1124
  Seseorang harus murah hati, berpengertian, ramah supaya tidak  menimbulkan 
kegusaran. Dalam membantu orang lain, seseorang jangan  memikirkan imbalan, 
tetapi kelak ia akan dihargai 
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
  
  
  
  
  (Tipitaka 56) Cendana 
  
  Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
  
  
   
  
  Kisah Mahakassapa Thera
  
  Setelah mencapai Nirodhasamapatti (pencerapan batin mendalam),  Mahakassapa 
Thera memasuki suatu desa yang miskin di kota Rajagaha  untuk berpindapatta. 
Beliau bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi  orang-orang miskin tersebut 
untuk memperoleh jasa baik sebagai hasil  berdana kepada seseorang yang baru 
saja mencapai Nirodhasamapatti.
  
  Sakka, raja para dewa, yang berharap mendapat kesempatan untuk berdana  
kepada Mahakassapa Thera, menyamar sebagai tukang tenun yang sudah tua  dan 
miskin dan datang ke Rajagaha dengan istrinya Sujata yang menyamar  sebagai 
wanita tua.
  
  Mahakassapa Thera berdiri di depan pintu rumah mereka. Tukang tenun  yang 
sudah tua itu mengambil mangkuk dari Mahakassapa Thera dan mengisi  mangkuk 
tersebut penuh dengan nasi dan kari, dan harumnya kari tersebut  menyebar ke 
seluruh kota. Kejadian ini menyadarkan Mahakassapa Thera  bahwa orang tersebut 
bukan manusia biasa. Dia menghampiri untuk  meyakinkan bahwa orang tersebut 
adalah Sakka.
  
  Sakka mengakui siapa dia sebenarnya dan menyatakan bahwa dia juga  miskin, 
sebab dia jarang mempunyai kesempatan untuk mendanakan sesuatu  kepada 
seseorang selama masa kehidupan para Buddha. Setelah mengatakan  hal tersebut, 
Sakka dan istrinya meninggalkan Mahakassapa Thera;  setelah memberikan 
penghormatan kepadanya.
  
  Sang Buddha, dari vihara tempat Beliau tinggal, mengetahui bahwa Sakka  dan 
Sujata telah pergi dan mengatakan kepada para bhikkhu tentang dana  makanan 
dari Sakka kepada Mahakassapa Thera. Para bhikkhu kagum  bagaimana Sakka 
mengetahui bahwa Mahakassapa Thera baru mencapai  Nirodhasamapatti, dan 
merupakan waktu yang sangat tepat dan bermanfaat  baginya untuk berdana kepada 
Sang Thera. Pertanyaan ini diajukan kepada  Sang Buddha, dan Sang Buddha 
menjawab, "Para bhikkhu, kebajikan  seseorang seperti putraKu, Mahakassapa 
Thera, menyebar luas dan jauh;  bahkan mencapai alam dewa. Karena timbunan 
perbuatan baiknya, Sakka  sendiri telah datang untuk berdana makanan kepadanya."
  
  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 56 berikut:
  
  Tidaklah seberapa,
  harumnya bunga tagara dan kayu cendana;
  tetapi harumnya mereka,
  yang memiliki sila (kebajikan),
  menyebar sampai ke surga.
   
  
  
  
  
  
  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke