Suatu kebetulan banget, saya di kirim email oleh teman dengan judul:
"Kapan Terakhir Kamu Berbicara Dengan Orang Tua-mu?"

Lalu baru baca 3 email lainnya yang masuk ke inbox outlook express saya, 
kemudian mendapat email yang merupakan jawabannya:
"Untuk Para Orang Tua, mudah-mudahan bermanfaat:"

Sudah waktunya kita memutuskan lingkaran karma ini, saatnya berubah harus di 
mulai dari diri kita sendiri, luangkan waktu untuk orang tua kita & juga 
anak-anak kita!!!

Silahkan baca 2 email dibawah ini....



--------------------------------------------------------------------------------


Judul: Kapan Terakhir Kamu Berbicara Dengan Orang Tua-mu?

Suatu hari seorang teman saya pergi ke rumah orang-jompo atau lebih terkenal 
dengan sebutan panti-werdha bersama dengan teman-temannya.
Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih 
membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-2 yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-2 tua, tiba-2 mata teman 
saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan 
dengan tatapan kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara.
Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya 
si opa menceritakan kisah hidupnya.

Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang 
baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai.
Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang 
sangat besar dengan segala fasilitas yang bagus.
Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai 
keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi.
Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah, juga dalam usahanya dan juga 
dalam berkeluarga.

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai 
hasil panen kami.
Tiba-2 istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya 
memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak.
Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami 
karena anak-2 kami semua tidak ada yg mau menemani saya, karena mereka sudah 
mempunyai rumah yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat 
saya memerlukannya.

Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui 
telepon.
Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan, kalau dia akan menjual 
rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya.
Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak 
memerlukan rumah besar lagi yang tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di 
dalamnya.

Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Setiap hari mereka sibuk sendiri-2 dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah 
sekalipun mereka mau menyapa saya.
Semua keperluan saya pembantu yang memberi.
Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya 
tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain.
Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita dalamnya, tapi rupanya 
tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti,
mereka menyediakan semua peralatan dari plastik dengan alasan untuk keselamatan 
saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat 
mereka yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat plastik yang sama dengan yang 
mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka.
Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya 
dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat 
saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat 
memberikan kesukacitaan pada kami semua.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Setelah beberapa lama saya tinggal disana, akhirnya anak saya dan istrinya 
mendatangi saya, lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal 
di panti-jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul, dan juga 
mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya disini, tapi tidak sekalipun dari mereka yang 
datang untuk mengunjungi saya, apalagi membawakan makanan kesukaan saya.
Hilanglah semua harapan saya tentang anak-2 yang saya besarkan dengan segala 
kasih sayang dan kucuran keringat.
Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan, 
padahal saya bukan orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil.
Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri 
sendiri.

Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-2 yang demikian 
buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari 
sahabat-2 yang mengasihi saya, tapi tetap saya merindukan anak-2 saya.

Sejak itu teman saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara 
dengan sang opa.

Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan, 
apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk 
berkunjung.
Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya 
hanya karena semua kesibukan hidup kita?

Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian?


--------------------------------------------------------------------------------


Judul: Untuk Para Orang Tua, mudah-mudahan bermanfaat:


Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan 
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di 
sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu 
sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, 
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima 
kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah 
mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta 
tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah kerumah 
anaknya yang bekerja di sana .

Di situlah awal pembicaraan "menyimpang" dimulai. Ia mengeluh,

"Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan 
main."

"Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang 
karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya 
bisa lihat cucu."

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.

"Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat 
dimengerti," katanya.

"Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau 
ingin bertemu."

"Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya 
jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon."

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak 
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah 
bertanya,"Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?"

"Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat 
sudah ditanya kapan pulang."

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan 
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para 
profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya,

"Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?"
Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul 
Cat's In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya 
terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks 
Indonesia .


Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap 
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai 'tak ingat kapan pertama 
kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu 
bertingkah.

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

"Aku akan menjadi seperti Ayah kelak"

"Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak"

"Ayah, jam berapa nanti pulang?"

"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,

"Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah ... kita bisa main bola bersama. 
Ajari aku bagaimana cara melempar bola"

"Tentu saja 'Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang"

Ia hanya berkata, "Oh ...."

Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, "Aku akan 
seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya"

"Ayah, jam berapa nanti pulang?"

"Aku tak tahu 'Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku 
memanggilnya, "Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah"

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,"Ayah, yang aku perlu sekarang adalah 
meminjam mobil, mana kuncinya?"

"Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan"

"Nak, jam berapa nanti pulang?"

"Aku tak tahu 'Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja 
kita akan mempunyai waktu indah bersama"

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

"Aku ingin bertemu denganmu, Nak"

Ia bilang,"Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada 
waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang 
sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang 
mendengar suara Ayah"

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis 
seperti aku;

Ya betul, ternyata anakku "aku banget".

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor 
yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan 
menjaga apa yang diinvestasikannya. 

Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya,
"I'm gonna be like you, Dad, you know I'm gonna be like you",

kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.

Sumber: Anonymous




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke