---------- Forwarded message ---------- From: Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sep 4, 2008 1:02 PM Subject: softening our karmic obstructions: bowing & gratitude To: ramu dharmajala <[EMAIL PROTECTED]> Cc: tony dharmawan <[EMAIL PROTECTED]>, Robby C < [EMAIL PROTECTED]>, Nyanabhadra <[EMAIL PROTECTED]>, ZiHao Chen <[EMAIL PROTECTED]>, Jimmy Lominto <[EMAIL PROTECTED]>, Chang Tho Shi <[EMAIL PROTECTED]>, Nyanagupta <[EMAIL PROTECTED]>, Yenny <[EMAIL PROTECTED]>, Junarto M Ifah <[EMAIL PROTECTED]>, siwu < [EMAIL PROTECTED]>, Liana chia <[EMAIL PROTECTED]>, Juliani < [EMAIL PROTECTED]>, Merita123 <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Tonny Chua <[EMAIL PROTECTED]>, yessy ayu < [EMAIL PROTECTED]>, Wilis Rengganiasih <[EMAIL PROTECTED]>, sanjaya < [EMAIL PROTECTED]>, ekayana <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], Sri Lestari < [EMAIL PROTECTED]>, Agus Santoso <[EMAIL PROTECTED]>, Susi < [EMAIL PROTECTED]>
*Menjura dan Bersyukur* Rasa berkecukupan (*abundance*) itu berkait erat dengan sebuah sikap syukur yang mendalam. Di Jepang ada satu bentuk terapi buddhist yang disebut * naikan* yang menekankan sikap-bersyukur (*gratitude*) guna menyembuhkan depressi, kecemasan, dan neurosis. Dengan cara ini kita diminta untuk dengan perlahan dan sistematis menilik keseluruhan hidup kita, dan kemudian mempersembahkan rasa-syukur untuk setiap hal yang kita jumpai. Cara inilah yang diberikan kepada Bob, seorang praktisi yang sebelumnya pernah hidup setahun menggelandang. Kini ia tinggal di Zen center di gunung di dekat sini. Akibat kenangan-buruk semasa tidur di taman-taman kota, berbaring dengan setengah terjaga semalaman karena dicekam kengerian kalau dirampok atau ditusuk orang, maka Bob takut untuk tidur. Sejarah keluarganya pun penuh trauma. Ayah dan ibutirinya pecandu. Tatkala berusia 15 tahun Bob minggat, dan kemudian juga mengkonsumsi narkoba pula. Ia kadang bekerja sebagai tukang kayu atau mekanik. Tatkala Bob mengunjungi pusat Zen tsb, ia sedang berusaha menata keping-keping hidupnya. Si Guru Zen bisa melihat kecemasan serta syakwasangka Bob. Guna melunakkan situasi, si guru memerintahkan Bob untuk menjalankan sejenis praktik bersyukur yang simpel. Bob mulai mempersembahkan terimakasih kepada apapun yang ada di hari itu---makan, sandang, tempat berteduh di penampungan, kepada kehidupan. Ia diajari untuk stop sejenak, lalu secara diam-diam menjura dengan penuh syukur, dimana pun ia berada, sepuluh kali sehari. Bob berpraktik menjura (*bowing*). Ia menjura kepada rekan-rekan di dapur umum dan kepada *breakfast* bersamanya. Ia menjura kepada depressi pagi hari, dan kepada rasa-mindernya sendiri. Ia menjura kepada perangkat pertukangan yang dia pakai di kios, kepada kegelisahan, ke matahari petang, dan ke mesin traktor bising di ladang sebelah. Instruksi kedua yang musti dikerjakan pula oleh Bob adalah: bersedia memandang melampaui penderitaannya. Bob perlahan-lahan mulai sesekali melihat kilasan menyegarkan, jeda tak disangka-sangka di tengah pergulatan hidupnya, periode-periode pendek penuh berkah. Ia senang berada di kebun biara--berjalan menyusuri jajaran pohon *oak* dan timbunan daun setengah basah, di antara cagak kayu *redwood*, rambu-rambu, serta hamparan aster oranye. Setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya batin Bob mulai bisa mengendap. Kepedihan lama masih tetap menggantung, namun keheningan yang jauh lebih luas melingkupi ... Pada suatu petang lonceng biara berdentang, gelembung kegetiran hati Bob tertembus. Kepedihannya pun tersapu habis oleh gelombang rasa-syukur mendalam--rasa-syukur sekedar bahwa: ia hidup. Bob beroleh kembali hidupnya ... *the Wise Heart* Jack Kornfield hlm 200. [Non-text portions of this message have been removed]
