________________________________ From: Wilian Sent: Wednesday, November 26, 2008 8:45 AM Subject: FW: Perkembangan Agam Buddha Tergantung Pemeluknya Perkembangan Agam Buddha Tergantung Pemeluknya <http://www.kompas.com/data/photo/2008/07/05/2881028p.jpg> AP photo/Lee Ji-man <http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/25/20142370/perkembangan.agam.bu ddha.tergantung.pemeluknya> Para biksu Korea Selatan melakukan aksi protes dengan cara ritual Buddha atas kebijakan pemerintah untuk mengimpor daging sapi asal Amerika Serikat, Jumat (4/7) di Seoul. Aksi itu dilakukan meski Presiden Lee Myung meminta semua pihak berhenti memprotes dan fokus pada pembangunan negara untuk mengatasi kesulitan ekonomi. / <http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/25/20142370/perkembangan.agam.bu ddha.tergantung.pemeluknya> www. Kompas.co.id Selasa, 25 November 2008 | 20:14 WIB JAKARTA, SELASA - Perkembangan agama Buddha di Indonesia tergantung dari umatnya sendiri, bukan kepada orang lain. Kalau umat Buddha betul-betul mempraktikkan ajaran Buddha, tidak iri, tidak merada dengki, akan tetapi penuh kasih sayang, cinta kasih kepada sesama, maka agama Buddha akan berkembang pesat. Demikian inti pembicaraan yang dikemukakan Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Sudhamek AWS, Biksu Darmavimala, Wakil Ketua Panitia Sarira 2008 Jakarta, Hans Rahman Kosari dan Hendri Wijaya , menjelang digelarnya Pameran Perkembangan Agama Buddha dan Penghormatan Relik Mahabiksu Ashin Jinarakkhita, di Vihara Ekayana Grha, Jakarta Pusat, Selasa (25/11). Pameran diadakan tanggal 30 November di Mal Taman Palem Lantai 5, Jalan Kamal Raya Outer Ring Road, Cengkareng, Jakarta Pusat. Sudhamek mengatakan, perjalanan panjang agama Buddha di Indonesia, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kerajaan Mataram, hingga kondisi agama Buddha saat ini, bisa disaksikan dalam pameran foto. Pameran yang digelar sebelumnya di Palembang, Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, Surabaya, dan Semarang, berlangsung sukses dan mendapat sambutan luas masyarakat. Apalagi, untuk pertama kalinya digelar Pameran Relik Mahabiksu Ashin Jinarakkhita, sebagai bentuk penghormatan terhadap mendiang Mahabiksu Ashin Jinarakkhita atau biasa dikenal dengan Bhante Ashin (Sukong). Lahir di Bogor tahun 1923, Sukong menjadi putra Indonesia pertama yang menjadi seorang biku sejak berakhirnya era Majapahit, jelasnya. Biksu Darmavimala mengatakan, agama Buddha tidak agresif. Perkembangannya tergantung kepada umatnya sendiri. Kalau ditanya jumlah, tak ada data pasti. Bisa jadi berkurang karena program KB (keluarga berencana ) atau sebaliknya, bertambah karena populasi penduduk Indonesia juga bertambah. Secara persentase, jumlah umat Buddha memang berkurang, karena faktor populasi penduduk Indonesia, katanya. Mengutip nasehat Bhante Ashin, Biksu Darmavimala mengatakan, untuk mengembangkan agama Buddha jadilah umat yang baik, yang menjalani ajaran Buddha, yang menjadi orang bermanfaat buat masyarakat banyak, mengasihi sesama, bukan hanya kepada sesama umat Buddha, tetapi juga kepada semua. Relik, Fenomena Spiritual Wakil Ketua Panitia Sarira 2008 Jakarta, Hendri Wijaya mengatakan, pameran foto dan relik dimaksudkan agar umat Buddha dapat belajar dari sejarah dan dapat tetap mengedepankan ciri agama Buddha yang berkepribadian Indonesia di te ngah maraknya arus globalisasi saat ini. Pameran foto dan relik satu hari ini diperkirakan akan dikunjungi sedikitnya 10.000 pengunjung. Yang istimewa adalah pameran relik (sarira), yang ditemukan di balik abu jenazah Bhante Ashin yang dikremasi bulan April 2002. Relik yang ditemukan jumlahnya ribuan, dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam, ungkapnya. Hal ini seolah menegaskan, bahwa pencapaian spiritual dapat diraih oleh setiap orang yang mau dan tekun berlatih. Hans Rahman Kosari menambahkan, dalam tradisi Buddhis, salah satu penghormatan kepada para guru suci adalah penghormatan kepada relik Beliau. Relik adalah sisa jasad/tubuh fisik guru suci yang tidak habis terbakar. Tidak semua guru suci meninggalkan relik. Oleh karenanya, penghormatan pada relik guru suci tentunya menjadi sesuatu yang istimewa, ujarnya. Bhante Ashin merupakan pelopor tumbuh kembangnya kembali kontribusi agama Buddha terhadap kemajuan di Indonesia. Sumbangsihnya terutama di bidang pendidikan dan spiritual. Nasihatnya selalu dikenang, bahwa usaha memperkenalkan kembali ajaran luhur Buddha tidak dapat lepas, atau pun berdiri sendiri, terpisah dari upaya untuk meningkatkan taraf kehidupan bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan. [Non-text portions of this message have been removed]
