Nigeria, Sabtu jam 4 sore, setelah mempersiapkan barang customer 
yang akan diambil pada sore hari itu, saya berangkat bersama 
customer dan juga teman saya, Maxwell menuju Kedutaan Besar Republik 
Indonesia di Lagos Island (Victoria Island). Biasanya saya pulang 
bersama dengan teman Kamerun saya, Abdul, namun karena ia ada 
keperluan lain sehingga pulang lebih awal maka saya memutuskan untuk 
pulang bersama dengan customer saya karena memang masih ada urusan 
yang harus saya  selesaikan walaupun saya harus menemani teman saya 
ke Kedubes. Ternyata inilah awal peristiwa naas bagi kami berdua 
pada hari Sabtu itu.Perjalanan menuju kedubes itu memakan waktu 
sekitar 2 jam dikarenakan kemacetan akibat hujan deras yang terus 
menerus  mengguyur kota Lagos sejak beberapa hari terakhir ini 
sehingga jalan-jalan yang memang sudah rusak dibanyak tempat menjadi 
semakin rusak dan meninggalka lubang-lubang besar menganga yang siap 
memakan korban pengendara mobil yang tidak berhati-hati. 

Sesampainya di Kedubes, kami kemudian bertemu dengan beberapa staff 
kedubes dan juga menemui Bp. Eka, bagian Humas Kedutaan (cmiiw). 
Teman saya, Maxwell berniat meminta visa untuk berkunjung ke 
Indonesia dalam rangka bisnis. Karena saya dan terutama  teman saya 
sudah mengenal dengan baik Bp. Eka, kami kemudian berbincang-bincang 
santai sampai sekitar jam 8 malam. Akhirnya kami meminta izin untuk 
pulang karena hari  sudah beranjak malam dan teman saya juga harus 
mengantar saya pulang ke rumah.

Perjalanan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia menuju tempat 
saya, Satellite Town yang kalau dalam keadaan tidak macet hanya 
memakan waktu 30 menit, ditempuh dalam waktu hampir 2 (dua) jam. 
Kemacetan pertama terjadi tidak lama setelah kami berangkat dari 
kedubes, kemacetan yang diakibatkan oleh adanya badan jalan yang 
ditutup karena perbaikan jalan. Hati sempat deg-deg-an  saat 
terjebak dalam kemacetan ini, karena sejak beberapa hari lalu sering 
mendapat kabar tentang adanya arm robber pada saat kemacetan 
dibanyak tempat  dimana pelaku perampokan bersenjata ini mengetuk 
kaca jendela mobil-mobil yang terjebak macet sambil menodongkan 
pistol sementara pelaku yang lain membawa kantong untuk menampung 
uang , perhiasan dan handphone para korban. Setelah melihat adanya 
polisi yang bertugas disana, karena Lagos Island merupakan kawasan 
elite tempat banyak kaum ekspatriat berdiam, hati menjadi sedikit 
tenang walaupun mulai ada perasaan tidak enak menggelayut.

Melewati Apapa, kami kemudian menuju jalan federal Badagry express, 
saat itu jam sudah menunjukkan hamper pukul 9 malam, seharusnya 
teman saya masuk ke daerah Festac, tapi entah mengapa tidak jadi, 
karena teman saya berpikir mungkin jalan Badagry express tersebut 
tidak macet. Ternyata kami menemui kemacetan parah akibat banyak 
kendaraan yang memutar ataupun mogok dan juga kondisi jalan yang 
rusak parah dibanyak tempat. Beberapa kali berhasil keluar dari 
kemacetan tersebut, sampai akhirnya peristiwa itu terjadi¡K.Setelah 
berhasil melewati kemacetan, kami kemudian mendapati kemacetan 
berikutnya, tidak jauh dari Alakeja, sekitar daerah Abdulasu, dikiri 
jalan tiba-tiba ojek yang ditumpangi 3 orang berhenti, 2 diantaranya 
kemudian turun. Teman saya dan saya mulai merasa ada yang tidak 
beres dan benar saja, salahs eorang diantaranya kemudian mengetuk 
jendela kiri depan mobil teman saya itu sambil menodongkan pistol 
meminta supaya teman saya membuka jendela mobilnya. Sekedar info, 
posisi setir ada disebelah kiri dan mobil dikemudikan oleh teman 
saya. Teman saya kemudian membuka jendela mobil, dan perampok itu 
kemudian merampas kalung emas yang dikenakan teman saya, lalu 
meminta uang, handphone dan juga dompet. Dengan pasrah sambil 
diacungin pistol, teman saya menyerahkan semua yang diminta kepada 
perampok tersebut. Tidak ada yang menolong, karena memang para 
pelaku perampokan ini memang dikenal tidak main-main dan siap 
menembak siapa saja yang menolak memberikan hartanya atau mencoba 
melawan. Setelah itu pelaku kemudian menghampiri saya, sama seperti 
yang dimintanya ke teman saya, sayapun menyerahkan handphone saya 
(handphone landline, non GSM), uang N 48.500 (USD 375), dan juga 
dompet saya yang memang tidak ada uangnya. Kemudian pelaku mulai 
menggeledah celana saya mungkin ingin mencari tahu apakah saya 
memiliki handphone GSM (saya memang membawa handphone GSM dan 
kebetulan saya simpan di saku bawah celana selutut saya) namun dia 
tidak menemukan yang dicarinya. Lalu dia berbalik menuju teman saya 
dan kemudian seperti melihat ada sesuatu dibelakang (mungkin 
polisi ??) dia lalu berjalan menjauh dari mobil. Teman saya yang 
berpikir perampoknya sudah melepas kami, karena memang sudah 
menjarah semua yang kami miliki (kecuali handphoe GSM dan juga 
handphoe landline kami yang dikembalikan/dibuang kembali kepada kami 
karena tidak laku dijual), kemudian menutup jendela mobil dan mulai 
berjalan. Tidak disangka-sangka, pelaku perampokan bersenjata itu 
kemudian berbalik lagi menghampiri kami dan langsung menembakkan 
pistolnya¡K.kaca jendela pecah berhamburan, saya merasakan ada 
sesuatu yang mengenai lengan tangan kiri saya dan terus melaju 
melewati lengan saya. Teman saya kemudian berkata kepada pelaku, 
mengapa menembak kami? Bukankah kami sudah cooperate menyerahkan 
semua yang diminta. Pelaku pun kemudian mengatakan sorry lalu 
menghampiri saya dan berkata sorry white (sorry orang kulit putih). 
Kemudian mereka berlalu dan mulai merampok mobil-mobil dibelakang 
kami. Sempat terdengar 3 tembakan berikutnya, entah siapa lagi yang 
ditembak mereka. Mungkin pelakunya bukan hanya mereka berdua, 
mungkin saja ada puluhan perampok yang merampok mobil-mobil yang 
sedang terjebak kemacetan tersebut. 

Teman saya kemudian mulai menjalankan mobilnya kembali, saya 
memeriksa tubuh saya, mencari tahu adakah bagian lain yang terkena 
atau mungkin peluru itu menembus ke badan saya. Ternyata hanya 
lengan kanan saya yang terluka akibat peluru tersebut. Lalu saya 
melihat darah berceceran, kemudian saya bertanya kepada teman saya 
apakah ia terluka, lalu ia mengatakan iya sambil menunjukkan lengan 
kanannya. Sambil menyalakan lampu dalam mobil, saya melihat darah 
mengalir dari dalam kemeja lengan panjangnya. Kemudian saya buka 
kancing lengan panjangnya dan saya gulung bajunya, dan saya 
mendapati 2 buah luka menganga, cukup dalam dimana ada bagian daging 
yang hilang dan darah mengalir dari luka tersebut. Kemudian dia 
memberikan sapu tangannya untuk saya ikatkan dilengannya untuk 
mencegah darah keluar terlalu banyak. Sambil menahan sakit yang 
sangat, kami meneruskan perjalan menuju rumah saya.  Tidak jauh 
kemudian kami masih sempat didatangin beberapa orang yang kemudian 
bertanya ada apa. Kami hanya bias mengatakan kami tidak mempunyai 
apa-apa lagi bahwa kami baru saja dirampok sambil menunjukkan luka-
luka dilengan kami. Mungkin saja mereka itu juga perampok yang 
berpura-pura menghampiri kami.  


Sebelumnya, pada saat kami melewati Apapa, teman serumah saya,Abdul, 
warga negara Kamerun, menelpon saya, ia rupanya khawatir karena saya 
belum pulang mengingat situasi yang memang tidak aman saat ini. Dan 
2 tetangga saya, orang Nigeria juga menghubungi saya setelah 
kejadian perampokan tersebut karena mereka juga khawatir saya belum 
juga pulang. Sempat saya biarkan dan tidak saya angkat telepon 
mereka dengan memencet tombol silence setiap kali mereka menelpon 
karena saya takut akan ada perampok lain yang dating lagi. Baru 
kemudian setelah memutar dan memasuki jalan pemukiman, saya 
mengangkat telpon salah satu tetangga yang menghubungi saya. Saya 
kemudian menceritakan peristiwa yang baru kami alami tersebut, 
sambil meminta mereka mempersiapkan obat-obatan first Aid untuk 
kami, Setibanya dirumah, saya melihat teman kamerun saya baru saja 
mengeluarka mobilnya, dan juga tetangga serumah saya (1 rumah 
terdiri dari beberapa rumah yang disewakan) bersiap-siap menjemput 
kami. Dikiranya para perampok itu juga merampok mobil teman saya, 
BMW seri X5. Kemudian teman saya, Maxwell memarkirkan mobilnya dan 
bersama dengan Abdul kami kemudian menuju sebuah rumah sakit untuk 
mendapatkan pertolongan pertama.   Dokter tidak bisa memastikan 
apakah ada peluru/serpihan peluru yang masuk kedalam tubuh teman 
saya, dan disarankan untuk menjalani x-ray. Kemudian setelah itu, 
luka kami dibersihkan dan dioleskan obat untuk menghentikan 
pendarahan kami. Setelah mendapatkan perawatan, kami kemudian menuju 
rumah, teman saya tidur dirumah kami karena memang sudah terlalu 
malam, dan juga faktor keamanan dan mungkin masih shock dengan 
peristiwa perampokan tersebut yang baru pertama kali kami berdua 
alami sepanjang usia kami.

Minggu, 01 Juli, kami memeriksakan kembali luka kami, luka yang saya 
alami sudah kering namun teman saya karena lukanya cukup dalam, 
masih harus menjalani treatment beberapa kali dan juga x-ray untuk 
mengetahui apakah ada serpihan peluru yang masuk dalam tubuhnya. 
Sedangkan pelurunya telah kami temukan di mobil. Sebuah kenang-
kenangan manis dari Nigeria ļ. Terima kasih buat teman-teman Nigeria 
saya, Chuma dan istri serta Stanley, juga kepada teman Kamerun saya, 
Abdul atas perhatian dan juga bantuannya kepada saya dan Maxwell. 
Semoga tidak ada serpihan peluru atau apapun pada luka Maxwell.Karma 
buruk telah berbuah, semoga saya dapat semakin baik dalam kehidupan 
ini.

Sayang saya lupa memotret keadaan mobil pasca penembakan tersebut 
mungkin karena masih shock. Tapi saya sempat memotret luka di lengan 
teman saya dan juga memotret peluru yg kami temukan di mobil teman 
saya itu.

Francis
Lagos, Nigeria
Senin, 02 Juli 2007
00.10 am
 

PS: Setelah kejadian yg kami alami tersebut, 2 hari kemudian 
(walaupun katanya terjadi setiap malam di jalur tersebut), tetangga 
saya, Chuma melihat dengan mata kepalanya sendiri korban perampokan 
bersenjata di sekitar jalan express itu (Alakeja). Seorang pria 
tewas didalam mobilnya karena perampokan bersenjata, dan mobil 
beserta mayat orang tersebut belum dipindahlan dari jalan tersebut 
pada pagi harinya saat teman saya melintas. Dan hari Rabu, 04 Juli 
2007 terjadi aksi perampokan bersenjata, dimana para perampoknya 
naik ke dalam bus kota dan merampas semua harta benda penumpang bus 
tersebut. Ini dialami oleh teman wanita Abdul, orang Kamerun yg 
tinggal bersama saya di Lagos, Nigeria. Juga kemarin, Kamis, terjadi 
aksi penembakan membabi buta yg dilakukan para perampok bersenjata 
itu di jalur express Alakeja. Kebetulan, salah seorang staff bank 
customer saya berada disekitar tempat kejadian dan lari sekencang-
kencangnya begitu mendengar bunyi letusan senjata api.

Kalau dipikir kembali, sungguh karma baik masih menaungi saya. Kalau 
tidak mungkin kami berdua sudah tewas terbunuh dalam peristiwa 
penembakan bersenjata tersebut.


Kirim email ke