Double setuju!! Kalau mau di-compare dengan Tzu Chi, keberhasilan Bhiksuni 
Cheng Yen bukan karena beliau banyak menceramahi umat, tetapi beliau memulai 
dengan Action; Tindakan! Dimulai dari receh, menjual sepatu anak, dst..dst. 
sampai menjadi besar sekarang. Yang kedua beliau tidak mudah menyerah. Dan yang 
ketiga beliau mampu memberikan motivasi yang benar sekaligus memberi contoh 
melalui tindakan mengapa harus berubah! Soal komentar orang ini itu, tak usah 
terlalu dipusingin. Buddha bilang, diam aja kita dikomentarin. Maju terus jika 
niat kita bersih!

bong nahendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Setuju.....!!!!, Tinggal kapan action nya?.Tolong dikabar luaskan kalau sudah 
terbentuk, siapa tahu konsep ini banyak di contoh oleh vihara-vihara lainnya.
 Semoga Konsep ini cepat terlaksana dengan baik.
 
 ----- Pesan Asli ----
 Dari: Chuang <[EMAIL PROTECTED]>
 Kepada: [email protected]
 Terkirim: Senin, 10 September, 2007 10:14:05
 Topik: Re: [MABINDO] Vihara Sebagai Penggerak Ekonomi Umat
 
 Mungkin yg lebih cocok utk lingkungan wihara dan Buddhisme adalah bidang 
 pertanian, bukan peternakan. Bisa berupa kebun sayur, tanaman hias, atau 
 tumbuhan bernilai ekonomis lainnya. Dan terutama, harus berupa konsep 
 pertanian organik supaya selaras dgn semangat Buddhisme yg menghargai 
 kelestarian alam.
 
 Salam
 
 Chuang
 PuzzleBali http://baliedu. blogspot. com
 ----- Original Message ----- 
 From: <[EMAIL PROTECTED] co.id>
 To: "Mubi Milis" <[EMAIL PROTECTED] com>; "Mabindo Milis" 
 <[EMAIL PROTECTED] .com>; "Milis SamaggiPhala" 
 <samaggiphala@ yahoogroups. com>; "Buddha Vacana" 
 <buddhavacana@ yahoogroups. com>
 Sent: Monday, September 10, 2007 1:29 PM
 Subject: [MABINDO] Vihara Sebagai Penggerak Ekonomi Umat
 
 > Mohon pendapat rekan sekalian.
 > Mengingat banyak umat Buddha di pedesaan yang masih rendah tingkat
 > perekonomiannya, adalah sangat baik jika vihara menjadi penggerak roda
 > perekonomian umatnya, dan tidak hanya bergantung pada umat.
 > Jika kita melongok ke pertapaan trapis rowoseneng, kita akan menemukan
 > bahwa dalam kompleks biara tersebut akan ditemukan peternakan sapi perah
 > yang menghasilkan susu sebanyak 600 liter per hari, 3/4 bagian dari susu
 > tersebut dipasarkan ke masyarakat, 1/4 bagiannya dioleh menjadi keju dan
 > yoghurt bermutu tinggi.
 > Pertanyaannya adalah apakah hal yang sama diperbolehkan diterapkan dalam
 > kompleks vihara?
 > Maksud saya adalah apakah dimungkinkan memelihara sapi perah dalam
 > kompleks vihara (atau mungkin bukan dalam kompleks tetapi intinya
 > sapi-sapi tersebut adalah milik vihara). Apakah mengambil susu sapi
 > termasuk eksploitasi yang tidak dapat diterima dalam ajaran Buddha
 > (sehingga tidak pantas jika hal tersebut dilakukan dalam kompleks vihara,
 > atau oleh vihara, atau bahkan oleh umat Buddha)?
 > Mohon pendapat rekan sekalian.
 >
 
 ________________________________________________________ 
 Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
 http://id.yahoo.com/
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke