PADA SIAPA AKU MEMOHON
Oleh: Abin Nagasena

Kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, Tuhan 
atau Buddha??? (sms pembaca)

Ora et Labora, sebuah ungkapan yang sangat umum kita dengar. Berdoa dan 
Bekerja, ungkapan yang menjelaskan bahwa di samping berdoa, kita juga 
harus berkarya. Terlepas dari usaha yang dilakukan, doa bagi banyak orang 
adalah hal yang sangat pokok, bahkan sering diyakini bahwa tanpa doa 
manusia tidak akan mencapai apa yang diinginkannya. Kalau memang doa itu 
demikian krusial dalam hidup manusia, apakah umat Buddha juga harus 
berdoa? Lalu berdoa pada siapa? 

Buddha secara tegas menolak pandangan bahwa apa yang diinginkan manusia 
dapat diwujudkan lewat doa. Pada satu kesempatan, Buddha berkata pada 
hartawan Anathapindika:

“Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik 
dan menyenangkan. Apakah kelima hal itu? Tidak lain adalah usia panjang, 
kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam 
Surga. Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan 
bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (acayana) ataupun 
dengan kaul/nadar (patthana). Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa 
atau kaul/nadar, siapakah yang tidak akan melakukannya?”

“Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan usia 
panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan kelahiran kembali di 
alam-alam Surga; sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa 
senang dalam usaha seperti itu. Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan 
kehidupan yang mengakibatkan usia panjang, kecantikan, kebahagiaan, 
kemasyhuran dan kelahiran kembali di alam-alam Surga. Hanya dengan berbuat 
demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan 
menyenangkan.”

Buddha dalam Dhammapada syair 1 dan 2 secara gamblang mengajarkan:
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, 
pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan 
pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati 
mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.”
“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, 
pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan 
pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang 
yang tak pernah meninggalkan bendanya.”

Buddha dengan jelas mengajarkan bahwa perbuatan atau jalan kehidupan yang 
kita tempuh, bukan doa, adalah upaya benar untuk memperoleh keinginan yang 
menyenangkan. Sedang dari perbuatan yang kita lakukan, pikiran adalah 
pelopor. Jadi, mengendalikan pikiran yang merupakan sumber awal segala 
perbuatan adalah jauh lebih penting daripada berdoa. Dengan kata lain, doa 
yang kita lakukan haruslah bertujuan memurnikan pikiran, bukannya sekedar 
meminta-minta demi kepentingan pribadi atau bahkan berkehendak melepaskan 
diri dari tanggung jawab atas perbuatan yang tidak benar yang kita 
lakukan. Inti ajaran Buddha adalah pemahaman benar tentang hukum karma 
(hukum perbuatan – sebab akibat). Apa yang kita tabur, itulah yang kita 
tuai. Bukan apa yang kita doakan, itulah yang kita tuai.

Manusia haruslah menjadi makhluk yang menggapai apa yang diinginkan 
melalui usahanya sendiri, bukan dengan meminta-minta pada sesuatu di luar 
dirinya. Sudah tentu, usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia itu haruslah 
bajik dan benar. Umat Buddha meyakini bahwa diri sendiri bertanggung jawab 
atas setiap perbuatan yang dilakukan, oleh karenanya umat Buddha tidak 
pernah (dan tidak layak) meminta-minta, baik pada Dewa, Tuhan, Bodhisattva 
atau Buddha. 

 “Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun 
juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat 
menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.“ Dhammapada syair 127. 
Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari akibat perbuatan jahat yang 
dilakukan oleh diri sendiri, ini berarti bahwa tidak ada cara untuk 
menghindarkan diri dari akibat perbuatan jahat itu. Ini juga berarti, 
akibat perbuatan bajik itu pun akan datang dengan sendirinya tanpa 
memintanya.

Sebuah ungkapan bijaksana mengajarkan: hendaknya kita tidak memandang ke 
luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin. Melihat ke luar jendela 
adalah mencari kejelekan orang lain serta merusak batin dengan hanya tahu 
berharap dari luar diri sendiri, sedang memandang ke dalam cermin 
mengajarkan kita untuk introspeksi serta memurnikan batin dengan tidak 
bergantung pada sesuatu di luar diri sendiri. Kebahagiaan dan kemurnian 
batin tidak didapatkan dari luar, melainkan berada dalam diri kita 
sendiri. Bila demikian, apakah kita masih melakukan permohonan doa? Lalu, 
apa benar umat Buddha itu tidak berdoa?

Sesungguhnya doa dalam ajaran Buddha memiliki definisi yang berbeda dengan 
khalayak umum. Dalam Buddhisme Theravada dikenal adanya pembacaan paritta 
(yang sering kali secara umum diartikan sebagai membaca doa). Paritta 
sesungguhnya bukan doa. Dalam paritta tidak akan ditemukan satupun 
permintaan ataupun permohonan sebagaimana yang dipanjatkan dalam sebuah 
doa.

Paritta berisi pernyataan, tekad/ikrar (bukan sumpah) serta pengharapan. 
Semisal dalam kebaktian pelatihan bersama, pembacaan Vandana adalah 
pernyataan pencerahan agung Buddha Gautama; pembacaan Tisarana merupakan 
pernyataan bernaung pada Buddha, Dharma dan Sangha; pembacaan Pancasila 
Buddhis menyatakan tekad berlatih diri menghindari perbuatan buruk 
membunuh, mencuri, berzinah, berdusta dan mengkonsumsi sesuatu yang 
memabukkan; pembacaan Karaniyametta Sutta menyadarkan diri sendiri untuk 
mengembangkan cinta kasih universal; serta pembacaan Ettavatta menyatakan 
harapan tercapainya kebahagiaan bagi semua makhluk (dengan melimpahkan 
jasa kebajikan). Melimpahkan buah perbuatan bajik yang kita lakukan pada 
semua makhluk agar mereka berbahagia, inilah yang disebut sebagai 
pelimpahan jasa kebajikan.

Pelimpahan jasa kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk juga diterapkan 
dalam Buddhisme Mahayana. Selain itu, Mahayana juga mengajarkan pernyataan 
ikrar Bodhisattva. Bodhisattva menunjuk pada makhluk hidup (sattva) yang 
sadar (bodhi), yang berarti mereka telah sadar akan hakekat sejati 
kehidupan dan bertekad mencapai keBuddhaan serta membimbing semua makhluk 
hidup untuk terbebas dari lautan penderitaan yang merupakan putaran 
kelahiran dan kematian yang tak berawal dan tak berakhir. Jalan 
Bodhisattva telah tak mengenal lagi kata “aku” atau kepentingan diri 
sendiri. Segala hal yang dilakukan Bodhisattva adalah demi kebahagiaan 
semua makhluk.

Baik pembacaan paritta, pelimpahan jasa ataupun ikrar Bodhisattva, semua 
itu ditujukan demi kebahagiaan semua makhluk, bukan demi diri sendiri. 
Jadi boleh dibilang, siswa Buddha yang baik tidak mengenal doa yang 
meminta kesenangan bagi diri sendiri, melainkan pengharapan dan upaya 
nyata bagi kebahagiaan semua makhluk. Ingin berpenghasilan cukup, maka 
tempalah diri serta ulurkan tangan welas asih bagi mereka yang membutuhkan 
bantuan, bukan sekedar berdoa lalu menunggu kekayaan itu tiba. Ingin 
negara terbebas dari keterbelakangan, maka berpartisipasilah dalam dunia 
pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia, bukan hanya sekedar 
berdoa lalu mengharapkan semuanya berjalan sesuai doa kita. Ingin umat 
manusia hidup dalam perdamaian, maka bergabunglah dalam barisan pembabar 
Dharma dan terapkan Dharma itu dalam keseharian, bukan hanya sekedar 
berdoa lalu beranggapan sudah melakukan yang terbaik.

Singkat kata, doa walau secara psikologis dapat membantu manusia menjadi 
lebih tegar namun di sisi lain merapuhkan mental manusia menjadi sangat 
bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Ini bukan hakekat doa yang benar. 
Seorang petani alih-alih berdoa mengharapkan ‘sawahnya memberi hasil’, 
tindakan konkrit ‘mengolah sawah dengan baik’ serta perilaku bajik akan 
memiliki kemungkinan lebih besar dalam mewujudkan harapannya. 

Bagaimana pula yang disebut sebagai tindakan konkrit ‘mengolah sawah 
dengan baik’ serta berperilaku bajik secara Buddhisme? Di samping 
pemahaman Buddha Dharma yang benar, kita juga harus tekun mempelajari 
iptek terkait, pun berdisiplin dan sungguh-sungguh dalam menerapkannya. 
Selain itu, membina kesabaran juga hal yang tak boleh diabaikan karena 
semua jerih payah itu bukan berlangsung dalam satu malam, juga bila 
setelah berusaha masih menemui kegagalan, hendaknya kita tidak cepat 
menyerah dan menerimanya sebagai pelajaran hidup yang berharga, seperti 
halnya kesabaran Thomas Alfa Edison saat menghadapi 999 kegagalan sebelum 
berhasil menemukan lampu bohlam. Sudah tentu, untuk dapat bersabar sangat 
diperlukan konsentrasi (pemusatan kehendak dan semangat) yang tinggi. 
Selain itu, jangan lupa untuk senantiasa mengulurkan tangan welas asih 
dengan berdana membantu orang-orang di sekitar yang memerlukan bantuan 
kita. Dan semua upaya itu harus kita lakukan dengan bijaksana. Saat 
memperoleh keberhasilan, jangan lupa diri; kala menemui kegagalan, hadapi 
dengan lapang dada; lakukan semua upaya dengan cara yang tepat dan benar. 

Jadi, kepada siapa sebenarnya umat Buddha berdoa dan memohon? Pada Dewa, 
Tuhan atau Buddha? Dua syair berikut akan menjawab pertanyaan kita.

"Karenanya, Ananda, bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri, 
pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma (Dharma) sebagai 
pulaumu, Dhamma (Dharma) sebagai pelindungmu, tiada pelindung lain." 
Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.

“Buatlah pulau bagi dirimu sendiri. Berusahalah sekarang juga dan jadikan 
dirimu bijaksana. Setelah memberisihkan noda-noda dan bebas dari nafsu 
keinginan, maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.” 
Dhammapada syair 238.

Pulau pelindung bagi diri kita dan semua makhluk, tak lain tak bukan 
adalah pemahaman dan penerapan Dharma yang benar dalam keseharian. Inilah 
hakekat permohonan doa dalam Buddhisme. Sekali lagi, jangan memandang ke 
luar jendela, melainkan lihatlah ke dalam cermin.


Sumber:
Majalah Sinar Dharma
Vol. 4, No. 3 | September 2006





[Non-text portions of this message have been removed]




** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke