Bagi seorang tukang cendol, cendol adalah panganan biasa saja dan keinginan
untuk makan cendol buatannya itu sudah menipis hingga ke kadar yang tidak
ketara, bukannya cendolnya tidak enak, tapi saking biasanya dia melihat,
merasakan atau mencicipi cendolnya, lalu greget atu enaknya cendol itu sudah
terasa biasa baginya….
Bagi seorang pedagang emas, pun sama juga, tidak bedanya dengan cendol bagi si
pedagang cendol, sesuatu yang tiap hari digeluti, digumuli kata seseorang,
walaupun saya kadang suka geli juga dengan kata gumul ini karena lalu saya
teringat adegan mesra yang sebetulnya tidak pas juga digunakan terlalu sering,
hehehe….
Saya teringat satu bacaan yang saya baca belum lama ini yang lalu membuat saya
terinspirasi atau katakanlah teringat akan tukang cendol dan tukang emas. Ya,
tante saya adalah pembuat cendol paling terkenal di kampung saya, mulai dari
tukang beca (tukang ojeg buat yang nggak tau beca) sampai ke ibu-ibu pejabat
pada suka makan cendol buatan tante saya itu, dan saya tentu tau bagaimana
tante saya menyikapi cendol-cendolnya. Dengan penuh perhatian dia menyiapkan
cendol-cendolnya, dari bahan-bahan alami dan segar, fresh from the nature
katanya, dia membuat cendol-cendol itu.
Salah satu teman saya adalah pedagang emas di salah satu kota besar di
Indonesia dan bagi dia, sedari kecil urusan emas berkilo-kilo adalah urusan
sehari-hari., biasa saja, dan dengan telaten, hati-hati dan waspada dia dan
ayahnya akan mengatur urusan per emasan mereka….
Nah, apa kaitannya antara urusan cendol dan emas dengan tulisan yang baru saya
baca itu? Yaa…. Tidak banyak sih, hanya saya melihat bahwa si penulis atau
tukang cerita itu mencoba mengajak orang lain ibaratnya tante saya mengajak
orang lain untuk menjadi tukang cendol dan teman saya mengajak orang lain untuk
melihat emas itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja… dengan tulisan yang
begitu panjang lebarnya beliau menguraikan sesuatu hal yang merupakan kaitan
dari pandangan lainnya, sampai saya agak kehilangan jejak, apa sih yang mau dia
omongkan itu???!!!!
Hehehe yaa, secara sederhana saya simpulkan saja ibarat tante saya yang tukang
cendol itu mengajak orang lain untuk memahami bagaimana dia melihat cendol yang
setiap hari dia buat, sentuh, cicip dan jual, seperti teman saya yang tukang
emas ingin mengajak orang untuk melihat emas itu sebagai sekedar barang
dagangan, tetap sesuatu yang berharga, tapi bukanlah sesuatu yang … wah gitu,
loh!!! Yaa, itu bagi dia, si pedagang emas… bagi kita????!!! Heheheehee
Mungkin kalau saya dibagikan emas punya dia barang ke kwintal gitu, saya bisa
dengan santai menganggap emas sekilo sebagai bukan apa-apa, karena masih ada 99
kilo lagi… tapi toooh ndak mungkin……….
Tidak mudah bagi kita untuk melepaskan pandangan dan penilaian kita akan
sesuatu, dan lebih tidak mudah lagi bagi kita untuk bisa memahami
segala-sesuatu itu apa adanya dan melihat dengan jernih apa-apa yang kita
hadapi sehari-hari. Untuk urusan cendol yang nikmat dan emas yang begitu
berharganya saja, butuh banyak hal untuk bisa melihatnya sebagai barang
dagangan, benda untuk dijual, apalagi untuk lalu memahami apa-apa yang tersirat
yang ingin diajarkan oleh kehidupan kepada kita, untuk mengenal diri kita ,
katanya… itu bukan urusan yang mudah…
Oh ya, si penulis yang saya maksud itu bilang gini ,” It is only when we see
without any preconception, any image, that we are able to be in direct contact
with anything in life. All our relationships are really imaginary - that is,
based on an image formed by thought.”
Dan lalu saya jadi teringat dengan tante saya tukang cendol itu dan teman saya
tukang emas itu, yaa, mereka-mereka itu sesungguhnya guru spiritual jalur
tukang cendol dan tukang emas, melihat cendol apa adanya, cendol, nggak pake
teori panjang-panjang, muter-muter, emas ya emas, perhiasan dll…. Sisanya dari
tulisan si penulis itu saya baca cepat saja, karena isinya berputar, berulang
dan diulang lagi.. yaa pada akhir membaca tulisan beliau saya maklum adanya
kenapa lalu banyak fans beliau yang suka menafsirkan pandangan beliau beda
dengan sesame fans yang lain, dan saya kok yakin hampir semua interpretasi
mereka jauh dari maksud yang ingin disampaikan sipenulis, kenapa, yaa , kalau
sedikit saja ada tulisan ato pandangan beliau itu yang tertanam di hati, di
batin para fansnya itu, tidak nanti mereka akan mau rebut dan apa lagi sampe
berantem segala….. mungkin ada baiknya kita belajar spiritual sama tukang
cendol saja, yah, klo yang mo keren ya, sama
tukang emas…. Tinggal bikin perguruan spiritual tukang cendol dan aliran
tukang emas….
Marilah kita melihat cendol apa adanya, hop masuk mulut, nyam, nyam, mari kita
melihat emas apa adanya, hop, grrerrggggrrr, [keselek] rprggrrtttrrr , hoek…
aaaahhh, lega emasnya keluar…..
050109