--------------------------------------------------------------------------------
From: Caesar Romero
Sent: 07 Juli 2008 13:33
Subject: FW: Penipuan dengan modus penyamaran sebagai reserse narkoba
(pengalaman pribadi)]
KEJADIANNYA DI SURABAYA......................................
Yth. Rekan2 IKAMA:
Saya ingin share satu pengalaman tidak mengenakkan yang baru saja
menimpa saya, semoga dengan sharing ini rekan-rekan menjadi lebih waspada.
Pada hari Senin, 30 Juni 2008 sekitar pk. 18.00, saya naik mobil dari
arah Semolowaru (sisi Selatan) sampai di persimpangan Semolowaru-Klampis. Di
situ sebelum jam 7 malam tidak boleh belok kanan, harus lurus dulu. Di
persimpangan itu mobil saya tersenggol (lebih tepatnya sengaja disenggol,
setelah saya cermati betul kasusnya) sepeda motor. Karena tersenggol pelan,
saya sendiri tidak yakin apakah itu betul-betul mobil saya. Tapi saya mendengar
suara "gubrak" di belakang mobil. Setelah itu saya jalan perlahan, dengan
maksud jika memang mobil saya yang kena saya tidak akan lari. Setelah itu ada
sepeda motor melesat cepat di samping kanan saya. Saya pikir berarti bukan
mobil saya, ternyata kemudian ada sepeda motor kedua meminta saya menepi.
Saya buka kaca mobil separo, orang tersebut marah-marah sambil berucap
"Kamu tahu siapa saya?" dan "Kamu punya backing siapa saja, panggil semua ke
sini." Saya kemudian turun (kekeliruan pertama) karena bermaksud menyelesaikan.
Orang tersebut kemudian (pura-pura) menelpon rekannya, menyampaikan bahwa
target operasinya lari dan minta rekannya meneruskan mengejar karena dia sedang
ada halangan. Setelah itu kami "berproses" bahkan dia sempat memborgol tangan
saya. Dalam kondisi seperti itu saya tampak bersalah di mata penduduk: mobil
saya dihentikan (orang bisa berpikir tabrak lari), dan dia punya borgol.
Apalagi ketika saya katakan bermaksud membantu memperbaiki sepeda motornya
(kekeliruan kedua saya tidak catat nopolnya) kemudian mengeluarkan dompet, saya
dituduh mau menyuap. Saya benar-benar dibuat berada dalam posisi yang sangat
sulit waktu itu.
Akhirnya kita sepakat bahwa saya akan memperbaiki sepeda motornya.
Karena tidak bawa banyak uang, saya ajak si preman ini ke ATM. Dia minta dia
yang mengemudikan mobil saya. Mungkin waktu itu otak saya sudah blank akhirnya
tidak saya tolak (kekeliruan ketiga dan paling fatal). Dalam perjalanan dia
menawarkan apakah mau ke kantor polisi supaya kejadiannya tercatat atau dia
coba menelpon temannya orang bengkel (karena malam hari sudah tidak ada bengkel
buka). Karena ingin cepat selesai saya pilih yang kedua. Singkat kata saya siap
memberinya 1 juta.
Dari seluruh cerita ini, kondisi paling rawan adalah saat saya ke ATM
di mana kunci mobil dia yang pegang. Saya secara sopan ajak dia turun. Tapi
selama di ATM saya awasi mobil saya. Saya benar-benar pasrah dan kepalang
basah, mau alasan apa minta kunci mobil kembali? Sempat dia pindah parkir
karena disuruh tukang parkir, tapi selebihnya.. . untunglah mobil saya tidak
dibawa lari. Kami kemudian kembali ke lokasi kejadian. Selama perjalanan kami
seperti jadi "teman baik" - dia kasih info nama dan no. HP-nya, Briptu Joni,
60666151. Dia bilang setelah ini Mas Eric kalau ada apa-apa bisa telpon dia.
Dia anggap saya sudah jadi teman. Dia sempat cerita backgroundnya, dulu di
Mabes terus dimutasi ke Polda karena bertengkar dengan orang AD yang
membackingi sebuah cafe yang sedang jadi targetnya. Sebelumnya sempat nanya
agama saya, saya jawab Katolik dia ngaku sama. Sempat juga cerita tentang
bayinya yang baru berumur 2 minggu. Karena saya sempat menyinggung profesi saya
sebagai guru, saya tanya bagian penyuluhan di Polda siapa yang bisa dihubungi,
dia spontan menjawab Iptu Fitri. Semua aktingnya benar-benar meyakinkan. Saya
benar-benar termakan. Hingga keesokan harinya saya mencoba menelpon ternyata
nomor palsu...
Saya tidak menyesal kehilangan uang 1 juta dari kasus ini karena saya
belajar banyak, apalagi ada potensi bahwa sebetulnya mobil saya bisa hilang
juga. Ketika kasus sudah clear dan kita tahu itu penipuan, kita bisa bilang A
dan B. Tapi selama kasus situasinya benar-benar lain. Saya banyak
berandai-andai. Bagaimana jika orang ini benar-benar oknum yang bisa main
tembak, istri-anak saya jadi apa? Konon reserse narkoba memang bisa main tembak
karena diberi instruksi tembak di tempat (setidaknya di kaki) jika ada sasaran
yang dianggap mencurigakan. Anda mungkin sudah sering mendengar cerita operasi
narkoba terhadap ABG; satu oknum mengajak ke tempat lain, satunya pura-pura
menggeledah mobil tapi sebenarnya "mengisi" mobil dengan sampel yang cukup
dijadikan barang bukti untuk mengadakan kasus. Ada juga kemungkinan memang dia
reserse yang sedang operasi tapi kemudian memanfaatkan situasi. Ada banyak
kemungkinan, tapi saya bersyukur endingnya saya selamat masih bisa bertemu
keluarga, badan saya utuh, dan saya "hanya" bayar "uang kursus pengalaman
hidup" seharga 1 juta. Pengalaman yang betul-betul berharga walaupun sangat
tidak mengenakkan.
Saya kemudian berkonsultasi dengan rekan saya seorang polisi, rekan
saya memberikan beberapa pendapat yang mungkin sebagian dapat menjadi tips yang
berguna buat rekan-rekan:
1. Jika Anda seorang diri, telpon dulu orang lain untuk segera meluncur
ke lokasi Anda sebelum Anda turun dari mobil (dengan asumsi Anda tidak bisa
atau tidak bermaksud lari). Bisa orang tua atau siapapun yang Anda kenal
(syukur kalau ada kenalan polisi), yang penting Anda tidak seorang diri. Kasus
seperti ini memang mencari target orang yang sendirian berkendara. Anda dalam
posisi yang lebih baik jika tidak sendirian.
2. Melihat kemampuan akting dan pengetahuannya tentang kepolisian,
orang ini kemungkinan adalah informan (istilahnya SP - Solo Pati) polisi yang
memang lagaknya melebihi polisi. Bagaimanapun aparat yang benar tidak bisa asal
main borgol, apalagi jika hanya kasus serempetan. Selain itu aparat yang sedang
dalam pengejaran tidak akan berhenti atas halangan ringan (itu sebabnya si
preman sudah menyiapkan alibi ada rekan yang bisa ditelpon untuk meneruskan
pengejaran).
3. Kasus dengan modus sengaja menabrakkan sepeda motor sudah umum, tapi
sampai dengan skenario pengejaran target operasi, baru kali ini rekan saya
dengar. Dia akan sampaikan kasusnya di kesatuannya saat gelar perkara supaya
polisi terupdate. Karena merupakan MO baru, ada kemungkinan masih akan sering
terjadi. Di masa mendatang tentu masih akan banyak MO lain - penjahat juga
punya kreativitas sendiri. Jangan mudah mempercayai sesuatu.
4. Jangan lupa memperhatikan detil kecil selama kasus terjadi, misalnya
nopol sepeda motor yang mereka gunakan.
5. Jika Anda berani mengambil risiko, terima saja ajakannya untuk ke
kantor polisi terdekat. Lakukan ini jika Anda sudah mulai curiga bahwa ini
penipuan. Karena jangan lupa risikonya, jika itu memang polisi sungguhan yang
Anda tabrak, ke kantor polisi terdekat malah akan bikin runyam.
Saya merelakan waktu saya menulis ini dengan panjang lebar agar dapat
menjadi informasi berharga bagi rekan-rekan. Semoga beberapa keteledoran saya
dalam kasus ini tidak sampai terulang jika terjadi pada rekan-rekan. Rasanya
sangat tidak benar jika saya tidak menyebarluaskan cerita ini. Mudah-mudahan
dengan mengakui ketololan saya dalam kasus ini justru dapat bermanfaat bagi
orang banyak. Silakan jika ingin disebarkan ke milis lain.
Tips terakhir dari saya, tanpa bermaksud apa-apa, jangan lupa sempatkan
berdoa. Dalam kasus yang saya alami, ada sejenak masa saya sempat berucap
"Tuhan, dampingilah saya." Hanya itu. Dan saya bersyukur Tuhan benar-benar
mendampingi saya dari awal sampai akhir.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.
Salam,
[Non-text portions of this message have been removed]