Saat mengingat masa lalu, kita dapat merenungkan kebajikan para leluhur kita.
Saat memikirkan masa sekarang, kita bisa tidak mengungkit-ungkit kesalahan
orang tua kita. Saat memikirkan Negara, kita bisa berpikir bagaimana membalas
kebaikannya kepada kita dan saat memikirkan keluarga kita bisa berpikir
bagaimana mengembangkan nasib baik keluarga. Tatkala memikirkan keadaan luar,
pikirkan bagaimana menolong orang di sekeliling kita yang sedang kesusahan, dan
saat memikirkan keadaan di dalam, pikirkan bagaimana mencegah pikiran-pikiran
dan perbuatan yang tidak terpuji supaya tidak muncul.
Kata-kata berikut memberikan kesimpulan untuk bagian ini, yang sangat penting
karena di dalamnya ada kunci untuk pembentukan nasib. Apa yang kita pikirkan di
sebelah dalam akan menjadi petunjuk untuk meningkatkan kebajikan dan moral
serta untuk mengembangkan perbuatan-perbuatan baik. Di masa lalu, pendidikan di
Tiongkok mengajarkan tentang hubungan antar manusia, antara manusia dan makhluk
halus, dan antara manusia dan alam. Ajaran itu mengingatkan orang untuk ingat
pada masa lalu, menghormati para leluhur dan membuat kebaikan mereka diketahui
orang lain. Jika kita dihormati masyarakat karena prinsip moral dan etika,
pengetahuan, dan profesi kita, maka kita telah menghormati leluhur.
Pada masyarakat hari ini, apakah yang menjadi tenaga pendorong utama di balik
kerja keras? Uang, kepopuleran, dan gengsi. Kebanyakan orang bersedia berbuat
apa saja yang perlu untuk memperoleh semua ini. Mengapa? Pengumpulan uang
mendorong orang, membuat mereka maju. Jika tidak ada uang di sana, siapa yang
mau bekerja begitu keras? Sangat sedikit! Di masa lalu, tenaga pendorong di
belakang kerja keras adalah rasa bakti kepada orang tua. Mengingat orang tua
dan leluhur, mereka berusaha sebaik-baiknya dalam mengembangkan dan
mengumpulkan pahala dan kebajikan demi dan untuk dipersembahkan kepada orang
tua. Tenaga pendorong ini jauh lebih berharga dan luhur dibandingkan dengan
uang, kepopuleran, dan gengsi. Ini telah menjadi tradisi Tiongkok dan ajaran
Konfusius selama beberapa ribu tahun.
Agama Buddha juga didasarkan pada rasa bakti kepada orang tua. Sehingga,
upacara memberikan persembahan kepada leluhur dan pendirian tempat-tempat
sembahyang leluhur (sejenis cetya keluarga) sangat dihormati, dan menjadi akar
dan landasan utama dalam kebudayaan Tiongkok. Jika mampu berbakti kepada orang
tua dan leluhur, mampu mengingat akar diri, maka kita dengan sendirinya akan
mampu berpikir dan berperilaku dengan benar dan tidak melakukan kejahatan.
Ketika berpikir tentang saat ini, kia bisa tidak mengungkit-ungkit kesalahan
orang tua. (Ini pembahasan tentang mereka yang dekat dengan diri kita). Jika
anaknya berbakti, memiliki kontribusi yang baik di masyarakat, maka sekalipun
orang tuanya telah melakukan kesalahan kecil, orang-orang akan mengabaikan dan
melupakannya. Orang-orang akan memuji orang tuanya karena telah membesarkan
anak yang berbakti seperti itu.
Saat berpikir tentang Negara, kita bisa memikirkan bagaimana membalas
kebaikan budinya. Di atas diri kita, Negara dan pemerintah memiliki misi
menjadi pemimpin, orang tua, dan guru yang bertanggung jawab kepada
penduduknya, menyediakan tempat di mana orang bisa tinggal dan bekerja dengan
damai dan bahagia. Sebagai balasannya, penduduk harus setia, cinta Negara, dan
membaktikan diri bagi Negara.
Pada waktu memikirkan keluarga, kita bisa berpikir bagaimana membawa nasib
baik bagi keluarga. Di bawah kita adalah keluarga. Ingat kepada keluarga
artinya tidak cuma kepada keluarga inti, namun keluarga dalam arti luas seperti
pandangan orang zaman dahulu kala, keluarga dekat berikut sanak kerabat.
Sebagai anggota keluarga, kita perlu hati-hati dalam mengembangkan nasib baik
seluruh keluarga, tidak hanya untuk anggota keluarga dekat lainnya. Oleh karena
itu, saat satu orang mendapatkan nasib baik keluarga jauh juga bisa mendapatkan
manfaatnya.
Kala berpikir tentang keadaan luar, pikirkan bagaimana menolong orang yang
sedang kesusahan di sekeliling kita. Selalu ingat kepentingan masyarakat
banyak. Kita perlu melakukan semua yang perlu kita lakukan untuk melayani
masyarakat dan menciptakan nasib baik bagi semua. Dalam masyarakat hari ini,
kebutuhan yang paling mendesak adalah membangkitkan dan mengembangkan
pendidikan akhlak dan moral.
Ketika berpikir tentang keadaan sebelah dalam, pikirkan bagaimana mencegah
pikiran dan perbuatan yang tidak benar agar tidak muncul. Kita perlu mencegah
pikiran yang berkeliaran dan menyeleweng supaya tidak muncul. Kita perlu penuh
perhatian tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan membiarkan pergi ambisi
yang terlalu besar. Jika kita semua dapat melakukan ini, mampu memenuhi
tanggung jawab, maka masyarakat luas akan bernasib sangat baik dan harmonis dan
dunia akan damai. Mencius mengatakan bahwa Jika orang berhati luhur dan
berintegritas tinggi dapat setia pada tanggung jawab mereka, maka dengan cara
ini kebenaran akan dapat diungkapkan.
Dalam ajaran Konfusius, tanggung jawab ini merujuk kepada lima hubungan umat
manusia, termasuk di dalamnya hubungan antara suami dan istri, orang tua dan
anak, saudara, teman, pemimpin politik dan public. Ia juga berbicara tentang
Sepuluh Tanggung Jawab Moral. Semua ini berarti kita perlu memenuhi tanggung
jawab kepada masyarakat dan orang lain. Apapun tanggung jawab itu, kita perlu
melaksanakannya dengan giat dan rajin supaya dapat menciptakan Nasib Baik bagi
keluarga dan masyarakat luas.
Sumber : Seni Mengubah Nasib. Empat Ajaran Liao Fan. Ulasan oleh Master Chin
Kung
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]