Borobudur milik Siapa?Memperebutkan Kue GunadharmaHarian Umum Suara Merdeka;
Rabu, 31 Maret 2004 KUE PESTA: Candi Borobudur yang megah itu pada
akhirnya bak kue pesta yang diingini banyak orang. Berbagai persoalan yang
telah muncul di situ memang banyak yang dipicu oleh "pembagian kue"
tersebut.(j) - SM/Saroni Asikin
"THE grandeur of Borobudur is something immense, sphinx-like,
incomprehensible and yet so fascinating," ujar penulis bernama Nicholas J Krom.
Ya, kebesaran Candi Borobudur adalah karena keluarbiasaannya, serupa sosok
Sphinx, tak terpahami tapi dengan begitu menjadi sangat menakjubkan.
Sejak kapankah kebesaran itu dibangun? Tak ada catatan yang secara pasti
menunjukkan kapan candi megah itu mulai dibangun Gunadharma. Berbagai sumber
merujuk 760 M dan selesai 830 M. Akan tetapi sekali lagi, tak ditemukan
inskripsi yang secara jelas membenarkannya.
Dan setelah dibangun, beberapa abad oleh perubahan alam, candi besar itu
terpendam. Kali pertama ditemukan kembali misalnya bisa dijumpai pada Babad
Mataram yang menyebutkan penemuan "bukit seribu arca" di wilayah itu. Sejauh
itu, belum ada upaya membuka rahasia penemuan.
Hingga 1814 saat Sir Thomas Stamford Bringley Raffles diberi tahu mengenai
sebuah monumen peninggalan Buddha yang terpendam, dia memerintahkan seorang
insinyur Belanda, HC Cornelius, beserta 200 orang meruntuhkan pepohonan dan
menggali tanah yang memendam bangunan itu. Bertahun-tahun proses penggalian
hingga bangunan yang berupa puing-puing bisa dikenali. Lalu pada 1907-1911,
restorasi pertama besar-besaran dilakukan dalam pimpinan Theodor van Erp.
Setelah masa itu, dunia memiliki lagi bangunan yang termasuk sebagai
keajaiban dunia. Ya, Candi Borobudur menjadi satu dari tujuh yang ada hingga
kini. Namun lagi-lagi, proses alam tak dapat ditangkal. Hujan dan kotoran alam
selalu menimpa candi tersebut. Lumut tumbuh di bebatuan candi. Air hujan yang
meresap ke batu menyisakan garam yang membuat rusak batu. Pemerintah Indonesia
meminta perhatian dunia untuk menyelamatkan Borobudur pada paro 1950-an.
Perhatian diberikan, tapi upaya penyelamatan terganggu peristiwa G30S PKI.
Lalu muncul satu sosok penting yang patut dicatat, yaitu Dr Sukmono.
Arkeolog itu getol mengampanyekan penyelamatan Borobudur dalam banyak forum
resmi dunia, antara lain International Congres of Orientalist pada Agustus 1967
di Ann Arbor, Amerika Serikat. Pada 1968, melalui Unesco dikampanyekan "Save
Borobudur". Restorasi besar-besaran dilakukan lagi pada 1973 hingga selesai
1983 dan ada keyakinan candi tersebut dapat bertahan hingga 1.000 tahun.
Beberapa tahun setelah itu, Unesco pun memasukkan Borobudur dalam daftar
warisan budaya dunia bersama candi lainnya, Candi Prambanan.
Tak termungkiri, pesona dan misterinya lalu menjadikan Borobudur bak
sekuntum bunga yang wangi dan memancing kumbang-kumbang berdatangan.
Keberadaannya menjadi objek wisata yang memancing kedatangan wisatawan dari
berbagai negara.
Kumbang lain yang ikut datang adalah orang-orang yang ingin ikut menikmati
keramaian pariwisata di situ. Sebut salah satu misalnya para pedagang. Kelompok
terakhir itu pada akhirnya memberi warna pada dinamika tempat wisata itu.
Namun, persoalan mereka juga yang akhirnya menjadi persoalan inklusif dalam
pengembangan dan pelestarian candi.
Dalam hubungannya dengan penataan pedagang, rencana pembangunan Pasar Seni
Jagad Jawa (PSJJ) tahun lalu boleh dibilang kasus paling kontroversial. Gagasan
itu harus rela gugur karena desakan penolakan. Dan, kini yang bergulir adalah
soal rencana pembangunan shopping street. Lagi-lagi, itu pun terkait pada
persoalan penataan pedagang.
Seperti telah disebutkan dalam dua tulisan sebelumnya, gagasan itu betapa
pun masih sebatas wacana tak bisa mengalir dengan lempang. Selain
ketidakyakinan pedagang bahwa gagasan itu akan menguntungkan mereka, muncul
pula wacana mengenai ketergangguan konservasi situs candi. Yang terakhir itu
cukup serius dengan tambahan masalah, yaitu terancamnya Borobudur dicabut dari
daftar warisan budaya dunia oleh Unesco.
Milik Siapa?
Melihat itu semua, lalu muncul semacam kiasan di antara orang-orang yang
selama ini concern terhadap Borobudur dan segala permasalahannya. Ya, Candi
Borobudur bak sebuah "kue besar" yang ingin dinikmati siapa saja. Akan tetapi
sebenarnya milik siapakah "kue besar" Borobudur hasil kreasi "koki" arsitek
Gunadharma itu?
Perbincangan dengan beberapa "tokoh" Borobudur beberapa waktu lalu memang
memunculkan semacam opini bahwa terlalu banyak orang yang berkepentingan pada
Candi Borobudur. Itu juga bukti bahwa sebagai kue besar, banyak sekali yang
ingin ikut memakannya. Yang ironis, lalu muncul ketidakadilan pembagian kue.
"Kami ini orang yang tinggal di sini. Kalau Borobudur itu kue pesta, kami
seolah-olah hanya melihat dan ngiler melihat mereka berpesta. Kami dapat
sisanya saja sudah untung," ungkap Sucoro, salah seorang "tokoh" Borobudur.
Lebih ironis lagi apa yang dikemukakan lelaki itu bahwa Desa Borobudur
adalah desa termiskin kedua belas di Kabupaten Magelang. "Mengapa kami jadi
yang termiskin, sementara kami punya kue sebesar Borobudur?"
Tak cuma ungkapan emosional seperti itu, dia pun menyodorkan data. Katanya,
tiket masuk Borobudur dengan harga Rp 7.000 dan 10 dolar bagi wisatawan asing
semua masuk ke PT Tawan Wisata Candi Borobudur (PT TWCB). "Anda bisa hitung
berapa perolehannya dalam setahun. Desa kami (Desa Borobudur, Kecamatan
Borobudur Kabupaten Magelang-Red) hanya dijatah Rp 50 juta per tahun. Itu pun
dahulu kesepakatannya melalui demonstrasi."
Di kalangan pedagang, untuk bisa ikut menikmati kue Borobudur pun bukan hal
yang mudah. "Untuk bisa punya kios PKL saja kami harus berjuang 20 tahun. Kini
setelah menempati kompleks di pasar relokasi, dengan kondisi yang sangat
memprihatinkan, masih diotak-atik lagi dengan gagasan Jagad Jawa dan kini
shopping street. Mau dapat sisa dari pesta kue saja sulitnya minta ampun,"
papar Basiyo (42), pedagang.
Banyak orang yang berkepentingan seperti diungkapkan Nurochmat dalam tulisan
sebelumnya, tak semata berhenti pada pembagian kue Borobudur, tapi juga pada
persoalan konservasi. Ketentuan ketat Unesco mengenai batasan wilayah
konservasi Candi Borobudur pun belum sepenuhnya diterima orang di wilayah itu.
"Kalau Zona I dijaga betul sebagai daerah konservasi, dan Unesco serius
melakukannya, itu bagus," tandas Priyoto, "Akan tetapi untuk Zona II dan III,
seharusnya lebih fleksibel, ada toleransi. Lalu, siapa sih sebenarnya yang
punya Borobudur itu? Unesco atau kami yang ada di sekitarnya? Kalau badan itu
hanya ngurusi konservasi saja, baguslah. Namun karena alasan konservasi,
orang-orang sekitar jadi lapar, bagaimana itu?"
Dia juga bilang, selama ini apa yang dilakukan orang-orang Borobudur sama
sekali tak merusak situs candi.
Jadi memang Borobudur akan selalu memunculkan kompleksitas persoalan.
Konservasi situs budaya itu bukan hal yang bersifat main-main. Akan tetapi
pengembangan dan pengelolaannya pun diharapkan bisa menjangkau semua
stakeholder yang ada. Setelah Jagad Jawa gagal, tentu saja sebagai alternatif
shopping street seharusnya menjadi solusi terbaik.
Barangkali perlu dicamkan ucapan "tokoh" Borobudur, Nurochmat, bahwa
penyelesaian apa pun yang berkenaan dengan Borobudur tak bisa hanya berupa
solusi mikro. Solusi makro harus benar-benar dicari mengingat kompleksitas
persoalan di dalamnya. Akan tetapi mari kita lihat seberapa jauh gagasan
shopping street bagus dan menguntungkan semua pihak. Sebab, bukankah Gunadharma
membangun Candi Borobudur tak semata untuk kebesaran namanya sendiri? Maka,
kaukah pemilik sah kue Gunadhrama itu?(Saroni Asikin-33j)
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]