---------- Forwarded message ----------
From: Reporter Milist <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 29, 2008 8:27 AM
Subject: [InspirasiIndonesia] Walisanga dari China?
To:
*Suara Merdeka*
**
**
*Walisanga dari China?
Ditulis Oleh Wal Suparmo
*
**
*28-02-2008,
Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari jasa
Walisanga (wali sembilan). Banyak versi mengenai kisah para wali ini, salah
satunya versi yang menyatakan mereka berasal dari China. Tahun 1968,
Profesor Slamet Mulyana menulis versi yang tidak populer itu dalam bukunya
"Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di
Nusantara", namun dilarang beredar karena dinilai dapat memicu perdebatan
SARA (Suku, Agama, Ras dan Antaragama).
Menurut Mulyana, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah
orang Tionghoa, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah
alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu). Ia lah pendiri kerajaan Demak di
Jawa Tengah.
Walisanga dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari
sembilan orang wali; Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong
Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang,
Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik
Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/ Tan Eng Hoat, dan
Sunan Giri yang merupakan cucu dari Bong Swie Ho.
Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di
Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa penganut agama
Muslim bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun
kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.
Belanda, yang sempat 'berperang' dengan para wali itu sempat tidak
mempercayai bahwa sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Untuk
memastikannya, pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh pemerintah
Belanda untuk menyelidikinya. Poortman lalu menggeledah Kelenteng Sam Po
Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa. Ia menemukan naskah kuno berusia
ratusan tahun sebanyak tiga pedati.
Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga
kontroversial, Tuanku Rao. Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku
ini. Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dalam
Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, yang dalam Babad Tanah
Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek
Hokkian berarti 'orang kuat'. Cucu Raden Patah, Sunan Prawata atau Chen
Muming/ Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak. Ia
berambisi meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia
bisa menjadi "segundo Turco" (seorang Sultan Turki ke II), sebanding sultan
Turki Suleiman I dengan kemegahannya.
Kata Walisanga yg selama ini diartikan sembilan (sanga) wali, ternyata masih
memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Ada yang berpendapat bahwa
kata 'sanga' berasal dari kata 'tsana' dari bahasa Arab, yang berarti mulia.
Pendapat lainnya menyatakan kata 'sanga' berasal dari kata 'sana' dalam
bahasa Jawa yang berarti tempat.
Kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisanga, dipercaya berasal
dari dialek Hokkian 'Su' dan 'Nan'. 'Su' merupakan kependekan dari kata
'Suhu atau Saihu' yg berarti guru. Disebut guru, karena para wali itu adalah
guru-guru Pesantren Hanafiyah, dari mazhab Hanafi. Sementara 'Nan' berarti
berarti selatan, sebab para penganut aliran Hanafiah ini berasal dari
Tiongkok Selatan.
Perlu diketahui juga bahwa sebutan 'Kyai' yang kita kenal sekarang sebagai
sebutan untuk guru agama Islam, dulu digunakan untuk memanggil seorang
lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan 'Encek'.
Dan, sadar atau tidak, baju muslim yang kerap digunakan oleh laki-laki
muslim Indonesia sangat mirip dengan pakaian ala China. Baju Koko dan
penutup kepala putih dianggap berasal dari China, karena di negeri asal
Islam, Timur Tengah, pakaian ini tidak dikenal.
Sumber:
- D. A. Rinkes "De heiligen van Java"
- Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang
- Utrecht: Den Boer - G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a
16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The
Hague: Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse Vorstendommen op Java"
- "Islamic states in Java 1500 -1700".
- Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia"
- Prof. Slamet Mulyana "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya
Negara-negara Islam di Nusantara*
.
[Non-text portions of this message have been removed]