----- Original Message ----- From: merry yap To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, August 29, 2008 1:02 PM Subject: [Dharmajala] Bag 1: Catatan Kunjungan Sangye Nyenpa Rinpoche Ke Indonesia ( 13 s.d 21 Agustus 2008 )
Catatan Kunjungan Sangye Nyenpa Rinpoche ke Indonesia, Tanggal 13 Agustus s/d 21 Agustus 2008. Saudara-saudari sedharma, Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha. Pada kesempatan ini saya hendak berbagi manfaat sekaligus pengalaman berharga yang saya peroleh saat mengikuti serangkaian pengajaran yang diberikan oleh Sangye Nyenpa Rinpoche di Palembang dan Jakarta pada tanggal 18-21 Agustus lalu. Sungguh saya merasa kita, Buddhis Indonesia, sangat beruntung sekali berkesempatan memperoleh kunjungan dari salah seorang praktisi Dharma sejati. Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga masukan dari teman-teman yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan beliau selama kunjungan ke Indonesia kali ini yang berlangsung dari tanggal 13 hingga tanggal 22 Agustus, banyak peserta mengaku merasakan manfaat besar dari kegiatan-kegiatan tersebut. Tentu saja, kadar manfaatnya, tergantung pada diri masing-masing. Berikut adalah sedikit catatan mengenai rangkaian kegiatan beliau. Pada tanggal 13 Agustus beliau dan rombongan tiba di Surabaya untuk meresmikan dan memberi pemberkatan pada wihara baru Triyana. Lalu beliau mengadakan serangkaian Puja pada tanggal 14 & 15 Agustus, termasuk salah satunya adalah upacara pelimpahan jasa ( Chao Tu ) pada arwah leluhur, para pahlawan dan, semua makhluk, serta Puja Chenrezig. Tanggal 16 sampai 17 melakukan pembabaran Dharma tentang 37 Praktek Bodhisattwa. Kami, sekitar belasan anak-anak Dharmajala (DJ) yang ada di Jakarta, ingin sekali mengikuti keseluruhan rangkaian pengajaran beliau, namun karena berbagai hal, kami hanya dapat mengikuti rangkaian kegiatan di Palembang dan di Jakarta saja. Padahal kami ingin sekali mendapatkan pengajaran langsung tentang 37 Praktek Bodhisattwa yang sudah pernah kami pelajari di Jakarta dari kegiatan Sharing Triyana DJ yang mengulas buku Daring Steps Towards Fearlessnessnya Ringu Tulku Rinpoche yang begitu bagus. Dari situ kami tahu betapa luar biasanya Jalur Bodhisattwa (Mahayana) yang sangat bertolak belakang sekali dengan praktek-praktek yang mengatasnamakan Mahayana yang biasa kita lihat di Indonesia. Dari Surabaya beliau bertolak ke Palembang, kota yang secara historis sangat penting bagi perkembangan agama Buddha, khususnya pada zaman kerajaan Sriwijaya. Dari Jakarta, kami, 17 orang juga berangkat ke sana. Catatan Kegiatan Tanggal 18 Agustus 2008 Rangkaian kegiatan di Palembang disusun sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan umat sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan pada umat landasan Dharma dari kegiatan-kegiatan tersebut. Sangye Nyenpa Rinpoche dan rombongan tiba di Palembang pada tanggal 18 Agustus siang. Setelah istirahat sejenak, sore harinya beliau memimpin kegiatan Fangshen, Melepas hewan-hewan tangkapan kembali ke habitatnya agar dapat bertahan hidup, di sungai Buayo yang diikuti cukup banyak umat. Hewan-hewan yang dilepaskan antara lain ikan, burung, penyu, dan belut. Sebagai salah satu praktek Buddhis, fangshen bukan saja memberi kesempatan pada hewan-hewan yang dilepaskan agar dapat bertahan hidup, tapi juga sebagai sarana penumbuhkembangan cinta kasih dan welas asih bagi para pelakunya. Saya mengobservasi selain mendoakan bersama Lama-Lama lainnya, Rinpoche juga dengan telaten memberi air pil Dharma kepada setiap bungkusan ikan dan belut yang telah dibuka, serta kerangkeng burung dan masing-masing penyu yang akan dilepas. Meskipun merupakan tindakan yang sederhana, aktivitas fangshen ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi masing-masing pelakunya. Pada Malam harinya beliau memberikan pembabaran Dharma tentang Puja dan manfaat Puja. Pada sesi ini, beliau mengklarifikasi apa yang dimaksud puja, Dharma yang melandasinya, dan tentu saja manfaat bagi pelakunya. Namun sebelum memulai ringkasan ajaran yang kami dengar pada tanggal 18 Agustus malam, terlebih dulu saya ingin menambahkan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tujuan akhir dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana adalah sama yaitu pencerahan sempurna. Jelasnya, siapapun yang bersedia memunculkan aspirasi dan melakukan tindakannya dapat mencapai kebuddhaan melalui jalur Theravada, Mahayana, ataupun Vajrayana. Jadi, tujuan akhirnya adalah sama, yang kemudian membedakan adalah metodenya dan bagi orang-orang tertentu, aspirasinya. Dan metode yang berbeda-beda ini adalah diperuntukkan kecenderungan masing-masing orang. Untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan. Karena Sangye Nyenpa Rinpoche berasal dari tradisi Vajrayana, tentu saja pembabaran Dharma beliau adalah berasal dari sudut pandang Vajrayana. Dan ketika kita berbicara mengenai Vajrayana, perlu diketahui Vajrayana sebenarnya adalah jalur bertahap yang terdiri dari triyana atau tiga kendaraan yaitu Shravakayana (bukan Theravada), Mahayana, dan Tantrayana. Ketidakpahaman akan hal ini yang seringkali menimbulkan debat kusir di kalangan Buddhis, khususnya kita-kita yang masih tanggung-tanggung belajar maupun prakteknya. Berikut adalah ringkasan yang selain dari ingatan saya sendiri juga berdasarkan masukan dari teman-teman yang mengikuti sesi tersebut. Selain itu, saya juga menambahkan kutipan dari sumber lain untuk mendukung pengertian kita terhadap apa yang disampaikan oleh Sangye Nyenpa Rinpoche Kesepuluh. Sebelum memulai sesi pengajaran, sebagaimana lazim dilakukan oleh para Guru dari tradisi Karma Kagyu, Rinpoche terlebih dulu membacakan doa garis silsilah mahamudra (Dorje Chang Tungma) yang ditulis oleh Penkar Jampal Zangpo, murid Gyalwa Karmapa Keenam, Tongwa Donden dan guru akar Gyalwa Karmapa Ketujuh, Chotrag Gyamtso, (Sangye Nyenpa yang pertama, Mahasiddha Nyenpa, adalah murid Gyalwa Karmapa Ketujuh dan guru akar Gyalwa Karmapa Kedelapan, Mikyo Dorje) dan doa perlindungan dan bodhicitta, yang merupakan rangkuman dari seluruh Jalur Bodhisattwa. Sedikit mengenai Penkar Jampal Zangpo, setelah mendapatkan tuntunan dari Gyalwa Karmapa Ketujuh, maka berangkatlah beliau ke sebuah pulau yang terletak di tengah danau Tibet Utara, yang bernama Danau Langit atau Namtso. Setelah tinggal dan berlatih di gua pulau itu sendirian selama delapan belas tahun, beliau merealisasi mahamudra dan menuliskan doa garis silsilah mahamudra. Itulah sebabnya mengapa doa sekaligus tuntunan meditasi yang dianggap merupakan perwujudan dari seluruh pengalaman beliau dan memiliki berkah besar ini digunakan di seluruh pusat latihan tradisi Karma Kagyu. Kembali ke topik kita, Rinpoche mengatakan bahwa diskusi Dharma sangat penting untuk praktisi (beliau selalu menggunakan kata Dharma practitioner) karena diskusi tersebut mengingatkan kita tentang apa itu Buddha, apa itu Dharma, aplikasi dari ajaran Beliau, berikut latihannya. Dharma dalam bahasa Tibet disebut Cho yang berarti koreksi. Kita perlu melakukan koreksi karena kita masing-masing dipenuhi oleh obskurasi atau kekotoran batin. Untuk lebih jelas mengenai kekotoran batin ini, berikut adalah kutipan dari Kalu Rinpoche. Intisari pikiran adalah kekosongan; hakikat atau sifat dasar pikiran sebenarnya adalah kemanunggalan yang tak terpisahkan dari kekosongan, kejernihan, dan kesadaran (awareness). Istilah yang diberikan pada hakikat sejati pikiran ini adalah yeshe or kebijaksanaan [kadang diterjemahkan sebagai kesadaran primordial], sesuatu yang dimiliki semua makhluk. Namun para makhluk hidup belum mengenali apa sebenarnya hakikat sejati pikiran mereka. Ketidakmengenalan ini bagaikan melemparkan lumpur atau pasir ke dalam air yang murni; air itu pun menjadi kotor. Ketika ketidakmengenalan itu hadir, maka kita tidak lagi berbicara tentang yeshe atau kebijaksanaan, melainkan namshe atau kesadaran (consciousness). Tapi perbedaan antara kedua keadaan batin ini tidak lain tidak bukan hanyalah hadirnya ketidakmengenalan pikiran akan hakikat sejatinya sendiri. Kegagalan pikiran untuk mengenali sifat dasar sejatinya adalah apa yang dimaksudkan dengan istilah marikpa atau ketidakpahaman, obskurasi tingkat pertama atau kekotoran di batin. Sebagai akibat dari ketidakpahaman ini, muncullah di pikiran konsep tentang Aku dan pihak lain, [pihak lain yang merupakan sesuatu yang dianggap sebagai] sesuatu yang lain dari pikiran. Kemelekatan dualistik ini, sesuatu yang sudah kita miliki sejak masa tidak berawal dan tidak akan pernah berhenti [hingga pencerahan sempurna], adalah obskurasi tingkat kedua, obskurasi kebiasaan [kecenderungan habitual]. Berdasarkan kemelekatan dualistik ini muncullah tiga akar penderitaan batin: kegelapan batin [diterjemahkan secara beragam oleh para penerjemah sebagai ketidaktahuan, kebingungan, dsbnya], nafsu, dan agresi. Berdasarkan ketiga penderitaan tersebut muncullah 84,000 macam penderitaan batin yang telah dibabarkan Buddha, kesemuanya ini menjadi obskurasi tingkat ketiga, disebut obskurasi penderitaan batin [secara beragam diterjemahkan sebagai klesha, derita emosional, emosi-emosi yang saling bertumburan, etc.]. Di bawah pengaruh obskurasi tingkat ketiga ini, kita melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya kotor, yang kemudian menghasilkan obskurasi tindakan atau karma. Keempat tingkatan atau jenis obskurasi inilah yang menjadi penyebab berkelananya semua makhluk di samsara. Kalau keempat obskurasi ini dilenyapkan atau dimurnikan, maka kualitas-kualitas yang sudah terkandung di dalam hakikat sejati pikiran, yang kita sebut kebijaksanaan atau yeshe, akan secara alami mewujud dan menyebar bak sinar mentari. Kata dalam bahasa Tibet untuk pelenyapan keempat obskurasi ini adalah, sang, yang berarti pembersihan, dan kata untuk penyebaran kualitas-kualitas yang sudah terkandung di pikiran yang muncul sebagai akibat dari pembersihan tersebut adalah gye atau meningkatkan. Sangye, gabungan kedua kata ini dalam bahasa Tibet adalah kata untuk buddha. Oleh karena itu, apa yang dimaksudkan dengan kebuddhaan adalah mengenali dan merealisasi kemurnian sejati pikiran. Jadi karena diri kita dipenuhi kekotoran batin, maka kita perlu mengoreksi diri. Setelah mengoreksi diri, kita juga perlu membantu orang lain mengoreksi diri mereka, untuk itulah maka Buddha memutarkan roda Dharma. Pemutaran roda Dharma yang pertama di Varanasi adalah mengenai Empat Kebenaran Arya yang diperuntukkan mengoreksi diri. Tanpa mengoreksi diri sendiri, kita tidak dapat membantu mengoreksi orang lain. Setelah kita mengoreksi diri, maka kita sudah dekat dengan jalur Mahayana. Pemutaran roda Dharma kedua adalah tentang Prajna Paramita yaitu tentang anatta dan sunyata. Mahayana dibagi menjadi dua yaitu Sutrayana dan Vajrayana. Di dalam Sutrayana, kita menegasi atau meniadakan. Menegasi diri, menegasi dualisme, menegasi kemelekatan terhadap fenomena. Maka dari itu, latihan seharusnya dilakukan secara berurutan. Yang pertama adalah Empat Kebenaran Arya dan ini perlu dilatih hingga paham karena tanpa pemahaman tentang Empat Kebenaran Arya, mustahil untuk masuk ke Jalur Mahayana. Yang kedua adalah Sutrayana atau Mahayana, atau Sunyata. Setelah kita mengerti sifat dasar sejati pikiran dan kebijaksanaan yang tanpa fabrikasi baru masuk ke tahap ketiga yaitu Vajrayana. Salah satu ajaran filsafat utama di Mahayana, Madhyamika, menekankan pada negasi. Ketika kita melekat pada fenomena yang ada di dalam maupun di luar diri kita, kita menegasi kemelekatan tersebut hingga kita merealisasi sunyata, dengan demikian, kita baru bisa masuk ke Vajrayana. Pemikiran apapun yang disertai keterpakuan merupakan kekotoran batin yang perlu dihindarkan, karena keterpakuan tersebut mencegah kita untuk melihat hakikat sejati batin kita. Di dalam Sutrayana, kita menegasi, contoh, kemarahan dinegasi dengan cinta kasih. Ketidaktahuan dinegasi dengan pemahaman akan kesalingtergantungan. Pemutaran roda Dharma ketiga adalah Vajrayana. Vajrayana sendiri adalah lebih mengenai transformasi. Kita menggunakan perasaan-perasaan yang mengganggu dan mengubahnya menjadi kejernihan atau sunyata, karena sesungguhnya perasaan-perasaan yang mengganggu itu hanyalah display batin kita dan tak terpisahkan dari hakikat batin kita. Puja bagi pemula membantu untuk menghantarkannya pada ke keadaan transformasi tersebut. Namun kata puja itu sendiri tidak tepat digunakan di Buddhis karena kita tidak melakukan pemujaan. Kata puja berasal dari agama Hindu. Di sini Rinpoche mulai menjelaskan makna dari sadhana atau latihan meditasi Yidam yang secara umum dilakukan di Vajrayana, namun bagi orang luar maupun orang yang merasa dirinya murid Vajrayana tapi belum mendapatkan inisiasi, transmisi lisan, dan penjelasan panjang dari sadhana atau latihan yang bersangkutan misalnya saddhana Chenrezig (Avalokiteswara) atau sadhana Vajrasattwa, dan sekalipun mendapatkan ketiganya, kalau tidak mempraktekkannya atau kurang latihannya, akan menganggap sadhana atau latihan tersebut sebagai puja atau ritual belaka. Sadhana merupakan sebuah latihan yang lengkap, mencakup meditasi shamatha (tahapan penciptaan melalui visualisasi), meditasi vipassana (tahapan perampungan melalui peleburan visualisasi atau langsung meditasi sunyata), purifikasi, dan pemupukan jasa. Maka dari itu, Rinpoche mengatakan bahwa puja di Buddhis lebih tepat dikatakan sebagai latihan atau sadhana. Di tingkat kebenaran relatif, puja adalah tahapan penciptaan, melalui visualisasi yidam, pembacaan doa, dan pendarasan mantra. Mengapa tahapan penciptaan dibutuhkan. Karena hampir mustahil bagi pemula untuk seketika mengenali hakikat sejati batinnya sendiri. Pemula belum memiliki kapasitas itu, maka dari itu, digunakanlah upaya kausalia atau metode dengan simbolisasi kebenaran tertinggi seperti wujud, bentuk, dan warna. Tahapan penciptaan membantu pemikiran yang muncul diubah menjadi Yidam, tapi untuk itu dibutuhkan penjelasan, kalau tidak, kita akan terpaku, akan melekat. Dengan adanya penjelasan, maka kita akan mengerti bahwa Yidam tidak solid, tidak benar-benar ada di luar sana, dan sesungguhnya Yidam adalah display pikiran kita dan tidak terpisahkan dari hakikat pikiran kita sendiri. Kalau tidak ada penjelasan, kita akan menganggap Yidam itu ada, ada di suatu tempat, dan karena kurangnya pemahaman, kita kemudian akan memohon untuk mendapatkan berkah atau berbagai hal lainnya, padahal Yidam itu tidak lain tidak bukan hanyalah proyeksi pikiran kita dan praktek kita pun menjadi kabur. Maka dari itu, pemahaman yang benar seharusnya melandasi latihan kita. Jadi puja bukanlah sekadar mengenai dekorasi dan membacakan doa dan mantra dengan suara keras. Tapi mengenai tahapan penciptaan dan pada prinsipnya, ada dua macam tahapan penciptaan: 1. Kita memvisualisasikan tubuh, ucapan, dan pikiran kita menjadi tubuh, ucapan, dan pikiran yidam. Contoh, Yidam Chenrezig yang mewakili kualitas welas asih yang sebenarnya sudah ada pada setiap makhluk, melalui tahapan penciptaan ini, selain melakukan meditasi shamatha, diharapkan kita juga pada saat yang sama dapat menumbuhkembangkan welas asih dengan mentransformasi tubuh, ucapan, dan pikiran kita menjadi seperti Chenrezig. 2. Kita visualisasikan Yidam muncul secara spontan di angkasa, di atas mahkota kepala kita, dalam wujud yang transparan bagai pelangi, tidak solid. Ini dilandasi oleh pemahaman akan sunyata, bahwa kekosongan meliputi semua fenomena. Di tahapan awal kita anggap Yidam itu ada di sana dan kemudian kita berdoa kepada-Nya. Namun ini adalah latihan bukan pemujaan. Bukan berdoa kepada Yidam untuk memperoleh berkah ini ataupun itu. Jika ini yang kita lakukan, maka kita telah melakukan praktek yang keliru. Tahapan penciptaan membantu mengurangi pemikiran-pemikiran yang muncul. Contoh, ketika kita memvisualisasikan Chenrezig yang berwarna putih, berlengan empat, lengkap dengan berbagai ornamen, memancarkan sinar putih, lalu melebur ke dalam cahaya, dan cahaya itu kemudian melebur ke dalam diri kita, selain pada saat melakukan visualisasi itu kita telah mengurangi pemikiran-pemikiran yang muncul karena kita tidak dapat memikirkan hal-hal yang negatif kalau kita benar-benar dapat melakukan visualisasi itu, dengan kata lain, kita sedang dilatih untuk memusatkan pikiran. Di tingkat yang lebih dalam, kita dilatih untuk memahami bahwa hasil visualisasi itu adalah kreasi pikiran kita sendiri di tingkat kebenaran relatif, namun di tingkat kebenaran absolut, hakikat pikiran kita dan hakikat pikiran Chenrezig adalah sama dan tidak terpisahkan. Tentu saja bagi orang secara umum, untuk dapat memantapkan diri di dalam kekinian, tubuh dan batin manunggal di sini dan di sekarang, bukan sesuatu yang mudah. Padahal mampu berada di dalam kekinian merupakan syarat mutlak untuk dapat melihat secara mendalam ke dalam maupun keluar diri kita. Oleh karena itu dibutuhkan banyak latihan. Karena pada umumnya kita ini malas, sibuk, dan dipenuhi macam-macam pengharapan seperti ingin cepat kaya, ingin panjang umur, ingin sehat kembali, dsbnya, meskipun secara ultimit tidak ada Yidam untuk kekayaan, Yidam untuk kesehatan, Yidam untuk kecerdasan, dsbnya, namun untuk mengatasi kemalasan kita, mendapatkan prioritas waktu kita, dan mengubah pengharapan kita, digunakanlah bermacam-macam upaya kausalia atau metode seperti hari ini hari yang baik untuk puja Amitabha, hari itu hari yang baik untuk puja Avalokitesvara, hari yang satunya lagi bagus untuk puja Tara Hijau, dsbnya. Singkatnya, melalui berbagai macam metode, kita didorong agar rajin berlatih dan mengakar pada latihan. Seiring dengan bertambah mahirnya latihan kita serta mendapatkan dan mendengarkan penjelasan secara saksama, perlahan tapi pasti kita akan semakin mengerti apa saja yang terkandung di dalam latihan kita, makna dari berbagai macam simbol yang digunakan, serta Dharma yang melandasinya. Dari tahapan penciptaan kita kemudian masuk ke tahapan perampungan. Di tahapan perampungan, kita memvisualisasikan Yidam melebur ke dalam cahaya dan cahaya itu kemudian melebur ke dalam diri kita. Tubuh, ucapan, dan pikiran Yidam menyatu tak terpisahkan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita. Dan kita menyadari bahwa visualisasi tersebut hanyalah proyeksi pikiran kita, display batin kita, tidak ada Yidam yang sesungguhnya di sana, tidak ada mantra, tidak ada puja, yang ada hanyalah sunyata. Bagaikan ombak dan air laut di pantai, ketika ada angin yang berhembus, air berubah menjadi ombak, setelah mereda, ombak tenang kembali menyatu dengan air. Menyadari bahwa Yidam hasil visualisasi adalah kreasi pikiran kita, merupakan display batin kita, dan mempunyai hakikat yang sama dengan hakikat sejati batin kita, manunggal tak terpisahkan dengannya adalah intisari dari puja atau latihan, atau sadhana. Setiap hari masing-masing dari kita yang belum tercerahkan dipenuhi dengan begitu banyak pemikiran, dipenuhi dengan begitu banyak emosi, negatif maupun positif, dan semua ini membuat kita sangat jauh terpisah dari hakikat sejati batin kita. Praktek puja atau lebih tepatnya sadhana, yang di dalamnya mengandung bauran tahapan penciptaan (meditasi shamatha), purifikasi, pemupukan jasa, dan tahapan perampungan (meditasi vipassana) merupakan salah satu metode Vajrayana untuk membantu kita merealisasi hakikat sejati batin kita. Kita merealisasi Yidam Absolut manakala kita melihat bahwa semua fenomena tidak terpisahkan dengan kejernihan dan kekosongan. Meskipun pemahaman kita baru sebatas intelek, itu saja sudah sangat bermanfaat. Jadi, Yidam, mantra, doa, dan semua yang terkandung di dalam puja, latihan, atau sadhana adalah metode dan tak terpisahkan dengan sunyata. Sebagai penutup, jika kita hendak mendapatkan berkah maka kita perlu menyadari dan memahami bahwa Yidam yang kita visualisasikan adalah ciptaan pikiran kita di tingkat kebenaran relatif dan Yidam Absolut adalah tak terpisahkan dengan hakikat batin kita. Jika tidak ada pemahaman ini, maka meskipun kita melakukan namaskara, mendaras mantra, memvisualisasikan Yidam dengan berbagai macam wujud dan bentuknya. Ada yang tangannya sedang beranjali, berlengan empat, memegang vajra dan lonceng, terlihat solid, dan kita kemudian memohon berkah darinya. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan berkah tersebut jika kita terpisah dari-Nya. Puja yang berlandaskan pemahaman pada prinsipnya dapat mengurangi dan mempurifikasi emosi-emosi negatif, menjadi sarana bagi kita untuk mengumpulkan jasa kebajikan, menjadi latihan bagi kita untuk mengembangankan kekuatan dalam diri, serta memberikan manfaat-manfaat sekunder lainnya, dan pada akhirnya, menghantarkan kita untuk merealisasi hasil ultimit yaitu pencerahan. Sebaliknya, jika kita melakukan puja yang tidak disertai dengan pemahaman, maka ketika berbagai macam pengharapan kita tidak kunjung tiba, cepat atau lambat, kita akan kelelahan, mulai mengatakan bahwa semua itu tidak berguna, dan pada akhirnya meninggalkan latihan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membekali diri kita dengan pengetahuan dan pemahaman saat melakukan puja atau sadhana, atau latihan. Karena di satu sisi, pengetahuan dan pemahaman itu akan membantu kita untuk melihat betapa mendalamnya latihan itu dan di sisi yang lain, membuat kita melihat latihan kita menjadi lebih mudah karena semua unsur sudah terkandung di dalam satu latihan. Demikianlah ringkasan catatan hasil yang kami peroleh dari kegiatan yang dibimbing oleh Sangye Nyenpa Rinpoche pada tanggal 18 Agustus 2008 di Palembang. Semoga bermanfaat. Deep bow Kami NB: Vajra berarti tidak berubah. Hakikat sejati batin kita tidak akan pernah berubah. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
