From: Yona <[email protected]>
Subject: MENCINTAI DGN TULUS
To:  [email protected]
Date: Thursday, February 5, 2009, 1:52 AM


VIHARA AVALOKITESVARA
JL.Mangga Besar No.58
Jakarta Barat
 
MENCINTAI DENGAN TULUS
Oleh : Suhu Dutavira Sthavira


A adalah orang tua yang kaya raya. Ia gemar menyimpan permata dan berlian sejak 
usia muda. Kini dikala usia senja istrinya telah meninggal dunia dan ketiga 
anaknya tinggal diluar negeri. Ia ditemani oleh B, seorang pemuda yang dengan 
senang hati melayani A diusia senja, menjadi ajudan pribadi, sekretaris, supir 
, teman ngobrol dan lain-lain.

Ketiga anak A tidak menyukai kehadiran B. Mereka berpesan agar A waspada 
terhadap B, karena B hanya seorang pegawai, kebaikan B tidak tulus. Ketika A 
meminta anaknya untuk tinggal di Indonesia untuk menemaninya, mereka semua 
tidak mau.

Pada suatu ketika A meninggal dunia dan meninggalkan warisan. Dalam surat 
wasiat A  menulis surat , " C,D,E adalah anak-anakku, tetapi B juga telah 
kuanggap sebagai anakku, karena B yang sungguh-sungguh memperhatikan ku. Oleh 
karena itu semua hartaku yang bergerak,seperti deposito dibank, emas,  permata 
kuberikan kepada B. Harta yang tidak bergerak, rumah , kantor, pabrik, 
kuberikan kepada tiga anakku secara rata." Ketiga anaknya sangat terkejut 
membaca surat wasiat itu. Mereka marah, akan tetapi surat wasiat sah secara 
hukum, nasi telah menjadi bubur.

Teman-teman se Dharma , maitri-karuna / cinta kasih yang diajarkan Buddha 
adalah memberi tanpa pamrih, bukan ingin memiliki, apalagi menguasai, karena 
akan timbul kemelekatan dan tidak akan menjadi kebahagiaan. Bila anda 
menyayangi seseorang , baik itu ayah, keluarga , teman, bahkan pekerjaan 
sekalipun, anda tidak cukup hanya memikirkan atau berbicara saja, anda harus 
melakukan dalam perbuatan nyata, mencintai dengan setulus hati, dengan cara : 
memberikan perhatian, membantu , melayani, memberikan saran yang terbaik tanpa 
memaksakan kehendak. Memberi adalah kebahagiaan yang tertinggi. Bila karma baik 
masa lalu tidak  mendukung, kebaikan anda kurang mendapat penghargaan dan anda 
tidak dapat  menikmati buah dari kebaikan anda, akan tetapi yakinlah kelahiran 
yang akan datang anda akan mendapat karma yang baik yang berlimpah.

Memang sangat ironis, bila kita menghargai seseorang yang telah tulus berbuat 
baik kepada kita setelah ia meninggal dunia. Untuk itu manusia harus bisa sadar 
diri, ingat budi dan berusaha membalas budi dengan sebaik-baiknya. Marilah kita 
hidup di jalan ke Buddhaan  dan menjadi Bodhisattva yang muncul di bumi. 
Omitofo 
 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke