[Dari Buku: "Vipassana Bhavana - Meditasi Mengenal Diri", Oleh: Sri
Pannyavaro Mahathera & Hudoyo Hupudio]

Wejangan Sri Pannyavaro Mahathera Pada Pembukaan Retret MMD Seminggu Di
Vihara Mendut, 24 Desember 2008

HANYA MENYADARI SAJA, TIDAK MEMADAMKAN

Dr. Hudoyo, pembimbing meditasi,

Para Ibu, Bapak, Saudara peserta meditasi pada akhir tahun 2008 ini,

Sebagai Kepala Vihara Mendut, saya mengucapkan selamat datang kepada para
peserta. Bagi para peserta yang sudah beberapa kali mengikuti meditasi di
vihara ini, tentu ini selamat datang untuk yang kesekian kalinya. Bagi
Ibu, Bapak & Saudara yang baru pertama kali mengikuti meditasi ini, tentu
selamat datang yang pertama bagi Ibu, Bapak, Saudara. Selamat datang di
Vihara Mendut untuk mengenal meditasi dan sekaligus melatih meditasi.

Para Ibu, Bapak, Saudara,

Semua orang tentu menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan menjadi obsesi,
menjadi tujuan hampir semua orang, apa pun agama, kepercayaan, tradisi,
atau adat-istiadat mereka. Kemudian, tiap-tiap orang berusaha untuk
membuat rincian, meskipun mungkin tidak mendetail, gambaran tentang apakah
bahagia yang mereka inginkan? Seperti apakah kebahagiaan itu?

Ibu, Bapak & Saudara,

Cita-cita atau harapan kebahagiaan itu kemudian diusahakan untuk
dicapainya. Lalu, harapan atau keinginan untuk bahagia itu menumbuhkan
keinginan-keinginan lain yang sangat banyak. Mengapa keinginan-keinginan
lain tumbuh sangat banyak? Keinginan-keinginan itu tumbuh seiring dengan
tumbuhnya segala usaha yang dilakukan untuk mencapai hidup bahagia.

Apa yang menjadi fenomena, apa yang menjadi gejala kemudian? Sesungguhnya,
yang terjadi kemudian adalah ketidakbahagiaan. Mengapa? Karena keinginan
atau harapan untuk bahagia itu justru membuahkan penderitaan. Harapan
menimbulkan kegelisahan, harapan menimbulkan kekhawatiran, harapan membuat
seseorang, kita semua, waswas, dan kalau tidak terpenuhi, kecewa.

"Tetapi, Bhante," ada yang menanyakan, "kalau keinginan atau harapan itu
terpenuhi, bukankah kita bahagia"--Ya, kita bahagia sebentar, karena tidak
ada bahagia yang abadi. Dan kalau bahagia sebentar itu lenyap, maka
timbullah ketagihan, kecanduan, keinginan yang lebih berkobar-kobar.

Sesungguhnya, Ibu, Bapak & Saudara, kebahagiaan yang benar, dan
'kebahagiaan' ini harus ditulis dengan tanda petik, tidak dicapai dengan
keinginan. Kebahagiaan yang benar justru akan tumbuh--begitulah bahasa
yang boleh kita pakai--kalau keinginan dikurangi. Bukan dengan menambah
keinginan lalu tercapai, itulah kebahagiaan. Bukan! Tetapi dengan
berkurangnya keinginan, lenyapnya keinginan, justru itulah kebahagiaan
yang benar.

"Apakah mungkin, Bhante, melenyapkan keinginan, membuang keinginan selama
kita hidup di masyarakat, baik sebagai bhikkhu, rohaniwan ataupun sebagai
perumah tangga"--Memang sulit, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat
kita hanya selektif, menyeleksi keinginan. Mengapa? Karena kalau keinginan
bertambah, maka masalah pun bertambah. Kalau masalah bertambah,
penderitaan juga bertambah. Ini bukan dalil agama, Ibu, Bapak & Saudara,
ini adalah hukum alam. Kalau Ibu, Bapak & Saudara menambah keinginan,
menambah harapan, maka waswas bertambah, gelisah bertambah, kekhawatiran
bertambah, kekecewaan bertambah, penderitaan bertambah. Tetapi kalau
keinginan dikurangi, maka masalah juga akan berkurang. Kalau masalah
berkurang, ketegangan juga berkurang. kekhawatiran berkurang, penderitaan
berkurang.

Tetapi, Ibu, Bapak & Saudara, selama Ibu, Bapak & Saudara tujuh hari
mengikuti meditasi di vihara ini--meditasi yang kita kenal dengan nama
Meditasi Mengenal Diri, atau boleh juga disebut meditasi Vipassana, atau
hanya meditasi saja, karena nama tidaklah penting--Ibu, Bapak & Saudara
bisa berlatih dan mengalami, untuk membuang hampir semua keinginan. Tidak
perlu memikirkan besok masak apa, apa yang harus disiapkan, apa yang harus
dikerjakan, karena semua sudah disiapkan oleh vihara ini, sederhana sudah
tentu, sesuai dengan kemampuan kami, untuk membantu agar Ibu, Bapak &
Saudara mempunyai latihan dan mengalami kondisi atau dimensi membuang
keinginan secara maksimal. Tentu masih ada keinginan, tetapi keinginan itu
keinginan yang fungsional, seperti ingin ke belakang, ingin melangkahkan
kaki, makan pagi sebagai kebutuhan untuk kelangsungan fisik kehidupan ini,
makan siang, berbaring?keinginan-keinginan fungsional yang sangat
terbatas. Keinginan yang lain ditiadakan.

Tetapi apakah mudah? Tidak. Meskipun Ibu, Bapak & Saudara, dan kita sudah
bersepakat, bahwa selama tujuh hari ini kita tidak ingin mempunyai
keinginan apa-apa; keinginan yang ada hanya sesedikit mungkin,
keinginan-keinginan fungsional sehari-hari. Meskipun sudah disepakati
seperti itu, keinginan itu tetap muncul saja, mengganggu pemikiran kita.
Bahkan mungkin semakin hebat, semakin hebat; apalagi bagi Ibu, Bapak &
Saudara yang belum pernah melatih meditasi, dan kali ini adalah kali yang
pertama, dengan waktu yang cukup panjang, tidak hanya Jumat, Sabtu,
Minggu, melainkan satu minggu.

Lalu, bagaimana cara kita untuk membuang keinginan itu? Cara membuang
keinginan bukan dengan sederhana berucap, ""Aku tidak ingin punya
keinginan." Dalam bahasa kasar, "Lho, mengapa masih muncul saja keinginan?
Bukankah aku sudah sepakat untuk tidak mau punya keinginan"--Biar, Ibu,
Bapak & Saudara, biar. Tidak usah marah, tidak usah merasa tidak berhasil.
Tidak usah menyalahkan diri sendiri, mengapa keinginanku masih saja
berkobar-kobar, tidak bisa dibuang; dikurangi saja tidak bisa. Tidak usah
marah, tidak usah menyalahkan diri sendiri, tidak usah kecewa. Keinginan
yang muncul itu juga tidak usah dipadamkan. Dalam bahasa sehari-hari,
"Lho, mengapa tidak dipadamkan" Tadi di depan dijelaskan, keinginan harus
dikurangi, dibuang sampai maksimal. Sekarang kalau keinginan muncul
mengapa tidak boleh dipadamkan"--Kalau Ibu, Bapak & Saudara berusaha untuk
memadamkan keinginan itu, maka ributlah pikiran ini. Keinginan yang muncul
dilawan dengan keinginan untuk tidak mau punya keinginan. Maka keinginan
perang melawan keinginan. Pusinglah, ramailah pikiran kita.

Meditasi hanya mengamat-amati saja, menyadari kalau keinginan muncul,
keinginan ini keinginan itu, ingatan ini ingatan itu, mau seperti ini mau
seperti itu. Tugas kita bermeditasi hanya menyadari saja; tidak
memadamkan, tidak menggempur, tidak menganalisis dari mana datangnya,
tidak merentang-rentang apakah ini wahyu, apakah ini /vision/, tidak. Kita
hanya menyadari saja, menyadari dengan pasif, menyadari dengan pasif.
Nanti keinginan-keinginan itu padam sendiri. Padam bukan dengan keinginan
untuk dipadamkan, hanya disadari, disadari, disadari saja.

Itulah secara garis besar latihan Ibu, Bapak & Saudara selama seminggu
ini. Tidak perlu doa, tidak perlu meminta-minta, tidak perlu mengharap
berkah dari siapa pun, tidak ada ritual-ritual, upacara-upacara yang harus
ditaati. Tetapi sadarilah pikiran, perasaan, jasmani; jasmani, perasaan,
pikiran. Guru-guru meditasi sering menjelaskan, mukjizat itu bukannya
kalau kita bisa terbang, mukjizat itu bukannya kalau kita bisa melihat
makhluk-makhluk halus, mukjizat itu bukan pula pada saat kita duduk
bermeditasi mengalami yang aneh-aneh; tetapi mukjizat itu pada waktu kita
berjalan kita menyadari langkah kaki kita yang menempel di bumi ini;
itulah mukjizat, kalau hal itu boleh disebut mukjizat. Mukjizat bukannya
mampu membaca pikiran orang, melihat makhluk halus, pergi ke alam lain,
melainkan mampu menyadari timbulnya pikiran sendiri apa pun juga, mampu
menyadari timbulnya perasaan sendiri apa pun juga.

Oleh karena itu, di dalam meditasi ini semua menjadi objek: pikiran yang
disebut baik, tidak baik, pikiran bagus, pikiran luhur, pikiran bersalah,
pikiran jorok, ingatan masa lalu, kenangan yang pahit, kenangan yang
manis, khayalan, rencana segala macam, semuanya mempunyai fungsi yang
sama: diperhatikan. Pikiran yang baik juga diperhatikan, pikiran yang
buruk juga diperhatikan.

Dan tidak usah dinilai: ini baik, ini buruk. Perasaan senang yang timbul
juga diperhatikan, perasaan tidak senang yang timbul juga diperhatikan;
perasaan sedih diperhatikan, perasaan gembira juga diperhatikan, tidak
dicegah, tidak dibesar-besarkan. Dan tidak usah diberi nama: "O, ini
senang; o, ini tidak senang." Untuk menjelaskan, memang, saya menggunakan
kalimat: "Perasaan senang diperhatikan, perasaan tidak senang
diperhatikan." Tetapi di dalam praktik, sadari saja. Tidak usah diberi
label, diberi nama: "O, ini senang, ini tidak senang." Karena kalau kita
memberikan nama, nanti kekuatan senang menjadi lebih besar, kekuatan tidak
senang menjadi lebih besar. Kita lebih serakah pada yang menyenangkan,
kita lebih benci pada yang tidak menyenangkan, karena konsep senang dan
tidak senang dipertajam dalam meditasi dengan memberikan label, "O, ini
senang, ini tidak senang."

Jadi, kalau ada perasaan yang mengganggu, disadari saja, "O, perasaan
begini," sudah cukup. "O, pikiran muncul; o, pikiran muncul," cukup. Di
dalam penjelasan-penjelasan bahkan dikatakan, dalam meditasi yang sering
dikenal dengan sebutan vipassana ini, pada tingkat-tingkat tertentu di
dalam teori dikatakan akan timbullah yang disebut /nyana/, pengetahuan
bukan dari hasil pemikiran intelektual, bukan dari hasil berfikir, tetapi
hasil meditasi. Pengetahuan hasil meditasi itu pun juga kotoran batin yang
halus, /vipassana-upakilesa/. Jadi, apa fungsi kita? Fungsi kita hanya
menyadari saja, menyadari, pasif, menyadari, pasif. Tidak menjadi
kebanggaan, tidak menjadikannya sesuatu yang sangat luar biasa. karena
kalau dikelompokkan pengetahuan yang muncul dari meditasi itu juga
kelompok kotoran batin yang halus. Jadi diperhatikan saja.

Dengan memperhatikan, memperhatikan, memperhatikan, maka keinginan itu
akan padam, padam, padam. Padamnya keinginan itulah lenyapnya penderitaan.
Istilah 'lenyapnya penderitaan' lebih tepat kalau ingin digunakan,
daripada menggunakan 'kebahagiaan'. Lenyapnya penderitaan itulah
"kebahagiaan yang benar" dalam tanda petik. Daripada menggunakan istilah
'kebahagiaan', 'lenyapnya penderitaan' menjadi kalimat yang lebih tepat
untuk menamakan padamnya keinginan.

Ibu, Bapak & Saudara,

Gunakanlah waktu tujuh hari ini untuk mengamati jasmani, langkah kaki,
nafas, perasaan yang timbul, pikiran, termasuk ingatan, kenangan. Tidak
usah tegang, tetapi tidak malas. Dalam bahasa Jawa dikatakan jangan
/ndlenger/. Dalam bahasa gaul, banyak anak-anak muda yang ikut meditasi,
mereka mempunyai istilah, "O, kalau kita ingin ikut vipassana, ingin ikut
MMD ini, harus 'sersan'," katanya. Apa itu 'sersan'? Serius tapi santai.
Kalau serius saja, maka nanti keinginan akan muncul, keinginan "Saya ingin
bermeditasi sungguh-sungguh, saya ingin membuang keinginan
sungguh-sungguh," apalagi kalau, "Saya ingin mendapatkan pengalaman yang
aneh-aneh." Serius. Ya, keinginan justru berkembang, bertambah, bukan
berkurang. Tetapi kalau santai, tidak menghadirkan kesadaran, santai saja,
banyak tidur--kalau nanti tidur di ruang tidur tidak enak, ya duduk di
tempat meditasi tetapi tidur--ya, itu terlalu santai. Meditasi
menghadirkan kesadaran dengan wajar; menghadirkan kesadaran itu yang oleh
anak-anak muda di katakan serius, tetapi wajar, wajar itulah santai.
Serius tapi santai, santai tapi kesadaran harus hadir.

Ibu, Bapak & Saudara,

Semogalah selama tujuh hari, Dr. Hudoyo akan mendampingi, memberikan
bimbingan, Ibu, Bapak & Saudara akan mendapatkan kemajuan. Kalau saya
menyebutkan 'kemajuan' di sini, kemajuan itu adalah mampu melihat pikiran,
mampu melihat perasaan, mampu melihat gerak-gerik jasmani; melihat dengan
kesadaran. Paling tidak kita mengalami berkurangnya keinginan. Pada saat
keinginan berkurang, pada saat itulah mulai bebas dari penderitaan.

Dan nanti setelah selesai meditasi ini, Ibu, Bapak & Saudara pulang ke
rumah, Ibu, Bapak & Saudara bisa menggunakan pengalaman selama tujuh hari
ini untuk menghadirkan kesadaran dalam keseharian. Karena tidak ada
gunanya mengikuti retret kalau kesadaran dalam keseharian tidak
dihadirkan.

Apalagi di antara saudara-saudara kita ada yang bangga,  "O, saya sudah
ikut retret sepuluh kali, Anda baru berapa kali, baru dua kali"--Tidak
menjadi ukuran, sepuluh kali atau dua puluh kali ikut retret, tidak
menjadi ukuran sejauh mana penderitaan berkurang, kebebasan bisa dialami.
Tetapi menghadirkan kesadaran itulah yang penting, di vihara ini maupun
dalam kehidupan Ibu, Bapak & Saudara sehari-hari.

Semogalah latihan ini bermanfaat. Terima kasih.

==========================================
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke