Sumber: http://www.buddhamanggala.blogspot.com
Catatan: Anda dapat melihat foto-foto kegiatan pada situs (URL) di 
atas.
*******************************************************************

Namatthu Buddhassa,

Upaya tak mengenal lelah, pantang menyerah, demikianlah satu hal yang 
senantiasa ditanamkan dalam benak setiap orang yang ingin menggapai 
cita-citanya.

Sebuah kebahagiaan tersendiri usaha yang baik membuahkan hasil yang 
baik pula, demikian dari serangkaian kegiatan di bulan Asadha 2552 BE 
atau tepatnya bulan Juli ini... Kami dari Dayaka Sabha Vihara Grha 
Buddha Manggala telah saling bahu-membahu memberikan kesempatan dan 
fasilitas bagi Umat Buddha untuk melatih diri dalam kebajikan dan 
mengasah batin melalui pemahaman Dhamma.

Peringatan bulan Asadha atau Asalha (dalam bhs. Pali) menjadi satu 
momen penting bagi umat Buddha untuk mengingat kembali Ajaran Buddha 
yang paling mendasar, dan merupakan inti-pokok Ajaran Para Buddha 
sepanjang masa, setiap Samma-sambuddha yang terlahir ke dunia akan 
membagi dan mengajarkan Jalan yang sama bagi umat-Nya yaitu:
Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Umat Buddha di Batam sangat merasa berbahagia, karena kesempatan 
untuk belajar & praktek Dhamma benar-benar sangat terbuka di Vihara 
Grha Buddha Manggala, dengan serangkaian kegiatan yang telah kami 
laksanakan antara lain:

1. Pembinaan dan Bimbingan Keagamaan Buddha bagi Guru Sekolah Minggu 
Buddhis se-Kota Batam, Sabtu, 19 Juli 2008 pukul 08:00 s/d 12:00 WIB
Sesuai dengan amanat yang diberikan oleh Penyelenggara Bimas Buddha 
Kota Batam, Bpk. Sudir S.Pd, kami dari Keluarga Besar Theravada 
Indonesia diberikan kesempatan untuk mengisi dua dari tiga sesi dalam 
agenda yang diadakan oleh Pembimas Buddha Kota Batam, yaitu:
a. Sesi I : "Motivasi Pembelajaran Anak pada Sekolah Minggu Buddhis" 
oleh Bpk. Marsudi, S.Ag, beliau adalah Guru SD Negri 03 Belakang 
Padang.
Bpk. Marsudi, S.Ag memaparkan banyak hal yang menjadi landasan 
berdirinya sebuah Sekolah Minggu Buddhis, bagaimana penyusunan 
kurikulum untuk Sekolah Minggu Buddhis dengan mengacu pendidikan 
formal, bagaimana seorang guru mengajar pada muridnya di dalam kelas, 
aneka bentuk pengajaran yang bisa diberikan dalam bentuk aneka 
permainan.

b. Sesi II: "Pembinaan Moral (Sila) dalam Era Globalisasi" oleh 
Bhikkhu Suhadayo - Sangha Theravada Indonesia.
Bhante Suhadayo yang hadir ke Batam, menggantikan Bhante Vimaladhiro 
yang mana sebelumnya dijadwalkan membawakan sesi II ini, Bhante 
Suhadayo memaparkan apa itu Sila baik bagi Non Perumah Tangga dan 
Perumah Tangga, apa saja yang perlu diperhatikan dalam praktek Sila 
bagi Perumah Tangga, apa yang bisa dijadikan penopang praktek Sila 
itu sendiri yaitu Hiri dan Ottapa, tentunya juga dengan bekal utama 
yaitu Cinta Kasih, apa saja manfaat praktek Sila bagi kehidupan 
pribadi, masyarakat, bangsa, dan lingkungan sekitar. Dengan praktek 
Sila tentu umat Buddha telah turut berpartisipasi dalam menciptakan 
Keharmonisan Keluarga, Masyarakat, Negara, dan Dunia. Dengan praktek 
Sila tentu umat Buddha juga turut berpartisipasi dalam pelestarian 
Lingkungan Hidup sekaligus memberikan kontribusi pada pengurangan 
Pemanasan Global, contohnya Umat Buddha menyadari hasil dari mata 
pencaharian sebagai penggundul hutan, yang banyak dilakukan oleh 
masyarakat di daerah-daerah, tentunya terkait dengan sila ke-dua akan 
mengingatkan umat Buddha itu sendiri, bahwa penggundulan hutan akan 
membawakan kerugian bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan.
c. Sesi III: "Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan yang Berkualitas" 
oleh PMd. Suwarno, ST. selaku Sekretaris MAGABUDHI yang sekaligus 
dalam keseharian berprofesi sebagai Pegawai Swasta di Bidang IT di 
salah satu perusahaan elektronik di Muka Kuning, dan juga Dosen Luar 
Biasa di Kampus Universitas Internasional Batam di jurusan Sistem 
Informasi, sekaligus merangkap sebagai Koordinator Dosen Agama Buddha 
di Kampus UIB. Dalam sesi ini, cukup terasa waktu satu jam sangatlah 
singkat, berbicara soal manajemen, tak lepas dari manajemen diri 
sendiri terlebih dahulu, bagaimana seorang Guru Sekolah Minggu mampu 
me-manage dirinya sendiri, apakah ingin menjadi seperti 
sebuah "wortel', "telur" ataukah "biji kopi", sebuah analogi yang 
digunakan oleh Rama Suwarno... sebuah wortel awalnya keras, namun 
setelah dicelupkan ke dalam air mendidih menjadi lunak, sebuah telur 
awalnya cair, namun setelah dicelupkan ke dalam air mendidih menjadi 
keras, dan biji kopi yang awalnya tidak semerbak baunya, namun ketika 
setelah dicelupkan ke dalam air mendidih, menjadi harum semerbak. 
Demikianlah seorang guru layaknya menjadi sebuah biji Kopi yang mampu 
mengubah lingkungan (anak didik) dari kurang baik, dari kurang 
mengetahui Ajaran Buddha menjadi anak yang baik, menjadi lebih 
mengetahui Ajaran Buddha, serta rajin mempraktekkannya, tentu modal 
dasar utamanya adalah Keteladanan seorang Guru, yang layaknya 
mencontoh keteladanan Guru Agung Sang Buddha. Dilanjutkan dengan 
pemaparan bagaimana Manajemen dalam Sekolah Minggu Buddhis itu 
sendiri, yaitu berkaitan dengan Penyusunan Materi yang senantiasa 
harus selalu berpatokan pada Tipitaka (Pali), karena inilah sebagai 
sumber utama Ajaran Buddha, bagaimana membuat siswa/i menjadi 
tertarik mempelajari Tipitaka. Kemudian Manajemen keuangan Sekolah 
Minggu Buddhis itu sendiri yang mana harus melibatkan Pengurus Vihara 
setempat, sekolah minggu tanpa dana, sulit akan berjalan.
Pada penghujung acara ini... ditutup oleh Kepala Kantor Departemen 
Agama Kota Batam (KAKANDEPAG) Drs. H. Khudri Syam, M.Si yang 
didampingi oleh Bpk. Sudir S.Pd (samping kanan beliau), dan Bhikkhu 
Suhadayo beserta PMd. Suwarno, ST., beliau berpesan bahwa kegiatan 
pembinaan ini sangatlah penting bagi guru-guru Sekolah Minggu 
Buddhis, guru merupakan ujung tombak bagi perkembangan sebuah agama, 
menjadi satu cita-cita bersama masyarakat Batam yaitu membentuk Kota 
Batam sebagai Kota Batam yang Agamis pada 2010. Beliau membagi 
pengalaman juga ketika investor hendak menanamkan modal di Kota 
Batam, maka yang dilihat paling utama adalah bagaimana tingkat 
keamanan dan toleransi beragama satu tempat tersebut, nah disinilah 
peran tokoh-tokoh agama yang menjadi jembatan penghubung antar agama 
dalam menyelesaikan aneka masalah baik intern, dan antar agama, serta 
hubungan dengan pemerintah, seperti halnya yang tertuang dalam Tri 
Kerukunan Umat Beragama. 

Beliau juga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada 
Bhikkhu Suhadayo dan PMd. Suwarno serta Bpk. Marsudi, S.Ag atas 
kesediaannya telah mengisi acara yang diadakan oleh Depag Kota Batam 
ini, terutama kepada Bhikkhu Suhadayo selaku perwakilan dari Sangha 
Theravada Indonesia yang telah datang jauh dari Jakarta ke kota Batam 
pertama kalinya, untuk memberikan ilmunya kepada para guru agama 
Buddha di Kota Batam. Setelah acara ditutup dilanjutkan dengan Santap 
Siang bersama Kakandepag Kota Batam, nampak suasana akrab antar para 
guru dan segenap pegawai Kantor Departemen Agama.

2. Siraman Rohani Agama Buddha di Lapas Barelang, tema: "ASADHA PUJA 
2552 BE", Sabtu, 19 Juli 2008, pukul 14:00 - 16:00 WIB.

Merupakan kunjungan pertama ke Lapas bagi Bhante Suhadayo, dan 
sekaligus yang pertama di Kota Batam juga, Bhante Suhadayo berangkat 
bersama dengan Pembina Umat Buddha Lapas Barelang yaitu: Upa. 
Suparman, S.Ag dan Upa. Ramelan, S.Ag serta Upa. Predijanto. Dalam 
suasana mendung, yang kerap hujan turun, dan reda kembali... Sdr. 
Lasimin yang dibimbing oleh Upa. Suparman, S.Ag memimpin ASADHA Puja, 
memohon Tisarana dan Sila, memanjatkan Asalhapunnamigatha serta 
mendengarkan Dhammadesana dari Bhante Suhadayo. 

Bhante Suhadayo merasa turut berbahagia (ber-anumodana) atas kemajuan 
umat Buddha di Lapas Barelang ini, Bhante mengatakan.. ternyata umat 
di sini sudah cukup bagus sekali dalam membacakan Gatha dan Sutta 
(Pali-Vacana), tentunya ini berkat dari bimbingan para Pembina Umat 
Buddha di Lapas Barelang, yang dikoordinir oleh Para Pandita dari 
MAGABUDHI PC Kota Batam yaitu: Rama Santoso, dan Rama Suwarno, serta 
Upacarika Djarmin Sugianto, dan didukung oleh segenap para Guru Agama 
Buddha di Vihara Grha Buddha Manggala.

3. Pemberkahan Rumah Umat, Sabtu, 19 Juli 2008, petang hari
Satu kebahagiaan bagi pemilik rumah yang hendak menempati rumah baru, 
atau suasana baru dalam rumahnya, kebahagiaan ini dimulai dengan 
memohon kepada para bhikkhu untuk memanjatkan ulang Gatha dan Sutta, 
yang mampu meneguhkan kekuatan keyakinan pada Ajaran Buddha sehingga 
menjadi perlindungan yang kokoh. Demikian Bhante Suhadayo diminta 
oleh Upa. Predijanto untuk memanjatkan Paritta Kebahagiaan atas 
penempatan rumah dengan suasana yang baru, semoga dengan satu 
harapan, semoga kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan selalu menyertai 
keluarga Predijanto.

4. Pindapatta Keliling Perumahan Baloi Mas Permai, dan Anggrek 
Permai, Minggu, 20 Juli 2008, pukul 08:00-09:00 WIB.

Bhante Suhadayo ditemani oleh seorang siswa Sekolah Minggu Buddhis, 
Sdr. Apri berjalan perlahan mengelilingi Perumahan Baloi Mas Permai 
dan Anggrek Permai.
Dengan dikoordinir oleh para guru agama Buddha, siswa-i Sekolah 
Minggu Buddhis cukup ramai yang mengikuti Pindapatta ini, mereka 
menyebar ke beberapa titik tempat, menunggu kedatangan Bhante 
Suhadayo. Warga sekitar pun turut tergugah, dan banyak juga yang 
turut memasukkan dana makanan ke dalam patta yang dibawa oleh Bhante 
Suhadayo.



5. Dhamma on Air, Siaran di Radio Era Baru 106.5 FM, topik: ASADHA 
Pada hari Minggu, pukul 10:00 s/d 11:00, dengan dipandu oleh Mas 
Irman (Bpk. Raymond), kami bertiga: Sumanto, S.Ag, Upa. Jumadi Kiran, 
dan PMd. Suwarno, melakukan dialog interaktif seputar Bulan Asadha 
dan bagaimana umat Buddha memperingatinya. 

Sumanto, S.Ag selaku perwakilan Guru Sekolah Minggu Buddhis Vihara 
Grha Buddha Manggala memaparkan latar belakang dan sejarah Peringatan 
Asadha, yang menjadi tonggak pertama kali Dhamma dikumandangkan 
sekaligus terbentuknya Sangha - Perkumpulan para Arya yang ditandai 
dengan diterimanya Anna Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Assaji, Mahanama 
sebagai lima murid pertama (ehi-bhikkhu) oleh Buddha Gotama, sehingga 
lengkaplah terbentuk Buddha-Dhamma-Sangha. Dhamma yang pertama kali 
dibabarkan oleh Sang Buddha Gotama, dan sekaligus merupakan inti 
ajaran dari para Buddha dari masa lalu, sekarang dan masa depan 
yaitu: Empat Kebenaran Mulia, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. 
Dilanjutkan pemaparan oleh Upa. Jumadi Kiran selaku Ketua Dayaka 
Sabha Vihara Grha Buddha Manggala, untuk mengajak para umat Buddha 
guna turut berpartisipasi dalam rangkaian acara Hari Asadha, di mana 
para umat Buddha diajak pula untuk mengingat kembali apa yang menjadi 
Inti Ajaran Buddha, dan bisa mulai mempraktekkannya dengan baik. 
Pemaparan terakhir dilanjutkan oleh PMd. Suwarno selaku Pandita dari 
MAGABUDHI juga turut memotivasi umat Buddha dan para insan harapan 
Era Baru (pendengar radio Era Baru) untuk menjadikan moment tiap 
tahun bagi umat Buddha untuk mengingat kembali bagaimana perjuangan 
Sang Buddha dalam mengajak para umatNya untuk mengikuti JALAN TENGAH 
yang telah ditemukanNya, mengingat kembali Inti Ajaran Buddha yang 
bisa menjadi landasan dasar dari keseluruhan ajaran Buddha yang 
tertuang dalam Tipitaka Pali, serta mengingat kembali bagaimana awal 
terbentuknya Sangha yang menjadi panutan umat Buddha.

6. Peringatan ASADHA di Sekolah Minggu Buddhis, pada hari Minggu, 20 
Juli 2008, pukul 09:30 - 11:00.
Seusai adik-adik sekolah Minggu bersama orang tua melakukan 
Pindapatta, bersama-sama duduk bersila di dalam Dhammasala, untuk 
melaksanakan Asadha Puja, dengan dibimbing oleh beberapa orang guru 
yaitu: Suparman, S.Ag, Dona, dan Munjaitun, S.Ag. Alunan gatha dan 
sutta dikumandangkan dengan baik oleh para siswa/i Sekolah Minggu 
Buddhis.
Seusai Bhante Suhadayo memasuki Dhammasala, siswa/i melanjutkan 
permohonan Tisarana dan Pancasila kepada Bhante Suhadayo, kemudian 
bersama-sama melakukan memanjatkan Asalhapunnamigatha dan dilanjutkan 
dengan Meditasi Bersama serta Dhammadesana yang dibawakan oleh Bhante 
Suhadayo.


7. Peringatan ASADHA di Kampus Universitas Internasional Batam 
bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Buddha, Minggu, 20 Juli 
2008, pukul 13:00 s/d 15:00
Suasana hujan turun mengiringi kedatangan Bhante di Kampus UIB, namun 
semangat tinggi tetap dimiliki oleh muda-mudi Buddhis UKM Buddha 
untuk turut memperingati Hari Asadha. Asadha Puja yang digelar oleh 
UKM Buddha dilaksanakan dengan cukup sederhana nan khidmat, dengan 
dipimpin oleh Sdr. Februyung dan Sdr. Erwin William, alunan bait 
Paritta Suci dibacakan. Bhante Suhadayo memberikan pesan penting bagi 
para mahasiswa, hendaknya para mahasiswa/i Buddhis untuk turut 
berperan serta dalam melestarikan Ajaran Buddha, menjadikan latihan 
Meditasi sebagai latihan dalam keseharian, bangun tidur, dan sebelum 
tidur, tekun melatih meditasi bisa berupa Metta Bhavana atau 
Anapanasati, paling tidak masing-masing 30 menit, atau sekurang-
kurangnya sebagai pemula dapat melatihnya 15 menit.


8. Peringatan ASADHA PUJA di Vihara Grha Buddha Manggala, Minggu, 20 
Juli 2008, pukul 18:00 s/d 21:00.
Sebagai puncak acara dalam rangkaian acara di bulan Asadha, Dayaka 
Sabha Vihara Grha Buddha Manggala bersama-sama segenap umat Buddha, 
yang telah hadir pada pukul enam sore, sambil bersenda gurau 
menikmati sajian makan malam sederhana yang merupakan dana bersama 
para umat Buddha. Waktu menunjukkan pukul 19:00, yang berarti Asalha 
Puja harus segera dimulai, maka para umat Buddha segera memasuki 
Dhammasala dan duduk bersila, yang dipimpin oleh Upa. Sumanto, 
S.Ag ... para umat diajak untuk bersama-sama memohon tuntunan 
Tisarana dan Pancasila dari Bhante Suhadayo, dilanjutkan dengan 
Pembacaan Asalha Puja Gatha yang dibacakan dengan penuh khidmat untuk 
mengingat kembali apa yang menjadi Inti Ajaran Buddha yang tertuang 
dalam Dhammacakkapavatana Sutta. Bhante Suhadayo dalam penghujung 
ceramahnya, beliau memberikan PR (pekerjaan rumah) bagi para umat 
yang hadir yaitu... mengerjakan Latihan Meditasi secara rutin pagi 
dan malam, pagi setelah bangun tidur, dan malam menjelang tidur, 
paling tidak 30 menit masing-masing, ini tidak bisa ditawar-tawar 
ujar Bhante Suhadayo sambil tersenyum memberikan semangat kepada para 
umat.


Usai sudah rangkaian acara di Bulan Juli ini, di bulan 
Asadha/Asalha... kami menghaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya 
kepada Bhante Suhadayo yang telah meluangkan waktunya dalam masa 
vassa-nya untuk hadir di Kota Batam memberikan siraman rohani 
selayaknya sebuah battery yang di-charge kembali, kami turut ber-
anumodana atas keseluruhan rangkaian acara kami yang berjalan lancar 
dan sukses, sukses dalam artian.. para umat Buddha dapat turut 
berpartisipasi meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama 
melakukan kegiatan dalam rangkaian Asadha Puja.

Kepada Bhante Sukhemo, kami juga menghaturkan terima kasih, yang 
telah membantu menugaskan Bhante Suhadayo ke Pulau Batam, yang masih 
membutuhkan banyak bimbingan Dhamma dari para Bhikkhu Sangha 
Theravada Indonesia.

Salam metta,
Dayaka Sabha Vihara Grha Buddha Manggala


Kirim email ke