Bankir bagi kaum miskin

        Banker To The Poor  Autobiography of Prof. Muhammad Yunus
 http://www.grameen-info.org/Muhammad Yunus, seorang dosen Ilmu Ekonomi di 
Universitas Chittagong, Bangladesh, sehari-hari mengajarkan bejubel teori-teori 
ekonomi kelas wahid kepada para mahasiswanya sementara pada saat yang sama di 
desa-desa di sekitar tempat ia mengajar ribuan penduduk Bangladesh hidup dalam 
kemiskinan/keterpurukan ekonomi. 
Suatu hari ia mengunjungi salah satu desa, desa Jobra, di dekat kampus 
Chittagong, untuk melihat langsung keadaan ekonomi penduduk di sana dan lewat 
perbincangan  hati ke hati dengan para wanita di desa itu, Yunus menemukan 
bahwa ia harus bertindak untuk membantu memperbaiki ekonomi masyarakat desa 
Jobra itu. Dimulai dari sakunya sendiri uang sebesar sekitar USD27 dipinjamkan 
kepada sekelompok (42 orang) wanita untuk membantu usaha kerajinan bambu 
mereka, beternak ayam, menjual telur, dlsb.............. 
30 tahun kemudian upayanya ini telah terbentuk menjadi sebuah Bank perkreditan 
yang dinamai Grameen Bank, dengan 2.422 cabang, mempekerjakan lebih dari 20.000 
karyawan, dan sejak berdiri telah meminjamkan lebih dari USDollar 6 Milyar 
kepada 7juta peminjam. Tahun 2006, M Yunus terpilih sebagai penerima hadiah 
Nobel Perdamaian.

Hadiah Perdamaian Nobel 2006 untuk Muhammad Yunus dan Grameen Bank              
                                Komite Nobel Norwegia telah memutuskan untuk 
memberikan Hadiah Perdamaian Nobel 2006 kepada Muhammad Yunus dan Grameen Bank.
Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat anugerah Hadiah Nobel Perdamaian 
2006.Foto: Fabrice Cofrini / Scanpix

Dalam pengumumannya, Komite Nobel mengatakan bahwa “Hadiah Perdamaian Nobel 
2006 akan dibagi menjadi dua bagian yang sama, antara Muhammad Yunus dan 
Grameen Bank atas upaya mereka menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari 
masyarakat bawah. Perdamaian yang berkesinambungan tidak akan dapat dicapai 
kecuali populasi dalam jumlah besar menemukan cara untuk keluar dari 
kemiskinan. Salah satu caranya adalah kredit mikro. Pembangunan dari bawah juga 
memajukan demokrasi dan hak asasi manusia." 
 Perdana Menteri Norwegia, Jens Stoltenberg memberikan ucapan selamat kepada 
Mohammad Yunus dan Grameen Bank Bangladesh yang mendapat anugerah Hadiah 
Perdamaian Nobel 2006.  "Selama 30 tahun mereka telah memberikan pinjaman 
kepada masyarakat miskin, dan terutama kepada wanita, sehingga mereka dapat 
memulai usaha mereka sendiri dan berupaya keluar dari kemiskinan,” kata Perdana 
Menteri.
 “Saya sangat senang bahwa Komite Nobel Norwegia telah memberikan penghormatan 
kepada Professor Muhammad Yunus dan the Grameen Bank,” kata Menteri Luar Negeri 
Norwegia Jonas Gahr Støre. “Mereka telah memberikan bantuan nyata dan membumi, 
yang memungkinkan jutaan orang keluar dari kemiskinan. Grameen Bank merupakan 
salah satu contoh paling penting tentang bantuan pembangunan yang sukses. 
Grameen Bank telah menciptakan model mikro kredit yang telah ditiru di seluruh 
dunia."
 “Hal ini merupakan kontribusi yang sangat kreatif terhadap debat pembangunan. 
Merupakan hal nyata bahwa memperbaiki taraf hidup seseorang merupakan faktor 
penting dalam menciptakan perdamaian. Oleh karena itu saya sangat senang bahwa 
Komite Nobel memberikan perhatian mereka terhadap permasalahan ini. Kredit 
mikro merupakan hal yang mendapat prioritas dari pemerintah – dan akan 
mendapatkan prioritas yang lebih lagi di masa mendatang,” kata Menteri 
Pembangunan Internasional Norwegia, Erik Solheim.
 Grameen Bank memiliki perwakilan di seluruh Bangladesh, dan 97 persen dari 
enam juta krediturnya adalah wanita. Model pinjaman berdasarkan penghormatan, 
dan kepercayaan akan apa yang dapat dicapai oleh para wanita miskin dan 
kemampuan mereka menciptakan masa depan yang lebih baik untuk mereka sendiri 
jika mereka diberi kesempatan. Ini merupakan konsep yang pertama kali 
diperkenalkan di banyak tempat.
Sumber: http://www.norwegia.or.id/policy/peace/nobelpeaceprize.htm

Nobel Perdamaian Jatuh ke Muhammad Yunus
  Jum'at, 13 Oktober 2006 | 16:26 WIB  
  TEMPO Interaktif, Oslo:Hadiah bergengsi Nobel perdamaian tahun ini diberikan 
kepada Muhammad Yunus dari Bangladesh dan Grameen Bank yang memberikan pinjaman 
kepada warga miskin tanpa jaminan.
 
 "Kedamaian abadi tidak dapat dicapai kecuali kelompok-kelompok populasi besar 
menemukan cara untuk menghentikan kemiskinan. Kredit mikro adalah salah satu 
alatnya," ungkap pernyataan dari Komite Nobel Norwegia yang mengumumkannya 
pukul 09.00 GMT atau pukul 16.00 WIB.
 
 Yunus mendirikan Grameen Bank yang terkenal karena memberikan pinjaman kepada 
warga miskin tanpa pinjaman, khususnya wanita, sehingga mereka dapat memulai 
bisnis mereka sendiri.
 
 Pemenang Nobel mendapatkan hadiah US$ 1,07 juta.
 
             
Business Week has named Dr. Yunus as one its "Greatest Entrepreneurs of All 
Time."
             
                                                                                
                                             Muhammad Yunus (b. 1940)           
    Yunus, the 2006 Nobel Peace Prize winner, founded a banking system 30 years 
ago to lend small amounts of money to the rural poor in Bangladeshi villages. 
Most of the low-interest microloans go to women, who use them to start their 
own profit-making enterprises, mainly in agriculture, crafts, or services.
               
                                                                                
   Grameen Bank now has 2,422 branches, employs more than 20,000 people, and 
has loaned more than $6 billion since its founding. Borrowers own most of the 
equity in the bank. The company has been profitable in all but three years 
since it was founded.
                                                                                
   Key takeaway: Yunus imagined what would happen if a bank extended credit to 
those people who would never traditionally receive it. In the process, he 
created a system that empowered the poor by helping them become entrepreneurs.
                                                                                
                                                                       Read the 
Business Week article on :                     
                   The Greatest Enterpreneurs of All Time                    


 from WIKIPEDIA: M YunusYunus and Rural Development Yunus first got involved in 
fighting poverty after observing the disastrous effects of the famine of 1974. 
During this time, he established a rural economic program as a research 
project. In 1975, he developed a Nabajug (New Era) Tebhaga Khamar (three share 
farm) which the government adopted as the Packaged Input Programme.[2] In order 
to make the project more effective, Yunus and his associates proposed another 
project called 'Gram Sarkar' (the village government).[6] The government 
adopted it in 1980, but the succeeding regime later lifted it away.
 
 Founding of the Grameen Bank In 1976 during his visits to the poorest 
households in village of Jobra near the university he discovered that very 
small loans could make a disproportionate difference to a poor person. His 
first loan consisted of US$27 from his own pocket, which he lent to 42 women in 
the village of Jobra — near Chittagong University — who made bamboo furniture. 
They had to take out usurious loans in order to buy bamboo. They then sold 
these items to the moneylenders to repay them. With a net profit of .50 
Bangladeshi taka (.02 USD), the women were unable to support their families. He 
quickly realized that an institution needed to be created to lend to those who 
had nothing. [7] However, traditional banks were not interested in making tiny 
loans at more reasonable interest rates to poor people, who were considered 
repayment risks.[8].
In December of 1976 Yunus finally succeeded in securing a loan from the 
government Janata Bank to lend it to the poor in Jobra. The institution 
continued to operate by securing loans from other banks for its projects. By 
1982, the bank had 28,000 members. On October 1, 1983 the pilot project began 
operations as a full-fledged bank and was renamed the Grameen Bank (Grameen 
means "of rural area", "of village") to make loans to poor Bangladeshis. The 
Grameen Bank has issued more than US$ 6 billion to 7 million borrowers. To 
ensure repayment, the bank uses a system of "solidarity groups". These small 
informal groups apply together for loans and its members act as co-guarantors 
of repayment and support one another's efforts at economic self-advancement.[9] 
As it has grown, the Grameen Bank has also developed other systems of alternate 
credit that serve the poor. In addition to microcredit, it offers education 
loans and housing loans as well as financing for fisheries and
 irrigation projects, venture capital, textiles, and other activities, along 
with other banking services such as savings.
 The success of the Grameen model has inspired similar efforts throughout the 
developing world and even in industrialized nations, including the United 
States. The Grameen model of micro financing has been emulated in 23 countries. 
Many, but not all, microcredit projects also retain its emphasis on lending 
specifically to women. More than 96% of Grameen loans have gone to women, who 
suffer disproportionately from poverty and who are more likely than men to 
devote their earnings to their families.[10] For his work with the Grameen 
Bank, Yunus was named an Ashoka: Innovators for the Public Global Academy 
Member in 2001.[11]
 
 Nobel prize Muhammad Yunus was awarded the 2006 Nobel Peace Prize, along with 
Grameen Bank, for "their efforts to create economic and social development from 
below."


Yadi Go, dari berbagai Sumber.

       
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV.  Watch previews, get listings, 
and more!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke