----- Original Message ----- 
From: merry yap 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, August 29, 2008 1:02 PM
Subject: [Dharmajala] Bag 1: Catatan Kunjungan Sangye Nyenpa Rinpoche Ke 
Indonesia ( 13 s.d 21 Agustus 2008 )

Catatan Kunjungan Sangye Nyenpa Rinpoche ke Indonesia, Tanggal 13 Agustus s/d 
21 Agustus 2008.

Saudara-saudari sedharma, 

Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha. 

Pada kesempatan ini saya hendak berbagi manfaat sekaligus pengalaman berharga 
yang saya peroleh saat mengikuti serangkaian pengajaran yang diberikan oleh 
Sangye Nyenpa Rinpoche di Palembang dan Jakarta pada tanggal 18-21 Agustus 
lalu. 

 

Sungguh saya merasa kita, Buddhis Indonesia, sangat beruntung sekali 
berkesempatan memperoleh kunjungan dari salah seorang praktisi Dharma sejati. 

 

Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga masukan dari teman-teman yang mengikuti 
seluruh rangkaian kegiatan beliau selama kunjungan ke Indonesia kali ini yang 
berlangsung dari tanggal 13 hingga tanggal 22 Agustus, banyak peserta mengaku 
merasakan manfaat besar dari kegiatan-kegiatan tersebut. Tentu saja, kadar 
manfaatnya, tergantung pada diri masing-masing. 

 

Berikut adalah sedikit catatan mengenai rangkaian kegiatan beliau. 

Pada tanggal 13 Agustus beliau dan rombongan tiba di Surabaya untuk meresmikan 
dan memberi pemberkatan pada wihara baru Triyana. Lalu beliau mengadakan 
serangkaian Puja pada tanggal 14 & 15 Agustus, termasuk salah satunya adalah 
upacara pelimpahan jasa ( Chao Tu ) pada arwah leluhur, para pahlawan dan, 
semua makhluk, serta Puja Chenrezig. 

 

Tanggal 16 sampai 17 melakukan pembabaran Dharma tentang “37 Praktek 
Bodhisattwa.“ Kami, sekitar belasan anak-anak Dharmajala (DJ) yang ada di 
Jakarta, ingin sekali mengikuti keseluruhan rangkaian pengajaran beliau, namun 
karena berbagai hal, kami hanya dapat mengikuti rangkaian kegiatan di Palembang 
dan di Jakarta saja. Padahal kami ingin sekali mendapatkan pengajaran langsung 
tentang 37 Praktek Bodhisattwa yang sudah pernah kami pelajari di Jakarta dari 
kegiatan Sharing Triyana DJ yang mengulas buku Daring Steps Towards 
Fearlessnessnya Ringu Tulku Rinpoche yang begitu bagus. Dari situ kami tahu 
betapa luar biasanya Jalur Bodhisattwa (Mahayana) yang sangat bertolak belakang 
sekali dengan praktek-praktek yang mengatasnamakan Mahayana yang biasa kita 
lihat di Indonesia. 

 

Dari Surabaya beliau bertolak ke Palembang, kota yang secara historis sangat 
penting bagi perkembangan agama Buddha, khususnya pada zaman kerajaan 
Sriwijaya. Dari Jakarta, kami, 17 orang juga berangkat ke sana. 

 

Catatan Kegiatan Tanggal 18 Agustus 2008 

 

Rangkaian kegiatan di Palembang disusun sedemikian rupa untuk memenuhi 
kebutuhan umat sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan pada umat 
landasan Dharma dari kegiatan-kegiatan tersebut. 

 

Sangye Nyenpa Rinpoche dan rombongan tiba di Palembang pada tanggal 18 Agustus 
siang. Setelah istirahat sejenak, sore harinya beliau memimpin kegiatan 
Fangshen, “Melepas hewan-hewan tangkapan kembali ke habitatnya agar dapat 
bertahan hidup,“ di sungai Buayo yang diikuti cukup banyak umat. Hewan-hewan 
yang dilepaskan antara lain ikan, burung, penyu, dan belut. Sebagai salah satu 
praktek Buddhis, fangshen bukan saja memberi kesempatan pada hewan-hewan yang 
dilepaskan agar dapat bertahan hidup, tapi juga sebagai sarana 
penumbuhkembangan cinta kasih dan welas asih bagi para pelakunya. Saya 
mengobservasi selain mendoakan bersama Lama-Lama lainnya, Rinpoche juga dengan 
telaten memberi air pil Dharma kepada setiap bungkusan ikan dan belut yang 
telah dibuka, serta kerangkeng burung dan masing-masing penyu yang akan 
dilepas. Meskipun merupakan tindakan yang sederhana, aktivitas fangshen ini 
membawa kebahagiaan tersendiri bagi masing-masing pelakunya. 

 

Pada Malam harinya beliau memberikan pembabaran Dharma tentang Puja dan manfaat 
Puja. Pada sesi ini, beliau mengklarifikasi apa yang dimaksud puja, Dharma yang 
melandasinya, dan tentu saja manfaat bagi pelakunya. 

 

Namun sebelum memulai ringkasan ajaran yang kami dengar pada tanggal 18 Agustus 
malam, terlebih dulu saya ingin menambahkan agar tidak terjadi kesalahpahaman. 
Tujuan akhir dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana adalah sama yaitu 
pencerahan sempurna. Jelasnya, siapapun yang bersedia memunculkan aspirasi dan 
melakukan tindakannya dapat mencapai kebuddhaan melalui jalur Theravada, 
Mahayana, ataupun Vajrayana. Jadi, tujuan akhirnya adalah sama, yang kemudian 
membedakan adalah metodenya dan bagi orang-orang tertentu, aspirasinya. Dan 
metode yang berbeda-beda ini adalah diperuntukkan kecenderungan masing-masing 
orang. Untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan. Karena Sangye Nyenpa 
Rinpoche berasal dari tradisi Vajrayana, tentu saja pembabaran Dharma beliau 
adalah berasal dari sudut pandang Vajrayana. Dan ketika kita berbicara mengenai 
Vajrayana, perlu diketahui Vajrayana sebenarnya adalah jalur bertahap yang 
terdiri dari triyana atau tiga kendaraan yaitu Shravakayana (bukan Theravada), 
Mahayana, dan Tantrayana. Ketidakpahaman akan hal ini yang seringkali 
menimbulkan debat kusir di kalangan Buddhis, khususnya kita-kita yang masih 
tanggung-tanggung belajar maupun prakteknya. 

 

Berikut adalah ringkasan yang selain dari ingatan saya sendiri juga berdasarkan 
masukan dari teman-teman yang mengikuti sesi tersebut. Selain itu, saya juga 
menambahkan kutipan dari sumber lain untuk mendukung pengertian kita terhadap 
apa yang disampaikan oleh Sangye Nyenpa Rinpoche Kesepuluh. 

 

Sebelum memulai sesi pengajaran, sebagaimana lazim dilakukan oleh para Guru 
dari tradisi Karma Kagyu, Rinpoche terlebih dulu membacakan doa garis silsilah 
mahamudra (Dorje Chang Tungma) yang ditulis oleh Penkar Jampal Zangpo, murid 
Gyalwa Karmapa Keenam, Tongwa Donden dan guru akar Gyalwa Karmapa Ketujuh, 
Chotrag Gyamtso, (Sangye Nyenpa yang pertama, Mahasiddha Nyenpa, adalah murid 
Gyalwa Karmapa Ketujuh dan guru akar Gyalwa Karmapa Kedelapan, Mikyo Dorje) dan 
doa perlindungan dan bodhicitta, yang merupakan rangkuman dari seluruh Jalur 
Bodhisattwa. 

 

Sedikit mengenai Penkar Jampal Zangpo, setelah mendapatkan tuntunan dari Gyalwa 
Karmapa Ketujuh, maka berangkatlah beliau ke sebuah pulau yang terletak di 
tengah danau Tibet Utara, yang bernama Danau Langit atau Namtso. Setelah 
tinggal dan berlatih di gua pulau itu sendirian selama delapan belas tahun, 
beliau merealisasi mahamudra dan menuliskan doa garis silsilah mahamudra. 
Itulah sebabnya mengapa doa sekaligus tuntunan meditasi yang dianggap merupakan 
perwujudan dari seluruh pengalaman beliau dan memiliki berkah besar ini 
digunakan di seluruh pusat latihan tradisi Karma Kagyu. 

 

Kembali ke topik kita, Rinpoche mengatakan bahwa diskusi Dharma sangat penting 
untuk praktisi (beliau selalu menggunakan kata Dharma practitioner) karena 
diskusi tersebut mengingatkan kita tentang apa itu Buddha, apa itu Dharma, 
aplikasi dari ajaran Beliau, berikut latihannya. 

 

Dharma dalam bahasa Tibet disebut Cho yang berarti koreksi. Kita perlu 
melakukan koreksi karena kita masing-masing dipenuhi oleh obskurasi atau 
kekotoran batin. 

 

Untuk lebih jelas mengenai kekotoran batin ini, berikut adalah kutipan dari 
Kalu Rinpoche. 

“Intisari pikiran adalah kekosongan; hakikat atau sifat dasar pikiran 
sebenarnya adalah kemanunggalan yang tak terpisahkan dari kekosongan, 
kejernihan, dan kesadaran (awareness). Istilah yang diberikan pada hakikat 
sejati pikiran ini adalah yeshe or kebijaksanaan [kadang diterjemahkan sebagai 
kesadaran primordial], sesuatu yang dimiliki semua makhluk. Namun para makhluk 
hidup belum mengenali apa sebenarnya hakikat sejati pikiran mereka. 
Ketidakmengenalan ini bagaikan melemparkan lumpur atau pasir ke dalam air yang 
murni; air itu pun menjadi kotor. Ketika ketidakmengenalan itu hadir, maka kita 
tidak lagi berbicara tentang yeshe atau kebijaksanaan, melainkan namshe atau 
kesadaran (consciousness). Tapi perbedaan antara kedua keadaan batin ini tidak 
lain tidak bukan hanyalah hadirnya ketidakmengenalan pikiran akan hakikat 
sejatinya sendiri. 

Kegagalan pikiran untuk mengenali sifat dasar sejatinya adalah apa yang 
dimaksudkan dengan istilah marikpa atau ketidakpahaman, obskurasi tingkat 
pertama atau kekotoran di batin. Sebagai akibat dari ketidakpahaman ini, 
muncullah di pikiran konsep tentang “Aku” dan “pihak lain,” [pihak lain yang 
merupakan sesuatu yang dianggap sebagai] sesuatu yang lain dari pikiran. 
Kemelekatan dualistik ini, sesuatu yang sudah kita miliki sejak masa tidak 
berawal dan tidak akan pernah berhenti [hingga pencerahan sempurna], adalah 
obskurasi tingkat kedua, obskurasi kebiasaan [kecenderungan habitual]. 

Berdasarkan kemelekatan dualistik ini muncullah tiga akar penderitaan batin: 
kegelapan batin [diterjemahkan secara beragam oleh para penerjemah sebagai 
ketidaktahuan, kebingungan, dsbnya], nafsu, dan agresi. Berdasarkan ketiga 
penderitaan tersebut muncullah 84,000 macam penderitaan batin yang telah 
dibabarkan Buddha, kesemuanya ini menjadi obskurasi tingkat ketiga, disebut 
obskurasi penderitaan batin [secara beragam diterjemahkan sebagai klesha, 
derita emosional, emosi-emosi yang saling bertumburan, etc.]. Di bawah pengaruh 
obskurasi tingkat ketiga ini, kita melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya 
kotor, yang kemudian menghasilkan obskurasi tindakan atau karma. 

Keempat tingkatan atau jenis obskurasi inilah yang menjadi penyebab 
berkelananya semua makhluk di samsara. Kalau keempat obskurasi ini dilenyapkan 
atau dimurnikan, maka kualitas-kualitas yang sudah terkandung di dalam hakikat 
sejati pikiran, yang kita sebut kebijaksanaan atau yeshe, akan secara alami 
mewujud dan menyebar bak sinar mentari. Kata dalam bahasa Tibet untuk 
pelenyapan keempat obskurasi ini adalah, sang, yang berarti “pembersihan,” dan 
kata untuk penyebaran kualitas-kualitas yang sudah terkandung di pikiran yang 
muncul sebagai akibat dari pembersihan tersebut adalah gye atau “meningkatkan.” 
Sangye, gabungan kedua kata ini dalam bahasa Tibet adalah kata untuk buddha. 
Oleh karena itu, apa yang dimaksudkan dengan kebuddhaan adalah mengenali dan 
merealisasi kemurnian sejati pikiran.” 

 

Jadi karena diri kita dipenuhi kekotoran batin, maka kita perlu mengoreksi 
diri. Setelah mengoreksi diri, kita juga perlu membantu orang lain mengoreksi 
diri mereka, untuk itulah maka Buddha memutarkan roda Dharma. 

 

Pemutaran roda Dharma yang pertama di Varanasi adalah mengenai Empat Kebenaran 
Arya yang diperuntukkan mengoreksi diri. Tanpa mengoreksi diri sendiri, kita 
tidak dapat membantu mengoreksi orang lain. Setelah kita mengoreksi diri, maka 
kita sudah dekat dengan jalur Mahayana. 

 

Pemutaran roda Dharma kedua adalah tentang Prajna Paramita yaitu tentang anatta 
dan sunyata. Mahayana dibagi menjadi dua yaitu Sutrayana dan Vajrayana. Di 
dalam Sutrayana, kita menegasi atau meniadakan. Menegasi diri, menegasi 
dualisme, menegasi kemelekatan terhadap fenomena. 

 

Maka dari itu, latihan seharusnya dilakukan secara berurutan. Yang pertama 
adalah Empat Kebenaran Arya dan ini perlu dilatih hingga paham karena tanpa 
pemahaman tentang Empat Kebenaran Arya, mustahil untuk masuk ke Jalur Mahayana. 

 

Yang kedua adalah Sutrayana atau Mahayana, atau Sunyata. Setelah kita mengerti 
sifat dasar sejati pikiran dan kebijaksanaan yang tanpa fabrikasi baru masuk ke 
tahap ketiga yaitu Vajrayana. Salah satu ajaran filsafat utama di Mahayana, 
Madhyamika, menekankan pada negasi. Ketika kita melekat pada fenomena yang ada 
di dalam maupun di luar diri kita, kita menegasi kemelekatan tersebut hingga 
kita merealisasi sunyata, dengan demikian, kita baru bisa masuk ke Vajrayana. 

 

Pemikiran apapun yang disertai keterpakuan merupakan kekotoran batin yang perlu 
dihindarkan, karena keterpakuan tersebut mencegah kita untuk melihat hakikat 
sejati batin kita. Di dalam Sutrayana, kita menegasi, contoh, kemarahan 
dinegasi dengan cinta kasih. Ketidaktahuan dinegasi dengan pemahaman akan 
kesalingtergantungan. 

 

Pemutaran roda Dharma ketiga adalah Vajrayana. Vajrayana sendiri adalah lebih 
mengenai transformasi. Kita menggunakan perasaan-perasaan yang mengganggu dan 
mengubahnya menjadi kejernihan atau sunyata, karena sesungguhnya 
perasaan-perasaan yang mengganggu itu hanyalah display batin kita dan tak 
terpisahkan dari hakikat batin kita. 

 

Puja bagi pemula membantu untuk menghantarkannya pada ke keadaan transformasi 
tersebut. Namun kata puja itu sendiri tidak tepat digunakan di Buddhis karena 
kita tidak melakukan pemujaan. Kata puja berasal dari agama Hindu. Di sini 
Rinpoche mulai menjelaskan makna dari sadhana atau latihan meditasi Yidam yang 
secara umum dilakukan di Vajrayana, namun bagi orang luar maupun orang yang 
merasa dirinya murid Vajrayana tapi belum mendapatkan inisiasi, transmisi 
lisan, dan penjelasan panjang dari sadhana atau latihan yang bersangkutan 
misalnya saddhana Chenrezig (Avalokiteswara) atau sadhana Vajrasattwa, dan 
sekalipun mendapatkan ketiganya, kalau tidak mempraktekkannya atau kurang 
latihannya, akan menganggap sadhana atau latihan tersebut sebagai puja atau 
ritual belaka. Sadhana merupakan sebuah latihan yang lengkap, mencakup meditasi 
shamatha (tahapan penciptaan melalui visualisasi), meditasi vipassana (tahapan 
perampungan melalui peleburan visualisasi atau langsung meditasi sunyata), 
purifikasi, dan pemupukan jasa. 

 

Maka dari itu, Rinpoche mengatakan bahwa puja di Buddhis lebih tepat dikatakan 
sebagai latihan atau sadhana. Di tingkat kebenaran relatif, puja adalah tahapan 
penciptaan, melalui visualisasi yidam, pembacaan doa, dan pendarasan mantra. 
Mengapa tahapan penciptaan dibutuhkan. Karena hampir mustahil bagi pemula untuk 
seketika mengenali hakikat sejati batinnya sendiri. Pemula belum memiliki 
kapasitas itu, maka dari itu, digunakanlah upaya kausalia atau metode dengan 
simbolisasi kebenaran tertinggi seperti wujud, bentuk, dan warna. 

 

Tahapan penciptaan membantu pemikiran yang muncul diubah menjadi Yidam, tapi 
untuk itu dibutuhkan penjelasan, kalau tidak, kita akan terpaku, akan melekat. 
Dengan adanya penjelasan, maka kita akan mengerti bahwa Yidam tidak solid, 
tidak benar-benar ada di luar sana, dan sesungguhnya Yidam adalah display 
pikiran kita dan tidak terpisahkan dari hakikat pikiran kita sendiri. Kalau 
tidak ada penjelasan, kita akan menganggap Yidam itu ada, ada di suatu tempat, 
dan karena kurangnya pemahaman, kita kemudian akan memohon untuk mendapatkan 
berkah atau berbagai hal lainnya, padahal Yidam itu tidak lain tidak bukan 
hanyalah proyeksi pikiran kita dan praktek kita pun menjadi kabur. Maka dari 
itu, pemahaman yang benar seharusnya melandasi latihan kita. 

 

Jadi puja bukanlah sekadar mengenai dekorasi dan membacakan doa dan mantra 
dengan suara keras. Tapi mengenai tahapan penciptaan dan pada prinsipnya, ada 
dua macam tahapan penciptaan: 

 

1.                             Kita memvisualisasikan tubuh, ucapan, dan 
pikiran kita menjadi tubuh, ucapan, dan pikiran yidam. Contoh, Yidam Chenrezig 
yang mewakili kualitas welas asih yang sebenarnya sudah ada pada setiap 
makhluk, melalui tahapan penciptaan ini, selain melakukan meditasi shamatha, 
diharapkan kita juga pada saat yang sama dapat menumbuhkembangkan welas asih 
dengan mentransformasi tubuh, ucapan, dan pikiran kita menjadi seperti 
Chenrezig. 

2.                               Kita visualisasikan Yidam muncul secara 
spontan di angkasa, di atas mahkota kepala kita, dalam wujud yang transparan 
bagai pelangi, tidak solid. Ini dilandasi oleh pemahaman akan sunyata, bahwa 
kekosongan meliputi semua fenomena. 

 

Di tahapan awal kita anggap Yidam itu ada di sana dan kemudian kita berdoa 
kepada-Nya. Namun ini adalah latihan bukan pemujaan. Bukan berdoa kepada Yidam 
untuk memperoleh berkah ini ataupun itu. Jika ini yang kita lakukan, maka kita 
telah melakukan praktek yang keliru. 

 

Tahapan penciptaan membantu mengurangi pemikiran-pemikiran yang muncul. Contoh, 
ketika kita memvisualisasikan Chenrezig yang berwarna putih, berlengan empat, 
lengkap dengan berbagai ornamen, memancarkan sinar putih, lalu melebur ke dalam 
cahaya, dan cahaya itu kemudian melebur ke dalam diri kita, selain pada saat 
melakukan visualisasi itu kita telah mengurangi pemikiran-pemikiran yang muncul 
karena kita tidak dapat memikirkan hal-hal yang negatif kalau kita benar-benar 
dapat melakukan visualisasi itu, dengan kata lain, kita sedang dilatih untuk 
memusatkan pikiran. Di tingkat yang lebih dalam, kita dilatih untuk memahami 
bahwa hasil visualisasi itu adalah kreasi pikiran kita sendiri di tingkat 
kebenaran relatif, namun di tingkat kebenaran absolut, hakikat pikiran kita dan 
hakikat pikiran Chenrezig adalah sama dan tidak terpisahkan. 

 

Tentu saja bagi orang secara umum, untuk dapat memantapkan diri di dalam 
kekinian, tubuh dan batin manunggal di sini dan di sekarang, bukan sesuatu yang 
mudah. Padahal mampu berada di dalam kekinian merupakan syarat mutlak untuk 
dapat melihat secara mendalam ke dalam maupun keluar diri kita. Oleh karena itu 
dibutuhkan banyak latihan. Karena pada umumnya kita ini malas, sibuk, dan 
dipenuhi macam-macam pengharapan seperti ingin cepat kaya, ingin panjang umur, 
ingin sehat kembali, dsbnya,  meskipun secara ultimit tidak ada Yidam untuk 
kekayaan, Yidam untuk kesehatan, Yidam untuk kecerdasan, dsbnya, namun untuk 
mengatasi kemalasan kita, mendapatkan prioritas waktu kita, dan mengubah 
pengharapan kita, digunakanlah bermacam-macam upaya kausalia atau metode 
seperti hari ini hari yang baik untuk puja Amitabha, hari itu hari yang baik 
untuk puja Avalokitesvara, hari yang satunya lagi bagus untuk puja Tara Hijau, 
dsbnya. 

 

Singkatnya, melalui berbagai macam metode, kita didorong agar rajin berlatih 
dan mengakar pada latihan. Seiring dengan bertambah mahirnya latihan kita serta 
mendapatkan dan mendengarkan penjelasan secara saksama, perlahan tapi pasti 
kita akan semakin mengerti apa saja yang terkandung di dalam latihan kita, 
makna dari berbagai macam simbol yang digunakan, serta Dharma yang 
melandasinya. 

 

Dari tahapan penciptaan kita kemudian masuk ke tahapan perampungan. Di tahapan 
perampungan, kita memvisualisasikan Yidam melebur ke dalam cahaya dan cahaya 
itu kemudian melebur ke dalam diri kita. Tubuh, ucapan, dan pikiran Yidam 
menyatu tak terpisahkan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita. Dan kita 
menyadari bahwa visualisasi tersebut hanyalah proyeksi pikiran kita, display 
batin kita, tidak ada Yidam yang sesungguhnya di sana, tidak ada mantra, tidak 
ada puja, yang ada hanyalah sunyata. Bagaikan ombak dan air laut di pantai, 
ketika ada angin yang berhembus, air berubah menjadi ombak, setelah mereda, 
ombak tenang kembali menyatu dengan air. Menyadari bahwa Yidam hasil 
visualisasi adalah kreasi pikiran kita, merupakan display batin kita, dan 
mempunyai hakikat yang sama dengan hakikat sejati batin kita, manunggal tak 
terpisahkan dengannya adalah intisari dari puja atau latihan, atau sadhana. 

 

Setiap hari masing-masing dari kita yang belum tercerahkan dipenuhi dengan 
begitu banyak pemikiran, dipenuhi dengan begitu banyak emosi, negatif maupun 
positif, dan semua ini membuat kita sangat jauh terpisah dari hakikat sejati 
batin kita. Praktek puja atau lebih tepatnya sadhana, yang di dalamnya 
mengandung bauran tahapan penciptaan (meditasi shamatha), purifikasi, pemupukan 
jasa, dan tahapan perampungan (meditasi vipassana) merupakan salah satu metode 
Vajrayana untuk membantu kita merealisasi hakikat sejati batin kita. Kita 
merealisasi Yidam Absolut manakala kita melihat bahwa semua fenomena tidak 
terpisahkan dengan kejernihan dan kekosongan. Meskipun pemahaman kita baru 
sebatas intelek, itu saja sudah sangat bermanfaat. Jadi, Yidam, mantra, doa, 
dan semua yang terkandung di dalam puja, latihan, atau sadhana adalah metode 
dan tak terpisahkan dengan sunyata. 

 

Sebagai penutup, jika kita hendak mendapatkan berkah maka kita perlu menyadari 
dan memahami bahwa Yidam yang kita visualisasikan adalah ciptaan pikiran kita 
di tingkat kebenaran relatif dan Yidam Absolut adalah tak terpisahkan dengan 
hakikat batin kita. Jika tidak ada pemahaman ini, maka meskipun kita melakukan 
namaskara, mendaras mantra, memvisualisasikan Yidam dengan berbagai macam wujud 
dan bentuknya. Ada yang tangannya sedang beranjali, berlengan empat, memegang 
vajra dan lonceng, terlihat solid, dan kita kemudian memohon berkah darinya. 
Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan berkah tersebut jika kita terpisah 
dari-Nya. 

 

Puja yang berlandaskan pemahaman pada prinsipnya dapat mengurangi dan 
mempurifikasi emosi-emosi negatif, menjadi sarana bagi kita untuk mengumpulkan 
jasa kebajikan, menjadi latihan bagi kita untuk mengembangankan kekuatan dalam 
diri, serta memberikan manfaat-manfaat sekunder lainnya, dan pada akhirnya, 
menghantarkan kita untuk merealisasi hasil ultimit yaitu pencerahan. 

 

Sebaliknya, jika kita melakukan puja yang tidak disertai dengan pemahaman, maka 
ketika berbagai macam pengharapan kita tidak kunjung tiba, cepat atau lambat, 
kita akan kelelahan, mulai mengatakan bahwa semua itu tidak berguna, dan pada 
akhirnya meninggalkan latihan.   

 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membekali diri kita dengan 
pengetahuan dan pemahaman saat melakukan puja atau sadhana, atau latihan. 
Karena di satu sisi, pengetahuan dan pemahaman itu akan membantu kita untuk 
melihat betapa mendalamnya latihan itu dan di sisi yang lain, membuat kita 
melihat latihan kita menjadi lebih mudah karena semua unsur sudah terkandung di 
dalam satu latihan. 

 

Demikianlah ringkasan catatan hasil yang kami peroleh dari kegiatan yang 
dibimbing oleh Sangye Nyenpa Rinpoche pada tanggal 18 Agustus 2008 di 
Palembang. 

Semoga bermanfaat. 

Deep bow 

Kami 

NB: Vajra berarti tidak berubah. Hakikat sejati batin kita tidak akan pernah 
berubah. 

 
 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke