Bertamasya ke surga

Hari ini saya melihat sop daging sapi, sate kambing daging dan hati, lalu ada 
sepiring nasi dan segelas teh tawar. Tidak terlalu lama, saya melihat nasi 
habis, sate tandas, demikian juga sopnya beserta teh tawar segelas itu. Tidak 
lama, muncul segelas es kelapa muda, nah, ini pun tandas juga. Semua proses itu 
berlangsung kurang lebih 10-15 menit, ya, saya membuktikan semua itu tidak 
kekal (anicca) dan berubah itu hanya dalam lima belas menit, nyam masuk 
keperut, dan saya membuat proses dukkha yang mewujud dengan lapar itu selesai 
dengan urusan 10-15 menit itu. Dan kalau dikatakan tidak ada akunya, mana ada 
wong aku dah makan, dan teman semeja juga makannya sama, lalu mo beda gi mana, 
jadi si tanpa aku juga ndak ikutan-sepertinya.

Di tangan para pakar, proses makan ini bisa menjadi pembahasan yang mungkin 
sekali menjadi bahasan selama beberapa bulan, tahunan dan puluhan tahun, 
tergantung apa yang dibahas dan dari sudut mana. Kalau dari sisi higienis ya 
bisa pendeklah, dari sisi gizi, bisa agak panjang, dari segi proses 
metabolisme, pengukuran kecepatan mengunyah, makan lama lah, yaa dst sampai ke 
yang paling lama dan tentu bisa makan waktu tahunan. Bagi saya yang makan, ya, 
itu makan, lapar saya selesai, uang berpindah tangan, saya kembali bekerja. 

Dalam meditasi zen ada satu ungkapan yang mengatakan kurang lebih,"Seorang 
penekun pada awalnya akan melihat gunung sebagai gunung, dalam perjalanan 
spiritualnya akan melihat gunung sebagai sebuah ciptaan yang indah, sesuatu 
yang tidak kekal, dst dst, dan pada finish perjalanan spiritualnya-pencerahan, 
kembali akan melihat gunung sebagai gunung." Hanya lalu entah sekedar 
gaya-gayaan, kadang ada saja yang melihat gunung sebagai pejalan spiritual, 
atau kadang mencoba menjelaskan gunung itu apa adanya tapi dengan gaya yang 
sama juga seperti yang sebelumnya alias mencoba menyatakan bahwa dirinya 
melihat gunung itu apa adanya, namun dengan pancaran nuansa batin yang 
sesungguhnya tidak berbeda dengan penekun yang masih melihat gunung dengan 
demikian takjubnya dan indahnya, dst dst, yang sangat mungkin, bagi orang 
banyak, permainan melihat apa adanya ini bisa jadi memang sepertinya melihat 
apa adanya, hanya ketika dengan hati-hati diamati, tentu akan bisa dipahami. 
Seperti aktivitas makan yang saya uraikan di atas, bisa dialami dan dinikmati, 
bisa juga dibahas dari berbagai sisi, dan bisa juga dibahas-tepatnya saya 
bahas- dengan mengatakan, saya mengamati proses makannya, begini, begitu, dst, 
dan saya lalu melepaskan dari makan itu, tidak melekat, toh tidak pake lem 
Alteco ato super glue, pakenya sop daging sapi. Keseluruhan proses itu adanya 
dalam diri saya, dan lalu kalau saya bermain sepertinya saya telah bisa 
mengamati apa adanyapun saya kira tidak akan banyak yang mau menyanggah apa 
lagi sampai benar-benar bisa menyanggah dan membuktikan kalau saya sekedar 
bergaya saja, yaa istilah umumnya (maaf) cuma saya dan Dia yang tahu. 

Pemahaman dan kondisi batin itu sesungguhnya dan pada dasarnya adalah sesuatu 
yang sangat pribadi dan kadang kalau diungkapkan dengan tidak hati-hati dan 
pada tempatnya, hanya lalu akan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat atau 
mubazir, lain kalau pengungkapan tidak pada tempatnya itu dilakukan oleh 
oranglain atas pengalaman batin orang lain pula, ya, paling kalau itu yang 
terjadi, mungkin akan sekedar menjadi guyonan atau bisa juga hiburan 
spiritual-semacam itu- toh bukan hanya hiburan berbentuk banyolan, spiritual 
pun seringkali bisa menjadi hiburan yang nikmat dan laku dijual, jual surga ato 
tiket menuju sorga, dst dst. 

Oleh karenanya, marilah kita bertamasya ke surga.... tiket bayar masing-masing 
yah.

280808


      

Kirim email ke