Sdr.Erlin dan Akwang Wu
Saya sudah membaca apa yang sdr.Akwang Wu tuliskan. Pada dasarnya
setuju semua. Disini sekedar menambahkan saja.

Betul itu adalah auman singa, tetapi itu juga merupakan sebuah cermin
bagi kita untuk mengukur realisasi diri kita. Saat kita belum mengerti
makna dari kalimat itu, akui dan terima saja belum mengerti. Tidak
perlu mencari-cari tahu atau menebak-nebak, jangan gunakan pikiran utk
memahami, nanti malah salah sendiri.
Saya mengenal sebuah kelompok yang sok mengerti kata2 dalam tersebut
hingga akhirnya banyak yang tergelincir dalam relativisme moral,
dekadensi dan nihilisme.

Menurut saya belajar Buddhism ada 3 tahap. Tahap pertama adalah
ajaran2 Sang Buddha kepada manusia rata-rata yang menggunakan bahasa
komunikasi dualistis. Bacalah sutta-sutta, pahamilah 4 kesunyataan
mulia, hukum karma, dependent-origination, rebirth, ritual2, dsb.
Disitu anda akan dibangun pondasinya.

Setelah paham dan bisa menjalankan tahap syariat (maaf pinjam istilah2
islam) tersebut, mulailah masuk ke 'tasawuf' atau menjalankan laku
dengan bermeditasi, mengamalkan sila, dsb. Tapi itu pun bukan
perjalanan akhir.

Pada kedua tahap ini --pada hakikatnya-- anda menjalankan laku
buddhism sekedar dengan mentalitas "work for reward" : "aku berdana
supaya terlahir di surga", "aku menjalankan sila guna mencapai
pencerahan", "aku menjadi bikkhu supaya mencapai kearahatan", dsb.

Pada tahap terakhir, bangunan yg sudah kita bangun itu akan
didekonstruksikan / dibongkar kembali. Anda tidak saja melepaskan diri
terhadap kemelekatan pada materi, tetapi juga kemelekatan terhadap
konsep, kepercayaan, pandangan, bahkan terhadap pencerahan itu
sendiri, dsb.

Tahap ini adalah memasuki esensi dari ajaran sang Buddha, yaitu
melepaskan diri dari keterkondisian pikiran, perasaan , dsb. Untuk
mengkomunikasikan hal ini, Sang Buddha menggunakan bahasa khusus (spt
pada Sutra Hati tsb) yang tentu saja membingungkan orang awam. Tapi
tepat disitulah esensi ajaran Sang Buddha.

Pintu gerbang masuk ke tahap terakhir ini adalah melalui meditasi
vipassana, MMD, Dzogchen, Mahamudra, atau sejenisnya. Intinya adalah
pengamatan pasif, mindfull (eling) yang menembus layer-layer kesadaran
kita utk menuju pada suatu "basic consciousness", "choiceless
awareness", etc whatever it's name.

Apa yang dikatakan sdr.Akwang Wu akan menyebabkan anda mungkin paham
sekilas secara intelektual (intellectual knowledge) hal2 yang bersifat
konseptual, tetapi anda belum mengalaminya sendiri. Hal tersebut
haruslah ditembusi secara langsung melalui suatu experiential
knowledge (pemahaman melalui pengalaman langsung).

Kalau anda sekilas membaca uraian saya ini, tentu anda akan berpikir
bahwa pencerahan itu dijalankan melalui suatu tahapan / jalan (path).
Sebetulnya ini pun tidak benar. Yang disebut tahapan / path itu
sendiri sebetulnya adalah juga paket ego bentukan dari manusia (para
bikkhu, sangha, tradisi,dsb) utk sekedar menenangkan hati atau
memuaskan semangat pencarian anda. Suatu paket ego sebelumnya
digantikan oleh paket ego yang lainnya yang dipersepsikan lebih mulia.
Tapi, dengan cara itu, anda tidak akan pernah bebas dari bentukan2
pikiran itu sendiri.
Pencerahan itu sendiri sebetulnya spontan dan seketika, keluar dari
keberkondisian. Oleh karena itu pencerahan tentu bukan karena hasil
suatu pengkondisian (misal: metode, latihan, sila, dsb).
Pernyataan saya yg terakhir ini memang kontradiktif, tapi saya melihat
begitu adanya (secara intelektual).

Salam,
Suchamda

Note : Ini sekedar opini pribadi sebagai seorang murid Buddha, dan
saya menyatakan bahwa diri saya bukan tidak bisa salah (infallible).
Saya sepenuhnya fallible. Oleh karena itu mohon maaf bila terdapat
kekurangan / kesalahan disana-sini. 

--- In [email protected], "Akwang Wu" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saudaraku Erlin yang terkasih dalam Dhamma,
> 
> "BENTUK (ISI) ITU KOSONG, KOSONG ITU BENTUK (ISI)"
> Sebenarnya ini inti dari ajaran Buddha, tetapi semestinya disadari
bahwa ini
> bukanlah pelajaran, tetapi aum-an Singa dari seorang yang telah
tercerahkan,
> dan ini bukan untuk dipelajari ataupun dimengerti, pertanyataan ini
timbul
> bagi mereka yang telah tercerahkan.
> 
> Saudaraku Erlin yang terkasih, namun ada cara bagaimana kita dapat
menyelami
> yang dimaksud, bukan dengan pikiran bukan dengan yang lainnya tetapi
> menyadari sifat alami dari pancaskanda.
> 
> Yang disebut makhluk merupakan gabungan dari berbagai unsur yang tidak
> terpisahkan. Unsur tersebut adalah: Bentuk kasar (RUPA) yang dapat
dilihat
> (unsur padat, unsur cair, unsur gerak, unsur panas), sedangkan
Bentuk halus
> (NAMA) yang tidak dapat dilihat (unsur pencerapan, unsur bentuk pikiran,
> Unsur kesadaran, unsur perasaan).
> Gabungan semua unsur ini yang tidak terpisahkan membentuk makhluk hidup.
> (RUPA sangat tergantung makhluknya)
> 
> Seperti layaknya makhluk manusia.
> Perhatikan dengan hati (bukan dengan pikiran kita), lihat secara
mendalam,
> perubahan dari RUPA, semenjak dari kecil ke dewasa, yang setiap
harinya sell
> berubah, disini tidak ada bentuk yang tetap, yang ada hanya perubahan,
> bentuk padat berubah (tulang, gigi, tengkorak, kuku) bentuk cair berubah
> (darah, lendir, kelenjar, organ tubuh), pergerakan terus terjadi (sell
> bergerak setiap detiknya), panas dari tubuh ini ada akibat
pergerakan sell
> yang terus tumbuh dan mati, jika terserang infeksi, panas meninggi
karena
> sell darah melawan, semua bentuk dari RUPA ini berubah setiap saat,
dapatkah
> dikatakan inilah RUPA yang sebenarnya? Atau dapat dikatakan inikah RUPA
> sesaat? Ataukan dapat dikatakan inilah RUPA-ku?
> Tentu tidak, dimanakah dan bagaimanakah yang disebut sebagai
RUPA-ku? Semua
> tidaklah ada.
> 
> Perhatikan dengan hati (bukan dengan pikiran kita), lihat secara
mendalam,
> unsur pencerapan yang selalu kita serap dari berbagai pintu indera
(mata =
> melihat, telinga = mendengar, hidung = mencium bau, mulut (termasuk
lidah
> perasa), kulit = sentuhan, dengan yang kita serap ini akan berproses ke
> pikiran, otak membantu merecord, kita memikirkan, perasaan bermain, ini
> nikmat, ini tidak, kesadaran selalu ada, di record terus melalui
otak kita,
> inilah yang enak, inilah yang tidak enak, terus berubah dari dahulu
hingga
> sekarang, yang ada hanya perubahan.
> 
> Perhatikan perasaan kita, dari kecil hingga sekarang, yang terus berubah
> detik demi detik, adakah yang pada satu saat dikatakan inikah
perasaan kita?
> Inilah perasaan saya? Saat inilah perasaan milik saya?
> Tentu tidak.
> 
> Perhatikan kesadaran kita, dari kecil hingga sekarang, yang terus
berubah
> detik-demi detik, adakah yang pada satu saat dikatakan inikah kesadaran
> kita? Inilah kesadaran saya?  Saat inilah kesadaran milik saya? 
> Tentu Tidak.
> 
> Perhatikan pikiran kita, yang kian hari berpikir terus menerus yang
berubah
> ini dan itu, dapatkah pada satu saat atau saat ini dikatakan inilah
pikiran
> saya? Saat inilah yang sekarang, inilah pikiran saya?
> Tentu Tidak.
> 
> Bila dari semua gabungan baik RUPA dan NAMA selalu berubah dan tidak
dapat
> dikatakan walaupun sesaat, inilah RUPA dan NAMA saya? Jadi Apakah
semua ini?
> Adakah dikatakan inilah RUPA dan NAMA saya?
> Tentu tidak.
> 
> Bila semua adalah tidak maka semua adalah KOSONG (Tidak ada).  Namun
> ketahuilah KeKOSONGan ini memberikan yang Ada, sehingga kita semua ada
> disini, dengan RUPA dan NAMA, kita melakukan satu tindakan, perbuatan.
> Untuk itu tidak bisa pula dikatakan bahwa semua itu tidak ada,
karena pada
> nyatanya kita bertindak dengan RUPA dan Nama ini.
> 
> Bila kita telah mengerti ini, sifat makhluk itu pada umumnya melekat
pada
> RUPA dan NAMA ini, dianggapnya hal itu ada.
> Seperti contoh, bila orang tua kita meninggal, kita akan bersedih,
kenapa?
> Karena kita melekat dan membuat ADA bahwa demikianlah RUPA dan Nama dari
> orang tua kita, yang sebenarnya itu tidaklah ada.
> Coba dilihat lebih mendalam: wajah ayah atau ibu, perhatikan dari
sewaktu
> kecil hingga tua sekarang, yang berubah dan terus berubah, yang manakah
> wajah yang asli dari orang tua kita? Dan sebenarnya seperti apa
wajah orang
> tua kita? Timbulnya pertanyaan inipun karena kita melekat pada
adanya wajah
> demikian dari orang tua kita, yang sebenarnya hanyalah tumpukan RUPA dan
> Nama yang tersusun rapi, semua itu sebenarnya tidaklah ada.
> 
> Karena kemelekatan dan kebodohan menyebabkan manusia terus
menginginkan hal
> yang tidak ada dan dibuatnya menjadi ada.
> Inilah penyebabnya berlangsungnya mata-rantai kelahiran yang berulang.
> 
> Seharusnya bila telah mengerti akan hal ini, apa yang patut
dibanggakan dari
> kumpulan daging, lendir, kotoran, yang tersusun rapi membentuk RUPA ini?
> NAMA inilah yang bertindak: pencerapan, kesadaran, bentuk pikiran,
perasaan,
> membuat suatu tindakan (karma), penyebab dari adanya: Kesombongan,
> Keserakahan, Kebencian, Kebodohan, Irihati.
> 
> Untuk itu seharusnya orang Bijak tidak lagi melekat pada tubuh yang
jijik
> ini, tidak lagi melakukan tindakan yang dianggapnya sebagai Kesombongan,
> Keserakahan, kebencian, serta kebodohan.
> 
> Semoga dapat dimengerti, dan bermanfaat.
> Salam Metta selalu,
> 
> Akwang
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Fatahillah 
>   To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ;
> [email protected] 
>   Sent: Wednesday, October 18, 2006 6:15 AM
>   Subject: [MABINDO] Bentuk Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ????? Saya
> Bingung...!!!
> 
> 
>   Namo Buddhaya,
> 
>   Kalyana mitta,
>   Maaf kalau sebelumnya pernah di post ( sebab saya tidak bisa menemukan
> post-nya
>   ).
>   Apakah ada yang bisa memberikan entah itu penjelasan, pengertian,
> perincian
>   ataupun contoh mengenai " Bentuk Itu Kosong, Kosong Itu Bentuk ". Saya
> sering
>   sekali mendengar kalimat ini tetapi baru semalam saya berpikir
pengertian
> dari
>   kalimat ini apa ?? Ketika saya ditanya, apa yang dimaksud dengan "
Bentuk
> Itu
>   Kosong dan Kosong Itu Bentuk ".
> 
>   Apakah ini termasuk dalam ucapan dari Sang Buddha ? Jika Iya
terdapat di
> Khotbah
>   / Sutta yang mana ??
> 
>   Salam Metta,
> 
>   Erlin
>





** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke