Namo Buddhaya, Berikut laporan penggalangan dana untuk Ai Ah-Hun hingga hari 25 Feb 2008. Penggalangan dijadwalkan akan ditutup pada 29 Feb 2008.
19/Feb/2008 Transfer dari I Gede Susila Arya 100,000 19/Feb/2008 Transfer dari Miranita 200,008 19/Feb/2008 Transfer dari Wiryanto Widjaja 100,008 20/Feb/2008 Transfer dari NN 50,000 20/Feb/2008 Transfer dari Kel. Eric Thioris 1,000,000 20/Feb/2008 Transfer dari Elwin Lin 1,048,589 20/Feb/2008 Transfer dari Henry Chang 100,000 20/Feb/2008 Transfer dari Deddy Siswanto 175,008 20/Feb/2008 Transfer dari Apriyani 50,000 21/Feb/2008 Transfer dari Andy Zain 100,001 21/Feb/2008 Transfer dari Oktaviani 75,000 21/Feb/2008 Transfer dari Supardhika 50,000 21/Feb/2008 Transfer dari Doushi China 1,000,008 21/Feb/2008 Transfer dari Tan Ay Lan Amlh. 1,000,000 21/Feb/2008 Transfer dari Bong Saudyono 100,000 22/Feb/2008 Transfer dari Lenny Savitri 50,000 22/Feb/2008 Transfer dari Liong Lie Ching 100,000 22/Feb/2008 Transfer dari Rosmery Tedjo 100,000 22/Feb/2008 Transfer dari Angelina Handoko 100,008 25/Feb/2008 Transfer dari Shanti Widjaja 300,025 25/Feb/2008 Transfer dari Pangka Sindi Lesma 100,008 25/Feb/2008 Transfer dari Hendra 50,008 21/Feb/2008 ������ Fo Di Zi - cash titip di Abin 50,000 TOTAL per 25 Feb 2008 Rp. 5,998,671 Bagi donatur yang telah menstranfer dana, namun tidak ada dalam list di bawah ini, mohon bisa japri langsung ke saya [EMAIL PROTECTED] atau ke [EMAIL PROTECTED] Anumodana atas dana parami Anda felix thioris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Namo Buddhaya, Tanggal 16 Februari 2008 kemaren, saya bersama teman-teman kampus, harusnya mengadakan observasi ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumber Porong, Lawang. Namun, tanggal 14 Februari 2008 saya mendapat sms dari koordinator kunjungan bahwa kunjungan dibatalkan dan akan dijadwal ulang semester depan (waktu itu saya sedang bersama rombongan Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya menyalurkan 22 truk bantuan untuk korban banjir di Situbondo dan Bondowoso). Karena tidak jadi observasi ke RSJ, akhirnya permohonan cuti pada hari tersebut saya batalkan, dan saya tetap masuk kerja (sabtu 1/2 hari saja). Pulang kerja, mama minta diantar ke daerah Kebalen (daerah Kebalen, Dapuan, Tambakgringsing ini merupakan kampungnya pendatang dari Bagansiapi-api, kampung saya). Saya sudah lama sekali tidak ke daerah tersebut, karena saya kurang suka ngumpul dengan orang-orang dari kampung saya, karena menurut saya orang Bagan banyak yang norak-norak, kalau bicara super keras, super ribut.... heheheheheh (jadi ingin bercermin nih). Saya ingat sekitar 2-3 tahun lalu, ketika Yayasan Buddha Tzu Chi membagikan beribu ton beras di berbagai wilayah di Indonesia - termasuk Surabaya, yang mendapatkan bantuan kebanyakan adalah pribumi, hampir tidak ada keturuan tionghoa yang kebagian. Waktu itu mama saya sempat menyampaikan bahwa di daerah Pesapen (perkampungan dekat Kebalen, yang rata-rata warganya adalah orang Madura) ada pendatang dari Bagan yang tinggal di sana namanya Ah-Hun, dan kalau mungkin mama meminta saya menyisihkan satu atau dua karung beras untuk keluarga tersebut, setelah saya bicarakan dengan koordinator pembagian beras, akhirnya saya berhasil mendapatkan dua karung beras, yang kemudian bersama mama, kakak perempuan saya dan suaminya, beras tersebut kami antarkan ditambah dengan beberapa sembako lain yang dibeli oleh kakak saya. Saya belum lupa juga ekspresinya wajah Ah-Hun dan anak-anaknya ketika kami mengantarkan bantuan tersebut. Satu hal yang juga saya tidak lupa adalah ketika koko saya menikah, mama mengundang teman-temannya sesama orang Bagan (termasuk Ah-Hun), dan ketika resepsi, saya dan keluarga berdiri di depan pintu menyambut tamu. Saat bersalaman, saya cukup kaget karena tangan Ah Hun kasar sekali, makhlum profesinya tukang cuci. Ah-Hun janda beranak 4 . Entah sejak kapan suaminya pergi tanpa kabar, kata orang suaminya kepincut perempuan lain... pastinya saya tidak tahu. Ah-Hun menghidupi anaknya dengan menjadi tukang cuci (tidak heran kalau tangannya kasar sekali). Kebanyakan yang memakai jasanya adalah orang-orang Bagan yang tinggal di "kampung Bagan" situ. Biasanya sejak pagi dia berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya sesuai jadwal cuci, dan sorenya dia kembali keliling untuk ngentasi jemuran dan menyetrika. (terus terang saja, orang Bagan kadang suka kebangetan, sama orang susah gitu, ongkos cucinya juga sangat perhitungan) . Ya, dengan mengandalkan tenaga mencuci, dia menghidupi anak-anaknya tersebut. Sekitar setahunan lalu, anaknya yang laki-laki (sulung) lulus sekolah, lalu bekerja, namun tidak lama kemudian, anaknya pergi (minggat) tanpa kabar sama sekali (hingga saat ini). Dengar-dengar, anaknya itu sekarang sudah menikah sama perempuan Batak yang cukup berada, dan sudah pindah agama Kristen ikut agama istrinya (kebanyakan orang Bagan penganut kepercayaan tradisional/ konghucu) . Konon, istrinya melarangnya berhubungan dengan ibu dan adik-adiknya, dan apa lacur, dia benar tidak pernah kontak dengan keluarganya lagi. Pulang dari Kebalen, saya mengajark mama saya mampir ke rumah kontrakan Ah-Hun. Di tengah kampung Madura yang padat dan agak kumuh, sepeda motor harus dituntun beberapa ratus meter dari mulut gang ke dalam kampung (aturan di daerah itu, pengendara sepeda harus turun kalau masuk dalam kampung). Banyak sekali gang-gang kecil. Membingungkan. Untung mama saya cukup kenal daerah tersebut. Kalau saja saya datang sendiri, pasti sudah nyasar entah ke mana. Apalagi ketika sampai di rumahnya, ternyata ini bukan rumah yang sama yang beberapa tahun lalu saya antarkan beras Tzu Chi, tetapi rumah kontrakan lain yang lebih kecil (yang dulu, ada dapur di bagian belakang rumah, sekarang tidak ada dapur, jadi masaknya di teras rumah). Ah-Hun ternyata ada di rumah, terlihat kusut. Kami tidak masuk dalam rumah, hanya berdiri di ambang pintu. Setelah mama ngobrol dengannya, diketahui kalau sudah beberapa bulan ini, Ah-Hun sering mengalami rasa sakit yang rasanya lain di bagian tulang punggung, dan setelah diperiksakan, dokter menyatakan osteoporosis. Lengkap sudah penderitaannya, batinku. Saya hanya mendengarkan pembicaraan mama dengan Ah-Hun, sekitar setengah jam kami di sana, karena sudah sore, kami pun segera pulang. Saya lihat mama mengoperkan beberapa lembar puluhan ribu."Buat jajan anak-anak," demikian basa-basi mama. Tadi malam, saya sempat bicara dengan mama saya, untuk galang dana bantuan untuk Ah-Hun, hanya saja saya tidak berani berharap bisa menggalang banyak (soalnya saat ini, masih ada 2 galangan dana yang masih jalan yakni dana galangan untuk Putra (guru agama di Lombok) dan untuk seorang lainnya di Surabaya). So, jika ada ingin berdana untuk membantu Ah-Hun, dana bisa anda salurkan lewat account Bro Edi Sugino (karena saya gak punya account BCA). BCA a.c. 075-1200-896 a.n. Edi Sugino Kalau yang tidak punya account BCA, dan butuh account BII, bisa kontak saya ([EMAIL PROTECTED]) atau langsung ke Bro Edi (edi_sugino@ app.co.id) Penggalangan ini bersifat tidak mengikat dan satu kali selesai (jangka pendek), di buka mulai hari ini, Selasa, 19 Feb 2008 dan akan diakhiri pada Jumat, 29 Feb 2008. Mohon maaf sebelumnya, berhubung akhir-akhir ini saya sangat sibuk dengan project di tempat kerja, juga Sinar Dharma sudah diuber-uber deadline, Persiapan Bazaar Tahunan Tzu Chi yang akan dilangsungkan awal April 2008, saya sulit untuk riwa-riwi mengantarkan dana yang masuk, jadi sekali lagi mohon maaf, jika dana masuk setelah tanggal 29 Feb 2008, dengan sangat terpaksa akan saya minta bro Edi untuk mentransferkan kembali. Mettacetttana, Abin Nagasena --------------------------------- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers --------------------------------- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers [Non-text portions of this message have been removed]
