HARI-HARI yang ANEH Singkat cerita, meditasiku memasuki tahap aneh. Semisal getaran yang bisa aku rasakan pada kaki maupun tanganku sebelah kiri.
Dua kali interview dengan guruku terkasih U Thamana Kyaw, beliau bertanya: "Apakah getaran di ubun-ubunku sudah hilang?" Saat pertemuan pertama aku berpikir sebentar lalu bilang, "masih ada." "Kapan terakhir kamu merasakannya?" "Sebelum memasuki ruangan ini" Lalu seperti biasa aku melaporkan perkembangan meditasiku, aku meletakkan kesadaranku pada hembusan angin di kulit, hangatnya sinar mentari, juga dinginnya air atau keramik di kamar mandi yang menyentuh jemari dan wajahku. Seperti puisi ya.. tapi ini beneran. Dengan latihan terpusat dan terus menerus, aku menyadari, menjaga kesadaran tak hanya saat kita melakukan meditasi duduk, tapi di tiap moment. Hangatnya mentari pagi di kulit, desiran angin di kulit, kerikil-kerikil tajam yang menyakitkan kaki, bisa menjadi bahan menjaga kesadaran. Aku juga melaporkan semalam, saat meditasi banyak binatang kecil berjalan di kulitku. Karena penasaran, aku meraba, ternyata tak ada apa-apa. Aku juga merasakan angin berputar-butar di telingaku, juga seperti ada orang yang menyentuh kakiku. Sayadaw cuma tersernyum. Tetap menjaga kesadaran, mengamati hal yang dominan, katanya. Rasanya, itu hari terakhir aku melapor dengan keadaan `normal'. Oleh kesalahan penafsiran instruksi beliau, dan keangkuhan yang timbul akan hasil meditasiku karena sayadaw tampak bahagia tiap mendengar perkembangan meditasiku, tanpa aku sadari keangkuhanku makin kuatÂ… Keangkuhan yang bagai racun merampas kesadaranku untuk membunuhnya perlahan. Di samping itu, oleh kejadian-kejadian aneh yang aku alami, aku mulai susah membedakan yang maya dan nyata. Obyek meditasiku pun bukan sesuatu yang nyata, seperti naik turunnya perut, tapi getaran dan uliran yang tak bisa ditangkap mata. Tapi bisa dirasakan dalam kondisi batin tertentu. Biasanya, dari pengalamanku, bila pikiran tak dibiarkan berkeliaran, dalam hal ini sebagai meditator, dalam tidur kita tak pernah mimpi. Kesadaran kita bekerja lebih cepat dari tubuh dan pikiran. Begitu mata terbuka, langsung bangkit dari tidur, atau terkadang kesadaran datangnya lebih cepat dari tubuh ini, sehingga saat terjaga masih sempat mendengar orang mendenkur. Mula-mula bingung juga. Dengkur siapa gerangan? Padahal aku tidur sendiri, ya iyalah denkur gue sendiri.. emang hantu bisa mendenkur? Hehe. Nah, tak biasanya pagi itu aku mimpi dibangunkan oleh seorang gundul, dari wajahnya kelihatan dia wanita. Mungkin Siale atau Samaneri. Wajah Samaneri itu cantik tapi bersedih. What's aku kebingungan. Kok bisa-bisanya, mimpi dibangunkan samaneri, seumur hidup itu kali pertama aku mimpi wanita gundul. Tapi aku tak mengubrisnya. Akan tetapi kesedihan wajah samaneri ternyata pertanda tak bagus. Terbukti hari itu aku mengalami konflik dengan Biku dari Thailand. Masalahnya sederhana. Biku itu minta aku jalan lebih cepat waktu selesai mengikuti patimoka dan hendak ke kuti, tapi aku ogah, balelo aja yang membuat dia jengkel. Lalu saat meditasi malam, saat terasa ada tangan memegang pundakku, lututku, bukannya menjaga kesadaran, aku mencari dan mengamati sensasi itu. Tentu makin jadi. Hal paling bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang karier meditasiku, hehe. Aku merasakan ada cahaya melayang dan berhenti di hadapanku. Mulutku terbuka sendiri. Lalu sebuah gelembung udara mendesak masuk ke mulutku. Aku bisa merasakan proses itu berlangsung inci per-inci sampai gelembung itu di puserku, lalu keluar lagi perlahan-lahan. Saat meditasi malam usai, aku berjalan pulang ke kuti. Saat melalui pohon di tikungan jalan. Aku merasakan ada yang berbicara pada ku. (aku mengetik ini sedikit merinding merekar kembali satu persatu pengalamanku, jangan nempel lagi yah, plsss). Aku merasakan ada dialog yang terjadi di pikiranku, seperti ada dua orang yang tengah berkomunikasi. Jadi ringkasnya, aku tidak pulang ke kutiku sendiri lagi. Ada yang `menyertaiku'. Ia mengatakan dirinya adalah Avalokitesvara atau lebih kita kenal dengan Kwam Im. Malam itu tak seperti biasanya, duduk di dipan, kedua tanganku bekerja membentuk mudra-mudra, sambil mengucapkan `Om Mani Padme Hum' Konon kata makhluk itu, ia sedang membersihkan cakra-cakra aku. Begitu juga keesokan hari saat terjaga, kembali tanganku membentuk mudra-mudra yang tak aku mengerti untuk membersihkan cakra. Saat makan pagi, aku tidak makan daging. Saat aku duduk, aku merasa ada yang menempel di belakang. Tapi karena aku mau makan daging juga, aku menelan sepotong daging, hebatnya, aku merasa makhluk yang nempel di belakangku mental sedikit. Tapi jangan khawatir, melalui gerakan-gerakan mudranya saat ga ada orang, ajaib dan susah dipercaya, daging itu bisa dimuntahkan kembali otomatis dari mulut aku, meski sebenarnya udah nyampe di perut. Mulailah aku melewati hari-hari paling kacau dalam hidupku di Panditarama Forest Monastry. Hari itu sambil berpindapata, tangan ini sibuk membentuk mudra memberi blessing pada tiap rumah orang susah yang dilalui. Tentunya tak ada yang melihat, karena tanganku bergerak di dalam jubah, jadi tak kelihatan siapa-siapa. Itu belum berakhir, akan ada kekacauan yang lebih besar. Terlebih ketika aku berusaha melepaskan diri dari tempelan mahkluk ini. Dianggap gila dan rasanya hampir mati. Untung belum mati, kalau mati tak mungkin aku menulis cerita ini, hehe. Ancol, 19 Januari 2009, (jam 02;38 pagi) Harpin R Sumber: http//harpin.wordpress.com
