Resep Kebahagiaan


Ada sebuah resep kebahagiaan dari Buddha yang belakangan ini terasa terus 
menggema dalam ingatanku, setelah sebelumnya sempat aku baca dalam sebuah 
posting. Sejujurnya, sebelum membaca posting tersebut, aku bukannya tidak 
tahu mengenai resep itu  Tetapi karena kesederhanaannya, aku tidak 
menganggapnya sebagai hal yang istimewa untuk diingat dan direnungkan.



Ketika seorang raja datang berkunjung ke vihara di mana Buddha bersemayam, 
dia sungguh terkesan akan suasana kehidupan para bhikkhu yang dilihatnya. 
Dan kekaguman itu dia ungkapkan kepada Buddha dengan kata-kata seperti ini: 
"Guru, saya sungguh kagum melihat pancaran ketenangan dan kebahagiaan dari 
murid-muridMu, yang mana tidak pernah saya saksikan terpancar dari wajah 
para petapa lain. Apakah yang menyebabkan murid-muridMu bisa sedemikian 
tenang dan bahagia?"



Buddha menjawab, "Mereka tidak MENYESALI MASA LALU, MENCEMASKAN MASA DEPAN, 
dan HIDUP DALAM DAMAI DI MASA KINI. Itulah sebabnya mereka memancarkan 
ketenangan dan kebahagiaan."



Wahai, seru hatiku, betapa sederhananya, bukan? Tidak ada sesuatu pun yang 
rumit di situ, hanyalah tiga buah formula yang diucapkan dengan kata-kata 
yang sederhana dan mudah dimengerti bagi setiap orang yang cukup cerdas, 
tetapi sekaligus juga langsung mengena kepada inti dari seluruh persoalan 
ketidakbahagiaan kita: kita tidak bahagia karena kita sering MENYESALI MASA 
LALU, MENCEMASKAN MASA DEPAN, dan GAGAL UNTUK HIDUP DALAM KEDAMAIAN DI MASA 
KINI.



Merenungkan kembali kata-kata itu, membuat hatiku terasa ringan, berdesir 
sejuk bagai bara panas yang tersiram air dingin. Ada begitu banyak impian 
yang tak terwujudkan dan menjadikan aku menyesali masa lalu. Ada setumpuk 
harapan yang membuat aku mencemaskan masa depan. Dan ada tak terhitung 
banyaknya tetek bangek sehari-hari yang tanpa sadar menyeret aku kian 
kemari, tiada tenang dan tiada damai.



Kini saatnya untuk menyadari bahwa semua itu tidak berguna. Bahwa 
kebahagiaan itu ada di sini dan saat ini juga, ketika aku mampu menyadari 
kesia-siaan mencemasi dan menyesali, dan saat aku tahu bagaimana membiarkan 
berlalu segalanya.



Chuang 250107

PuzzleBali http://baliedu.blogspot.com 

Kirim email ke