Kisah yg mengharukan

http://nyanabhadra.wordpress.com/2009/01/02/kisah-quan-am-thi-kinh/

Posted by nyanabhadra

Kisah Quan Am Thi Kinh
© Thich Nhat Hanh
Sahabat,
Hari ini tanggal 28 Juli 1996, kita berkumpul di Lower Hamlet, saya akan 
menggunakan bahasa Inggris.
Ada
seorang anak perempuan kecil bernama Kinh, dia lahir di Vietnam utara
zaman dahulu. Orang tuanya berharap kelahiran seorang pria, namun yang
lahir adalah perempuan, walaupun demikian mereka tetap bahagia dan
memberikan nama kecil Kinh kepadanya. Kinh berarti “respek, yang
disanjung tinggi”. Sebuah nama indah. Anda menghormati orang lain,
binatang, termasuk menghormati kehidupan tumbuhan dan mineral.
Menghormati kehidupan, menghormati kehidupanmu juga kehidupan mereka
dekat denganmu. Kinh seorang perempuan cilik cantik, seperti setangkai
bunga. Kinh sering bersama ibunya berkunjung ke wihara dekat desanya
untuk memberikan persembahan bunga teratai kepada Buddha dan
mendengarkan ceramah dharma yang diberikan oleh biksu. Kinh senang
mendengar dharma.

Kink punya niat besar untuk menjadi biksu,
karena dia melihat bahwa biksu hidup bahagia dan bisa menolong banyak
orang. Dia ingin menjadi biksu, karena berlatih, tinggal di wihara,
semua tampak begitu indah dan damai. Ia senang dengan sikap para biksu,
pergi dan datang dengan penuh kelembutan, menyentuh segala sesuatu
dengan penuh hormat. Ia begitu senang terhadap dharma walaupun ia masih
sangat kecil. Dia bertanya-tanya apakah bisa menjadi seorang biksu,
tentu saja mereka jawab tidak, tidak untuk perempuan. Ajaran Buddha
baru saja masuk ke Vietnam dan hanya ada wihara untuk biksu, mungkin
ada wihara untuk biksuni namun sangat langka. Pada waktu itu belum ada
pesawat terbang, tidak ada bus, jadi Kinh tidak terpikir untuk pergi ke
tempat lain. Dia tidak bahagia karena tidak bisa menjadi biksu hanya
karena dia seorang perempuan. Tampaknya dia frustasi, dia percaya bahwa
perempuan juga bisa berlatih seperti seorang biksu, hidup bahagia dalam
dharma seperti mereka.

Kinh tumbuh menjadi seorang perempuan
cantik dan orang tuanya ingin dia menikah dengan seorang pria di desa
tetangga. Pada zaman dahulu, pernikahan diatur oleh orang tua, dan anak
wajib menuruti, karena itu adalah kebijaksanaan orang tua, mereka tahu
siapa yang cocok buatmu. Harapan tertinggi orang tua adalah melihat
anak perempuanya menikah dengan seorang pria yang punya masa depan
cerah. Ada sebuah keluarga dari desa tetangga mengirim surat lamaran,
pria itu bernama Sung Tin yang berarti “cendekiawan kebaikan, murid
kebaikan”, saya tidak tahu seberapa baik pria itu, seberapa cerah masa
depannya, tampaknya pria ini terlahir di keluarga cukup berada dan
status sosial tinggi. Tampaknya pria ini memiliki masa depan cerah,
karena dia adalah seorang murid yang baik dan mungkin saja telah lulus
ujian dan menjadi pegawai tinggi pemerintahan. Para pelajar zaman
dahulu sangat mendambakan kelulusan ujian dan dipilih menjadi menteri
oleh raja, atau ketua propinsi, dan sebagainya.

Kinh harus
menuruti kehendak orang tuanya untuk menjadi istri Sung Tin, walaupun
niat sesungguhnya ingin menjadi biksuni. Tidak ada jalan lain baginya,
waktu itu sangatlah berbeda dengan zaman sekarang ini, jika seorang
perempuan ingin menjadi biksuni, dia bisa saja menelepon dan mencari
tahu di mana ada wihara untuk biksuni, namun Kinh tidak punya
kesempatan untuk bertanya. Oleh karena itu, ia mengubur keingiannya
dalam-dalam dan menuruti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan
Sung Tin. Tentu saja sang istri wajib menyokong pendidikan suaminya,
menjaga dan mendukung suaminya agar lulus ujian, itulah kewajiban
seorang istri pada zaman itu.

Keluarga Sung Tin cukup kaya, jadi
Kinh tidak perlu bekerja keras untuk menyokong suaminya. Namun perlu
anda ketahui bahwa banyak istri yang masih muda harus menjual beras di
pasar atau memanggul beras pada musim panas demi mendapatkan uang untuk
mendukung suaminya untuk sekolah. Tentu saja kondisi demikian tidak
terjadi pada Kinh karena dia menikah ke sebuah keluarga kaya. Jadi Kinh
hanya mengerjakan pekerjaan dapur, bersih-bersih, memasak, menjahit
pakaian, dan sebagainya. Kinh dididik oleh orang tuanya menjadi seorang
yang bisa merawat rumah dengan telaten. Suatu hari ketika Kinh sedang
menambal pakaian, suaminya sedang belajar di sisinya kemudian
ketiduran. Seorang pelajar berupaya untuk belajar sebanyak-banyaknya,
suaminya juga demikian, belajar siang dan malam hari, pada hari itu
suaminya belajar di sisinya dan ketiduran.

Ketika Kinh melihat
Sung Tin, dia melihat ada beberapa kumis yang tidak tercukur rapi,
dengan penuh cinta kasih ia menggunakan sepasang gunting mencoba untuk
meratakan cukurannya. Namun, tiba-tiba suaminya terbangun dan dalam
keadaan begitu, suaminya menyangka bahwa Kinh mencoba membunuhnya, oleh
karena itu ia berteriak. Saya tidak tahu seberapa dalam cinta mereka
berdua, seberapa dalam mereka saling mengerti, namun inilah yang
terjadi. Orang tuanya datang dan bertanya, “Mengapa engkau berteriak?”
Ia menjawab, “Ketika aku sedang ketiduran, ketika aku bangun, aku
melihat dia menggunakan sepasang gunting seperti itu, jadi saya tidak
tahu.” Orang tuanya bilang, “Bisa saja seorang istri tidak setia akan
membunuh suaminya, karena jatuh hati pada pria lain, oleh karena itu
kami tidak ingin kamu sebagai menantu kami lagi. Kami akan mengirim
anda pulang ke rumah.” Kinh mencoba untuk memberi penjelasan, namun
orang tua Sung Tin tidak percaya.

Ketika saya berlatih melihat
secara mendalam atas kejadian ini, saya melihat bahwa pengusiran itu
terjadi bukan karena kecurigaan, namun penyebabnya adalah kecemburuan.
Setelah menikah, pria itu selalu menghabiskan waktu bersama istrinya,
dan orang tuanya merasa kehilangan anaknya. Wanita yang baru masuk ke
keluarga itu telah memonopoli seluruh kehidupan anaknya, jadi
kecemburuan muncul dalam diri orang tuanya tanpa disadari. Jadi, mereka
menulis surat untuk keluarga Kinh dan meminta mereka untuk menjemput
balik anak perempuannya. Bayangkan betapa pedih derita keluarga itu.
Bagi satu sisi keluarga, anak perempuannya sangat sempurna, jujur,
setia. Ini sebuah ketidakadilan, dan ini merupakan ketidakadilan
pertama yang harus dia dera, terima, dan telan mentah-mentah. Akhirnya
mereka membawa pulang Kinh, mereka percaya bahwa Kinh tidak punya niat
untuk membunuh suaminya, ini sungguh sebuah kemalangan, dan mereka
bertiga sangat menderita.

[Gong]

Namun Kinh mendapat
pelajaran berharga dari kehidupan suami-istri. Dia melihat bahwa banyak
orang hidup dalam persepsi keliru. Bahkan dalam keluarga kaya
sekalipun, mereka saling menyebabkan penderitaan. Cinta Kinh dalam
keluarga itu tidak bisa membuat dirinya bahagia, tidak bisa membuat
dirinya mekar seperti bunga. Cinta seperti itu, kehidupan seperti itu
tidak memberikan kepuasaan kebutuhan hidup terdalamnya. Tiba-tiba niat
untuk menjadi biksuni kembali muncul. Dia menghabiskan beberapa malam
untuk berpkir bagaimana menjadi biksuni agar bisa berlatih di wihara,
agar dia bisa sepenuh hati terjun ke dalam dharma dan mendedikasikan
sepanjang hayatnya untuk berlatih dharma.

Suatu malam ia
memutuskan untuk menyamarkan dirinya menjadi seorang pria supaya bisa
diterima di sebuah wihara. Tentu saja dia tidak pergi ke wihara dekat
dengan desanya karena takut ada orang yang mengenalinya, kalau ketahuan
maka tentu saja akan ditentang oleh keluarganya. Oleh karena itu, dia
pergi sangat jauh karena cukup banyak wihara di tempat-tempat lain. Ia
berjalan kaki sekitar 100 mil agar tidak ketahuan orang tuanya. Dia
tidak memberitahu siapapun termasuk sahabatnya atas niatnya itu. Kalau
saja ia memberitahu sahabatnya, tentu saja orang tuanya akan pergi
mencari di setiap wihara dan membawanya pulang, dia akan ketahuan
seketika itu juga, dia menjaga ketat rahasia itu.

Suatu hari,
Kinh kabur dan menghilang dengan meniggalkan beberapa barangnya beserta
sepucuk surat yang berisi, “Ibunda dan Ayahnda, Aku punya sebuah niat
yang sangat aku cinta, aku akan mengerjakannya, mohon maafkan saya
karena tidak bisa tinggal di rumah untuk menjaga kalian berdua, karena
ketetapan hati saya sudah begitu kuat.” Anda tahu bahwa tekad itu
adalah Bodhicitta, tekad besar untuk berlatih dharma dan menghadirkan
kebahagiaan bagi banyak orang, di banyak tempat orang menderita dan
terjebak dalam persepsi keliru, mereka melakukan ketidakadilan terhadap
sesamanya setiap hari. Ia tidak ingin mengulangi kehidupan yang sama
lagi, dia ingin menjadi biskuni. Setelah berjalan sekitar 100 mil, dia
menemukan sebuah wihara bernama Phap Van, “Awan dharma”, tidak jauh
dari Hanoi.

Ia menyamar sebagai seorang pria, ia memohon untuk
bertemu dengan kepala wihara. Dia ikut mendengarkan ceramah dharma dan
sangat tersentuh, dia menunggu sampai semua orang pulang, ia mendekati
biksu itu dan mengutarakan niatnya untuk bergabung menjadi anggota
sangha monastik, samanera. Biksu itu pun minta dia duduk dan berkata,
“Anak muda, mengapa engkau ingin masuk anggota sangha?” Dia berkata,
“Oh guru, Aku melihat segala sesuatu tidak kekal, tidak ada yang bisa
berlangsung selamanya. Semua ini seperti mimpi, bagaikan kilat. Ketika
saya memandang ke langit, aku meliat awan berbentuk anjing, begitu
cepat awan itu berubah wujud, sekarang aku melihat awan itu sudah
berubah bentuknya menjadi pakaian. Semua orang mencoba untuk memperoleh
ketenaran, memperoleh keuntungan dari dunia ini dan tampaknya mereka
tidak bahagia. Aku ingin kebahagiaan sesungguhnya, aku percaya bahwa
hanya dharma bisa memberikan aku kedamaian dan kebahagiaan.” Setelah
mengutakan alasan itu, biksu itu mengucapkan selamat kepadanya, “Anak
muda engkau telah mengerti ajaran tentang ketidakkekalan aku berharap
kamu bisa sukses dalam latihan biksu. Kinh diizinkan untuk menetap di
wihara itu, tiga bulan kemudian ia ditahbiskan menjadi samanera.

Nama dharmanya adalah Kinh Tam. Ia mempertahankan nama Kinh, “rasa
hormat” dan biksu itu menambahkan Tam “Intisari” di belakang namanya.
“Intisari rasa hormat”. Semua muridku mendapat nama belakang
“Intisari”, “Sumber paling inti”, “Pintu hati (inti)” dan semua adalah
inti “hati”, jadi mereka memiliki nama belakang sama.
Kinh Tam
selalu berlatih dengan baik dan rajin. Ketika belajar sutra, ia sangat
cepat mengerti dan memperoleh manfaat besar dalam kehidupan monastik.
Gurunya sangat mencintainya dan selalu percaya dia adalah seolah anak
laki-laki. Samanera muda itu sangat rupawan, walaupun dia menyamar
sebagai seorang pria, walaupun dia tidak mengenakan perhiasan emas atau
parfum dan sejenisnya, dia tampak begitu menawan, seorang samanera
rupawan, kondisi demikian membawa dampak bahaya baginya. Tidak jauh
dari wihara itu ada sebuah desa, ada seorang gadis dari keluarga kaya,
dia selalu datang ke wihara bersama ibunya setiap bulan gelap dan
penuh, mereka mempersembahkan bunga, dupa dan sebagainya. Gadis itu
melihat samanera muda itu, seketika itu juga dia jatuh cinta padanya.

Aku
tidak yakin jatuh cinta pada pandangan pertama gadis itu karena wajah
cantik samanera itu, wajahnya tentu saja menawan, namun ada sesuatu
lain di balik samanera muda itu, ia berlatih perhatian murni sangat
baik, kita memanggilnya “samanera”, ia berlatih meditasi jalan, minum,
dan melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian, oleh karena itulah
ia tampak begitu rupawan. Mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat
tidak begitu rupawan, mereka selalu tergesa-gesa, lari ke sini dan ke
sana dengan begitu cepat, mereka tidak punya kebebasan sama sekali.
Wajah relaks, kedamaian yang tertampak di wajahmu tercerminkan dari
cara kamu melakukan segala sesuatu, apakah melalui cara kamu duduk,
berjalan dan oleh karena itulah gadis kaya itu langsung jatuh cinta
pada “samanera” itu pada pandangan pertama.

Gadis kaya itu
bernama Mau, Mau berarti “warna”, warna apa? Saya tidak tahu, saya
tidak menyalahkan gadis itu karena dia jatuh cinta pada samanera itu
karena tampang rupawannya. Anda boleh menyebut dia “tampan”, namun dia
lebih tampan daripada sekedar tampan, dia tampak menawan karena ada
kedamaian dalam hatinya. Jadi, jika ada seorang gadis yang jatuh cinta
pada biksu, ini tentu saja bukan hal yang luar biasa, hal demikian
selalu saja terjadi. Saya ingat, suatu ketika ada seorang pria datang
ke Plum Village dan bertanya kepada Sister Jina, “Anda begitu cantik,
mengapa anda mau menjadi biksuni? Sungguh sayang sekali.” Setelah
berdiam sejenak dan berpikir, Sister Jina membalas, “Jika engkau
melihat bahwa saya ini cantik, itu dikarenakan saya sudah menjadi
biksuni, apabila saya tidak menjadi biksuni, mungkin saya tidak
secantik yang engkau lihat”.

Saya rasa itu kejadian nyata,
ketika engkau menjadi biksu atau biksuni, engkau menjadi cantik dan
tampan. Engkau dihiasi oleh kedamaian, perhatian penuh kesadaran,
latihan dharma dan oleh sebab itulah engkau memancarkan sejenis
kecantikan yang sangat sulit ditemukan dalam masyarakat. Jadi, saya
tidak menyalahkan Mau sama sekali. Jika saya adalah Mau, mungkin saya
juga bisa jatuh cinta pada samanera itu. Mau mencoba untuk berbicara
dengan samanera itu, mencoba untuk mencari kesempatan untuk berbicara
berdua, namun samanera itu selalu menghindar, Mau sangat frustasi.
Kadang-kadang Mau mencoba untuk menebak ke mana samanera itu akan
pergi, dan menunggu dia di sana, namun ketika samanera itu melihat
gadis itu, ia langsung berubah haluan dan pergi. Mau mencoba berulang
kali menyatakan cintanya terhadap samanera muda itu, namun tekad dalam
hatinya sangat kuat untuk terus berlatih sebagai monastik.

Mau
sangat frustasi, dia tidak tahu bagaimana mentransformasikan perasaan
cintanya, dia tidak mengerti dharma, latihannya sangat dangkal, hanya
pergi ke wihara memberikan persembahan pisang, nasi pulut manis, bunga
dan bersujud di depan altar. Dia tidak tahu bagaimana berlatih untuk
menjaga nafsu keinginannya, kemarahannya, dan sebagainya. Apabila
engkau ke wihara, seharusnya engkau belajar dharma, engkau perlu
merubah dirimu dengan cara berlatih dharma, jangan seperti gadis Mau.
Cinta nafsunya begitu besar kepada samanera itu, dia begitu frustasi.
Suatu hari, ketika orang tuanya tidak ada di rumah, dia memanggil
pelayan pria masuk ke kamarnya, pelayan itu tinggal di rumahnya,
mengurus kebun dan pekerjaan rumah, pada malam itu bulan purnama, Mau
tidak sanggup menahan cinta nafsunya lagi, dia memanggil pelayannya dan
mengizinkannya untuk melakukan hubungan badan dengannya, kemudian Mau
membayangkan bahwa pelayan itu adalah samanera muda itu. Dalam kisah
sejarah disebutkan dengan jelas bahwa Mau setengah sadar, dia
membanyangkan pelayan itu sebagai samanera muda.

Kemalangan pun
telah terjadi, dan beberapa bulan kemudian Mau merasa dia telah hamil,
ia mencoba untuk menutupinya agar tidak ketahuan orang tuanya, namun
semakin lama semakin jelas, orang tuanya bertanya, “Anakku, apa yang
terjadi pada dirimu? Engkau tidak mau makan, engkau tidak mau makan
nasi, namun hanya makan makanan asam saja.” Mau membalas, “Tidak ada
apa-apa, saya baik-baik saja, saya sehat, mungkin darah saya perlu
pemurnian.” Beberapa hari kemudian tetua desa memanggil seluruh sesepuh
desa bersama orang tua Mau, seluruh desa sudah mengetahui bahwa seorang
gadis hamil tanpa suami. Mereka memanggil Mau dan bertanya siapa ayah
sang anak diperutnya.

Mau berpikir lama, pelayan itu sudah
diusir dari rumahnya, walaupun saya berkata jujur, tidak ada orang mau
percaya. Kepala desa bilang bahwa Mau harus bicara jujur. Seandainya
Mau menyebut samanera muda itu, maka dia punya kesempatan untuk
menjadikan dia sebagai suami resminya, jadi dia berpikir sebaiknya
bilang bahwa ia tidur bersama samanera Kinh Tam yang berlatih di Wihara
Phap Van. Jadi Mau bilang, “Para tetua, saya sering pergi ke wihara dan
jatuh cinta pada seorang samanera bernama Kinh tam. Kami berdua tak
sanggup membendung cinta yang begitu besar, oleh karena itu kami
melakukan kesalahan ini, mohon maafkan kami berdua”

Para sesepuh
desa memanggil seluruh warga wihara, biksu, samanera dan beberapa orang
yang tinggal di wihara itu. Ketika Kinh Tam tiba, dia diberitahu bahwa
Mau menyatakan dia telah tidur bersamanya sehingga sekarang sudah
hamil, dan para sesepuh desa bilang, “Kinh Tam, engkau samanera muda,
bertekad untuk menjadi biksu, mengapa engkau tidak berlatih peraturan
kamu dengan baik? Engkau tidur bersama gadis muda di desa. Apa lagi
yang bisa engkau jelaskan?” Samanera muda itu membalas, “Saya menjaga
peraturan saya dengan baik, saya tidak pernah tidur bersama siapapun di
desa ini, mohon pertimbangkan baik-baik, sangat tidak adil bagiku,
mohon pengertian, mohon berbelas kasih. Aku tidak pernah melakukan hal
begitu.” Ketika sesepuh itu kembali konfirmasi kepada Mau, ia
bersikeras menyatakan bahwa samanera itu telah tidur bersamanya dan
akhirnya hamil. Samanera muda itu tetap menolak, “Saya seorang
samanera, berlatih ketat dalam peraturan, saya tidak pernah berbuat
demikian, Buddha, Dharma, dan Sangha menjadi saksi atas kejujuranku.”

Akhirnya,
mereka harus menggunakan hukuman cambuk. “Engkau harus berbicara jujur,
kalau tidak engkau akan dicambuk 30 kali. Engkau harus mengaku telah
tidur bersama Mau.” Mereka mengikat samanera muda itu di sebuah tiang
dan mencambuknya 30 kali. Hukuman seperti inilah yang dilakukan pada
zaman dahulu. Cambuk itu sangat keras dan darah pun mulai mengalir
membasahi jubahnya. Namun dia tetap tidak menyerah, dia tetap bilang
bahwa “Ini kekeliruan, aku tidak bersalah, mohon pertimbangkan ulang.”
Mau melihat kejadian itu dan ia bilang, “30 cambuk cukup.” Mau merasa
kasihan melihat samanera muda itu, karena dia orang kaya maka bisa
memohon keringanan. Samanera itu diizinkan pulang, ketika tiba di
wihara, orang lain ingin membantu merawat lukanya, namun dia bilang,
“Jangan, aku bisa menjaga diriku sendiri, saya bisa membalut lukaku,
aku akan merawat luka ini sendiri,” karena dia tidak ingin orang lain
mengetahui rahasianya bahwa dia sebenarnya adalah seorang wanita, dia
bukanlah seorang pria.

Setelah merawat lukanya yang disebabkan
oleh cambukkan, dia pergi menghadap gurunya, kemudian gurunya bilang,
“Anakku, aku tidak tahu, aku tidak pasti, aku tidak tahu apakah engkau
telah berbuat demikian atau tidak, aku sungguh tidak tahu, jika engkau
telah berbuat seperti itu, aku harap engkau memulai lembaran baru
secara mendalam setiap hari, jika engkau tidak melakukannya, mohon
berlatih kesabaran (Kshanti Paramita) dan mencoba untuk menemukan suka
cita di dalam latihan.” Ini yang disampaikan oleh gurunya. Oleh karena
kejadian itu, para komunitas wihara memohon Kinh Tam diasingkan ke
ruang dekat gerbang wihara dan tidak tinggal bersama monastik lainnya.
Anda tahu bahwa Kinh Tam diperintah untuk tinggal sendirian di ruang
terpisah, ruang dekat gerbang wihara sehingga masyarakat tidak bisa
menyalahkan sangha secara keseluruhan, karena dia berada dalam status
tersangka.

Seandainya saya adalah guru Kinh Tam, saya tidak tahu
apakah saya juga akan mengizinkan Kinh Tam untuk tetap tinggal bersama
dalam satu gedung dengan sangha atau tidak. Saya tidak tahu karena
zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang ini, orang zaman dahulu
penuh dengan kecurigaan dan sebagainya. Saya punya cukup pengertian
untuk mengetahui apakah murid saya melakukan sesuatu yang buruk atau
tidak karena saya mencoba untuk menjalin komunikasi baik dengan muridku
dan berlandaskan pengertian dalam, perhatian murni, saya bisa tahu
apakah murid saya melakukannya atau tidak, karena saya bukan menjadi
guru untuk menyalahkannya, namun saya akan berada di sana untuk
membantunya, jadi muridku akan berkata jujur kepadaku.

Ketika
bayi itu lahir, Mau tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin orang
tahu bahwa bayi itu adalah bayi sang pelayan rumahnya, kalau orang lain
tahu, maka ini akan membawa reputasi buruk kepada keluarganya. Dia
lebih baik memilih mati daripada harus mengatakan bahwa dia telah tidur
dengan pelayan rumahnya. Kejadian seperti ini tidak sanggup dia hadapi,
demikian juga keluarganya tak sanggup menerima kenyataan itu. Engkau
telah berbuat kesalahan, engkau telah bertindak keliru, namun engkau
tak sanggup mengaku kesalahan itu dan hanya melemparkan tanggung jawab
kepada orang lain, hal demikian selalu terjadi setiap hari. Akhirnya
Mau membawa bayinya kepada Kinh Tam, dia membawa bayinya ke ruang dekat
gerbang wihara dan bilang, “Ini anakmu, terimalah” Kemudian Mau
meletakkan bayi itu di tangga dan pergi. Bayi itu terus menangis, Kinh
Tam merasa, “Bayi itu diletakkan di situ begitu saja, jika saya tidak
merawatnya, siapa lagi yang akan merawatnya? Saya berlatih belas kasih
dan pengertian, jika saya tidak menjaga dan melindunginya, siapa yang
mau melakukannya?” Jadi Kinh Tam bilang, “Biarkahlah aku yang
merawatnya!” dan dia memungut bayi itu.

[Gong]

Bayi itu kelaparan dan Kinh Tam tak punya susu, jadi dia
terpaksa membawa bayi itu ke desa dan mencoba untuk meminta susu.
Setiap hari dia pergi ke masyarakat dan meminta susu untuk bayi itu.
Ada orang yang sangat tersentuh oleh tindakannya dan ada pula mereka
yang bilang, “Bagaimana mungkin dia berlatih sebagai monastik apabila
ia melakukan hal demikian, tidur dengan wanita dan wanita itu
menyerahkan bayi kemudian dia harus menerima tanggung jawab merawat
bayi, mencoba untuk mengasuh anak itu sebagai ayah, bagaimana mungkin
seseorang berlatih dharma seperti itu?” Kinh Tam sedih karena
masyarakat tidak mengerti situasinya, sementara dia tetap berlatih
kesabaran karena dia merasa damai dan bersuka cita hidup dalam dharma.

Jika
dia ingin menyingkirkan ketidakadilan, tentu saja bukan tugas mudah,
kalau mau gampang, Kinh Tam tinggal mengumumkan bahwa dirinya adalah
seorang wanita, sesegera itu juga dia akan terbebas dari segala tuduhan
maupun penderitaan. Mengapa dia tidak melakukannya? Karena dia sangat
cinta dharma, dia ingin terus berlatih sebagai monastik, oleh karena
itu dia tidak mau menyerah begitu saja. Ketika engkau sangat senang
dengan sesuatu, engkau terdorong untuk mempertahankannya walaupun
ketidakadilan jatuh kepadamu. Dia dicambuk, salah paham, dituduh oleh
banyak orang, namun tetap bisa terus berjalan dengan penuh ketenangan,
kebahagiaan dalam monastik dan berlatih dharma.

Zaman sekarang
ini, banyak orang yang hidup bersama dalam sangha dan mereka berhadapan
dengan banyak kesulian dan ingin meninggalkan sangha. Mereka tidak
punya kesabaran besar seperti itu. Mereka tidak sanggup memikul beban
ketidakadilan yang jatuh padanya, karena tekad dan kebahagiaan mereka
tidak memadai. Oleh karena itu, kuncinya adalah apabila anda menghadapi
banyak masalah, maka cobalah untuk menghargainya segitu banyak, apakah
hatimu besar atau tidak. Apabila hatimu kecil, maka engkau tidak
sanggup memikul ketidakadilan yang jatuh padamu. Pengertian dan cinta
kasih dapat membantu hatimu tumbuh menjadi lebih besar dan lebih besar
lagi. Hal ini merupakan latihan empat hati tak terukur, cinta kasih,
belas kasih, suka cita, dan kesetaraan. Hanya karena hatimu bisa tumbuh
sebesar kosmos, perkembangan hatimu tidak akan pernah berujung. Jika
engkau seperti sungai, engkau bisa menerima banyak kotoran dan tidak
akan memberi efek apa pun bagimu, engkau bisa melakukan transformasi
kotoran itu dengan mudah.

Ceramah dharma sebelum ini, saya
meminjam perumpamaan yang diberikan oleh Buddha, jika engkau
mencelupkan kotoran pada stoples kecil yang berisi air, maka air itu
terpaksa harus dibuang, tidak ada orang yang bisa minum air itu, namun
apabila engkau mencelupkan sejumlah kotoran yang sama ke sebuah sungai
besar, masyarakat dari kota tetap bisa minum dari sungai itu, karena
sungai itu begitu sangat luas. Sungai itu tidak menderita hanya
gara-gara segumpal kecil kotoran, air dan lumpur di sungai itu hanya
membutuhkan satu malam untuk merubah segumpal kecil kotoran itu. Jadi,
jika hatimu sebesar sungai itu, engkau akan sanggup memikul seberapa
besar maupun kecil ketidakadilan dan engkau tetap bisa hidup dengan
kebahagiaan, dan engkau sanggup melakukan transformasi ketidakadilan
itu hanya dalam waktu satu malam. Jika engkau menderita, itu berarti
hatimu terlalu kecil. Ini merupakan cermaah tentang kesabaran dalam
ajaran Buddha. Engkau tidak mencoba-coba untuk memikulnya, engkau tidak
membekap penderitaanmu, engkau hanya berlatih untuk membesarkan hatimu
sebesar sungai, kemudian engkau tidak perlu memikul dan juga tidak
perlu menderita.

Ada banyak cara untuk membesarkan hatimu,
caranya yaitu dengan melihat secara mendalam untuk memperoleh
pengertian. Pada saat engkau mengerti, belas kasihmu akan timbul, dan
belas kasih itu akan memperkenankanmu terus berjalan, tidak menderita,
tidak melihat orang lain dengan mata penuh kejengkelan dan kebencian.
Inilah praktik kesabaran yang sesungguhnya, engkau tidak perlu
menderita. Kesabaran dalam konteks ajaran Buddha adalah tidak mencoba
untuk menelan atau membekap ketidakadilan, namun mencoba untuk memeluk
seluruh ketidakadilan dengan menggunakan hati besarmu. Jadi, setiap
hati engkau harus pergi ke hatimu, sentuhlah hatimu, tanyalah padanya,
“Hatiku, sayangku, apakah engkau sudah sedikit tumbuh lebih besar
setelah satu malam berlalu?” Kita berkunjung ke hati setiap hari untuk
melihat apakah hati kita masih terus tumbuh tanpa batas, tumbuh menjadi
mulia. “Hati yang tumbuh” merupakah istilah yang digunakan oleh Buddha
ketika beliau mengajarkan tentang empat pikiran tak terukur.

Hati
belas kasihmu menjadi semakin besar, tumbuh semakin besar setiap waktu,
hati cinta kasihmu, hati suka citamu, hati kesetaraanmu. Oleh karena
itu paramita diterjemahkan sebagai “titik tertinggi, batas” yang juga
berarti tidak ada titik lebih tinggi atau melebihi batas ini, seperti
titik paling utara atau selatan yang disebut kutub utara atau kutub
selatan. Inilah titik tertinggi, inilah batasnya, namun bagaimana belas
kasih, cinta kasih, suka cita, dan kesetaraan kita bisa tahu bahwa
tidak ada batas, oleh karena itulah empat pikiran ini disebut empat
pikiran tak terukur, karena pikiran ini akan terus berkembang dan
berkembang tanpa berhenti. Mereka tumbuh membesar menjadi sebesar
sungai, kemudian menjadi samudra, kemudian terus tumbuh. Semakin besar
hatimu, maka kemampuan memikul dan menerima ketidakadilan tanpa
mengalami penderitaan.

Beberapa hari setelah Kinh Tam menerima
bayi itu, dia mencoba untuk merawat dan memberikan makan, kemudian
gurunya memanggilnya, “Anakku, mengapa engkau melakukan hal demikian?
Engkau tidak tidur dengan perempuan itu dan bayi ini bukanlah bayimu,
mengapa engkau menerimanya? Perbuatanmu tampaknya tidak memberi
reputasi baik bagi Sangha.” Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan
seandainya saya sendiri adalah gurunya, saya tidak tahu harus bertindak
apa terhadap dia, takut marbat jatuh. Namun Kinh Tam bersujud di
hadapan gurunya dan menjawab, “Guruku, aku sudah belajar dari sutra
bahwa jika seseorang membangun stupa tujuh tingkat, dan jika seseorang
membangun seribu stupa, kebajikan yang tidak sepadan dengan perbuatan
menyelamatkan kehidupan makhluk hidup. Oleh karena itulah saya menerima
bayi ini dan mencoba untuk merawatnya.” Inilah yang dijawab oleh
samanera muda itu kepada gurunya.

Samanera itu meninabobokan
bayi itu, kadang-kadang ada masyarakat yang mendengar suara lonceng
besar dan lantunan gatha, “Dengar-dengar, bunyi nan indah ini membawaku
kembali kepada diriku yang sesungguhnya. Semoga bunyi lonceng ini
menembus ke dalam kosmos…,” dan sebagainya, dan pada kesempatan lain
masyarakat juga bisa mendengar, “Bayiku, tidurlah, tidurlah dengan
nyenyak…” Dua hal demikian silih berganti terdengar. Saya percaya bahwa
samanera itu berlatih dengan tekun, menyanyikan nina bobo sebaik
melantunkan gatha, karena dua hal tersebut mengandung cita rasa dharma
di dalamnya.

Ketika anak laki-laki itu tumbuh cukup besar, Kinh
Tam sakit keras, dan dia tahu akan segera meninggal dunia dalam
beberapa hari ini, jadi dia menulis surat untuk orang tuanya dan dia
menulis alamat lengkap di surat itu, dia meminta anak laki-laki itu
pergi ke desa asalnya dan memberikan surat itu kepada orang tuanya
setelah ia meninggal dunia. Dia juga menulis sepucuk surat untuk
gurunya, jadi ada dua pucuk surat. Setelah Kinh Tam meninggal dunia,
anak laki-laki itu melakukan semua tugasnya, dia memberikan surat itu
kepada gurunya dan kemudian memohon izin untuk pergi ke desa asal Kinh
Tam dan memberikan surat untuk orang tuanya. Setelah membaca surat itu,
gurunya sangat terkejut dan meminta dua orang biksuni untuk memeriksa,
dan dua orang biksuni itu melaporkan bahwa samanera itu ternyata adalah
bukanlah laki-laki, namun seorang perempuan. Semua masyarakat sangat
terkejut, sang guru mengirim kabar kepada sesepuh desa, kepala desa
sangat terkejut juga. Mereka mengadakan pertemuan dan mengirim delegasi
ke wihara untuk melakukan verifikasi. Setelah proses verifikasi, para
sesepuh desa mengumumkan fakta sesungguhnya dan kemudian meminta
keluarga Mau untuk tanggung jawab.

Keluarga Mau harus membayar
denda sangat mahal kepada masyarakat, membiayai seluruh proses upacara
kematian di wihara. Kisah ini tercatat jelas dalam puisi bahasa
Vietnam, bahkan kita juga punya dua pucuk surat lengkap itu. Kinh Tam
memohon orang tuanya untuk memaafkannya, memohon maaf karena tidak
memberikan kabar atas keberadaanya, hanya karena ia ingin berlatih
dengan sungguh-sungguh sebagai seorang monastik, Kinh Tam mengisahkan
bahwa dia tidak hanya berlatih untuk dirinya sendiri saja namun ia
berlatih demi seluruh keluarga dan seluruh makhluk, dia berharap semua
orang memaklumi dan memaafkannya, kemudian memohon keluarganya untuk
menerima anak lelaki itu dan menjadikannya bagian dari keluarga
walaupun dia anak yang diadopsi. Orang tua Kinh Tam menangis dan terus
menangis, sudah sekian tahun tidak ada kabar apa pun darinya, tiba-tiba
pagi itu menerima surat yang memberitakan bahwa ia telah tiada, mereka
tidak bisa menahan tangisannya, mereka bergegas berangkat ke Wihara
Phap Van, mereka juga memberitahu keluarga mantan suaminya, dan Sung
Tin ikut berangkat. Mereka menghabiskan beberap hari untuk tiba di
Wihara, mereka melihat umbul-mbul yang bertuliskan nama anaknya,
upacara kematian dengan prosesi sangat panjang, seluruh warga
masyarakat datang menghadiri upacara itu, mereka sangat tesentuh dan
tak bisa menyembunyikan tangisannya.

Apabila engkau berlatih,
berlatihlah seperti itu, cara yang sangat sempurna berlatih dengan
demikian. Walaupun ketidakadilan jatuh padamu, engkau tetap punya
energi untuk berlanjut di jalur itu. Engkau tidak menyalahkan orang
lain atas penderitaanmu. Berlatih seperti itu merupakan latihan nyata.
Ketika keluarga Kinh Tam tiba, mereka ikut dalam upacara kematian dan
diterima sebagai tamu luar biasa oleh wihara dan warga desa, setelah
itu seluruh warga masyarakat mengadakan upacara pelimpahan jasa kepada
Kihn Tam dan berlatih giai oan. Giai oan berarti “membuka simpul
ketidakadilan” dan dikisahkan pada akhir cerita itu bahwa Buddha muncul
dan menyatakan bahwa Kinh Tam telah mencapai pencerahan, dan sekarang
dia memanifestasikan diri sebagai Avalokiteshvara, namanya Quan Am Thi
Kinh. Dia merupakan Avalokiteshvara Vietnam dan hampir semua orang
Vietnam tahu kisah ini. Di wihara, bahkan banyak orang menghapal puisi
itu dan menjadikan teladan sempurna untuk berlatih kesabaran.

Ada
suatu waktu, kita semua merasa menjadi korban dari ketidakadilan, kita
begitu menderita, bahkan ketidakadilan yang disebabkan oleh orang yang
paling kita cintai, kita ingin menjernihkan ketidakadilan itu, bahkan
kita ingin berteriak. Kita ingin berlatih untuk membuka simpul yang
telah kita pikul sejak lama di masa lalu. Oleh sebab itu kita selalu
siap berbicara dengan orang lain tentang penderitaan dan ketidakadilan
yang kita pikul. Mungkin di dalam lubuk hati kita yang paling dalam,
kita ingin keadilan hadir dengan berbagai cara, mungkin kita
menggunakan cara militer sebagai solusi, kadang kita ingin menggunakan
senapan, kadang kita menggunakan kayu pemukul, kadang kita menggunakan
angkatan bersenjata. Sebagai sebuah negara, apabila engkau merasa
menjadi korban dari ketidakadilan, engkau tergoda untuk menggunakan
kekuatan militer sebagai solusinya, namun engkau bukanlah sebuah
negara, engkau condong menggunakan cara lain untuk membalas dendam,
menggunakan kayu pemukul, membayar orang lain untuk memukul,
menggunakan senapan, atau engkau memanipulasi situasi, engkau
menggunakan pengaruh politik untuk memperbaiki ketidakadilan yang
terjadi padamu.

Namun, berdasarkan ajaran Buddha, engkau hanya
bisa meluruskan ketidakadilan dalam dirimu dan menembus ketidakadilan
dalam dirimu dengan cara melakukan transformasi ketidakadilan. Caranya
adalah dengan berlatih empat pikiran tak terukur, maitri yaitu cinta
kasih, karuna yaitu belas kasih, mudita yaitu suka cita, dan upeksha
yaitu kesetaraan, dan untuk menumbuhkan empat kualitas ini, engkau
perlu berlatih melihat secara mendalam, yaitu tenang (samatha) dan
melihat (vipasyana). Engkau mencoba sebaik-baiknya untuk tetap tenang
dan terkonsentrasikan. Engkau berupaya untuk melihat secara mendalam
sifat asli penderitaan, dan tiba-tiba pengertian bisa hadir dan hatimu
mulai membesar. Tiba-tiba engkau merasa ada kekuatan untuk memikul
ketidakadilan, engkau bisa tetap bertahan hidup, engkau bisa hidup
bersama ketidakadilan, dan engkau bisa mentransformasi ketidakadilan.

Buddha
bersabda bahwa apabila engkau terpanah oleh sebuah panah, maka engkau
menderita, namun apabila panah kedua ke titik yang sama, maka engkau
tidak hanya menderita dua kali lipat, tapi bisa jadi tiga puluh kali
lipat lebih sakit. Ketika engkau menderita dan engkau akan marah,
penderitaanmu tidak hanya berlipat ganda, tapi bisa berlipat tiga puluh
kali lebih besar. Engkau memperbesar penderitaanmu melalui
ketidaktahuan, kemarahan, frustasi, dan kebencianmu. Mengapa engkau
begitu menderita? Mengapa engkau rela menerima panah kedua? Ketika
panah pertama, apabila engkau punya latihan dan pengertian, engkau
tidak akan begitu menderita dan engkau bisa mencabut panah itu dengan
cepat, namun ketidaktahuan, kurang latihan, kita menjadi marah, benci,
putus asa menguasai kita, oleh karena itulah penderitaan sungguh tak
bisa ditahan. Ajaran Buddha ini tercatat dalam Samyutta Nikaya
(Samyutta Nikaya: 4: 210) tentang panah pertama dan kedua, panah kedua
adalah ketidaktahuan.

Pada hari sebelumnya kita menggunakan
perumpamaan seorang anak kecil yang merobek kupu-kupu, anak kecil itu
tidak tahu bahwa dia sedang menyebabkan begitu banyak ketidakadilan dan
penderitaan pada kupu-kupu itu. Anak kecil itu hanya ingin
bermain-main, dia tidak tahu bahwa merobek kupu-kupu akan menyebabkan
derita besar bagi serangga itu. Anak kecil itu berbuat demikian karena
ketidaktahuannya, ketika kita memberitahu kepada anak kecil itu,
“Sayangku, tahukah kamu kalau kupu-kupu kecil ini tidak bisa pulang
bertemu orang tuanya? Bagaimana kalau kamu tidak bisa pulang ke rumah
bertemu orang tuamu malam ini? Orang tuamu akan sangat kuatir.” Apabila
engkau memberitahu anak kecil dengan cara demikian, maka lain kali
mereka tidak akan merobek serangga lagi dengan kedua tangganya. Anak
kecil akan bisa melindungi kehidupan. “Tuhan, maafkanlah mereka karena
mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.” Manusia menyebabkan
manusia lain menerita, mereka tidak tahu apa yang sedang mereka
lakukan, mereka melakukan itu atas dasar kemarahan dan kebencian,
mereka tidak punya kebahagiaan dalam dirinya, mereka terbungkus oleh
ketidaktahuan, kebencian, kemarahan, oleh karena itu mereka membuat
orang disekelilingnya menderita. Kita juga bisa melakukan hal demikian
namun kita tidak sadar.

[Gong]

Hal demikain terjadi dari
waktu ke waktu, di setiap tempat, seseorang akan menggunakan senapan
untuk membunuh orang di pasar, di sekolah tinggi, tiba-tiba muncul
seorang anak yang membawa senapan, kemudian membunuh tiga, empat, lima
siswa tak ada alasan jelas. Anak perempuan, anak laki-laki berangkat ke
sekolah seperti biasa dan pagi itu anakmu terbunuh oleh orang tidak
waras itu. Ini satu bentuk ketidakadilan dan engkau akan menyimpan
kebencian besar terhadap orang tidak waras itu, jika engkau melihat
secara mendalam ke orang itu, sesungguhnya orang itu penuh dengan
ketidawarasan, ketidaktahuan, kebencian akibat dari penyakit kejiwaan.
Ketika seorang pria memegang senapan menembak orang membabi buta, tentu
saja ada alasannya, orang seperti itu tentu saja bisa ditemukan di
dunia ini, bagaimana mungkin mereka menjadi seperti itu? Bagaimana
keadaan keluarganya, bagaimana masyarakat sekitarnya? Bagaimana
pendidikannya? Apakah ada orang yang merawatnya? Tentu saja kita akan
berupaya keras untuk menghentikan tindakan dia membunuh orang lain,
kita terdorong untuk segera bertindak agar dia tidak bisa terus melukai
orang lain, bahkan terpaksa harus mengunci dia di sel penjara, kita
harus melakukannya, namun kita perlu melakukannya dengan penuh
pengertian dan belas kasih. Kita tidak melakukannya dengan penuh
kemarahan atau kebencian, kita melakukan itu bukan atas dasar niat
menghukum orang itu, namun karena orang itu sangat menderita.

Terjemahan bebas oleh Nyanabhadra

Sumber:
Transcending Injustice
http://www.abudhistlibrary.com



      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke