PESAN DHARMA KONFERENSI AGUNG SANGHA INDONESIA (KASI)
DALAM RANGKA MENYAMBUT TAHUN BARU 2007
Saudara-saudara yang berbahagia di mana pun berada! Kini kita akan
memasuki lembaran baru dari perhitungan Masehi tahun 2007. Mungkin
banyak peristiwa dan kejadian yang telah kita alami dan saksikan
bersama-sama di tahun-tahun sebelumnya, diantaranya tahun 2006 yang
sebentar lagi akan kita tinggalkan ini.
Peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang memang selalu hadir
sebagai ciri atau pertanda dari perjalanan kehidupan yang selalu
berubah ini. Bahkan, bisa kita katakan bahwa bila segala sesuatu itu
tiada yang kekal atau selalu mengalami perubahan, maka dengan ini
menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian itulah
yang sesungguhnya menjadikan perubahan dalam kehidupan.
Sabbe Dhamma Anicca `ti (Sabbe Sankhara Anicca) : segala sesuatu itu
tidak kekal adanya, menunjukkan bahwa saat ini kita pun sedang
mengalami perubahan, sedang berada dalam arus proses, sebagaimana
pergerakan hidup yang bergerak dari pagi menuju siang, dari
terbenamnya matahari menuju terbitnya malam, dari menyingsingnya
fajar di pagi hari menuju benderangnya terang tanah menyambut derap
langkah manusia yang beraktifitas, dari selesainya perhitungan tahun
2006 menuju terbitnya fajar baru 2007.
Begitulah dinamika kehidupan berjalan dan terus akan berjalan.
Berbagai peristiwa dan kejadian dating, muncul dan lenyap. Peristiwa
dan kejadian yang kadang datang biasa-biasa saja atau ada kalanya
yang berlangsung secara dramatis, luar biasa dan menghentikan
kesadaran kita. Berbagai bencana entah bencana karena alam atau atas
kelalaian kita sendiri bisa datang dan menyergap kehidupan kita.
Begitu pula berbagai keberuntungan entah karena warisan karma lalu
atau atas tekad dan usaha serta kesadaran kita saat ini bisa berbuah
dan menghampiri dalam kehidupan kita.
Segalanya berlangsung dalam proses dinamika dengan cirri-ciri, sifat-
sifat serta perasaan yang kita alami. Kadang duka kadang suka,
kadang kita menderita dan sering kali pula kita berada dalam duka
cita secara kolektif, kadang kita tertawa, senang, bahagia menerima
segala keberuntungan dan kesejahteraan kita. Kehidupan berjalan
bagai dua sisi dari satu keeping mata uang yang sama, segala
bergerak, mengalir dalam bentuk dan wajahnya dalam dua sisi yang
selalu silih berganti, sepertinya tak ada yang sempurna, lengkap dan
penuh di dalam setiap realitas yang kita alami.
Realitas tampaknya menunjukkan sesuatu yang jauh dari sempurna atau
perfeksionis. Memang ada aspirasi kesempurnaan dalam diri kita yang
menjadi tujuan dan cita-cita kita yang beragama Buddha, namun dalam
kenyataan kesempurnaan itu tampaknya amat jauh dari wujudnya.
Karenanya untuk dapat menghadapi segala apa pun yang mungkin
terjadi, baik atau buruk yang bisa datang dan menimpa, hendaknya
kita untuk tidak terlalu melekat terhadap paham perfeksionis.
Oleh karena itu, sebagai agama yang mengajarkan untuk tidak jatuh
dalam optimisme yang berlebihan maupun pesimisme ekstrim, hendaknya
kita sebagai siswa Sang Buddha yang mengajarkan tentang kehidupan
yang realitis, dapat selalu sadar dan waspada, dapat selalu berada
di dalam keseimbangan di dalam mengenali mana yang benar, mana yang
kurang benar, mana yang jauh dari kebenaran dan mana yang memang
sesungguhnya bergerak maju sesuai aspirasi kesempurnaan dan cita-
cita tertinggi mencapai kesadaran penuh nan sempurna.
Dengan menyadari realitas ini, maka seyogyanyalah kita sebagai insan
manusia di dunia ini kita harus bisa memberikan kesempatan kepada
mereka yang masih belum menjalankan kehidupannya secara benar, agar
mereka berkesempatan untuk menjadi benar dan menjadi lebih benar
lagi.
Seperti ajaran Hyang Buddha yang mengajarkan kebenaran, yang membawa
kebaikan, yang membawa makna untuk alam semesta, begitulah hendaknya
kita dapat mensyukuri kehidupan ini, dapat belajar dari segala
apapun kejadian dan peristiwa yang kita alami, dan selalu dapat
memetik makna dan hikmah di baliknya.
Seyogyanya juga kita sebagai manusia dan murid dari Hyang Buddha
Sakyamuni, dapat selalu belajar yang benar, belajar kebenaran yang
bermakna dan berfaedah dan seutuhnya. Mungkin sulit untuk menjadi
orang yang benar, namun alangkah baiknya dan bijaksananya kita
selalu bersikap untuk selalu mau belajar tentang kebenaran.
Semoga di tahun 2007 ini, kita semua selalu berada di jalan yang
benar!
Sadhu, Sadhu, Sadhu
Jakarta, 31 Desember 2006
Konferensi Agung Sangha Indonesia
Vidya Sasana Sthavira
Sekretaris Jenderal