Pidato Pengukuhan Obama Ditulis Pemuda 27 Tahun di StarbucksTEMPO Interaktif, 
Jakarta:
Saat Barack Obama naik ke podium dan memberi pidato pengukuhannya, satu
orang berada nyaris tidak terlihat di kerumunan massa. Dengan wajah
yang kekanakan, pemuda 27 tahun bernama Jon Favreau itu seperti tidak
pas diantara para pejabat-pejabat tinggi.


Tapi meski tidak pas, jangan remehkan Favreau: ia yang menulis naskah
pidato pengukuhan Obama. Ya, penulis pidato Obama memang pemuda
kelahiran 1981 dan ia menjadi "Direktur Penulis Pidato Gedung Putih"
termuda sepanjang sejarah.

Untuk membuat naskah pidato
pengukuhan, Favreau mesti bekerja keras. Kerja ini diawali dengan
pertemuan pertama. Di sana Obama menjelaskan apa yang ingin disampaikan
dalam pidato. Favreau menuliskan poin-poin pertemuan ini dalam
komputernya.

Favreau tidak langsung menulis pidato hanya dari
pertemuan ini saja. Ia dan timnya segera saja melakukan riset beberapa
pekan. Mereka mewawancarai ahli sejarah dan para penulis naskah pidato
lain. Mereka mempelajari periode-periode Amerika sedang mengalami
krisis. Mereka juga mendengarkan pidato-pidato pengukuhan sebelumnya.

Saat
data semua sudah masuk, Favreau segera saja "bertapa" di salah satu
kafe Starbucks di Washington untuk menulis rancangan pertama naskah
pidato.

Rancangan pertama selesai, dikirim ke Obama. Obama akan memotong atau
menamahi atau memberi ide lain dan dikirim balik ke Favreau. Proses
revisi ini diulang hingga empat atau lima kali sampai semua puas.

Bukan
perkara gampang Favreau menjadi penulis naskah pidato Obama. Kesulitan
pertama, karena Obama ini bukan hanya orator yang jago tapi juga
penulis piawai. Dia sudah menulis dua buku yang kedua-duanya menjadi
box office.

Favreau bekerja keras agar benar-benar memahami
Obama. Ia mempelajari pola-pola dan struktur pidato yang biasa
dilakukan Obama dengan sangat serius. Tidak hanya itu, ia menguntit
kehidupan sehari-hari Obama agar makin memahami.

Pidato Obama
pada Konvensi Demokrat 2004, yang membuat bocah Menteng ini naik ke
permukaan politik Amerika Serikat, ia hapalkan. Dilaporkan bahwa
kemanapun ia pergi, tangannya selalu membawa buku otobiografi Obama
"Dreams From My Father". 
 
Obama sangat percaya dengannya.
Presiden berkulit hitam pertama Amerika ini bahkan menyebut Favreau
sebagai "pembaca pikirannya." Kemampuan ini digunakan Favreau hampir
setiap hari selama 18 bulan kampanye presiden yang berat. 

Favreau
hampir setiap hari tidur pukul 3.00 dini hari dan kadang bangun dua jam
kemudian, menulis pidato untuk disampaikan hari berikutnya dengan
bantuan kafein dari espreso atau Krating Daeng--di Amerika Serikat
diberi cap Red Bull. "Entah kapan terakhir saya tidur lebih dari enam
jam," katanya.

Saat Obama naik, Favreau sering digoda
rekan-rekannya karena ia mulai terkenal. Tapi Favreau tetap tidak punya
pacar karena pekerjaannya yang sekarang benar-benar menguras waktunya.
Satu-satunya kegiatan diluar pekerjaan adalah bermain video game "Rock
Band" jika sudah jenuh.

Saat pertama bertemu Obama, Favreau
adalah sarjana berusia 23 tahun yang baru saja lulus dari College of
the Holy Cross di Worcester dan bekerja untuk John Kerry dalam
pencalonan presiden yang kemudian gagal.

Saat itu, secara tidak
sengaja, Favreau mendengarkan Obama sedang mengulang-ulang pidato yang
akan disampaikan dalam Konvensi Demokrat 2004. Pidato itu, kemudian,
membuat nama Obama naik ke dunia politik nasional Amerika Serikat.

Saat
melatih pidato itu, Favreau tiba-tiba saja memotong. Ia menganjurkan
Obama menulis ulang salau satu baris pidatonya agar tidak mengulang.
"Ia memandang saya, agak bingung sampai berpikir: siapa bocah ini?"
kata Favreau mengingat pertama ia bertemu.

Favreau belakangan
naik pangkat menjadi salah satu penulis naskah pidato Kerry. Tapi Kerry
sendiri kalah dari George W. Bush dalam pemilihan presiden sehingga
Favreau menganggur.

Pemuda ini masuk ke tim Obama atas rekomendasi Direktur Komunikasi Obama,  
Robert Gibbs, yang mengenal selama kampanye Kerry.

Saat
itu, pekerjaan sebagai penulis naskah Obama cukup santai. Mereka kadang
nongkrong bareng. Mereka juga memiliki kegemaran bisbol meski mendukung
tim berbeda. 

Suatu ketika, saat tim White Sox kesayangan
Favreau menang atas Red Sox yang digemari Obama, Senator dari Illinois
itu mesti membayar taruhannya: membersihkan meja Favreau dengan
kemoceng.

Selama kampanye presiden, Favreau memimpin dua orang
penulis naskah pidato lain: Adam Frankel, 26 tahun, yang pernah
membantu bekas penasehat John F. Kennedy yakni Theodore C. Sorensen
membuat memoi, dan Ben Rhodes, 30 tahun, yang pernah membantu menulis
laporan Kelompok Studi Irak.

Meski memiliki pekerjaan begini
serius, tapi usia yang masih muda tidak bisa disembunyikan. Ia kadang
membuat guyonan yang memalukan. Misalnya saja, pada Desember lalu, dan
seorang temannya difoto di sebuah pesta. Foto itu berlatar belakang
poster kardus Hillary Clinton--pesaing Obama saat pemilihan
pendahuluan--dan tangan Favreau sedang memegang dada Hillary.

Sialnya,
foto ini beredar di Facebook dan memaksa Favreau meminta maaf. Seorang
juru bicara Demokrat berusaha mempositifkan kejadian ini dengan
menyebut sebagai kebiasaan partainya untuk guyonan.

Untung saja
insiden ini tidak banyak diberitakan sehingga dampaknya terbatas dan
Favreau bisa menyaksikan bagaimana Obama memberi pidato pengukuhan yang
ia tulis.

http://tempointeraktif.com/hg/amerika/2009/01/21/brk,20090121-156228,id.html


Free Web Hosting 250MB space, 100GB bandwidth


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke