Kekayaan Yang Tak Dapat Dirampas
Oleh: Abin Nagasena

Ketika negeri ini dilanda krisis moneter hebat beberapa waktu lalu, banyak 
usaha yang terpaksa gulung tikar. Banyak orang yang semula berkantong 
tebal pun harus mengencangkan ikat pinggang, kehidupan duniawi mereka 
layaknya roda pedati yang berputar ke bawah. Investasi gagal, harta 
kekayaan tidak lagi dapat dipertahankan. Bahkan kekayaan yang disimpan 
dalam bank pun dikhawatirkan tidak dapat diambil kembali. Kekayaan yang 
melimpah dalam bentuk rupiah seakan-akan menguap seketika saat pemerintah 
mengambil kebijakan devaluasi yang mereduksi nilai beli mata uang kita.

Ketika kejahatan datang, kekayaan kita berpindah. Perampokan dan pencurian 
juga mampu mengambil pergi kekayaan yang ada. Ketika konspirasi dan 
korupsi berlangsung, kekayaan pun tidak lagi dapat dipertahankan lebih 
lama. Tetapi mungkin akan ada yang mengatakan bahwa hal-hal yang 
disebutkan di atas adalah sesuatu yang terlalu ekstrem, yang jarang sekali 
terjadi ataupun bahwa hal-hal tersebut bersifat tidak umum.

Tidak dipungkiri, contoh-contoh ekstrem tersebut di atas memang hanya 
melihat dari satu sudut yakni harta materi meninggalkan kita. Dan tidak 
dapat dipungkiri pula bahwa harta itu tidak dapat kita paksakan untuk 
tetap bersama kita, meski telah berupaya sekuat tenaga untuk 
mempertahankannya. Ini adalah sisi pandangan ‘mempertahankan’ yang sangat 
umum di dalam masyarakat kita. 

Namun, mempertahankan tidak selalu berarti menjaga kemanunggalan obyek 
pada subyek, mempertahankan juga berarti menjaga kemanunggalan subyek 
terhadap obyek. Pemahaman masyarakat umum melihat bahwa obyek (materi) 
dipertahankan agar manunggal dengan subyek (manusia), sehingga 
contoh-contoh di atas dirasakan sebagai hal ekstrem yang jarang atau 
bahkan tak mungkin terjadi. Mereka berpendapat bahwa jika tidak ada krisis 
ekonomi, tidak ada devaluasi, tidak ada pencurian dan perampokan, maka 
harta kekayaan masih bisa dipertahankan. Benarkah demikian?

Sebenarnya tanpa hal-hal yang dikatakan ekstrem itu, kekayaan materi di 
dunia ini tetap tidak dapat dipertahankan. Meski kala tidak ada krisis, 
tidak ada devaluasi, tidak ada pencurian dan perampokan, kenyataannya 
manusia sama sekali tidak dapat mempertahankan harta bendanya. Manusia 
gagal mempertahankan kekayaannya agar selalu bersamanya, bukan saja ketika 
kekayaan itu pergi meninggalkan pemiliknya (karena diambil pihak lain), 
tetapi terutama karena manusia tidak dapat membawa serta kekayaannya 
ketika kematian mendatanginya. 

Kematian akan merampas pergi semua kekayaan siapapun karena kekayaan tidak 
dapat dibawa serta saat seseorang meninggal. Kegagalan membawa serta harta 
kekayaan saat meninggal adalah bentuk ketidakmampuan mempertahankan harta 
kekayaan, dan hal ini jelas bukan hal yang ekstrem, bukan sesuatu yang 
tidak lazim atau tidak umum. Hal ini selalu terjadi, baik ketika krisis 
ekonomi melanda atau tidak, baik ketika nilai beli mata uang tinggi atau 
rendah, baik ketika ada pencuri atau tidak, baik siang atau malam. Dan 
jangan lupa, inilah hal yang paling alami. 

Hampir setiap detik, ada manusia yang gagal mempertahankan kekayaannya, 
karena setiap detik ada kematian yang terjadi di seluruh belahan bumi ini. 
Dan kegagalan ini adalah sebuah kepastian yang tidak dapat ditawar.

Konon nama baik adalah harta yang paling besar dalam kehidupan manusia. 
Namun, bahkan nama baik juga tidak dapat dibawa serta saat meninggal, 
karena nama baik adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam pikiran orang 
lain. Nama baik adalah pandangan orang lain terhadap kebaikan yang dibuat 
oleh seseorang, yang perbuatan baiknya itu diketahui oleh orang lain. 
Ketika seseorang mati, nama baik itu tidak dapat dibawa serta juga. Karena 
itu, muncul peribahasa yang mengatakan ‘gajah mati meninggalkan gading, 
harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Ya, 
nama baik itu juga harus ditinggalkan, tidak dapat dibawa serta.

Tetapi meski demikian bukan berarti tidak ada kekayaan yang tak dapat 
dipertahankan. Di muka bumi ini, ada satu, ya hanya ada satu kekayaan yang 
dapat dipertahankan, yakni pahala kebajikan. Pahala kebajikan adalah harta 
kekayaaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Pahala kebajikan tidak 
dapat dikorupsi, tidak dapat dirampok, tidak dapat didevaluasi, dan yang 
paling penting adalah pahala kebajikan dapat dibawa melintasi gerbang 
kematian. Lebih jauh lagi, pahala kebajikan tidak hanya sekedar dapat 
dibawa melintasi kematian menuju kehidupan yang akan datang, tetapi pahala 
kebajikan juga merupakan investasi untuk kehidupan berikutnya. 

Mangala Sutta mencatat sabda Buddha tentang salah satu berkah utama dalam 
kehidupan adalah Pubbekatapunnata yang artinya ‘telah menimbun jasa 
kebajikan dalam kehidupan lampau’.  Lalu, mengapa menimbun jasa kebajikan 
dalam kehidupan lampau menjadi demikian krusial sehingga dikatakan sebagai 
sebuah berkah utama?

Beberapa ajaran agama meyakini adanya kehidupan (entah di surga atau 
neraka) setelah kehidupan ini. Surga atau neraka bergantung dari perbuatan 
manusia selama hidupnya, ya inilah hasil perbuatan hanya dalam satu kali 
kehidupan setiap manusia. Ajaran ini tidak dapat menerima adanya kehidupan 
sebelum kehidupan yang sekarang ini bagi setiap makhluk. Buddhisme 
sebaliknya mengajarkan bahwa jika ada kehidupan yang akan datang yang 
ditentukan oleh perbuatan selama kehidupan ini, maka konsistensinya adalah 
tentu ada kehidupan sebelumnya yang  menjadi penentu dari kehidupan saat 
ini.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa timbunan jasa kebajikan di kehidupan 
yang lampau merupakan bagian dari berkah utama (mangala), karena timbunan 
pahala kebajikan dalam kehidupan lampau yang akan menjadi penentu dari 
kehidupan kini, sebagaimana perbuatan pada kehidupan ini menjadi penentu 
bagi kehidupan yang akan datang.

Ada tidaknya timbunan pahala dalam kehidupan lampau ini pulalah yang mampu 
memberi jawaban memuaskan mengenai sebab perbedaan yang ada di antara 
makhluk hidup. Sebab itulah ajaran Buddha secara tegas menolak konsep 
takdir atau pandangan-pandangan dogmatis yang menyatakan bahwa apa yang 
menimpa manusia adalah cobaan dari makhluk adikodrati.

Adakah diri kita telah menimbun pahala kebajikan pada kehidupan lampau? 
Bagi umat Buddha, apa yang sudah lalu tidaklah sepenting apa yang sedang 
dijalani saat ini. Mencari tahu ada tidaknya timbunan pahala kebajikan 
dalam kehidupan lampau tidak akan membawa perubahan apa-apa karena yang 
sudah lalu tidaklah dapat dirubah. Adalah lebih penting berfokus pada saat 
ini untuk berbuat kebajikan, karena inilah harta yang akan dibawa menuju 
kehidupan yang akan datang. Dengan demikian, janganlah menangisi diri 
bahwa dalam kehidupan ini kita tidak mendapat berkah utama (memiliki 
timbunan pahala kebajikan hasil perbuatan tubuh, ucapan dan pikiran pada 
kehidupan lampau), tapi segeralah menimbun pahala kebajikan dalam 
kehidupan ini, sehingga kelak pada kehidupan mendatang kita akan mendapat 
berkah utama. Inilah kekayaan yang tidak dapat dirampas dari kita, bahkan 
oleh kematian sekalipun.(abn)

Sumber:
Majalah Sinar Dharma
Vol. 4, No. 3 | September 2006


[Non-text portions of this message have been removed]




** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke