Ahmad Syamil <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Ahmad Syamil" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 14 Feb 2008 20:15:55 -0600
Subject: [Bisnis-Karir] Dr. Muhammad Yunus dan Grameen Bank
Sistim Menciptakan Kemiskinan
M. Syamsi Ali
Imam Mesjid Al Hikmah, New York, USA
Dua hari lalu, 11 Pebruari, saya mendapat kesempatan untuk menghadir dalam
sebuah pertemuan terbatas dengan peraih Hadiah Nobel 2006, Dr. Muhammad Yunus,
dari Bangladesh dengan Presiden York College, para ilmuan dan tokoh-tokoh
masyarakat Muslim New York. Acara yang dilaksanakan di York College, salah satu
dari beberapa universitas di bawah atap CUNY (City University of New York),
sebelum beliau menyampaikan ceramah umumnya kepada khalayak ramai.
Ada dua tujuan pokok kunjungan peraih Nobel itu ke York College. Pertama,
untuk acara peluncuran bukunya yang baru terbit dengan judul Creating a World
Without Poverty dan peluncuran Yunus Scholarship untuk anak-anak mereka yang
menjadi anggota (costumers) bank Grameen yang ingin belajar di York College.
Yunus Scholarship telah memberikan beasiswa kepada 71 ribu pelajar dalam negeri
dan sekitar 3500 pelajar Bangladesh di berbagai negara lainnya.
Dr. Yunus dalam acara yang dirancang mendadak itu menjelaskan secara
singkat, tapi padat, tentang operasi usahanya dalam upaya mengangkat masyarakat
miskin menjadi masyarakat yang berdaya (empowerment of the poor).
Di awal ceramahnya dijelaskan bagaimana beliau memulai usaha itu dengan
meminjamkan uang $27 kepada beberapa wanita miskin di kampungnya. Dari usaha
itu kemudian berkembang dan hingga kini memiliki aset tidak kurang dari 7.5
milyar USD di Bangladesh dan di berbagai belahan dunia. Sembilan puluh lima
persen dari pemegang saham bank Grameen adalah wanita-wanita miskin dari
perkampungan.
Hingga kini Grameen bank Bangladesh telah berhasil membangun, tidak saja
perekonomian kaum miskin, tapi juga kehormatan dan martabat mereka. Dalam
ceramah singkat itu Dr. Yunus mencoba menjawab beberapa pertanyaan krusial,
seperti kenapa ada kemiskinan? Siapa yang mecipkatakan kemiskinan dan bagaimana
menghadapi dan memerangi kemiskinan?
Kunci Kesuksesan Grameen Bank
Dengan berseloroh, Dr. Yunus menjelaskan bahwa sebenarnya dia bukanlah ahli
perbankan. I never studied banking in my life, katanya. Namun lanjutnya, ini
adalah kelebihan, sebab terkadang dengan ketidak tahuan tentang sesuatu kita
cenderung untuk mencoba. Jika kita telah tahu maka keinginan untuk mencoba
sesuatu yang belum pasti pasti tidak kita lakukan.
Lalu apa yang menjadi kunci sukses Grameen bank? Minimal empat yang
disebutkan:
Pertam, jika bank konvensional hanya meminjamkan uang kepada mereka yang
sudah ada duit (ada jaminan), Grameen bank justeru memberikan pinjaman kepada
mereka yang tidak punya apa-apa. Jika anda tidak mempunya jaminan bagi
pinjaman, anda tidak mungkin akan mendapatkan pinjaman, katanya. Tapi Grameen
bank justeru mencari peminjam yang memang tidak berpunya.
Kedua, jika bank konvensional membangun relasi dengan pelanggang dengan
jaminan pengacara, Grameen bank membangun relasi dengan para pelanggangnya
dengan jaminan kepercayaan (trust). Seraya berseloroh dia menyampaikan bahwa
sebenarnya legal fees bisa ditiadakan.
Ketiga, jika bank konvensional meminjamkan uang hanya kepada mereka yang
punya kapasitas (kemampuan) dagang, Grameen bank justeru mencari mereka yang
mengatakan saya takut untuk meminjam karena tidak tahu bagaimana memutar
keuangan. Di sini, Grameen membangun self confidence kepada para
pelanggangnya bahwa mereka punya kapasitas itu, cuma perlu pancingan untuk
tampil.
Keempat, jika bank konvensional beroperasi sebagai money machine (mesin
uang), Grameen bank menambahkan dengan social system (sistim sosial).
Artinya, dalam beroperasi, bank Grameen juga melihat kepada aspek-aspek
hubungan kemanusiaan. Di sinilah kemudian Grameen mengembangkan apa yang
disebut dengan social business (perusahaan sosial).
Root of poverty
Pada bagian lain, Muhammad Yunus menjelaskan secara detail kenapa kemiskinan
terjadi dan bahkan menjadi ancaman paling berbahaya bagi kemanusiaan kita saat
ini. Apakah karena memang manusianya? Apakah karena memang demikian kehidupan?
Atau karena faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan.
Ternyata, menurut Yunus, kemiskinan itu tidak dicari oleh manusia. Manusia
bukan faktor terjadinya kemiskinan. Justeru semua manusa berusaha dan bahkan
punya potensi untuk kaya. Hanya saja, sistim di mana manusia itu hidup
menjadikan potensi untuk sukses itu tidak maksimal. Di sinilah kemudian bank
Grameen melakukan perombakan kepada established system yang sekarang. Sistim
yang tidak pernah berpihak kepada kaum lemah. Sistim yang dirancang untuk
semakin memperkaya mereka yang sudah kaya. Sebaliknya, semakin memiskinkan
mereka yang miskin, atau minimal menjadikan mereka object untuk memperkaya
yang kaya.
Dari sinilah kemudian Grameen menciptakan sistim operasi usaha yang terbalik.
Artinya, Grameen menciptakan sistim usaha yang tertolak belakang dengan sistim
yang baku (conventional). Dan ternyata, sistim itu tidak saja menguatkan kaum
miskin secara ekonomi, tapi lebih dari itu menghidupkan kembali potensi-potensi
mereka untuk empowered (menjadi kuat) di tengah masyarakat.
Pengalaman bank Grameen yang dimulai dengan beberapa orang miskin, berhasil
mengangkat mereka dari dari keadaan yang sangat lemah (weak), menjadi kuat
(berdaya) secara ekonomi. Bahkan lebih dari itu, dari situasi di mana mereka
telah kehilangan percaya diri (confidence) kembali bangkit dengan penuh percaya
diri. Kini, Grameen bank memiliki lebih dari 7.5 juta anggota, 95% mereka
adalah wanita miskin dan buta huruf.
Maka, untuk menanggulangi kemiskinan secara efektif harus ada dua hal yang
dilakukan:
Pertama, bangkitkan percaya diri (self confidence) masyarakat. Dan ini tidak
akan terjadi pada sistim kapitalis yang cenderung menjadikan masyarakat miskin
sebagai object. Istilah pinjaman dengan nama assistance (bantuan) itu sendiri
merupakan sikap yang merendahkan (under estimating) potensi kaum (kelompok atau
negara) miskin. Grameen bank menjadikannya anggotanya sebagai bagian atau
memiliki kepemilikan dari sistim. Sehingga sense of belonging tumbuh dan
bangkit keinginan untuk merubah kondisi.
Kedua, Sistim perbankan dan keuangan sekarang ini memang tidak mendukung atau
bahkan mendukung terjadinya monopoli. Di sinilah terjadi yang kaya semakin kaya
dan yang miskin semakin miskin. Institusi keuangan sekarang ini hampir semuanya
mengarah kepada sistim yang tidak mendukung kebangkitan kaum miskin. Dr. Yunus
memberikan contoh IMF (International Monetary Fund) yang, menurutnya, tidak
satu negara pun yang pernah meminjam dari IMF menjadi makmur.
Social Business
Dr. Yunus menjelaskan panjang lebar mengenai sistim usaha dunia yang
mengglobal saat ini. Sisitm kapitalis, menurutnya, bukan sebuah sistim yang
akan menyelamatkan manusia dari ancaman kemiskinan. Lebih 94% kekayaan dunia
saat ini dinikmati oleh sekitar 40% penduduk dunia, sementara sekitar 60%
lainnya hanya membagi-bagi 6% persen kekayaan dunia. Sekitar ½ atau lebih
penduduk dunia hidup di bawah $2 sehari dan lebih dari 1 milyar manusia hidup
di bawah $1 perhari.
Dengan berbagai berbagai bencana dunia saat ini, seperti AIDS/HIV, Flu
burung, maupun bencana alam seperti banjir, tsunami, tanah longsor, kebakaran,
dll., mereka yang telah menjadi korban kemiskinan akan semakin miskin. Lalu
kemudian, dengan institusi-institusi keuangan dunia dipercayakan untuk
meringankan beban-beban mereka. Akankah itu terwujud?
Dengan sistim baku sekarang ini, nampaknya harapan itu jauh. Sebab sistim
bisnis sekarang ini memiliki prinsip Profit maximizing business (PMB). Manusia
menjadi money machine and no more! Sehingga tujuan bisnis dalam sistim
kapitalis adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, dan tanpa ingin
tahu apakah itu masih mengikut kepada naluri manusia atau justeru sebenarnya
telah mengorbankan harakat (kehormatan) manusia.
Dari sinilah kemudian Dr. Yunus memulai sebuah sistim bisnis yang dinamai
Social Business. Sebuah bisnis yang tidak saja bertujuan untuk mendapatkan
keuntungan sebesar-besarnya. Tapi lebih dari itu, dari semua rangkaian
kegiatannya bertujuan untuk mengangkat martabat manusia. Sebagai misal, Dr.
Yunus mendirikan sebuah perusahaan pembuatan yogurt secara murah dan dijual
kepada masyarakat miskin dengan harga yang sangat murah dan terjangkau. Hasil
penjualan ini tidak diambil oleh pemilik perusahaan, tapi diakumulasi untuk
usaha-usaha lain bagi kaum msikin.
Menurutnya, usaha ini telah membantu berjuta-juta anak yang kekurangan gizi
di Bangladesh, bahkan social business Yunus ini telah menjalar hingga ke China.
Beberapa tahun lalu, bisnis sosial (social business) Yunus menarik perhatian
sebuah perusahaan besar di Prancis bernama Groupe Danone, sebuah perusahaan
yang memproduksi berbagai ragam makanan dan memiliki perusahaan di berbagai
belahan dunia. Groupe Danone ini kemudian meminta untuk bergabung dengan bisnis
Grameen dengan sisitm Social Business itu. Sejak itu pula bisnis Grameen
resmi menjadi Grameen Danone, sebuah bisnis besar yang bertujuan membangun
martabat kaum miskin di berbagai belahan dunia.
Kebanggan umat
Akhirnya, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari ceramah Dr.
Muhammad Yunus yang dapat diambil. Yang pasti memang, umat Islam tidak bisa
hanya menjadi penonton yang cerdik di tengah kancah dunia global sekarang
ini. Umat ini harus mampu menampilkan alternative system yang dapat
mengangkat martabat kaum yang termarjinalkan. Umat ini juga harus mampu kembali
membangun izzah dzatiyah (self confidence) ditengah-tengah suburnya wahan
(kehinaan) yang dideritanya.
Tapi hal itu tidak akan terealisir jika umat ini hanya pintar di belakang
panggung. Umat ini ditantang untuk terjun ke lapangan dan meperlihatkan atau
mempersaksikan kelebihannya kepada umat lain. Dan demikianlah Kami jadikan
kamu sebagai umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi bagi umat manusia.
Karena memang bukankah umat ini adalah memang umat yang terbaik (khaera
ummatin) yang dimunculkan di hadapan seluruh manusia yang lain?
Professor Yunus adalah saksi. Saksi bagi kebangkitan umat ini kembali. Beliau
adalah kebanggaan. Kebanggaan yang memang membanggakan. Semoga semakin banyak
Muhammad Yunus lagi di masa depan.
Thanks Professor Yunus!
Catatan: Saya rekomendasikan buku Dr. Muhammad Yunus: A World Without
Poverty. Bahasanya sederhana, tapi ditilik dari sudut pandang Islam, sangat
mengena.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]