Nasehat dan Pesan dari Y.M. Atisha
OLEH : Y.M.Sering Tulku Yongdzin Rinponche TEMPAT : Warta Walubi, Edisi 3 TANGGAL : Desember 2003 - Januari 2004 Y.M. Atisha adalah seorang pandita Buddhis terbesar di abad ke-11 Masehi dan Pemimpin Universitas Vikramasila, Pusat Pendidikan Buddhis Besar terakhir di India. Y.M. Atisha dilahirkan sekitar tahun 980 M sebagai seorang pangeran di Bengali Timur. Pada perjalanan hidup selanjutnya Beliau kemudian meninggalkan kehidupan duniawi. Di bawah bimbingan seorang Guru Besar bernama Rahula, Y.M. Atisha mempelajari semua kitab-kitab suci baik Hinayana maupun Mahayana. Ia sendiri kemudian juga dikenal sebagai seorang Guru besar. Dikisahakan bahwa, meskipun telah menjadi seorang yang sangat terdidik dan seorang Guru Besar, Y.M. Atisha masih terus dicengkeram oleh keraguan akan jalan terbaik mana yang dapat membawanya secara cepat menuju Pencerahan Agung. Hingga suatu saat, ketika sedang berpradaksina di Bodh Gaya, Beliau tiba-tiba tersadarkan dari keraguannya setelah pada beberapa kesempatan secara tidak sengaja mendengar percakapan di antara sesama peziarah. Saat itu juga Y.M. Atisha menyadari bahwa Bodhicitta adalah jalan terbaik yang selama ini Beliau cari-cari. Y.M. Atisha kemudian mencari Guru Besar terbaik yang ada pada masa itu yang dapat memberinya bimbingan dalam praktek pengembangan Bodhicitta, Yaitu Y.M. Dharmakirti atau Serlingpa dari Pulau Sumatera, Indonesia. Y.M. Atisha belajar dan berlatih selama kurang lebih 12 tahun di Sumatera. Salah satu warisan ajaran unik yang Beliau dapat di sini adalah Lojong. Yaitu suatu metode mengembangkan Bodhicitta dengan cara melatih pikiran menyamakan dan menukar diri sendiri dengan yang lain serta praktek menerima dan memberi (Tong-len dalam bahasa Tibet). Dalam Tong-len seseorang berlatih secara sukarela menerima semua beban kesengsaraan dan penderitaan dari makhluk lain serta memberikan kepada yang lain segala kesehatan, kebahagiaan dan apapun yang diri ini dambakan. Beliau begitu menghargai dan mensyukuri apa yang telah Beliau dapatkan dari Y.M. Serlingpa sehingga dikemudian hari setiap menyebutkan nama Guru junjungannya ini Beliau akan memenjamkan mata, merangkapkan telapak tangan di depan dada dan membungkuk sedikit. Y.M. Atisha menghabiskan 12 tahun terakhirnya mengajar dan menyebarkan Buddha Dharma di Tibet. Saran-saran praktek Y.M. Atisha yang ringkas, tajam dan praktis masih diajarkan secara luas dan dipraktekkan oleh seluruh Tradisi Agama Buddha yang ada di Tibet hingga saat ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengutip beberapa nasehat dan pesan berguna yang telah diberikan oleh Y.M. Atisha di bawah ini: Saran Beliau yang pertama-tama adalah bahwa, di dalam meniti jalan spiritual adalah sangat penting untuk mencari dan mengandalkan bimbingan seorang Guru yang benar-benar suci. Kita memerlukan seorang Guru spiritual yang dapat membimbing kita hingga kita mencapai Pencerahan Agung. Setelah menemukan seorang Guru yang bijak, selanjutnya kita harus rajin dan banyak mendengarkan ajaran Dharma agar kita suatu saat nanti dapat memahami sepenuhnya sifat dari kekosongan. Namun, hanya mengerti Dharma saja tidaklah mencukupi, untuk dapat mencapai Pencerahan beliau menekankan bahwa kita harus secara terus-menerus berlatih. Dalam melakukan latihan sebaiknya kita pergi menjauh ke tempat yang tenang untuk menghindari gangguan terhadap latihan. Karena, sebelum kita memiliki batin pikiran yang mantap, hiruk pikuk dapat membawa akibat yang negatif bagi latihan kita. Usahakan selalu berdiam di tempat yang mendukung untuk praktek-praktek kebajikan. Hindari sahabat yang dapat menambah belenggu nafsu keinginan, bertemanlah dengan mereka yang bisa mendorong kita untuk lebih banyak berbuat kebajikan. Beliau mengingatkan bahwa hal-hal yang perlu kita lakukan tidak akan pernah ada habis-habisnya, jadi kegiatan-kegiatan itu perlu ada pembatasannya. Selanjutnya, apapun kebajikan yang kita peroleh dari perbuatan-perbuatan kita dedikasikanlah siang dan malam, serta jagalah agar batin pikiran kita senantiasa penuh waspada. Begitu kita telah menerima ajaran dari seorang Guru, kita harus senantiasa merenungkannya dalam meditasi dan bertindak sesuai dengan apa yang diajarkan Guru. Bila kita melakukan ini dengan segala kerendahan hati, maka hasilnya akan langsung dapat kita peroleh secara cepat. Bila kita bertindak sesuai dengan Dharma dari hati kita yang terdalam, maka kedua bentuk kebutuhan hidup yaitu pangan dan keperluan lain akan datang secara alamiah. Bagaikan meminum air laut untuk menghilangkan dahaga, kita tidak akan pernah mencapai kepuasan dalam nafsu keinginan. Oleh karena itu, kita perlu bersikap bersahaja. Jangan terikat pada semua bentuk kemewahan, rasa bangga dan kecongkakan, kita perlu menjadi lebih terkendali dan damai. Tinggalkan semua apa yang sebagian orang anggap sebagai kebaikan-kebaikan, namun sebenarnya adalah penghambat bagi latihan Dharma. Ibaratnya batu-batu di jalan sempit dan licin, kita harus membuang semua gagasan mengenai keuntungan dan kehormatan karena bagaikan jerat penuh tipu daya. Bagaikan ingus di hidung, buanglah semua pikiran mengenai kemasyuran dan pujian karena merekan hanya akan membuat kita tergiur dan terpedaya. Jangan melekat pada kebahagiaan, kesenangan dan sahabat-sahabat karena keberadaan mereka hanya akan bertahan sesaat. Kehidupan di masa yang akan datang jauh lebih panjang dari kehidupan saat ini, jadi tabunglah harta kebajikan secara berhati-hati untuk masa depan kita. Kita akan meninggalkan segalanya saat kita meninggal, jadi janganlah melekat pada apapun. Tinggalkan kebiasaan menghina dan merendahkan orang lain dan bangkitkanlah rasa belas kasih terhadap orang-orang yang lebih rendah derajatnya dari pada kita. Jangan memiliki kemelekatan terhadap para sahabat atau kebencian terhadap para musuh. Buang rasa iri terhadap kualitas baik orang lain, sebaliknya lakukan sendiri kualitas-kualitas baik tersebut dengan rendah hati. Jangan mencari kesalahan orang lain tapi carilah kesalahan diri sendiri, kemudian bersihkan diri kita darinya bagaikan darah kotor. Jangan kita terpusat pada kebajikan diri sendiri, sebaliknya hargailah orang lain sebagaimana seorang pelayan akan melakukan terhadap tuannya. Kembangkan cinta kasih kepada semua makhluk bagaikan mereka adalah anak kita sendiri. Senantiasa kembangkan senyum dan pikiran penuh cinta kasih. Berbicara dengan jujur, tanpa amarah dan selalu bersikap terbuka. Bila kita banyak membicarakan hal-hal yang tidak berguna, kita akan membuat kesalahan-kesalahan, karena itu berbicaralah seperlunya. Bila kita banyak melakukan hal-hal tidak berguna, perbuatan bajik kita akan terabaikan, jadi batasi kegiatan-kegiatan non spiritual. Segala kesengsaraan dan kebahagiaan kehidupan ini timbul dari karma kehidupan masa lampau kita, jadi jangan salahkan orang lain atas keadaan yang menimpa diri kita, bersikaplah tenang. Kita pasti akan mati, meninggalkan apapun harta kekayaan yang telah kita himpun, jadi pastikan bahwa kita tidak mengumpulkan kekotoran batin demi kekayaan. Oleh karena kesenangan yang mengacaukan pikiran kita adalah tidak memiliki keberadaan yang hakiki, hiasilah diri sendiri dengan Kebajikan Berdana (Dana Paramita), peliharalah selalu Moral Disiplin yang murni, sebab itu sesuatu yang indah dalam hidup ini dan menjamin kebahagiaan dikehidupan masa akan datang (Sila Paramita). Dalam jaman Kaliyuga ini, di mana kebencian merajalela, kenakanlah baju pelindung berupa Kesabaran, yang mana dapat mengatasi nafsu amarah (Ksanti Paramita), Kekuatan kemalasan menyebabkan kita terus mengembara di dunia ini, oleh karena itu kita harus menyalakan Semangat, bagaikan kobaran api besar, upaya untuk menuju ke Pencapaian Kesempurnaan (Virya Paramita). Detik demi detik hidup kita tersia-siakan, dikendalikan oleh pikatan kegiatan duniawi, kini adalah saatnya untuk melakukan Meditasi dan Perenungan (Dhyana Paramita). Dipengaruhi oleh pandangan yang salah, kita menyadari sifat kekosongan. Berusahalah dengan tekun untukmencari makna dari Kebenaran Sejati (Prajna Paramita)! Demikianlah nasehat-nasehat dari Y.M. Atisha, Beliau menyatakan bahwa nasehat ini bukan hanya sekedar sekumpulan kata-kata saja namun kata dari lubuk hati terdalam Beliau. Bila kita dapat mengikuti ajaran ini, kita bukan hanya akan memberi manfaat bagi diri sendiri namun juga para makhluk lain. Suatu saat Y.M. Atisha ditanya oleh salah seorang dari muridnya, Apakah itu Ajaran Tertinggi Dharma? Y.M. Atisha menjawab : 1. Ketrampilan tertinggi adalah pencapaian ketanpaegoan. 2. Kemuliaan tertinggi adalah penaklukkan pikiran diri sendiri. 3. Kesempurnaan tertinggi adalah memiliki pikiran penuh niat menolong yang lain. 4. Vinaya tertinggi adalah batin pikiran senantiasa penuh waspada. 5. Penyembuhan tertinggi adalah Pemahan sifat tanpa keberadaan hakiki dari segala sesuatu. 6. Aktivitas tertinggi adalah tidak tunduk pada kerisauan duniawi. 7. Pencapaian tertinggi adalah pengurangan dan perubahan sifat dari nafsu-nafsu. 8. Pemberian tertinggi ditemukan di dalam ketidakmelekatan. 9. Sila tertinggi adalah sebuah batin pikiran yang damai. 10. Kesabaran tertinggi adalah kerendahan hati. 11. Upaya tertinggi adalah melepaskan kemelekatan dalam berkegiatan. 12. Meditasi tertinggi adalah pikiran tanpa maksud keinginan. 13. Kebijakasanaan tertinggi adalah tidak menanggapi segala sesuatu hanya seperti apa yang kelihatan. Atas berkah dan pahala yang diperoleh ajaran ini, semoga semua makhluk terbebaskan dari lautan samsara. Semoga semua makhluk berbahagia, mendapatkan kedamaian dan mencapai Kesempurnaan Agung. Sarwa Manggalam Borobudur, waisak 2547 __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
