Dalam pepatah bahasa Indonesia, ada salah satu yang maknanya berbunyi kurang 
lebih bahwa saudara itu dekat ribut melulu, jauh saling merindu...

Dalam kenyataannya saya kira makna dari pepatah itu banyak benarnya dari pada 
tidaknya, hanya, ketika suatu hari anda menemukan bahwa saudara yang sedarah 
dengan anda itu telah berubah sangat jauh dari yang anda ketahui, dan perubahan 
itu justru ke arah yang kurang baik, tentu sedikit banyak anda tentu akan 
bertanya, mungkin sedih dan bisa juga lalu merenung. 

Dan memang ada pepatah lain yang bilang kalau dalam satu sarang itu tidak semua 
telur yang ditetaskan oleh sang induk itu selalu baik, ada saja yang busuk atau 
rusak, dan tentu ini bisa sedikit menjelaskan apa yang terjadi diparagraf kedua 
di atas.

Saya tidak ingin mengajak anda untuk merenungkan kenapa telur yang satu itu 
busuk atau rusak, namun, ingin mengajak anda melihat kembali, kenapa kita bisa 
menyadari dan lalu sampai pada suatu pemahaman bahwa ternyata telur itu tidak 
semuanya baik.

Sederhana sekali sebetulnya. Semuanya itu kembali kepada niat anda dalam 
menjalani hidup ini dan lalu bagaimana anda menjaga niat itu dan dengan jernih 
melihat diri anda dan sejauh mana anda telah melangkah. Masihkah pada koridor 
yang telah anda niatkan, atau sudah melenceng, dan seberapa jauh anda melenceng.

Di masa kehidupan sekarang ini, faktor yang mendorong anda untuk melenceng itu 
sangat banyak, beberapa di antaranya justru bisa timbul dari pasangan anda 
sendiri, orang tua dan saudara-saudara anda dan bahkan teman dekat anda 
sekalipun. Ya, niat anda dengan niat mereka tidak bisa sama atau tidak pasti 
sama, toh, bisa jadi sangat berbeda, dan satu-satunya cara untuk membuat anda 
tidak terkontaminasi atau niat anda tidak terkontaminasi itu adalah melihat 
dengan jernih pula apa yang dimunculkan oleh orang-orang disekitar anda dan 
bagaimana pula akibatnya atas niat anda dalam menjalani hidup.

Seorang pegawai bank yang baik dan jujur misalnya, bisa saja pada suatu titik 
lalu menjadi pelaku manipulasi dan perampok uang nasabah bank tempatnya 
bekerja, karena kepepet butuh uang untuk keperluan rumah tangganya, entah itu 
karena tuntutan orang tuanya yang mengharuskannya berbakti dengan cara 
memberikan uang untuk membantu kehidupan adik-adiknya, padahal adik-adiknya itu 
malas dan tidak mau bekerja, sementara penghasilan si pegawai itu untuk 
membiayai rumah tangganya saja mungkin hanya bisa sekedar melewati bulan ke 
bulan, hari ke hari, tentu merupakan beban yang tidak mudah, dan itu tadi, 
tuntutan bukti bakti itu yang sungguh tidak mudah untuk dihadapi dengan baik 
dan bijak. Banyak lagi contoh yang tentu anda bisa cari sendiri, apalagi 
kehidupan sekarang ini sungguh tidak mudah dan demikian menggoda banyak orang 
untuk berbuat tidak baik dan benar, melenceng dari hidup yang baik dan benar.

Ada satu pepatah lain yang maknanya mengatakan bahwa lebih baik tidak berteman 
dari pada berteman dengan kejahatan. Mungkin untuk banyak orang di jaman ini, 
pepatah yang bermakna itu sangat kaku dan kolot kedengarannya, tidak gaul gitu 
loh, namun, rasanya sama dengan pepatah lain di atas, saya kira pepatah ini 
banyak benarnya dari pada tidaknya.

Dalam perjalanan spiritual, seorang penekun itu pada akhirnya mesti berani 
melakukan perjalanan batinnya sendiri, mandiri dan mencoba menghadapi 
rintangan-rintangan yang muncul itu dengan keteguhan. Walaupun pada 
kenyataannya proses itu awalnya akan tetap menghadirkan dampingan dari sang 
guru agar si penekun tidak melenceng jauh dari yang seharusnya. Perjalan 
seorang diri ini perlu agar si penekun bisa melihat dengan jernih dirinya dan 
lalu perkembangan batinnya akan menjadi lebih baik dan mantap dan tentu 
kontamiasi atau pengaruh-pengaruh dari luar itu bisa berkurang dan dialog 
internal si penekun bisa berjalan dengan baik, jadi rasanya tidak salah juga 
kalau dikatakan lebih baik tidak berteman dari pada berteman dengan kejahatan, 
hanya memang bukan berarti semua teman itu adalah teman untuk kejahatan, namun 
dalam hal ini adalah urusan pengaruh yang sulit dihindari dari sebuah 
persahabatan, dan pada akhirnya seorang sahabat yang baik semestinya
 mengijinkan sahabatnya berjalan sendiri dan menjadi matang dengan batinnya.


Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]
http://www.friendster.com/isutjipto 
http://groups.yahoo.com/group/irwan_sutjipto/
http://www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=gdis&fid=303848
Gallery:
http://www.flickr.com/photos/[EMAIL PROTECTED]/
http://irwansutjipto.multiply.com/photos


      

Kirim email ke