Memaknai Pencerahan di Bulan Purnama Sidhi** Oleh Eddy Setiawan* Buddha adalah kata yang mengandung makna “Tercerahkan/sadar”, bukan monopoli seseorang tapi milik semua mahluk, menembus sekat-sekat suku, agama, ras, spesies bahkan dimensi. Setiap mahluk memiliki benih Kebuddhaan, untuk menumbuhkan benih tersebut agar berbuah pencerahan tertinggi tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras masing-masing untuk mengikis tiga akar kejahatan yakni kebencian, keserakahan dan kebodohan batin serta mengembangkan Jalan Utama berfaktor Delapan yakni pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, berusaha benar, perhatian benar dan samadhi benar.
Buddhisme yang kita kenal saat ini bersumber dari pencerahan seorang pangeran kerajaan Kapilavastu-Nepal bernama Siddhartha Gautama, setelah usaha gigihnya mencari “obat” untuk mengatasi penderitaan semua mahluk agar semua mahluk berbahagia. Mulai dari meninggalkan istana, istri, anak dan kelurganya, meninggalkan semua kenikmatan duniawi yang dimungkinkan oleh kedudukannya sebagai seorang pangeran, untuk berkelana dan belajar dari banyak guru mengenai hidup dan kehidupan yang baginya tidak memuaskan ini, melakukan berbagai pertapaan ekstrim dengan cara menyiksa diri karena beranggapan bahwa nafsu hanya dapat ditaklukkan dengan cara itu. Namun setelah enam tahun, ia menyadari pendekatan tersebut tidak tepat dan mengubah metodenya, sehingga akhirnya, melalui samadhi yang benar tercerahkan di bawah pohon Bodhi. Setelah tercerahkan beliau kemudian mulai mengajarkan tentang jalan menuju pencerahan sebagaimana yang telah dilaluinya, awalnya kepada lima orang sahabatnya semasa menyiksa diri kemudian menyebar luas hingga hari ini. Pencerahan yang dialami Sidharta 2551 tahun yang lalu berdasarkan penanggalan lunar, adalah salah satu dari tiga peristiwa suci yang diperingati umat Buddha sebagai hari suci Waisak. Dua peristiwa lainnya adalah peristiwa yang sangat personal yakni kelahiran di Taman Lumbini dan Parinibana/mangkat di Kusinara. Pencerahan tersebut pada dasarnya muncul setelah Sidharta mampu memandang hidup yang pada hakekatnya tidak memuaskan ini apa adanya. Sebenarnya Buddha Gautama hanya menemukan kembali “obat” ini, karena Buddha-Buddha lain pada masanya juga mengajarkan hal yang persis sama demikian pula mahluk-mahluk yang mencapai Kebuddhaan akan mengalami pencerahan yang sama. Ajaran Murni inilah yang tetap menjadi inti dari seluruh cabang dalam Buddhisme dan itu diekspresikan pada hukum Empat Kesunyataan Mulia; adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan yang disebut jalan utama berunsur delapan. Dalam Buddhisme, pemahaman intelektual saja tidaklah cukup, namun diperlukan praktik berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari sehingga ajaran menjadi bagian yang utuh dari diri dan menjadi laku dalam keseharian. Apabila agama, kita analogikan sebagai obat, maka mengetahui obat dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit tidaklah menyembuhkan, tapi dengan meminum obat tersebut sehingga mengalir dalam aliran darah barulah mampu memberikan kesembuhan. Hidup ini pada dasarnya tidak memuaskan, kata Buddha, oleh karena itulah manusia senantiasa berusaha mengalihkan perhatiannya pada segala sesuatu yang bersifat eksternal seperti musik, televisi, barang mewah, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, berusaha menghindari hal-hal yang menyedihkan bahkan tak sedikit yang menggunakan obat-obatan terlarang, karena pada dasarnya manusia tidak mau memandang hidup ini sewajarnya sehingga membutuhkan pelarian saat asa tak sejalan dengan realitas. Namun kebanyakan akan kecewa karena pencariannya bersifat paradok. Kebahagiaan itu sifatnya internal, bagaimana mungkin diperoleh dengan hal-hal eksternal? Dipuji-dicela, sedih-bahagia, berkumpul-berpisah, untung-rugi dan lain sebagainya adalah kondisi alami yang ada di dunia ini. Sebagian besar manusia berusaha mengejar hal-hal positif seperti dipuji, bahagia, berkumpul, untung dan berusaha menghindari yang tidak menyenangkan, tapi Buddhisme mengajarkan untuk dapat menerima keduanya secara wajar karena demikianlah hidup dan kehidupan, umat Buddha diajarkan untuk tidak terikat pada semua kondisi karena pada dasarnya segala sesuatu tidak kekal adanya. Dalam Empat Kesunyataan Mulia, hal pertama yang diajarkan adalah kesadaran akan eksistensi penderitaan, menyadari apa yang sedang terjadi adalah suatu pencerahan, oleh karena itulah kaum intelektual, para filsuf adalah termasuk orang-orang yang tercerahkan meski belum secara holistik. Pada saat kita memiliki kesadaran bahwa penderitaan adalah sesuatu yang alami, apa adanya dan universal maka menurut Buddha kita telah melepaskan sejumlah kekhawatiran yang tidak perlu. Pada saat seorang pemuda-mahasiswa menyadari penderitaan yang dirasakannya juga penderitaan yang dirasakan seluruh rakyat, sadar bahwa terjadinya penderitaan adalah akibat adanya penindasan struktur, sadar bahwa kemiskinan lahir dari kebijakan-kebijakan penguasa yang menghamba pada modal asing maka ia telah mengambil suatu langkah penting menuju pembebasan itu sendiri bagi dirinya maupun masyarakat luas. Dalam bukunya Pedang Pusaka Kebijaksanaan Acarya Sheng Yen menyatakan bahwa pencerahan adalah pengalaman spiritual yang dalam seketika menyadarkan dan menyempurnakan hidup seseorang yang mengalaminya. Penyempurnaan dimaksud terkait dengan kebijaksanaan dan kesucian, yang membuatnya terbebas dari samsara. Mereka yang mengalami pencerahan menyadari hakikat dirinya serta dunia yang kosong dan sementara, sehingga tidak lagi melekat pada apapun. Disini dapat kita analisa bahwa dunia saat ini sudah krisis orang-orang tercerahkan, sebagian besar manusia hilir mudik dan tersesat, alih-alih mencari pencerahan dengan meninggalkan segala kenikmatan duniawi justru manusia saat ini mengakumulasi berbagai kenikmatan duniawi. Pejabat tidak puas dengan penghasilannya sehingga terus berkorupsi, seseorang bergabung di organisasi, partai ataupun kepanitiaan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi, pengusaha tidak mau porsi keuntungannya berkurang untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, bahkan para penegak keadilan pun masih menghamba pada materi sehingga mudah disogok. Pencerahan Sidharta memberikan teladan bahwa pencapaian kebahagiaan tidak bersumber dari harta benda, kekuasaan dan hal-hal fisik lainnya tapi bersumber dari keiklasan melepas. Dengan mengikis kemelekatan terhadap harta benda, konsepsi, hubungan dan lain sebagainya maka seseorang akan menjalankan hidupnya dengan penuh damai, memberikan kebahagiaan pada orang lain bahkan semua mahluk. Selamat Hari Suci Waisak 2551, Appamadena Sampadetha, berjuanglah dengan sungguh-sungguh. * Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI (Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia) ** Artikel ini adalah versi asli dari artikel berjudul Memaknai Pencerahan di Purnama Sidhi yang dimuat di Harian Kompas, Kamis 31 Mei 2007 ____________________________________________________________________________________ Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097 ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
