Agar air dalam danau tidak bergelombang membuat keruh, maka jangan sampai ada "angin" (keinginan) yang meniup air danau kehidupan. Semakin banyak keinginan, semakin bergejolak pikiran, terjadi gelombang dan keruh danau kehidupan. Kendalikan gelombang pikiran karena KEINGINAN, jika tidak mau diterjang tsunami yang sesungguhnya.
(dikutip dari "Tahu yang tidak tahu, Tahu yang tahu", Saddhaviro Thera - 2005, V.Dhammasoka - kalsel, hal. 91)
