yang meyakini agama Buddha setelah melalui proses mencari, mendalami, menelaah dan membuktikan. Sekarang kita jelas, siapa yang lebih aneh. Mengutip ucapan Marcell: keyakinan adalah pilihan hidup. Ya, keyakinan adalah sebuah pilihan hidup, bukan pilihan pasangan hidup. Sungguh sebuah ucapan yang sangat tepat. Beralihnya Marcell dan Dewi menjadi umat Buddha bukan sesuatu yang aneh, tetapi sebuah fenomena ehipassiko yang sangat logis. Keduanya berpindah keyakinan bukan demi legalisasi pernikahan, ataupun sekedar ikut-ikutan, tetapi keduanya memilih keyakinan baru karena analisa dan pemahaman. Keyakinan baru ini merupakan pilihan hidup mereka yang sesungguhnya. ," Thnk's & Rgrds, Tristina MG Sport & Music [Non-text portions of this message have been removed] ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
