FANATISME VS SADDHA
   
  Ini adalah salah satu topik yang dalam aplikasinya masih sangat rancu. 
Kerancuan itu dapat terjadi karena batas diantara keduanya sangat tipis, namun 
bila yang satu menuju ke sebuah kebaikan maka yang lainnya akan memberikan 
sebuah kerugian besar. Tulisan ini  didasarkan pada sabda-sabda Sang Buddha 
sebagaimana tercantum di dalam kitab suci Tripitaka namun dengan bahasa yang 
sederhana sesuai kapasitas pemahaman pribadi saya.
   
  Keyakinan yang dinamakan Saddha, adalah iman atau kepercayaan yang 
berdasarkan kebijaksanaan. Keyakinan dalam ajaran Sang Buddha bukan berdasarkan 
atas rasa percaya semata atau bahkan rasa takut, tapi keyakinan yang didasarkan 
atas aebuah penyelidikan (ehipassiko). Kegembiraan tidak akan pernah dirasakan 
oleh mereka yang hanya memiliki keyakinan yang didasari atas rasa takut atau 
karena kepercayaan yang membuta. Karena sesungguhnya kegembiraan itu hanya 
dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki pengertian benar dan kebijaksanaan. 
Seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha bahwa seseorang yang bermoral dan 
berwatak baik akan belajar bahwa demikianlah seharusnya cara hidup seorang 
siswa yang mematahkan kecenderungan buruk, mencapai kesempurnaan lewat jalan 
kebijaksanaan dan pemusatan pikiran bersih dari dorongan yang keliru . Setelah 
ia sendiri memahami dan menyadari akan tujuan yang lebih luhur dari  hidup ini, 
lalu berpikir untuk melaksanakannya sendiri (Puggala-Pannatti,
 III, 1). Sariputra (salah seorang siswa utama Sang Buddha) juga mengungkapkan 
bahwa keyakinan yang baik itu harus diuji dengan mengendalikan indra. Dengan 
keyakinan ini, semangat, kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan berkembang 
terus menerus. “Sebelumnya aku hanya mendengar hal-hal ini, sekarang aku hidup 
dengan mengalaminya sendiri. Kini dengan pengetahuan yang dalam aku menembusnya 
dan membuktikan secara jelas” (Samyutta Nikaya . V, 226).
   
  Setelah melihat uraian di atas, kita sudah mengetahui bahwa Saddha adalah 
sebuah keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan  dengan pengertian 
yang benar serta penuh kebijaksanaan. Iman semacam itu dikategorikan  sebagai 
iman yang rasional (akaravati-saddha). Sebuah iman yang dewasa tentu saja akan 
berbeda dengan iman yang kekanak-kanakan atau membuta. Iman yang 
kekanak-kanakan atau membuta inilah yang dikenal sebagai Fanatisme. Sang Buddha 
juga pernah menyampaikan bahwa seseorang yang kuat dalam keyakinan tetapi lemah 
dalam kebijaksanaan akan memiliki keyakinan yang fanatik dan tanpa dasar. 
Sedangkan seseorang yang kuat dalam kebijaksanaan tetapi lemah dalam keyakinan 
akan mengetahui bahwa ia bersalah jika berbuat kejahatan, tetapi sulit untuk 
menyembuhkannya bagaikan seseorang yang penyakitnya disebabkan oleh si obat 
sendiri. Bila keduanya seimbang, seseorang akan memiliki keyakinan hanya bila 
ada dasarnya (Visuddhimagga. 129). 
   
  Dalam Brahmajala-sutta tercatat bagaimana  Sang Buddha mengajarkan siswanya 
agar bersikap kritis terhadap penganutan agama Buddha sendiri: “Para Bhikkhu, 
jika ada orang berbicara menentang aku, atau menentang Dharma atau menentang 
Sangha, janganlah karena hal itu engkau menjadi marah, benci, atau menaruh 
dendam. Jika engkau merasa tersinggung dan sakit hati, hal itu akan menghalangi 
perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika engkau merasa jengkel dan 
marah ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang menentang kita, bagaimana 
engkau dapat menilai sejauh mana ucapannya itu benar atau salah?... Jika ada 
orang yang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Aku, atau Dharma atau Sangha, 
engkau harus menjelaskan apa yang keliru dan menunjukkan kesalahannya dengan 
menyatakan berdasarkan hal ini atau itu, tidak benar, itu bukan begitu, hal 
demikian tidak diketemukan di antara kami dan bukan pada kami. Sebaliknya pula, 
Bhikkhu, jika orang lain memuji Aku, memuji Dharma, memuji
 Sangha, janganlah karena hal tersebut  engkau merasa senang atau bangga atau 
tinggi hati. Jika engkau bersikap demikian maka hal itu itu pun akan 
menghalangi perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika orang lain memuji 
Aku, atau Dharma atau Sangha, maka engkau harus membuktikan kebenaran dari apa 
yang diucapkan dengan menyatakan berdasar hal ini atau itu, ini benar, itu 
memang begitu, hal demikian terdapat di antara kami, ada pada kami” 
(Digha-Nikaya. I, 3).
   
  Setelah membaca semua sabda-sabda Sang Buddha di atas, apa yang sekarang 
muncul di dalam benak anda sekalian? Bagi saya pribadi, ajaran Sang Buddha 
lebih menitik-beratkan pada pengembangan religiusitas mental dan batin kita 
ketimbang sebuah keberAGAMAan. Sebagaimana dikatakan oleh Bodhidharma, bahwa 
Buddha tak dapat ditemukan dalam kitab suci.  Ia mengajarkan untuk melihat ke 
dalam hati kita sendiri dengan kesadaran dan kesucian yang sempurna, karena di 
situlah kita akan bertemu dengan Buddha. Mungkin banyak diantara anda yang 
sering melihat orang-orang di sekeliling anda yang kuat menganut agamanya 
secara lahiriah, tapi tidak seiring dengan perkembangan religiusitas mental dan 
batinnya. Orang bisa saja sangat taat beribadah, namun di dalam rumahnya ia 
menyiksa istrinya dan di luar rumahnya ia seorang lintah darat. Boleh jadi 
orang gigih menganut agama dengan motivasi tertentu seperti dagang, karier atau 
tuntutan calon mertua. Orang yang militan dalam kegiatan organisasi
 agama, namun mengobarkan kebencian dan permusuhan, tidak peduli dengan 
kesulitan orang lain, tidak jujur, tidak adil, tentunya tidak religius. 
Sebaliknya ada orang yang tidak begitu cermat menaati aturan agama (bukan 
mengenai nilai moral yang universal) atau bahkan ia juga tidak mengenal agama 
sama sekali, namun ia cinta pada kebenaran, lurus,  tidak munafik, tidak egois, 
tidak serakah dan suka menolong, maka ia bisa disebut religius. 
   
  Jadi sekarang pilihan berada di tangan anda. Karena sesungguhnya Sang Buddha 
sudah membabarkan secara lengkap dan sempurna mengenai perbedaan antara Saddha 
& Fanatisme. Artikel ini sendiri bersumber dari tulisan Bapak Khrisnanda 
Wijaya-Mukti dalam bukunya yang sangat indah dan berjudul “Wacana 
Buddha-Dharma”. Buku tersebut dan juga nasehat mama saya, telah sangat banyak 
membantu saya keluar dari kesalahan pandangan saya sebagai seorang siswa Sang 
Buddha. Saya sendiri mengenal Buddha-Dharma pada tahun 1997 (kemudian menerima 
Tisarana & Pancasila pada tahun yang sama). Namun bukan kedamaian yang saya 
temukan akan tetapi “debat kusir” yang tak perlu serta berkepanjangan  dengan 
famili dan para sahabat yang kebetulan non-Buddhis. Puncaknya adalah tahun 
2003, saat saya mendapat kesempatan menjadi seorang Dharmaduta, karena pada 
saat itu saya justru lebih banyak melakukan ADharma (dengan cara melakukan 
musavada tentang keyakinan-keyakinan selain Buddhis kepada para umat).
 Nasihat mama saya pun hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Tahun 
2004 saya mendapatkan buku yang sangat berharga itu, yang juga kemudian 
menyadarkan saya akan kebenaran nasehat mama saya selama ini. Seperti 
Angulimala, saya akhirnya membuang “pedang” saya dan menggantinya dengan sebuah 
teratai kebenaran. Keindahan lain yang saya rasakan adalah saat saya bisa 
mengenalkan Buddha-Dharma kepada rekan-rekan non-Buddhis, karena kini saya 
datang kepada mereka dengan kedamaian.
   
  Teman-teman sekalian, jadikan Buddha-Dharma sebagai pembebasmu dan bukan 
sebagai belenggumu, karena sesungguhnya Sang Buddha pun juga sudah menguraikan 
bahwasanya kebanggaan (beragama Buddha) juga adalah salah satu penghalang kita 
dalam mencapai kemenangan (Nibbana). Selamat berbuat kebajikan dan semoga semua 
mahkluk selalu hidup berbahagia, Saddhu.
   
   
  (sumber: Buku Wacana Buddha-Dharma karya Bapak Krishnanda Wijaya-Mukti)
 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke