--- In [email protected], nirwan - <young_gun_s...@...> wrote:
>
> saya ingin memberikan sedikit keterangan, kenapa israel menyerang 
jalur gaza?Saya mengikuti berita dengan cermat..saya tidak dapat 
menyalahkan israel sepenuhnya,mengapa?....bukankah kita semua 
tahu,bahwa HAMAS menyerang israel dengan roket2 mereka..kalau anda 
jadi ISRAEL apa yg anda lakukan?
> 
> 


HUDOYO:

Pendapat di atas berat sebelah, lagi pula sangat simplistik. 
Masalahnya tidak sesederhana itu.

Bacalah tulisan Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal 
tentang konflik Arab-Israel. Tulisannya bagus, merupakan otokritik 
terhadap dirinya sendiri, tanpa menyalahkan Israel.

Salam,
Hudoyo
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com

*****

Dari Forum Diskusi MMD:

OOT: Latar belakang: Ulil Abshar-Abdalla - Tentang bangsa Yahudi dan 
konflik Palestina-Israel [bagus]

To: "Islam Liberal" [[email protected]],
"Pluralitas" [[email protected]]
From: Ulil Abshar-Abdalla
Date: Mon, 5 Jan 2009
Subject: Tentang bangsa Yahudi dan konflik Palestina-Israel

TENTANG BANGSA YAHUDI DAN KONFLIK PALESTINA-ISRAEL

Saya kadang-kadang berpikir, jangan-jangan konflik Palestina-Israel 
tidak akan selesai "ila yaum al-qiyamah", sampai hari kiamat. Satu-
satunya harapan adalah jika kedua belah pihak lelah dan bosan 
perang, lalu dengan "sadar" meletakkan senjata dan saling jabat 
tangan. Tetapi titik-lelah itu belum kelihatan hingga sekarang. Kita 
harus siap untuk melihat jatuhnya korban terus-menerus di waktu-
waktu mendatang. Sudah berkali-kali usaha untuk mendamaikan kedua 
belah pihak dilakukan oleh komunitas internasional, tetapi gagal 
terus.

Masing-masing pihak mempunyai versinya masing-masing kenapa usaha 
diplomatik itu gagal. Pihak Israel sudah tentu menyalahkan pihak 
Palestina, sejak zaman PLO di bawah Arafat hingga sekarang ini di 
mana Hamas muncul ke permukaan menggantikan popularitas PLO. Pihak 
Palestina dan negara-negara Arab, kemudian diamini juga oleh dunia 
Islam, tentu menyalahkan pihak Israel sebagai biang kegagalan usaha 
diplomatik itu.

Saat perang atas terorisme dikumandangkan oleh Presiden Bush dari 
Washington, semua negara makin punya alasan untuk menjadikan momen 
ini untuk meningkatkan aksi-aksi militer mereka, tentu dengan alasan 
untuk memerangi terorisme. Rusia dan Cina telah melakukan itu. Kini 
Israel, sebelum Bush lengser beberasa saat lagi, seperti "kejar 
tayang" untuk menyelesaikan "masalah Hamas" dengan melakukan agresi 
besar-besaran. Seperti sudah bisa kita duga, aksi Israel ini 
didukung "tanpa syarat" oleh Presiden Bush.

Mari kita lihat konflik ini dalam perspektif yang lebih luas 
sehingga kita bisa lebih "tenang" memahaminya. Tak ada dalam sejarah 
manusia di mana sebuah bangsa dibenci secara sistematis, menjadi 
sasaran prasangka buruk, stereo-type, rasialisme, dan persekusi 
seperti dialami oleh bangsa Yahudi. Itulah sebabnya di Eropa di mana 
bangsa Yahudi mengalami banyak persekusi dan diskriminasi selama 
berabad-abad dikenal istilah "Jewish question", masalah Yahudi. 
Debat menganai "Jewish question" ini berlangsung lama sekali di 
Eropa dan baru tuntas pada pertengahan abad ke-20.

Secara kuantitas, bangsa Yahudi tidaklah besar jumlahnya. Total 
jumlah orang Yahudi di seluruh dunia saat ini mungkin tak lebih dari 
15 juta orang. Sebagian besar mereka tinggal di Israel dan Amerika. 
Selebihnya mereka terserak-serak sebagai koloni kecil-kecil di 
berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika Latin, Asia, 
termasuk di negeri-negeri Arab sendiri. Tetapi bangsa yang kecil 
jumlahnya ini menjadi sasaran prasangka buruk dan kebencian oleh 
banyak pihak sejak zaman dahulu.

Pertama-tama yang layak kita sebut adalah pihak Kristen. Selama 
beradad-abad, bangsa Yahudi menjadi sasaran diskriminasi dari pihak 
Kristen. Konflik antara Kristen dan Yahudi sudah berlangsung sejak 
awal, bahkan sejak kelahiran agama Kristen itu sendiri. Pertikaian 
antara orang-orang Yahudi dan Kristen bukan sekedar pertikaian 
politik biasa, tetapi juga pertikaian yang dijustifikasi secara 
teologis melalui ajaran agama.

Lalu datang Islam. Sejak awal, pertikaian antara Islam dan Yahudi 
sama sekali tak terhindarkan. Pada saat Nabi Muhammad datang di 
Madinah, ada sejumlah koloni orang-orang Yahudi di sekitar Madinah. 
Karena konflik dengan Nabi dan umat Islam saat itu, orang-orang 
Yahudi ditumpas habis dan sebagian lagi diusir secara total dari 
kawasan itu. Pada saat Islam berjaya sebagai kekuatan politik di 
kawasan Arab pada rentang antara abad 8 hingga abad 15 Masehi, 
bangsa Yahudi sebetulnya menikmati suasana yang lebih bersahabat di 
dunia Islam ketimbang di dunia Kristen.

Tetapi, kebencian pada Yahudi sebagai sebuah agama tetap bertahan 
secara endemik dalam Islam. Bangsa Yahudi digambarkan sangat negatif 
dalam beberapa ayat di Quran, dan kemudian disokong pula dengan 
sejumlah hadis. Contoh kecil saja: sebuah hadis terkenal menyebutkan 
bahwa pada akhir zaman nanti Nabi Isa (atau Yesus) akan turun 
kembali ke bumi (persis dengan keyakinan dalam Kristen). Menurut 
hadis itu, tugas Nabi Isa pada saat itu, antara lain, adalah untuk 
menghancurkan salib dan membunuhi orang-orang Yahudi.

Sebuah hadis lain menyebutkan bahwa dua frasa di ujung Surah al-
Fatihah (bab pembuka dalam Quran) merujuk kepada orang Kristen dan 
Yahudi. Dua frasa itu adalah: "al-maghdub 'alaihim" (orang-orang 
yang dibenci oleh Tuhan) dan "al-dallin" (orang-orang yang sesat). 
Orang yang dibenci Tuhan maksudnya, sebagaimana dijelaskan oleh 
hadis itu, adalah orang Yahudi, sementara orang-orang yang sesat 
adalah orang-orang Kristen. Karena pengaruh Kitab Suci sangat 
mendalam pada umatnya, kita bisa membayangkan bagaimana dua frasa 
yang diulang-ulang setiap salat oleh seluruh umat Islam ini memiliki 
pengaruh dalam membentuk prasangka buruk terhadap bangsa Yahudi.

Baik agama Kristen atau Islam mengandung unsur-unsur ajaran yang 
bisa membiakkan kebencian pada bangsa Yahudi. Ini bukan kebencian 
biasa, tetapi kebencian yang dijustifikasi oleh firman dan ajaran 
Tuhan sehingga pengaruhnya sangat mendalami. Tak heran sekali jika 
kebencian pada agama dan bangsa Yahudi bertahan selama berabad-abad. 
Kalau kita baca sejarah, tidak ada bangsa yang mengalami korban 
sebagai sasaran kebencian selama dan seserius seperti dialami oleh 
bangsa Yahudi. Yang mengherankan, jumlah mereka sangat kecil sekali, 
tetapi kebencian pada mereka sungguh tak sebanding dengan jumlah 
itu. Atau justru karena mereka kecil lah dengan mudah 
menjadi "kambing hitam" di mana-mana. Persis seperti dialami oleh 
kaum minoritas di manapun yang cenderung dijadikan sasaran 
demonisasi dan pengambing-hitaman.

Kalau kita baca sejarah Amerika, hingga pertengahan abad 20, 
diskriminasi dan perlakuan yang tak menyenangkan dialami oleh bangsa 
Yahudi secara konsisten. Seorang profesor Yahudi yang pernah belajar 
di Universitas Harvard dan sekarang sudah pensiun pernah bercerita 
pada saya bahwa hingga tahun 60an, orang-orang Yahudi mendapat 
kesulitan untuk memperoleh posisi sebagai profesor di Universitas 
Harvard. Menurut dia, seorang ekonom Yahudi yang sangat kondang dan 
pernah memenangkan hadiah Nobel, Paul Samuelson, ditolak lamarannya 
sebagai profesor di Universitas Harvard pada tahun 40an. Menurutnya, 
Samuelson ditolak terutama karena keyahudiannya. Akhirnya, MIT 
(Massachusetts Institute of Technology) menampung dia. Saat di MIT 
itulah Samuelson mendapatkan hadiah Nobel. Saya kira, Universitas 
Harvard malu dengan kejadian ini.

Di dunia Islam, jelas orang-orang Yahudi saat ini merasa kurang 
nyaman. Oleh karena itu, sejak berdirinya negara Israel pada tahun 
1948, jumlah orang Yahudi yang tinggal di kawasan Arab merosot 
tajam. Mereka kurang merasa nyaman tinggal di lingkungan yang kurang 
bersahabat dengan mereka. Dalam periode pra-modern, memang dunia 
Islam memperlakukan bangsa Yahudi jauh lebih baik ketimbang dunia 
Kristen di Eropa. Tetapi secara umum, kondisi orang-orang Yahudi di 
dunia Islam pun pada zaman dahulu tetap menjadi sasaran diskriminasi 
dan kebencian. Sebagaimana sudah saya sebut, kebencian pada Yahudi 
dalam Islam tertanam melalui ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana 
juga dalam Kristen. Kebencian itu mendalam sekali karena 
dijustifikasi dengan ajaran agama.

Sekarang ini, di dunia Islam, terutama di Indonesia, istilah "antek 
Yahudi" adalah kata-kata kotor yang dipakai untuk menyerang siapa 
saja yang dianggap "memusushi" Islam -- sama kotornya dengan 
istilah "antek PKI". Dulu, almarhum Prof. Nurcholish Madjid pernah 
dijuluki oleh sebuah media kalangan Islam fundamentalis di Jakarta 
sebagai "antek Yahudi". Majalah itu menggambarkan Cak Nur melalui 
sebuah karikatur yang menarik: nama Cak Nur dibelit oleh ular yang 
membentuk bintang David. Kita tahu apa maksud karikatur itu: Cak Nur 
adalah antek Yahudi yang terperangkap dalam belitan "ular" Yahudi.

Hingga saat ini, bahkan di Amerika sekalipun, kita menyaksikan 
beredarnya sebuah teori konspirasi tentang "rencana Yahudi" untuk 
menguasai dunia. Buku "Protocols of Zion", misalnya, yang merupakan 
karangan palsu dinas rahasia Rusia beredar luas di Eropa, Amerika, 
dan meluber pula sampai ke dunia Islam. Buku itu sudah diterjemahkan 
ke dalam bahasa Arab dan basaha-bahasa lain itu dunia Islam. Buku 
itu juga dipercayai oleh banyak kalangan sebagai dokumen otentik 
yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah tentang rencana bangsa 
Yahudi untuk menguasai dan menghancurkan dunia. Buku semacam ini 
jelas dengan gampang menyebarkan rasa kebencian pada bangsa Yahudi 
yang jumlahnya sangat kecil itu.

Tak hanya itu. Henry Ford, pendiri perusahaan mobil Ford yang 
terkenal itu menulis buku yang sangat anti-Yahudi berjudul "The 
Jews". Beberapa tahun yang lalu, saat usai memberikan ceramah di 
Malaysia, seorang audiens memberikan saya buku itu seraya 
berkata, "Bapak harus membaca buku ini". Hingga sekarang, sentimen 
anti-Yahudi masih bertahan di banyak kalangan di Amerika.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bangsa Yahudi yang kecil 
jumlahnya itu menjadi sasaran kebencian dari banyak pihak. Anda bisa 
bayangkan, bagaimana perasaan sebuah bangsa kecil yang dibenci oleh 
dua agama besar selama berabad-abad, yaitu Kristen dan Islam. 
Sekarang ini, jumlah pengikut kedua agama itu boleh jadi lebih dari 
2,5 milyar. Dari jumlah sebanyak itu, ada persentasi yang cukup 
besar, sekurang-kurangnya dari sebagian kalangan Islam, yang sangat 
membenci, atau minimal kurang bersahabat, dengan bangsa Yahudi. 
Tentu keadaan semacam ini menciptakan rasa yang sangat tidak aman 
bagi orang-orang Yahudi.

Bagaimana mungkin orang Yahudi yang hanya berjumlah tak lebih dari 
15 juta itu bisa merasa aman di tengah-tengah bangsa-bangsa yang 
membenci dan mempunyai stereo-type negatif mengenai mereka? Jangan 
lupa, kebencian ini sudah berlangsung berabad-abad, dan karena itu 
sudah merasuk ke dalam psyche bangsa-bangsa yang membenci orang-
orang Yahudi itu. Ini yang menjelaskan kenapa bangsa Yahudi, 
terutama di Israel, mempunyai instink yang sangat kuat untuk 
membangun pertahanan diri, kadang-kadang instink itu bekerja secara 
berlebihan, meskipun hal itu bisa kita pahami. Sebab bangsa Yahudi 
mempunyai memori yang sangat buruk mengenai masa lalu mereka. Jika 
mereka kehilangan negara Israel yang sudah berhasil mereka dirikan 
dengan susah payah itu, mereka khawatir akan kembali kepada "zaman 
kegelapan" yang berlangsung sejak berabad-abad sebelumnya.

Ini yang menjelaskan kenapa Israel bersikap tanpa kompromi pada 
Hamas sebab kelompok ini memiliki misi khusus untuk menghancurkan 
negara Israel. Di mata Israel, Hamas jelas semacam mimpi-buruk yang 
menghantui mereka. Bangsa Yahudi jelas tak mau jatuh ke masa silam 
yang buruk, ke zaman pogrom dan holocaust.

Tetapi justru di sini letak kelemahan bangsa Yahudi di Israel dan di 
manapun saat ini. Karena terlalu dihantui oleh masa lampau yang 
pahit, reaksi mereka terhadap ancaman saat ini terlalu berlebihan. 
Yang menjadi korban adalah bangsa Palestina. Sebagai sebuah negara, 
Israel, negara Yahudi itu, saat ini sudah cukup kuat dan sangat 
makmur. Memang kita bisa paham kenapa Israel selalu merasa tidak was-
was dan tidak aman selama ini, sebab ia dikepung oleh tetangga-
tetangga yang sangat membenci keberadaannya.

Kalau di awal tulisan ini saya mengtakan bahwa konflik Palestina-
Israel boleh jadi tak akan pernah selesai, di ujung tulisan ini saya 
ingin mengemukakan sebuah harapan. Salah satu harapan itu adalah 
jika pihak bangsa Yahudi dan bangsa Arab, terutama Palestina, bisa 
mengatasi "masa lalu" mereka masing-masing. Bangsa Yahudi harus 
melepaskan diri dari "mentalitas diaspora" yang membuat mereka 
merasa terancam terus dan selalu mencurigai tetangga-tetanggany a. 
Jika mentalitas ini tak bisa diatasi, maka negara Israel akan terus 
mencari musuh dengan tetangga-tetangga dekatnya seperti kita 
saksikan sekarang ini.

Dari pihak bangsa Arab, tantangan terbesar adalah mengatasi "rasa 
superioritas" mereka sebagai bangsa yang pernah berjaya selama 
berabad-abad di kawasan Arab dan sekitarnya, dan merasa bahwa bangsa 
Yahudi tak punya hak untuk mendirikan negara di tanah Palestina, 
sebab hal itu akan melukai rasa superioritas itu.

Dari pihak umat Islam sendiri secara keseluruhan juga ada tantangan 
yang sangat berat jika mereka benar-benar ingin ikut menyelesaikan 
masalah Palestina-Israel ini. Selama ini, kita semua tahu, ajaran 
yang membenci bangsa Yahudi diajarkan terus di sekolah-sekolah agama 
di seluruh dunia Islam, sejak zaman klasik hingga sekarang. Waktu 
saya di pesantren dulu, setiap guru saya menerangkan ayat-ayat dalam 
Quran yang membenci bangsa Yahudi, maka mereka memahaminya dengan 
tidak kritis, sehingga secara tak sengaja, mereka mengajarkan 
kebencian turun-temurun terhadap bangsa Yahudi. Bagaimana mungkin 
dunia Islam mau menyelesaikan masalah Palestina-Israel jika ajaran-
ajaran yang membenci bangsa Yahudi ini terus ditularkan dari satu 
generasi ke generasi berikutnya?

Menurut saya, harus ada reinterpretasi ulang atas sejumlah ayat dan 
hadis yang membenci bangsa Yahudi dan selama ini diajarkan di 
lembaga-lembaga Islam. Jika tidak, maka selamanya akan terjadi 
kebencian dan permusuhan antara umat Islam dan bangsa Yahudi. Saya 
tak percaya bahwa umat Islam akan berhenti membenci bangsa Yahudi 
seandainya pun yang terakhir itu, misalnya, dengan sukarela 
membubarkan negara Israel lalu pergi dari tanah Palestina. Menurut 
saya, masalahnya lebih serius dari sekedar masalah "tanah". Yang 
bermasalah adalah doktrin dalam agama itu sendiri.

Apa yang saya tulis ini jelas tak populer di kalangan Islam saat 
ini. Boleh jadi, tulisan ini dianggap sebagai bagian dari konspirasi 
Yahudi pula. Silahkan saja. Dengan terus terang saya katakan, saya 
bukan "fan" atau pendukung ringan, apalagi berat, negara Israel. 
Saya benci dan jengkel pada tindakan dan kebijakan pemerintah Israel 
selama ini terhadap bangsa Palestina. Tetapi kita juga harus jujur 
melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Ada sikap-sikap yang 
salah dan tak tepat juga di kalangan umat Islam terhadap bangsa 
Yahudi yang jumlahnya sangat kecil itu. Sikap-sikap yang berdasarkan 
pada doktrin agama itu harus dikritik jika umat Islam memang benar-
benar ingin menegakkan perdamaian di bumi Palestina.[]

Wallahu a'lam bissawab

Ulil Abshar Abdalla 


Kirim email ke