1089
  Segala sesuatu yang ada ini bersifat tidak abadi, dengan adanya   kelahiran, 
ada kematian, dengan adanya pemunculan, ada pelenyapan,  dengan adanya 
pertemuan, ada perpisahan.
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
  
  
  
  
   
  
  Kisah Soreyya
  
  Suatu hari Soreyya beserta seorang teman dan beberapa pembantu pergi  dengan 
sebuah kereta yang mewah untuk membersihkan diri (mandi). Pada  saat itu, 
Mahakaccayana Thera sedang mengatur jubahnya di pinggir luar  kota, karena ia 
akan memasuki kota Soreyya untuk berpindapatta. Pemuda  Soreyya melihat sinar 
keemasan dari Mahakaccayana Thera, berpikir:  "Bagaimana apabila Mahakaccayana 
Thera menjadi istriku, atau bagaimana  apabila warna kulit istriku seperti 
itu." Karena muncul keinginan  seperti itu, kelaminnya berubah menjadi seorang 
wanita.
  
  Dengan sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari, pada jalan menuju  ke 
arah Taxila. Pembantunya kehilangan dia, mencarinya, tetapi tidak  dapat 
menemukannya.
  
  Soreyya, sekarang seorang wanita, memberikan cincinnya sebagai ongkos  kepada 
beberapa orang yang bepergian ke Taxila, dengan harapan agar ia  diizinkan ikut 
dalam kereta mereka. Setelah tiba di Taxila, teman-teman  Soreyya berkata 
kepada seorang pemuda kaya di Taxila, tentang perempuan  yang datang bersama 
mereka. Pemuda kaya itu melihat Soreyya yang begitu  cantik dan seumur 
dengannya, menikahi Soreyya.
  
  Perkawinan itu membuahkan dua anak laki-laki, dan ada juga dua anak  
laki-laki dari perkawinan Soreyya pada waktu masih sebagai pria.
  
  Suatu hari, seorang anak orang kaya dari kota Soreyya datang di Taxila  
dengan limaratus kereta. Perempuan Soreyya mengenalinya sebagai  seseorang yang 
telah diutus oleh teman lamanya. Laki-laki dari kota  Soreyya itu merasa senang 
bahwa ia diundang oleh seorang perempuan yang  tidak dikenalnya. Ia berbicara 
dengan Soreyya bahwa ia tidak  mengenalnya, dan bertanya kepada Soreyya apakah 
Soreyya mengetahui  dirinya. Soreyya menjawab bahwa ia tahu tentang dirinya dan 
menanyakan  kesehatan keluarganya dan beberapa orang-orang di kota Soreyya.  
Laki-laki dari kota Soreyya berbicara tentang anak orang kaya yang  hilang 
secara misterius ketika pergi ke luar kota untuk mandi. Soreyya  mengungkapkan 
identitas dirinya dan menghubungkan semua apa yang telah  terjadi, tentang 
pikiran salahnya kepada Mahakaccaya Thera, tentang  perubahan kelamin, dan 
perkawinannya dengan orang kaya di Taxila.
  
  Laki-laki dari kota Soreyya menasehatinya untuk meminta maaf kepada  
Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera diundang ke rumah perempuan  Soreyya 
dan menerima dana makanan darinya. Sesudah bersantap perempuan  Soreyya dibawa 
menghadap Mahakaccayana Thera, dan laki-laki dari kota  Soreyya berbicara 
kepada Mahakaccayana Thera bahwa perempuan ini pada  waktu dulu adalah seorang 
anak laki-laki orang kaya di kota Soreyya. Ia  kemudian menjelaskan kepada 
Mahakaccayana Thera bagaimana Soreyya  menjadi perempuan karena berpikiran 
jelek pada saat menghormati  Mahakaccayana Thera. Perempuan Soreyya dengan 
hormat meminta maaf  kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera berkata, 
"Bangunlah,  saya memaafkanmu." Segera setelah kata-kata itu diucapkan, 
perempuan  tersebut berubah kelamin menjadi seorang laki-laki. Soreyya kemudian 
 merenungkan bagaimana dengan satu keberadaan diri dan dengan satu  keberadaan 
tubuh jasmani ia berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah 
 dilahirkannya. Merasa sangat cemas dan jijik terhadap segala hal itu,  ia 
memutuskan untuk meninggalkan hidup berumah tangga, dan memasuki  Pasamuan 
Sangha dibawah bimbingan Mahakaccayana Thera.
  
  Sesudah itu ia sering ditanyai, "Siapa yang kamu cintai, dua anak  laki-laki 
pada saat ia sebagai seorang laki-laki, atau dua anak lain  pada saat ia 
menjadi seorang istri?" Terhadap hal itu ia menjawab bahwa  cinta kepada mereka 
yang dilahirkan dari rahimnya adalah lebih besar.  Pertanyaan ini seringkali 
seringkali muncul, ia merasa sangat terganggu  dan malu. Kemudian ia menyendiri 
dan dengan rajin, merenungkan  penghancuran dan proses tubuh jasmani.
  
  Tidak terlalu lama kemudian, ia mencapai kesucian arahat, bersamaan  dengan 
pandangan terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan  kepadanya, ia 
menjawab bahwa ia telah tidak mempunyai lagi kesayangan  pada sesuatu yang 
khusus. Bhikkhu-bhikkhu yang lain mendengarnya  berpikir bahwa ia pasti berkata 
tidak benar.
  
  Pada saat dilapori dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha  berkata, 
"Anakku berkata benar, ia telah berbicara benar. Jawabannya  sekarang lain 
karena ia sekarang telah mencapai tingkat kesucian  arahat, sehingga ia tidak 
lagi menyayangi sesuatu yang khusus. Dengan  pikiran terarah benar, anak-Ku 
telah membuat dirinya berada pada suatu  kehidupan baik, yang diberikan oleh 
ayah maupun ibu."
  
  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 43 berikut:
  
  Bukan dengan pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga;
  namun pikiran yang diarahkan dengan baik,
  yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.
  
  Banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu 
berakhir.
  
  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke