Suhardjon says: nah saat ini pun Dalai Lama hanya menginginkan otonomi
penuh bukan kemerdekaan, beda sekali.. kalo gw pikir harusnya
pemerintah cina bisa mengabulkan hal itu, sperti pemerintahan di
hongkong.   

YG: Tampaknya impian itu akan semakin sulit jadi kenyataan. Saya baru
menemukan alasan PRC meng-invasi Tibet: URANIUM!
Try this one, google search, tags: 'Tibet uranium'
Jika ini kebenarannya, Omitofo, saat harga minyak dunia terus naik,
negara2 dunia akan beralih ke energi nuklir. Nuklir akan menjadi
energi utama. Yang memiliki uranium akan menjadi negara terkuat di
dunia. [!] 


--- In [email protected], Suharjony Sofian <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> masalah sebenarnya tidaklah seperti yang bro-bro liat? memang
terjadi perkembangan di tibet saat ini, tapi hanya khusus penduduk
cina suku han saja liat aja di koran kompas hal 1 "JERITAN PILU WARGA
YANG DI HINA DAN DIPINGIRKAN". tapi kalau kita tinjau lebih lanjut
lagi apa sish sebenarnya keinginan dari rakyat tibet...cuma kebebasan
beda dengan indonesia dimana kita org suku tionghoa dipimpin oleh suku
asli indonesia, sedangkan di tibet kan tidak mereka di pimpin oleh
suku han cina ... nah kalo kita liat sendiri profil dari DALAI LAMA
beliau adalah seorang guru spiritual dan seorang pemimpin dari
dulunya. nah saat ini pun Dalai Lama hanya menginginkan otonomi penuh
bukan kemerdekaan, beda sekali.. kalo gw pikir harusnya pemerintah
cina bisa mengabulkan hal itu, sperti pemerintahan di hongkong.    ini
 pendapat saya loh..kalo ada yang kurang berkenan maapkan...
> 
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Ciputra Sanjaya <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED]
> Terkirim: Senin, 24 Maret, 2008 11:51:11
> Topik: RE: [MABINDO] Dalai Lama Hipokrat?? (Menengahi pertikaian di
Tibet)
> 
>                 Bro Yadi,
> 
> Terima kasih sudah tulis panjang lebar di milis ini. Mungkin ada jalan
> tengahnya untuk pertikaian di Tibet.
> 
> Urusan kenegaraan serahkan saja ke pemerintahan China. Pembangunan
dilakukan
> oleh mereka saja. Saat ini mereka telah membangun lapangan terbang
dan jalur
> kereta ke Tibet. Transportasi ke Tibet saat ini sudah jauh lebih mudah
> ketimbang masa lalu. Bila memang ada kekayaan alam di sana, silahkan
saja
> mereka mengambilnya. Kita bisa melihat bahwa Tibet dibawah pemerintahan
> China tidak ditelantarkan. Pembangunan berjalan dan pendidikan juga
> berjalan.
> 
> Untuk urusan spiritual, YM Dalai Lama lah pemimpinnya. Mengapa YM
Dalai Lama
> tidak kembali saja dan menjadi pemimpin spiritual di sana? Hehehe...
saya
> tidak tahu, sebaiknya urusan keduniawian ditinggalkan saja. Kalau
figur YM
> Dalai Lama bebas dari unsur politik saya rasa pemerintah China bisa
menerima
> beliau menjadi pemimpin spiritual. Dulu, tatkala komunis berjaya di
China
> agama dilarang (berdasar paham komunisme Karl Marx). Tapi saat ini telah
> terjadi pergeseran. Mereka juga belajar dari sejarah revolusi kebudayaan
> yang kelam. Saat ini kebebasan beragama sudah ada di sana.
> 
> Bila demikian halnya, akan sangat baik. Secara ekonomi Tibet ikut kuat
> sejalan dengan menguatnya ekonomi China. Secara spiritual Tibet
menunjukkan
> tingkat pemahaman agama Buddha yang tinggi dalam bimbingan YM Dalai
Lama.
> 
> Spiritualitas rakyat Tibet perlu dibina kembali. Jangan sampai kerusuhan
> yang baru2x ini terjadi terulang kembali. Apakah ada diantara member
milis
> ini melihat berita kerusuhan di TV? Mirip kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.
> Mobil di-terbalik- kan dan dibakar. Ambulans yang lewat dilemapari
batu dan
> dokter cedera karena timpukan batu. Pengendara motor yang melintas
dihadang
> dan dipukul kepalanya dengan batu. Toko2x dengan pintu besinya
dirusak oleh
> sekelompok massa persis seperti kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Salah
satu
> penghuni ruko (seorang kakek dan anak perempuan muda usia 18 tahun)
tidak
> berani keluar dari ruko, dibakar rukonya oleh pengrusuh dan mereka tewas
> terbakar. Perusuh berkeliaran dijalan dengan senjata tajam terhunus.
> 
> Demikianlah, saya hanya bisa menulis apa yang menjadi pendapat saya
disini.
> Semoga saja pertikaian di Tibet bisa benar2x dituntaskan dimana
semua pihak
> mendapat peran masing2x sesuai dengan bidangnya masing2x. Kalau saya
dirasa
> naif, mohon dimaafkan.
> 
> Semoga semua makhluk berbahagia,
> Ciputra Sanjaya
> 
> Sebagai catatan saja, bantuan dunia internasional tidak ada yang
gratis. Ada
> yang di-bargain. Seperti statement berikut ini:
> "Bantuan dunia
> INTERNASIONAL pasti akan mengalir untuk membangun Tibet jika dipimpin
> Dalai Lama."
> Terlihat bahwa bantuan baru ada bila syarat dipenuhi. Tidak ada yg
gratis.
> Sudah baca buku The Economic Hitman?
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] .com [mailto:[EMAIL PROTECTED] .com] On
Behalf Of
> Yadi Go
> Sent: Sunday, March 23, 2008 6:36 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] .com
> Subject: [MABINDO] Dalai Lama Hipokrat?? (Menengahi pertikaian di Tibet)
> 
> Dalai Lama Hipokrat??
> 
> (Menengahi pertikaian di Tibet)
> 
> Haruskah Dalai Lama menampilkan wajahnya sesungguhnya?
> Pertama yang harus kita sadari bahwa gambaran orang2 Tibet
> sebagai orang2 yang ramah dan lembut seperti halnya
> yang ditampilkan oleh Dalai Lama XIV adalah 'image' yang
> berhasil ditanamkan oleh Buddhisme yang telah memasuki
> Tibet sejak abad 8 masehi di masa Raja Trisong Detsen berkuasa.
> 
> Wajah Tibet sesungguhnya tidaklah demikian. [!]
> Kalau anda pernah membaca riwayat Milarepa, Yogi agung
> yang mencapai keBuddhaan dalam satu masa kehidupannya,
> maka kehidupan Milarepa sebelum mempraktikkan ajaran
> Buddha, seperti itulah wajah Tibet sesungguhnya.
> Kekerasan dan keserakahan, tak terkecuali orang2 Tibet,
> telah memilikinya. Bahkan lebih dari itu orang Tibet
> dibalik keluguannya adalah pendendam. [!] Tak terkecuali
> dengan sanak keluarga sendiri seperti konflik antara Milarepa
> muda dengan pamannya. Milarepa pendendam, mudah
> dihasut, dan menggunakan segala cara untuk mencapai apa
> yang dimauinya. Lihat saja, tak punya kekuatan
> untuk melawan pamannya yang merebut harta ayahnya, dia
> mempelajari ilmu hitam.[!] (agama Bon saat itu).
> Seperti itulah wajah Tibet yang sesungguhnya.
> 
> Jadi kalau anda berpikir bahwa orang Tibet adalah orang
> yang lembut dan tak mengenal kekerasan maka anda sudah
> salah orang, anda akan salah alamat melontarkan tuduhan2
> anda. Adalah Buddhisme yang telah mengubah Tibet. Adalah
> Dharma yang telah menaklukkan Milarepa menjadi seorang
> petapa Agung.
> Kebayang bagi saya kalau Dalai Lama tidak hipokrat, yang
> berarti menampilkan yang 10% wajah aslinya;
> 
> Hanya Buddhisme yang bisa menaklukkan Tibet.
> Hanya Buddhisme yang bisa menentramkan Tibet.
> Hanya Buddhisme yang bisa memimpin Tibet.[!]
> Percayalah, kekuatan politik manapun tak terkecuali Demokrasi
> Amerika atau sosialis komunis China tak akan
> mampu menaklukkan Tibet, KARENA, paham2 ini tidak lain
> merupakan representasi kekuatan materi yang terselubung
> kemajuan ekonomi, hal yang bukan menjadi aspirasi terdalam
> orang-orang Tibet. Di luar dugaan kita orang2 Tibet bukanlah
> orang-orang bodoh seperti yang terlihat sepintas di mata
> banyak orang. Mereka sudah tidak dapat didikte, nenek-buyut
> mereka sudah lebih tahu alasan dan tujuan manusia hidup dibanding
> manusia2 lainnya di planet bumi.
> 
> Sudah saatnya orang menyadari bahwa Buddhisme merupakan
> salah satu kekuatan di planet bumi. Sudah saatnya orang2
> sadar seorang anak manusia yang lahir ke dunia bukan hanya
> kebahagiaan materi yang dijadikan sebagai tujuan akhir,
> tetapi kebahagiaan spiritual juga merupakan sebuah pilihan.
> Bahkan di mata para dewa dan bodhisattva ini adalah pilihan
> yang mulia.
> 
> Kounter atau sanggahan2 yang dilakukan orang2 China terhadap
> isu yang berkembang tiap terjadinya kerusuhan yang melibatkan
> China lebih terdorong oleh kekhawatiran isu anti-China yang dapat
> merusak sendi2 perekonomian China yang telah mengglobal.
> Hal yang seharusnya dijadikan pegangan dalam menilai informasi2
> dari sumber2 RRC.
> 
> Namun demikian memang agak menjadi tanda tanya besar, mengapa RRC yang
> ekonomi-nya tidak se-bagus2 amerika mau begitu ngotot ingin menguasai
> daerah gersang seperti Tibet yang sejak dulu telah ditinggalkan oleh
> kaisar-kaisar China. Meskipun ada catatan bahwa Tibet adalah bagian
> dari China ribuan tahun yang lalu apakah itu saja yang dijadikan
> alasan untuk menguasai daerah gersang Xicang atau Tibet? Mongolia,
> Jepang, Korea, adalah wilayah yang duhulu dijadikan sasaran wilayah
> kekaisaran China, mengapa bukan negara2 subur ini yang layaknya
> dikuasai China setelah kekuatan militer mereka berkembang massive.[?]
> 
> Saya pikir, idealisme China bersatu telah menggelapkan mata para
> pemimpin komunis China tentang nilai2 yang lebih pantas dikedepankan
> di masa sekarang yakni kemanusiaan. Jangan2 RRC akan berakhir seperti
> Holocost Nazi, isu Genocide, seperti pemusnahan muslim Bosnia oleh
> Serbia, atau semacamnya di saat di belahan dunia lain orang2 telah
> menikmati persamaan hak dan perlindungan hak azasi manusia.
> 
> Jadi apa sebenarnya yang sedang terjadi di Tibet?
> 
> Yang terjadi di Tibet saat ini sebenarnya adalah perseteruan antara
> paham spiritualisme dengan materialisme, antara paham Siddharta
> Gautama (Buddhisme dalam hal ini khususnya Vajrayana) dengan dengan
> paham Mao Che Tung(MCT) dalam hal ini sosialis-komunis. MCT bukannya
> orang jahat, dia orang baik. Kalau kita orang Tionghoa, MCT mirip
> dengan kakek leluhur kita yang dahulu merantau ke Indonesia. MCT lahir
> di keluarga miskin, masa muda tinggal di kamar sepetak,
> belajar dan bekerja keras menghidupi dirinya, dan prihatin dengan
> persoalan bangsanya.  Prinsip MCT adalah kemiskinan dapat diatasi
> dengan kerja keras, dan percekcokan dapat
> diatasi dengan kontrol yang ketat dan tegas, persis seperti orangtua
> kita dulu dalam mengatur keluarganya, dan tidak suka kalau anaknya
> pergi ke vihara atau gereja. [!]
> Bagi MCT spiritualitas tidak ada pentingnya karena bagi Mao atau MCT
> kalau orang mau 'happy' dan sejahtera yang penting ekonomi tercukupi.
> Spiritualitas bagi MCT hanya membuat orang malas.
> 
> Di sisi lain Buddhisme (dalam hal ini diwakili oleh Yang Mulia Dalai
> Lama XIV) tidak bisa menyerahkan Tibet begitu saja kepada RRC.
> Buddhisme berjasa banyak bagi perkembangan Tibet sejak masa Raja
> Trisong Detsen (740M) yang mengundang Padmasambhawa (Maha Guru Agama
> Buddha) ke Tibet untuk mengatasi permasalahan2 di Tibet.
> Dahulu Tibet adalah negeri yang gersang, dipenuhi siluman, betul2
> siluman! Agama yang ada adalah agama Bon, yang upacaranya menggunakan
> darah, tulang, tengkorak, dan barang2 menyeramkan lainnya.
> Buddhisme-lah yang kemudian mengubah wajah angker  Tibet menjadi
> lembut seperti sekarang. Tetapi prinsip Buddhisme dalam menaklukan
> berbeda dengan MCT. Buddhisme tidak mengenal memberangus, dalam hal
> ini kebudayaan Bon Tibet tak dapat dimusnahkan begitu saja tetapi
> dengan cara bijaksana Buddhisme mengganti sendi2 dasarnya. Tradisi
> atau agama Bon sudah mulai ditinggalkan, masih ada sampai sekarang
> hanya ada di sekte2 tertentu seperti Nyingma (di Tibet sekarang
>  ada Gelug, Sakya, Kagyud, dan Nyingma).
> 
> Saat ini Buddhisme sudah sangat menyatu dengan Tibet, sampai2 melihat
> Tibet seolah melihat wajah Buddhisme khususnya Buddhisme vajrayana.
> Jadi tidak mudah bagi Buddhisme dengan prinsip kehidupan spiritualitas
> menyerahkan Tibet dikelola oleh tangan2 yang menganut paham
> materialisme seperti RRC karena itu hanya akan membuat Tibet maju
> secara fisik (yang tampak) selama 100 tahun ke depan tetapi mundur
> secara Batin selama 1000 tahun ke masa silam.
> Bagi Buddhisme kekuasaan materialisme tidak berbeda dengan kekuasaan
> siluman yang pada akhirnya menenggelamkan manusia dalam penderitaan.
> Ini makanya negara2 barat seperti Amerika tidak dapat/mau membantu
> banyak karena pada prinsipnya mereka sama dengan komunis yang juga
> mengutamakan materi sebagai alasan kebahagiaan.
> 
> Kalaupun RRC membangun Tibet secara fisik, ini tidak akan
> menyelesaikan persoalan karena mayoritas rakyat Tibet tidak menyukai
> kebahagiaan materi! Bukan wajah Tibet! RRC hanya akan buang2 anggaran
> saja menarik hati rakyat Tibet dengan bangunan2 fisik, jalan2 tol,
> jembatan, dll.
> Rakyat Tibet ingin agar Buddhisme-lah yang menguasai negaranya bukan
> saja karena jasa Buddhisme yang telah mengubah wajah angker Tibet
> tetapi lebih dari itu karena rakyat Tibet, berbeda dengan dengan
> bangsa2 lainnya, telah menemukan kebahagiaan di dalam Dharma! (ajaran
> Buddha).
> Jika RRC terus memaksakan kehendaknya maka dapat dipastikan RRC
> seiring waktu akan terus mengganti seluruh penduduk Tibet dengan
> penduduk China seperti yang sudah terjadi sekarang. Dan ini berarti
> RRC bukan telah mensejahterakan rakyat Tibet[!] tetapi berbalik
> menjadi menduduki atau mencaplok Tibet yang menjadikan RRC sebagai
> agresor bahkan tuduhan Genocide seperti perlakuan nazi kepada yahudi,
> ataupun kasus serbia-muslim bosnia.
> 
> Saya sebagai orang Tionghoa yang juga beragama Buddha melihat
> seharusnya Presiden Hu Jin Tao yang tidak lagi sekolot MCT sudah bisa
> melihat hal ini bahwa Tibet, karena 'ikatan karma' yang begitu kuat,
> tidak akan bisa lepas dari spiritualisme.
> Jika dia ingin Tibet sejahtera maka tak ada cara lain selain
> membiarkan YM Dalai Lama XIV yang memimpin rakyat Tibet karena hanya
> ketulusan hati dan cintakasih-lah yang bisa membuat orang TIbet
> bekerja keras, bukan karena keseganan akan 'Bapak Pembangunan Bangsa'
> atau iming2 kebahagiaan materi yang menjadi bahan tertawaan Buddhisme.
> Pun mereka tidak bisa lagi berpikir bahwa Dalai lama adalah orang
> kolot atau ketinggalan zaman karena Dalai Lama telah membuktikannya
> dengan 'survive' di negara2 barat bahkan sekaligus mem'Buddhis' kan
> banyak orang2 barat yang terkenal ke'science'tifikann ya dan
> skeptisitasnya.
> 
> Dalai Lama dalam siaran2 medianya pun selalu menegaskan bahwa
> kemerdekaan yang diinginkannya adalah Otonomi daerahnya bukan
> kemerdekaan total[!]. Melihat tak ada jasa sama sekali oleh RRC kepada
> perbaikan kebudayaan Tibet di masa dahulu maka pandangan saya, RRC
> sudah kelewatan dan terlalu pongah jika tak bisa merundingkan hal ini
> dan hanya ingin pandangannya saja yang didengarkan. RRC juga harus
> bercermin bahwa bangsa Tiongkok atau China menjadi bangsa yang besar
> tak lepas dari didikan dunia spiritualitas bahkan peran Buddhisme di
> China tidak kecil dalam membentuk wajah China di mata dunia.
> Pun kalau pada akhirnya jika setelah dipimpin oleh Dalai Lama, RRC
> menginginkan kekayaan alam Tibet (seperti yang diduga sebagian banyak
> orang), saya yakin Dalai Lama akan memberikannya. Bantuan dunia
> INTERNASIONAL pasti akan mengalir untuk membangun Tibet jika dipimpin
> Dalai Lama.
> 
> YG
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
> 
> ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo. org
**Yahoo!
> Groups Links
> 
> 
>     
>                               
> <!--
> 
> #ygrp-mkp{
> border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px
0px;padding:0px 14px;}
> #ygrp-mkp hr{
> border:1px solid #d8d8d8;}
> #ygrp-mkp #hd{
>
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px
0px;}
> #ygrp-mkp #ads{
> margin-bottom:10px;}
> #ygrp-mkp .ad{
> padding:0 0;}
> #ygrp-mkp .ad a{
> color:#0000ff;text-decoration:none;}
> -->
> 
> <!--
> 
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc{
> font-family:Arial;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
> margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
> margin-bottom:10px;padding:0 0;}
> -->
>       
> <!--
> 
>       #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica,
clean, sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
> 
> #ygrp-reco {
> margin-bottom:20px;padding:0px;}
> #ygrp-reco #reco-head {
> font-weight:bold;color:#ff7900;}
> 
> #reco-grpname{
> font-weight:bold;margin-top:10px;}
> #reco-category{
> font-size:77%;}
> #reco-desc{
> font-size:77%;}
> 
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a{
> text-decoration:none;}
> 
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
> 
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc{
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o{font-size:0;}
> .MsoNormal{
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq{margin:4;}
> -->
>               
> 
> 
> 
> 
> 
>       ________________________________________________________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke