Gue nggak tau ini "Hebat banget atau Goblok banget" .
Gue sampe sekarang kaga bisa ngebandingin yang mana paling baik antara
"Emak gue dengan Babe gue". menurut gue ke-duanya baek.
Gue pikir elu hebat atawa goblok ngebandingin yg nggak-nggak, kurang kerjaan
yah !!
elu tau gak bedanya" Jempol kiri sama jempol kanan",
RW <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Muhammad menurut Pandangan Kitab Agama Lain.
Posted by: "tawangalun" [EMAIL PROTECTED] tawangalun
Sat Oct 14, 2006 8:20 am (PST)
Muhammad Menurut Pandangan Kitab Agama Lain
Ada anggapan di sebagian non-Muslim bahwa Muhammad saw hanyalah
seorang nabi yang diutus untuk bangsa Arab saja. Sebagaimana Yesus
(Isa as) yang diutus untuk Bani Israil, maka demikian juga Nabi
Muhammad diutus hanya untuk bangsa Arab. Pendapat lainnya menilai
bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi melainkan orang yang melangkah
di jalan kenabian. Pandangan ini diyakini oleh Timothy dari Gereja
Nestorian, seperti yang diungkapkan Alwi Shahab dalam pengantar buku
Muhammad & Isa (Mizan: 1999). Timothy menyebutnya sebagai seorang
yang berjalan di tapak para nabi-walau tidak secara khusus mengakui
Muhammad saw sebagai nabi.
Dalam satu sisi anggapan ini tentu baik. Sebab, kita sadar bahwa
jika seorang pemeluk Kristen mengakui Muhammad sebagai nabi yang
diutus untuk segenap manusia, niscaya pengakuan semacam ini akan
merontokkan fondasi keyakinan Kristen yang dianutnya. Belakangan
muncul kajian-kajian atas tradisi agama lain seperti Kristen, Hindu
dan Budha yang banyak mengungkapkan nubuat-nubuat seputar kelahiran
dan kemunculan Nabi saw berikut karakter pribadinya. Umpamanya,
melalui telaah mendalam atas Yesaya 42 dari tradisi Kristen
didapatkan bahwa sosok yang diceritakan dalam pasal itu
mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula dalam tradisi
Hindu dan Budha. Dijumpai dalam kitab-kitab mereka akan adanya
utusan akhir zaman yang akan menyelamatkan manusia. Secara sepintas
di bawah ini akan disajikan-meski selintas-nubuat dari tiga tradisi
itu.
Tradisi Kristen
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya
Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia
menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. (Yesaya 42: 1) Dalam ayat
ini, jika kita menganggap "orang pilihan-Ku" sebagai kata benda maka
pilihan-Ku = pilihan Tuhan = Mushthafa (dalam bahasa Arab), yakni
nama nabi kita Muhammad saw. Semua nabi setelah Ya'qub as yang
disebutkan dalam Injil diutus untuk bangsa Israel bukan semua
bangsa. Ini termasuk Yesus (Isa) (lihat Matius15: 21-26, Matius 10:
5-6 dan banyak lagi). Adapun Isa as tidak cukup lama tinggal di bumi
untuk melakukan misinya. Namun Muhammad saw diutus untuk semua
bangsa dan membawa pesan dan keputusan kepada bangsa-bangsa.
Selanjutnya dalam Yesaya 42: 2 dikatakan: "Ia tidak akan berteriak
atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan."
Kata "tidak menangis" diartikan sebagai "tidak mengeluh terhadap
tugas yang Aku embankan kepadanya". Sekarang jika Anda membaca Injil
Matius 26: 39-42, kita tidak bisa mengatakan bahwa Isa as tidak
pernah mengeluh. Artinya, ayat ini tidak cocok diterapkan kepada Isa
as. Namun jika Anda membaca sejarah kehidupan Muhammad saw, kita
tidak bisa mendapatkan bahkan satu kalimat keluhan yang keluar dari
lisan suci Nabi Muhammad saw tentang misi yang dipikulkan oleh Allah
Yang Mahakuasa. "Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan
patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau
mengharapkan pengajarannya." (Yesaya 42: 4). Sejarah menceritakan
kepada kita bahwa Yesus (Isa as) tidak sampai merampungkan misinya
yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pembaca bisa menemukan hal
ini di banyak tempat dalam Perjanjian Baru. Ia pun tidak bisa
menegakkan hukum di muka bumi, karena pengikutnya sedikit dan mereka
punya sedikit iman (ini pun bisa ditemukan di banyak tempat dalam
Perjanjian Baru). Dan mereka "meninggalkannya dan kabur" ketika
tentara Romawi menahan Yesus. Ia sendiri berkata, "Kerajaan-Ku bukan
dari dunia ini; jika kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-
Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,
akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yohanes 18: 36).
Sebaliknya, misi Muham-mad saw berhasil dengan tegaknya sebuah
negara dan mengatur dengan hukum yang diberikan oleh Allah. Karena
itu, ia menegakkan hukum di muka bumi, di bumi Madinah al-
Munawarrah. Dalam frase tersebut disebutkan bahwa Tuhan
menyebutkan "hukum-nya" dan ayat 9 menyebutkan "Nubuat-nubuat yang
dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan". Ini artinya ia (nabi baru)
akan membawa hukum baru. Tapi jika kita baca Injil, kita lihat bahwa
Yesus berkata dalam Matius 5:17: "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku
datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku
datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
Jika kita baca lebih jauh, kita paham bahwa Yesus tidak datang
dengan hukum baru. Sementara Muhammad saw datang dengan hukum baru.
Kejelasan akan datangnya Muhammad saw lebih terbaca lagi dalam
Yesaya 42: 8 yang berbunyi: Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak
akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku
kepada patung. Melihat konteks sejarahnya, kita lihat bahwa
perkataan Tuhan ditujukan kepada Muhammad saw dan bukan Isa as.
Alasannya, Isa as datang untuk bangsa Israel dan mereka tidak
menyembah berhala. Adapun Muhammad saw datang kepada kaum Arab yang
menyembah berhala pada masa Jahiliah. Seterusnya, Nabi Muhammad saw
menghancurkan berhala. Jika kita membaca Yesaya 42: 17, hal itu akan
dipahami lebih jelas. "Baiklah mereka memberi penghormatan kepada
TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau."
(Yesaya 42: 12). Ayat ini mengacu kepada lafaz azan sebagai
panggilan shalat. Makna azan mengandung puji-pujian kepada TUHAN.
Ayat ini secara implisit merujuk kepada kandungan azan Islam yang
memuat nama Allah dan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana terlihat, azan
bergaung di mana-mana menyerukan nama Allah dan Rasul-Nya yang tiada
keturunan Ibrahim as dari jalur Ismail as. Nabi Isa as sendiri
keturunan Ishak (Rujuk Kejadian 25: 13-16) Jelaslah, ayat ini (ayat
11) tidak sedang membincangkan Isa as melainkan Muhammad saw.
Jika Anda melihat ritual Muslim (khususnya haji), Anda akan melihat
kota-kota tersebut (Makkah dan Madinah) menyaringkan suara mereka
(azan) dan orang-orang menyeru dan memuji Allah dari puncak gunung,
khususnya Bukit Arafah. Tentang azan sendiri, Anda bisa melihat
bahwa di setiap negeri Muslim, orang-orang diseru untuk shalat
melalui panggilan azan yang mirip nyanyian. Bahkan jauh dari kota,
Anda bisa mendengar azan ini. Makna azan itu sendiri adalah: Allah
Mahabesar, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Aku bersaksi
Muhammad adalah utusan Allah, Dan seterusnya.
Tradisi Budha
Dalam tradisi Budha, pemimpinnya sendiri Sidharta Gautama telah
meramalkan kedatangan seorang manusia yang diberi wahyu. Dalam
Doktrin Budha (The Gospel of Buddha) oleh Caras (hal.217-8)
tercantum bahwa Budha agung yang akan datang ke dunia ini dikenal
sebagai "Maitreya". Cakkavatti-Sihanada Suttana memberinya
nama "Meteyya". Kedua kata ini bermakna "pemberi rahmat". Dengan
merujuk kepada sejarah kehidupan Muhammad saw, kentara sekali beliau
adalah orang sangat penyayang dan al-Quran juga menyebut-nyebut
fakta ini.
Ada sejumlah kesamaan lebih jauh, seperti yang terbaca dalam kitab
suci kaum Budha: "Para pengikutnya (Maitreya) berjumlah ribuan
orang, sementara jumlah pengikutku ratusan orang." Faktanya,
pengikut Nabi Muhammad saw berjumlah ribuan orang (sekarang tentunya
jutaan). Ada sejumlah kesamaan lain yang akan diuraikan di bawah.
Dalam Doktrin Budha (oleh Caras, hal.214), seorang Budha yang
tercerahkan itu dilukiskan sebagai memiliki kulit yang amat terang
dan bahwa seorang Budha memperoleh "pandangan yang luhur di malam
hari". Dalam kenyataan sejarah, Nabi saw acap melakukan shalat malam
(tahajjud) sebagai pantulan cintanya yang mendalam kepada Sang
Pencipta. Selama hayatnya, Nabi saw tidak pernah meninggalkan shalat
malam. Buahnya, beliau mendapatkan pandangan yang tajam untuk
merekonstruksi peradaban baru manusia, peradaban Islam.
Dalam Si-Yu-Ki, jilid 1, hal.229, tertulis bahwa ".tak satu kata pun
yang mampu menguraikan kemuliaan pribadi Maitreya." Pembaca bisa
merujuk sejarah Islam secara detail. Baik Muslim maupun non-Muslim
sepakat dalam menegaskan bahwa Muhammad saw sangatlah rupawan dan
menarik baik dari sisi lahiriah maupun batiniah. Ketegasan dan
kelembutan pribadi beliau memanifestasikan sifat-sifat Tuhannya.
Inilah yang menyulitkan pemaparan kemulian pribadi Nabi saw.. Dalam
kitab dan jilid yang sama, tercantum ".suara indah dari Bodhisatwa
(Maitreya) begitu lembut, merdu, sekaligus santun. Mereka yang
mendengar tidak pernah merasa bosan dan puas." Nabi saw yang lahir
dari kalangan Arab tentunya paham benar akan bahasa Arab. Dan,
bahasa Arab yang digunakan al-Quran luar biasa indahnya. Karena itu,
al-Quran Suci sendiri dinilai sebagai suatu karya kesusastraan
khusus dengan bobot tertinggi yang memberikan manfaat kepada kawan
dan lawan. Kelembutan Nabi saw dan keindahan bahasa al-Quran
menjadikan setiap perkataan Nabi saw tidak pernah dikenai rasa bosan
dan letih untuk disimak.
Seorang Budha mestilah seorang manusia-bukan dewa. Sang Budha
tersebut mesti memiliki lima karunia khusus, yakni karunia harta
kekayaan, karunia anak, karunia istri, karunia kekuasaan (yakni
kepemimpinan), dan karunia kehidupan dan pengikut. Sebagai tambahan,
Budha tersebut tidak punya guru, yakni tanpa menempuh suatu jenjang
pendidikan formal. Gautama juga menekankan bahwa Budha itu seorang
yang bersahaja yang mengatakan keselamatan itu hanya tergantung pada
amal perbuatan individu.
Ciri-ciri di atas jelas senapas dengan kehidupan Nabi Muhammad saw.
Kita saksikan bahwa Nabi saw seorang yang memiliki lima hal tadi.
Nabi saw memiliki keturunan yang banyak sampai sekarang. Di
antaranya ada yang menjadi para pemimpin (imam) bagi kaum Muslim.
(Tentang keturunan yang banyak ini, baca Kejadian 12: 2, 3, 7 dan
Kejadian 16: 9-11, sewaktu membahas perjanjian antara Nabi Ibrahim
(Kristiani; Abraham) dan Tuhan. Akhirnya, Nabi saw sendiri tidak
pernah belajar sama sekali dari seorang guru pun. Ilmu yang beliau
dapatkan murni dari Allah sebagai buah perenungannya akan kenya-taan
semesta ditambah kesucian jiwanya.
Tradisi Hindu
Sebagaimana dalam dua tradisi agama di atas, dalam kitab suci Hindu
pun ditemukan hal yang sama mengenai ciri-ciri yang mengarah kepada
Nabi saw. Seorang profesor Hindu terkenal, Vedaprakash Upadhyay,
dalam bukunya yang menarik mengklaim bahwa deskripsi "Avatar" yang
terdapat pada kitab suci agama Hindu sejalan dengan pribadi Nabi
Muhammad saw.
Baru-baru ini sebuah buku yang menyingkap fakta tersebut telah
diterbitkan. Buku itu menjadi topik diskusi dan perbincangan di
seluruh negeri. Penulis buku itu seorang Muslim. Ia mungkin telah
ditahan atau dibunuh. Boleh jadi semua salinan buku itu telah
dihilangkan. Buku itu bertajuk "Kalki Avatar". Pundit Vedaprakash
Upadhyay adalah seorang Hindu Brahmana dari Bengali. Sarjana
peneliti di Universitas Allahabad-setelah bertahun-tahun melakukan
riset-akhirnya menerbitkan bukunya.
Keterangan dari Pundit Vaid Parkash telah disiarkan di BICNews pada
8 Desember 1997 yang diterjemahkan oleh Mir Abdul Majeed.
Sebelumnya, pernah dimuat di The Message, edisi Oktober 1997. Tidak
kurang 8 pundit besar mendukung dan merestui butir-butir argumennya
sebagai yang otentik. Menurut kepercayaan Hindu, dunia Hindu tengah
menunggu "Pemimpin dan Pembimbing", yang bernama "Kalki Avatar".
Akan tetapi deskripsi yang dicantumkan dalam kitab-kitab suci agama
Hindu merujuk kepada Nabi Muhammad saw dari Arab. Karena itu, umat
Hindu di seluruh dunia semestinya tidak menunggu lebih lama lagi
kedatangan `Kalki Avatar' dan harus menerima Nabi Muhammad saw
sebagai Kalki Avatar. Inilah fakta-fakta yang diuji dan didukung
oleh tidak kurang dari delapan pundit terkemuka. Apa yang dikatakan
penulis adalah bahwa umat Hindu-yang masih harap-harap cemas
menunggu kedatangan Kalki Avatar-agaknya menyerahkan diri mereka
sendiri kepada penderitaan yang tak kunjung usai. Padahal utusan
agung tersebut telah datang dan meninggalkan dunia ini 14 abad yang
silam. Pengarang tersebut telah mengajukan bukti-bukti kuat dari
kitab Veda dan kitab suci Hindu lain untuk mendukung klaimnya: Dalam
kitab Purana, misalnya, disebutkan bahwa Kalki Avatar merupakan
utusan terakhir di dunia ini. Ia memberi petunjuk seluruh manusia.
Nabi Islam saw diutus bagi segenap manusia. Bukan untuk salah satu
golongan. Menurut prediksi agama Hindu, kelahiran Kalki Avatar akan
terjadi di Semenanjung (yang menurut agama Hindu kawasan Arab). Ini
ramalan yang sesuai dengan faktanya di mana Islam lahir di kawasan
Arab.
Masih dalam kitab-kitab Hindu juga, nama ayah dan ibu Kalki Avatar
masing-masing adalah Vishnubhagath dan Sumaani. Jika kita menilik
arti kedua nama tersebut, kita akan mendapatkan kesimpulan yang
menarik. Dalam kosakata Hindu, Vishnu artinya Allah dan Bhagath
artinya hamba. Kalau digabung berarti hamba Allah yang dalam bahasa
Arab berarti Abdullah. Ia adalah ayah Nabi saw.
Sumaani artinya kedamaian atau ketenteraman. Dalam bahasa Arab
sepadan dengan kata Aminah (`kedamaian') yang tiada lain adalah nama
ibunda Nabi saw. Selanjutnya, dinyatakan dalam kitab Veda, kelahiran
Kalki Avatar akan terjadi di tengah klan keluarga bangsawan. Jelas
ini merujuk ke suku Quraisy di mana Nabi saw dilahirkan. Dalam kitab
yang sama, Tuhan akan mengajar Kalki Avatar melalui utusan
(malaikat)-Nya di dalam gua. Ini sesuai dengan riwayat kehidupan
Nabi saw. Allah mengajar Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril,
dalam suatu gua yang disebut Gua Hira. Tuhan pun menyiapkan Kalki
Avatar dengan bantuan-Nya. Ini secara jelas terbukti dalam Perang
Uhud.
Semua hal itu menjadi segelintir bukti yang mengisyaratkan
universalitas pribadi Muhammad saw dan agamanya: Islam.
Tawangalun.
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/