1100
  Walaupun harta duniawi berharga, nilai mereka bisa dihitung. Tapi  
kehormatan. Sebaliknya, tak ternilai. Mereka yang bisa mengenalinya  akan dapat 
melakukan hal yang hebat
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
  
  
  
  (Tipitaka 49) Kumbang 
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
  
  
  
  
  Kisah Kosiya, Orang Kaya yang Kikir
  
  Di desa Sakkara, dekat Rajagaha, tinggallah orang yang sangat kaya tapi  
kikir, bernama Kosiya. Dia tidak suka memberikan sesuatu miliknya  meskipun 
hanya sebagian kecil. Suatu hari, untuk menghindari miliknya  dengan orang 
lain, orang kaya dan istrinya tersebut membuat roti di  bagian atas rumahnya di 
tempat yang tidak seorang pun dapat melihat.
  
  Suatu pagi, Sang Buddha dengan penglihatan supranatural-Nya, melihat  orang 
kaya tersebut dan istrinya. Beliau mengetahui bahwa mereka akan  dapat mencapai 
tingkat kesucian Sotapatti. Maka Sang Buddha mengirim  Maha Moggallana ke rumah 
orang kaya tesebut dengan petunjuk untuk  membawa mereka ke Vihara Jetavana 
pada saat makan siang.
  
  Murid utama, Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya,  secara 
cepat sampai di rumah Kosiya dan berdiri di jendela. Orang kaya  tersebut 
melihat dan menyuruhnya pergi, Yang Ariya Maha Moggallana  hanya berdiri di 
jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
  
  Akhirnya, Kosiya berkata pada istrinya : " Buatkan roti yang sangat  kecil 
dan berikan pada bhikkhu tersebut." Istrinya hanya mengambil  sedikit adonan 
dan meletakkannya di panggangan roti, dan roti tersebut  mengembang memenuhi 
panggangan. Kosiya berpikir bahwa pasti istrinya  menaruh adonan terlalu 
banyak, maka dia hanya mengambil sedikit sekali  adonan dan meletakkan di 
panggangan. Roti tersebut juga mengembang  menjadi sangat besar. Hal ini 
terulang terus menerus, meskipun mereka  hanya meletakkan sedikit adonan dalam 
panggangan, mereka tidak berhasil  membuat roti yang kecil.
  
  Akhirnya, Kosiya menyuruh istrinya untuk mendanakan satu roti dari  keranjang 
tersebut kepada Maha Moggallana. Ketika istrinya mencoba  untuk mengeluarkan 
sebuah roti dari keranjang, roti tersebut tidak  dapat keluar karena telah 
menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Saat  itu juga Kosiya kehilangan semua 
seleranya untuk menikmati roti  tersebut dan menawarkan seluruh keranjang roti 
kepada Maha Moggallana.  Murid utama Sang Buddha kemudian menyampaikan khotbah 
tentang kemurahan  hati kepada orang kaya kikir beserta istrinya. Beliau juga 
menyampaikan  bahwa Sang Buddha telah menunggu mereka dengan lima ratus bhikkhu 
di  Vihara Jetavana, di Savatthi, 45 yojana dari Rajagaha.
  
  Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya, membawa Kosiya  dan 
istrinya dengan keranjang roti tersebut, untuk menghadap Sang  Buddha. Di sana 
dia mendanakan roti tersebut kepada Sang Buddha dan  lima ratus bhikkhu. 
Selesai makan siang, Sang Buddha menyampaikan  khotbah mengenai kemurahan hati, 
dan Kosiya beserta istrinya mencapai  tingkat kesucian Sotapatti.
  
  Keesokan sore harinya, ketika para bhikkhu bercakap-cakap dan memuji  Maha 
Moggallana, Sang Buddha menghampiri mereka dan berkata, "Para  bhikkhu, 
seharusnya kamu juga berdiam dan berkelakuan di desa seperti  Maha Moggallana, 
menerima pemberian dari penduduk desa tanpa  mempengaruhi keyakinan dan 
kemurahan hati mereka, atau kesejahteraan  mereka."
  
  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 49 berikut :
  
  Bagaikan seorang kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak 
warna dan baunya;
  demikian pula hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa.
  
  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke