Misteri Perjalanan Akhir Menuju Kesempurnaan
(Erabaru.or.id) - Penguburan di udara terbuka merupakan suatu tradisi penguburan yang umum di kawasan Tibet. Berdasarkan sisa peninggalan makam kuno Tibet, diperkirakan bahwa awal penguburan terbuka mungkin dimulai setelah abad ke-7 Masehi. Seorang ahli memperkirakan, bahwa ritual penguburan ini diciptakan oleh Dhikung Geshe. Pada 1179 Masehi, Dhikung Paldeng mendirikan kuil Dhikungti di kabupaten Medogungkar, dan ketika itulah sistem makam di udara terbuka disempurnakan. Adapun mengenai penguburan di udara terbuka, ajaran Buddha Tibet secara turun temurun menganggap, bahwa menyalakan dupa mengantar asap untuk membuka jalan menuju nirwana, jasad dijadikan sebagai persembahan kepada para dewa, memanjatkan doa meminta ampun bagi dosa-dosa si mati semasa hidup di dunia dan agar arwahnya dibawa ke kayangan. Burung-burung yang terpanggil datang oleh asap dupa, tidak akan melukai hewan apapun selain memakan bangkai mayat, orang Tibet menyebutnya sebagai "burung dewa". Konon kabarnya, cara penguburan seperti ini adalah mencontoh tindakan Sakyamuni ; "mengorbankan diri dimangsa harimau", karena itu penguburan secara terbuka menjadi populer di Tibet hingga sekarang. Di bagian tengah halaman makam terbuka Dodoka, terdapat sebuah pelataran mayat seluas kurang lebih 4 meter persegi yang dilapisi dengan batu berangkal, di sebelah utara pelataran terdapat sebuah batu persegi setinggi 60 cm, tempat untuk menaruh mayat pada saat ritual. Di luar pintu selatan makam terbuka, terdapat sebuah tiang bendera setinggi kurang lebih 10 meter, pada bagian atasnya terdapat ukiran kerangka manusia, pada puncak tiang tergantung banyak umbul-umbul yang telah pudar. Bila seseorang meninggal dunia, jasad dibawa ke depan pelataran makam, kemudian mayat diatur dalam posisi duduk, dengan kepala terjepit diantara lutut, terbungkus dengan jubah Tibet berwarna putih. Setelah memilih hari yang baik, mayat kemudian diusung ke altar, menyalakan asap dupa menarik perhatian rajawali, setelah itu baru memotong mayat. Karena rajawali suka makan daging, tidak suka tulang, maka prosesi penguburan memakai cara urutan terbalik, memberi makan bagian tulang dulu. Luas seluruh altar kurang lebih 4000 meter persegi, disekeliling halaman terdapat tembok tanah setinggi manusia, dinding sebelah selatan dan barat dihiasi dengan rak kayu, kurang lebih terdapat 5 petakan, dalam setiap petak tersusun rapi kerangka tengkorak manusia, membentuk dinding tengkorak yang berderet panjang di dua sisi, sederetan tengkorak yang agung, membuat orang merasakan kesakralan yang kudus dan khidmat. Saat itulah aku baru tahu, ternyata dinding tengkorak adalah hasil penguburan terbuka. Di Tibet, seseorang yang meninggal dan mayatnya dijadikan santapan rajawali, hanya meninggalkan tengkorak saja. Satu-satunya altar makam terbuka Dodoka di dalam kuil Damo, kabupaten Bera, utara Tibet, tersimpan sejumlah besar tengkorak si mati, dan dinilai sebagai tempat yang unik di dunia. Pada tiga sisi altar adalah dinding tengkorak setinggi manusia, belakangan ketika terjadi hujan sangat lebat ditumpahkan dari langit, terjangan air keruh mengalir deras dari gunung, akibatnya dinding altar ambruk. Dua sisi dinding tengkorak yang ada sekarang, adalah hasil penataan kembali tengkorak yang tersisa selama satu dasawarsa ini. Kedua tembok yang tersisa sekarang tingginya hanya setengah dari tinggi semula. Di sisi barat dan selatan altar masing-masing terdapat satu pintu masuk, sebelah barat untuk keluar masuk manusia, sedangkan sebelah selatan adalah pintu masuk mayat, di sisi utara terdapat rumah satu lantai yang khusus diperuntukkan bagi sejumlah biksu memanjatkan do'a untuk si mati. Halaman pelataran makam terbuka Dodoka juga menyimpan sebuah rahasia?di bawah halaman tidak ada apa-apa, semuanya tampak hampa. Keliling dan dasar halaman semuanya ditata dengan batu, berukirkan patung Buddha; tempat menyimpan kitab suci, peralatan dan persembahan ritual keagamaan. Hal menarik terjadi, di musim dingin dimana suhu disitu ekstra rendah, terkadang mencapai 37 ?C di bawah nol, meski begitu, mayat yang bagaimanapun membeku keras, pasti akan mencair keesokan harinya setelah semalaman diletakkan di altar makam terbuka Dodoka, dan dipastikan bisa dilaksanakan ritual penguburan terbuka seperti biasa, sebuah fenomena yang hingga kini tidak ada seorang pun dapat menjelaskannya. Misteri inilah yang membuat nama altar makam terbuka Dodoka tersebar luas. Bagi masyarakat disekitarnya, bila ada yang meninggal dunia pasti akan membawa si mati dan melaksanakan ritual pemakaman di situ. Di seluruh Tibet, dulu pernah ada 3 kuil yang menyimpan tulang tengkorak; selain altar makam terbuka Dodoka kuil Damo, juga ada altar kuil Lithang yang terletak diseberangnya dan altar kuil Shikatse yang sedikit berjauhan. Adanya 3 altar makam terbuka membuat nama kabupaten Bera tersohor. Namun sayangnya, bencana alam dan juga ulah manusia menyebabkan sebagian besar tulang tengkorak di 3 altar tersebut mengalami kehancuran. Hingga pada masa awal tahun 80-an, ketika diterapkan kebijaksanaan politik beragama, altar makam terbuka kuil Shikatse malah tidak lagi meneruskan merawat tulang tengkorak. Sebagian tulang tengkorak yang semula terawat di kuil Re Dan, dimana pada masa revolusi kebudayaan pernah dikuburkan ditanah secara diam-diam oleh penduduk setempat, hingga sekarang masih tersimpan di sana, masih menyisakan sebagian dinding tengkorak, namun skalanya tidak sebesar dinding tengkorak altar makam terbuka Dodoka. Mengapa makam terbuka perlu menyimpan tulang tengkorak orang yang meninggal dunia? Banyak cerita beredar, ada 2 versi yang dipercayai orang, versi pertama menyebutkan, 80 tahun yang lalu, ada seorang bocah laki-laki suku Qinghai, saat berusia 8 tahun dia menyaksikan pembunuhan 3 orang yang tidak berdosa, begitu takutnya sehingga dia lari berlindung pada Buddha Hidup Wu Shi Da Bu di kabupaten Bera. Di kemudian hari Buddha Hidup Da Bu menunjuknya sebagai juru kubur di altar makam terbuka kuil Damo. Dia mengumpulkan semua mayat dan membuang ke sisi tenggara tembok halaman altar makam, setelah menjadi kerangka baru kemudian dikumpulkan kembali. Setelah itu, dia meletakkan secara berurutan mulai dari sudut tenggara halaman altar makam, ketika meninggal dunia pada usia 50 tahun, dia telah menata dinding tengkorak hingga mencapai bagian barat daya halaman altar. Terbetik cerita bahwa dia berbuat demikian karena khawatir pembunuh maniak itu akan masuk ke dalam pasukan makam terbuka jika nanti meninggal dunia. Versi lainnya menyebutkan, bahwa menyimpan tengkorak si mati adalah aturan biara yang ditetapkan Budha Hidup Da Pu dari kuil Shikatse, desa Xiang Qu, kabupaten Bera semasa abad ke-13, adapun maksud sebenarnya hingga sekarang masih belum jelas. Dalam buku Zi wen tertulis demikian : "juru makam biksu Ah Wangden mengatakan : "menyisakan tulang tengkorak, kemudian ditata menjadi tembok, semua ini tak lain adalah hendak mengingatkan orang-orang yang masih hidup, harus banyak berbuat baik, kurangi keinginan duniawi, siapapun dia adanya, setelah mati hanya tersisa tidak lebih dari itu". Kini, altar makam terbuka Dodoka di Kuil Damo dinamakan oleh para seniman dengan sebutan "piramida tengkorak", arkeolog pun menyadari bahwa ini memiliki makna penting terhadap riset antropologi; sastrawan juga terpengaruh dan takjub oleh ragam filosofinya yang dalam dan sulit di duga itu. Meskipun makam terbuka di mata orang-orang sekarang adalah suatu tradisi penguburan yang unik, namun bagi bangsa Tibet, hubungan antara manusia dengan alam akan semakin erat melalui ritual pemakaman terbuka, sama seperti penyesuaian bentuk kehidupan penduduk setempat yang unik dengan lingkungan alam yang juga unik di dataran tinggi Qing Zhang, pemakaman terbuka juga merupakan suatu bentuk eksistensi bangsa Tibet yang unik dalam perkembangan keselarasan dengan alam sekitar. (Sumber tom com) [Non-text portions of this message have been removed] ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
