Hari ini saya menonton sekilas sebuah video clip yang mengisahkan seorang 
lelaki yang sudah meninggal dan masih berada di sekitar kekasihnya. Dia 
memandang kekasih wanitanya yang juga sedang merindukannya tanpa bisa berbuat 
apa-apa, hanya memandang. Video clip ini membuat saya merenung, “Andaikan suatu 
saat saya harus meninggalkan orang-orang yang saya kasihi, kenangan apa yang 
saya tinggalkan di dalam hati mereka?” Saya pun jadi teringat sebuah buku 
berjudul “Who Will Cry When You Die” tulisan Robin Sharma. Judul di buku itu 
membuat keaktifan pikiran saya berhenti sebentar dan meninggalkan sebuah 
pertanyaan yang masih membekas sampai sekarang. Pertanyaan itu seperti 
menyentuh saya untuk mencari esensi dari hidup saya ini. Jika setiap orang pun 
akhirnya akan mati dan suatu saat hidup ini akan berakhir, maka apa yang harus 
dilakukan dalam hidup ini? Jika setiap kehidupan memang sangat berharga, maka 
bagaimana cara menghargai kehidupan ini?

Banyak klien datang ke terapi karena memiliki luka batin di dalam hidupnya. 
Beberapa adalah korban perkosaan semasa kecil oleh orang terdekat mereka. 
Beberapa korban kekerasan oleh orang yang mereka cintai. Dan semua itu 
menimbulkan luka yang sangat dalam dan membekas sepanjang hidup mereka. Seorang 
anak menjadi menyimpan sebuah kenangan buruk atas perlakuan kekerasan ayahnya, 
seorang istri menyimpan kenangan terburuk dalam hidupnya atas kekerasan yang 
dilakukan suaminya, seorang menantu menjadi trauma terhadap perkawinan karena 
perlakuan kasar mertuanya, seorang kekasih mencoba mengakhiri hidup atas 
perselingkuhan pasangannya. Semua itu membuat saya merenung, betapa besar peran 
yang kita lakukan dalam hidup ini dan bagaimana peran itu bisa meninggalkan 
goresan luka batin yang sedemikian dalam; tapi juga bisa meninggalkan sebuah 
kenangan yang sangat menginspirasi.

Beberapa waktu lalu saya membaca buku tulisan Anand Krisna yang berjudul 
“Atisha”. Di salah satu bab buku itu, ada seorang murid Atisha bertanya 
kepadanya yang kurang lebih seperti ini, “Guru, jika murid-murid yang kau 
bimbing sekarang akhirnya menghujat dan menjatuhkanmu, maka untuk apa guru 
masih terus mengajar?”, lalu Atisha menjawab dengan sangat simple, “Karena saya 
menyukai mengajar.” Saat itu saya bingung dengan jawaban Atisha. Sangat masuk 
akal pertanyaan muridnya, bukankah semestinya Atisha berhenti saja mengajar 
dari pada harus menjalani kehidupan yang penuh hujatan?


Ketika pertama kali saya diundang untuk berbicara di sebuah talk show, saya 
sangat berdebar-debar karena tidak tahu apa yang akan saya bicarakan. Dalam 
relaksasi ke Superconscious Mind, muncul jawaban “Bicarakan apa yang kamu 
sukai.” Jawaban itu mengingatkan kembali kata-kata Atisha kepada muridnya. Lalu 
saya menyusun sebuah presentasi tentang hal yang membuat saya kagum di bidang 
Regresi Kehidupan Lalu dan saya selalu merasa senang jika mensharingkan hal 
tersebut. Setelah talk show itu saya menjadi lebih mengerti jawaban Atisha. Ada 
peran-peran yang sudah ter-build-up secara otomatis di dalam diri kita. 
Sepasang perempuan dan lelaki menikah lalu mempunyai anak, maka peran sebagai 
seorang suami dan ayah langsung ter-build-up di dalam diri lelaki itu, peran 
sebagai istri dan ibu langsung ter-build-up dalam diri sang wanita, dan peran 
sebagai anak ter-build-up di dalam sang anak. Seseorang yang menduduki posisi 
lebih tinggi di dalam perusahaan maka peran pemimpin dan guru
 langsung ter-build-up di dalam dirinya. Seorang dokter atau terapis maka peran 
penyembuh langsung ter-build-up di dalam dirinya. Dan dengan adanya peran-peran 
itu maka jawaban Atisha menjadi sebuah jawaban yang sangat bijaksana. Terkadang 
kita hanya perlu menjalankan peran-peran itu dengan yang terbaik dan belajar 
menyukainya. Jika Atisha tidak menjalankan perannya sebagai guru maka mungkin 
sekarang tidak akan ada ajarannya yang ternyata telah menginspirasi banyak 
orang. Peran apa pun yang kita lakukan akan meninggalkan blue print dalam hidup 
orang lain. Peran seorang ayah yang baik akan meninggalkan blue print yang 
indah pada diri anaknya, peran suami/istri yang setia akan membuat blue print 
yang saling mengisihi pada diri pasangannya, dll. Dan blue print itulah 
kenangan yang kita tinggalkan dalam diri masing-masing orang yang telah kita 
temui. Tubuh kita akan mati dan musnah namun kenangan kita akan tetap tercetak 
di dalam blue print kehidupan orang-orang lainnya. Dan
 jika kita ingin membuat kenangan, semoga itu adalah kenangan yang indah.

Nathalia Sunaidi

Penulis buku "Journey to My Past Lives", Hipnoterapis, Past Life Regression 
Therapist
www.nathaliainstitute.com
   
  Ikuti seminar "Journey to Your Past Lives"

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke