---------- Forwarded message ----------
From: Jenty Siswanto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, Nov 21, 2008 at 7:57 AM
Subject: [Dharmajala] In memoir: Sandy (Vandana)
To: dharmajala <[EMAIL PROTECTED]>, RAMU DJ
[EMAIL PROTECTED]





Teman-teman, Sandy sudah tiada. Tepatnya kemarin sore, jam 3.30pm. Terjadi
pendarahan hebat waktu dibedah dan jantungnya lengket. Supaya pendarahan
tidak menyebar dokter memutuskan menutupnya kembali tapi hanya kulitnya saja
yang ditutup, setelah itu kondisinya kritis di ruang ICU.  Akhirnya Sandy
tidak kuat lagi dan meninggalkan kita semua.



Saya ingin berbagi cerita tentang Sandy. Ketika pertama kali bertemu dengan
Sandy, saya terkejut melihat bibirnya yang memucat kehitaman, matanya yang
merah dan cekung. Jantung Sandy berlubang, jadi antara darah bersih dan
darah kotor sudah bercampur. Itu juga yang menyebabkan bibirnya kehitaman.
Sandy tersenyum malu-malu. Ketika saya jabat tangannya dan saya ajak makan
donat, Sandy dengan gembira memilih donat kesukaannya dan makan seolah-olah
itu donat paling lezat di dunia. Keceriaannya sudah memotivasi saya untuk
mencarikan dana agar Sandy bisa sembuh.



Sandy ingin menjadi pemain sepakbola karena selama ini Sandy hanya bisa
menyaksikan dari kejauhan ketika teman-temannya bermain sepakbola. Sandy
takut menjalani operasi bypass karena takut sakit, takut tidak bisa sembuh
lagi. Tapi akhirnya Sandy membulatkan tekad menjalankan operasi karena
dengan operasi itu ada 2 pilihan yang didapat; menjadi lebih baik atau tidak
berhasil. Pada hari Kamis, 20 November 2008, pagi harinya sebelum operasi,
Sandy sangat riang, bersikeras untuk mandi sendiri dan senyum terus. Pada
teman sekamarnya yang juga harus dioperasi, Sandy mendoakan agar anak itu
bisa sembuh. Ketika perawat mendorong ranjang Sandy menuju kamar operasi,
Sandy tersenyum dan bilang, "Yes, merdeka..........."

Saya tidak tahu, apakah merdeka itu maksudnya bahwa Sandy akan merdeka dari
semua penderitaannya sebagai anak kecil yang menderita kelainan jantung
bawaan.........



Sandy.... anak itu tidak pernah mengeluh. Hari itu, ketika kami berjalan
dari lobby rumah sakit, mencari tempat duduk agar bisa ngobrol, Sandy
berjalan dengan pelan dan sedikit-sedikit berhenti, karena capek. Sandy
telah hidup dengan kelainan jantung ini sejak kecil dan sudah terbiasa. Saya
berusaha menyembunyikan rasa iba melihat keadaannya. Sedih sekali.



Teman-teman, belajar dari Sandy, kita semua harus tetap berjuang untuk
hidup. Hidup ini penuh dengan masalah, penuh dengan konflik. Kita tidak
boleh lari dari masalah. Masalah itu harus dihadapi. Sandy memilih
menghadapi meja operasi dengan harapan setelah sembuh bisa menjadi pemain
sepakbola. Sayangnya semua tidak berjalan seperti apa yang diinginkan Sandy.
Saya berharap, dengan kebaikan hatinya selama ini, Sandy dapat terlahir
kembali sebagai manusia dan memiliki kesempatan untuk mengejar impian-nya.



Suzan bilang bahwa wajah Sandy ketika meninggal sangat bagus. Tersenyum.

Sandy akan dikubur hari ini di pemakaman cikarang jam 11am. Para donatur
mendapatkan ucapan terima kasih atas perhatiannya kepada Sandy. Semoga Sandy
terla.hir kembali ke alam yang lebih baik, semoga Sandy berbahagia.

Suzan sangat baik hati, telah membantu keluarga Sandy dan menjaga Sandy
dengan penuh kasih, seperti anaknya sendiri. Suzan, kalau sempat baca email
ini, jangan sedih lagi ya, Sandy kecil telah memberikan banyak inspirasi
pada kita semua. Sandy yang tabah, sandy yang tidak pernah mengeluh, sandy
yang doyan makan............(apa juga Sandy makan, sate, donat, suzan yang
paling tahu)

Mari kita semua, bersama-sama melakukan pelimpahan jasa kepada Sandy, atas
semua perbuatan baik yang kita lakukan hari ini, Jumat, 21 November 2008,
hari dimana jenazah Sandy akan dikuburkan di pemakaman cikarang.




---------------
Jenty Siswanto
Senior Unit Manager
PT Prudential Life Assurance
Menara Duta, Lt.6, Jl HR Rasuna Said
Kav. B-9, Kuningan, Jakarta 12910
Mobile: 021-9313-5808, 0838-818-2990,
Office: 021-520-7811





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke