1126
Jika kamu memberikan kebaikan kepada orang lain, mereka akan memberikan
peluang
Join to : www.groups.yahoo.com/group/curhatgame
(Tipitaka 58) Sampah
Join to : www.groups.yahoo.com/group/truthbuddha
Kisah Garahadinna
Ada dua orang sahabat bernama Sirigutta dan Garahadinna tinggal di Savatthi.
Sirigutta adalah seorang pengikut Buddha dan Garahadinna adalah pengikut
Nigantha, pertapa yang memusuhi Sang Buddha.
Dalam hal berkaitan dengan Nigantha, Garahadinna seringkali berkata kepada
Sirigutta, "Apa manfaat yang kamu dapatkan menjadi pengikut Buddha? Kemarilah,
jadilah pengikut guruku." Setelah berulang kali dibujuk, Sirigutta berkata
kapada Garahadinna, "Katakan padaku, apa yang diketahui oleh gurumu?"
Garahadinna mengatakan bahwa gurunya dapat mengetahui segalanya. Dengan
kekuatannya, dia dapat mengetahui masa lampau, saat ini, dan masa depan dan
juga dapat membaca pikiran orang lain. Maka, Sirigutta mengundang Nigantha
untuk datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.
Sirigutta ingin mengetahui kebenaran tentang Nigantha, apakah mereka
benar-benar memiliki kekuatan untuk mengetahui pikiran seseorang, masa lampau,
sekarang dan masa depan seseorang.
Maka ia membuat sebuah parit yang dalam dan panjang dan dipenuhi dengan
sampah dan kotoran. Tempat duduk untuk Nigantha dan murid-muridnya ditempatkan
dengan sembarangan di atas parit. Belanga-belanga kotor dan besar dibawa masuk
dan ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatan seolah-olah penuh
dengan nasi dan kari.
Ketika pertapa-pertapa Nigantha tiba, mereka dipersilahkan untuk masuk satu
per satu, untuk berdiri di dekat tempat duduk yang telah disiapkan, dan
langsung dipersilahkan duduk. Ketika mereka telah duduk, penutup parit tadi
pecah dan pertapa-pertapa Nigantha jatuh ke dalam parit yang kotor.
Kemudian Sirigutta bertanya kepada mereka, "Kenapa kamu tidak mengetahui
masa lalu, saat ini dan masa depan? Mengapa kamu tidak tahu pikiran orang
lain?" Semua pertapa-pertapa Nigantha merasa dijebak.
Garahadinna sangat marah kepada Sirigutta dan menolak untuk berbicara
dengannya selama dua minggu. Kemudian, ia memutuskan bahwa ia akan membalas
perlakuan Sirigutta. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak marah lebih lama
lagi.
Suatu hari ia menyuruh Sirigutta mengundang Sang Buddha dan lima ratus
muridnya untuk berpindapatta. Maka Sirigutta menghadap Sang Buddha dan
mengundangnya ke rumah Garahadinna. Ia mengatakan kepada Sang Buddha apa yang
ia lakukan kepada pertapa-pertapa Nigantha, guru Garahadinna. Ia juga
menunjukkan rasa takut undangan tersebut mungkin suatu jebakan.
Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya, mengetahui bahwa akan merupakan
suatu kesempatan bagi dua sahabat itu untuk mencapai tingkat kesucian
sotapatti. Dengan tersenyum Sang Buddha menyatakan undangan tersebut diterima.
Garahadinna membuat sebuah parit, dipenuhi dengan bara yang menyala dan
ditutup dengan karpet. Dia juga meletakkan belanga-belanga kosong yang ditutup
dengan kain dan daun-daun pisang, agar kelihatannya penuh dengan nasi dan kari.
Keesokan harinya, Sang Buddha datang diikuti oleh lima ratus bhikkhu dalam
satu rombongan. Ketika Sang Buddha melangkah di atas karpet yang menutupi
arang yang menyala, karpet dan bara api tiba-tiba menghilang, dan lima ratus
bunga teratai sebesar roda kereta, membentang untuk Sang Buddha dan
murid-muridnya duduk.
Melihat keajaiban ini, Garahadinna sangat cemas dan dia mengatakan kepada
Sirigutta: "Bantulah saya, teman. Bukan keinginan saya untuk membalas dendam.
Saya telah melakukan perbuatan yang salah. Rencana buruk saya tidak ada yang
berpengaruh terhadap semua gurumu. Periuk-periuk yang ada di dapur semuanya
kosong. Tolonglah saya."
Sirigutta kemudian berkata kepada Garahadinna untuk pergi dan melihat
periuk-periuk tersebut. Ketika Garahadinna melihat ke dapur, semua
periuk-periuknya telah berisi makanan. Ia menjadi sangat kagum. Pada waktu
yang sama juga menjadi sangat lega dan gembira. Makanan tersebut kemudian
disajikan kepada Sang Buddha dan murid-muridnya.
Selesai makan, Sang Buddha menyatakan anumodana terhadap perbuatan baik itu
dan Beliau berkata, "Mereka yang tidak-tahu, kurang pengetahuan, tidak
mengetahui kualitas yang unik dari Sang Buddha, Dhamma, Sangha, mereka seperti
orang buta. Tetapi orang bijaksana yang memiliki pengetahuan, seperti orang
melihat."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 58 dan 59 berikut ini:
Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.
Begitu juga di antara orang duniawi,
siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna,
bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.
Ketika mendengarkan khotbah Sang Buddha, perlahan-lahan tubuh Garahadinna
diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Pada akhir khotbah, Sirigutta dan
Garahadinna mencapai tingkat sotapatti.
Keduanya memperbarui persahabatan mereka dan menjadi penyokong utama bagi
Sang Buddha dan para bhikkhu. Mereka juga banyak berdana untuk kepentingan
Dhamma.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]