"Kita hidup harus memiliki welas asih pada semua makhluk. Dulu di Tiongkok, 
saya ada kenal satu Bhiksu muda. Umurnya baru 20 tahun lebih. Ia suka siram air 
panas dari poci ke atas barisan semut yang sedang lewat. Itu perbuatan jelek 
sekali. Bhiksu itu akhirnya mati muda. Ia mati muda bukan karena apa2, tapi 
karena perbuatannya sendiri.
   
  "Di Malang saya ada kenal satu orang. Itu orang ada hoki. Umur tiga puluh 
lebih sudah kaya raya, punya kerjasama dengan pabrik. Cuma sayang, dia suka 
pergi berburu, dan pelihara ikan naga. Kalau berburu suka tembak babi hutan. 
Banyak yang mati. Di samping itu, dia suka tangkap kecoa. Angkat batu, di bawah 
batu banyak kecoa, dia ambil terus kasih makan ikan naga. Itu perbuatan tidak 
bagus.
   
  “Saya suka kasih nasehat, tapi tidak didengar. Orang itu juga pelihara 
burung. Tiap hari kasih makan jangkrik. Haiya, itu perbuatan juga tidak bagus. 
Saya bilang jangan. Tapi dia bilang tidak apa-apa. Tapi ya itulah, umur empat 
puluh lebih, dia sudah mati. Kena penyakit berat.
   
  “Ada lagi satu orang. Sudah kawin bertahun-tahun, belum dapat anak. Itu orang 
suka pelihara ikan. Terus ambil anak ikan kecil2 buat dikasih makan ikan yang 
lebih besar. Itu juga perbuatan tidak baik. Ya, ingin punya anak, tapi 
perbuatan sendiri tidak mendukung. Bagaimana bisa?
   
  “Kita ada rejeki dan ada umur, jangan disia-siakan. Rejeki dan umur itu harus 
dijaga, jangan dirusak sama diri sendiri dengan berbuat bodoh. Kita harus tahu 
bagaimana menjaga dan memupuk rejeki dan umur. Kalau suka menyakiti makhluk 
hidup lain, nanti diri sendiri akan menderita di belakang hari. Sering2 kita 
lihat ada bencana alam, ada rebut-ribut, itu semua karena orang sering 
menyakiti makhluk hidup lain, manusia maupun hewan.
   
  “Orang banyak berbuat tidak baik seperti itu karena tidak mengerti. Jadi 
tidak takut. Kalau mengerti, mereka akan takut melakukan perbuatan seperti itu. 
Waktu kecil, kita mungkin ada berbuat yang kurang baik, seperti menganiaya 
makhluk-makhluk kecil dan tidak berdaya. Sekarang sesudah mengerti, jangan lagi 
berbuat seperti itu. Untuk mengurangi akibat perbuatan tidak baik kita di masa 
silam, banyak-banyaklah berbuat kebajikan dan Nien Cing. Baca Amithofo dengan 
tulus, terus limpahkan jasa bagi semua makhluk, terutama yang pernah kita 
sakiti. Dengan begitu hutang kita bisa menjadi tidak terlalu berat.
   
  “Ada satu Bhiksu besar di Tiongkok. Beliau sangat dihormati dan menjadi 
Sesepuh dari banyak Vihara. Satu hari, Beliau minta satu orang Bhiksu kecil 
untuk membawa sepatu barunya ke luar Vihara, dan ditaruh di pinggir jalan. 
Selama tiga hari sepatu itu dibiarkan di sana. Tidak ada yang ambil. Sesudah 
itu, Beliau ambil kembali sepatu itu, dan Beliau tunjukkan pada semua muridnya.
   
  “Lihat,” katanya, “sepatu saya tidak ada yang ambil. Padahal banyak orang 
yang lalu lalang di depan Vihara. Ini karena di kehidupan yang lampau, saya 
tidak pernah mengambil apa yang bukan hak saya. Demikian juga dalam 
kehidupan-kehidupan sebelumnya. Jika kita tidak menyakiti orang lain, kita juga 
tidak akan disakiti. Kalau kita dianiaya orang lain, itu karena dulu mungkin 
dalam kehidupan sebelumnya, kita pernah menyakiti orang lain. Kalau kita tidak 
pinjam duit, tidak akan ada orang yang datang menagih kepada kita. Kalau kita 
banyak menolong orang lain, kita juga akan banyak ditolong orang.”
   
  “Dulu ada satu Arahat melihat satu umat sedang membangun sebuah Vihara untuk 
masyarakat. Ia menunjukkan air muka yang cerah saat bertemu dengan umat ini. 
“Lihat”, ujarnya sambil menunjuk ke atas, ‘sudah disediakan tempat buat kamu di 
sana, walaupun Vihara belum selesai dibangun.’
   
  “Kemudian mereka berjalan bersama, saat bertemu dengan seorang umat yang 
lain, wajah Arahat ini kembali terang. ‘Lihat,’ ujarnya lagi sambil menengadah. 
“Sudah ada tempat yang terang baginya di sana!’
   
  “Mereka melanjutkan perjalanan. Mendadak air muka Arahat berubah sangat 
prihatin. Umat tadi heran, lalu menanyakan ada apa. ‘Lihat semut itu! Sungguh 
kasihan sekali. Berkalpa-kalpa yang lalu, zaman Buddha dahulu kala, ia adalah 
seekor semut. Sekarang juga masih seekor semut…..’
   
  “Seperti cerita tadi, kita harus menggunakan kesempatan yang ada dengan 
sebaik-baiknya. Sungguh sukar dilahirkan sebagai manusia.”
   
  Anak muda gempal segera merangkapkan kedua belah telapak tangan, dan 
membungkuk hormat, “Terima kasih, Suhu. Terima kasih atas nasehatnya.”
   
  Ia lalu pamit. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi lewat. Bhiksu tua 
mengantarkan sampai ke gerbang Vihara. Ia melambai-lambaikan tangannya. Motor 
bebek meraung penuh semangat, tapi kali ini kalah dengan suara bajaj yang sudah 
mulai hilir mudik di depan Vihara.
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke