The Power of Mind
A Tribute for my MOM

Ini cerita sewaktu mama saya masih ada.  Saat aku ajak ke Jakarta dan
tinggal bersama aku, Mama memiliki keluhan penyakit kulit. Yakni
kulitnya suka bentol-bentol kayak alergi.

Kalau saya tak salah, penyakit ini cukup lama Mama pikul. Saya tak
tahu mulai kapan. Karena sejak umur 7 tahun, aku  tak ikut mama.
Melainkan tinggal dengan Tuako-adik perempuan paling besar dari Papa.

Kakak saya yang paling besar merantau sejak umur belasan. Sedangkan
Papa meninggal saat saya bayi. Jadilah Mama hanya tinggal bertiga
dengan kakak saya kedua (perempuan) dan kakak ke tiga (laki-laki) di
pedalaman Jambi.

Karena ketidakcocokan dengan paman, dilain pihak prestasi belajar yang
bagus, rutin juara kelas di SMPN 12 Jambi, menginjak kelas 3 SMP aku
dikirim ke Yogya, ikut anak bibi. Maksud Bibi, supaya saya bisa
sekolah sambil kerja di toko besi anaknya.

Semenjak di Yogyakarta, Praktis hubungan aku dengan Mama kian jauh.
Kalau masih di Jambi, bila liburan aku bisa ke tempat Mama, kini tidak
lagi. Praktis aku disibukkan sekolah dan membantu anak bibi yang
workaholic, pekerja keras. 

Pagi jam tujuh sekolah sampai jam 12.30. Jam 1 siang aku sudah di toko
besi grosiran di Bringharjo sampai jam 6 sore. Malamnya, aku pulang ke
rumah merangkap gudang di daerah Pingit. 

Yang namanya gudang, apalagi anak bibi workaholic, seringkali kita
masih bekerja sampai jam 2 pagi menyusun barang. Yang namanya barang
besi tahu sendirilah, betapa beratnya peti-peti palu, cangkul,
kunci-kunci, baut, kaleng cat dan sohib-sohibnya. 

Yah, mungkin karena mental tak siap, juga punya bakat membandel, hehe,
sebulan berselang aku cabut alias kabur dari tempat anak bibi. Aku
mencari kos di belakang gudang anak bibi, yang masih aku ingat, cuma
Rp.10 ribu per bulan.

Demikianlah, sejak itu hingga kini, kediaman resmiku tak jauh dari
kamar kos berukuran dua kali tiga, termasuk waktu tinggal di kuti
biku,hehe. 

Selama tiga tahun, untuk bertahan hidup aku dikirimi kakak kedua yang
buka warung kelontong di Jambi sebulan Rp.30 ribu. Rp.10 ribu buat
bayar kos. Bayar uang sekolah di SMPN12 Yogyakarta Rp.1000 sebulan.
Sisanya RP.19 ribu.

Sebagai gambaran, tahun 1986 makan di warung nasi pakai telor sepiring
250,- Sehari makan tiga kali jadinya RP.750. Dikalikan 30 hari sebulan
hasilnya RP.22.500. 
Kesimpulannya kiriman kakak saya tak cukup, ada defisit Rp.3.500,
itupun untuk standar makan minimun belum termasuk kebutuhan tetek
bengek lain.

Untuk mengatasinya, setelah konflik batin mendalam dengan muka badak
menahan malu, aku yang berumur 16 tahun saat itu, minta kerjaan lagi
pada anak bibi. Masuknya sepulang sekolah, tak iku kerja di gudang
malam hari, kata aku. 

Beliau setuju. Seminggunya aku dikasih Rp.5000,- lumayanlah, hehe, 
buat nutup defisit.

Karena kondisi ini harap maklum, nantinya sekolah aku kacau beliau.
Meski sukses lulus SMPN 12 dan diterima di SMUK de Britto yang
muridnya laki-laki semua, tapi inilah awal kekacauan hidup dan
kepribadian aku, sampai harus menamatkan SMU selama 6 tahun, 2 tahun
di de Britto 4 tahun di SMUN 9, weleh weleh weleh.

Tapi aku ikut anak bibi aku hanya 3 tahun. Aku dikirimin uang juga
hanya 3 tahun itu. 
 Tahun-tahun berikutnya, sambil sekolah aku memiliki dua usaha taman
bacaan kakilima di depan Rumah Sakit Panti Rapih dan tiga pegawai yang
adalah teman-teman sekolah saya.

Kembali pada cerita tentang Mama saya. 

Sudah pasti, karena tak tumbuh bersama Mama, aku tak memiliki hubungan
emosional dengan Mama. Perasaan memiliki tak ada. Oleh kenaipan dan
pemikiran usia puber, mungkin juga karena rusak dimanja waktu balita,
aku justru menyalahkan Mama atas kondisi aku.

Sehingga, saya  terlalu masa bodoh atas kondisi Mama di daerah. Hanya
sekali-kali aku pulang ke daerah dengan gaya backpacker. Di saat
itulah, aku sering melihat Mama mengoles tubuhnya dengan arak, karena
tubuhnya bentol-bentol alergi.

“Kenapa, Ma?”

“Gatel, ga tau kenapa, nggak sembuh-sembuh” kata Mama.

“Oh…” kata aku dengan mulut bulat tanpa dilandasi semangat berbakti
dan jiwa bhodisattva, mencari solusi untuk Mama. Seolah that’s not my
problem, that’s outside of me.

Hari terus berjalan. Aku sudah menjadi wartawan majalah remaja kesohor
di Jakarta. Aku memiliki pacar, mencintai pacar saya lebih dari
segalanya. Bahkan, Mama tak ada apa-apanya dibandingkan kekasih hatiku. 

Kakak perempuan saya bilang, pulang ke Jambi seminggu aku telah sibuk
menulis surat ke pacar di Jakarta. Sementara puluhan tahun di rantau,
surat yang aku kirim pulang bisa dihitung dengan jari (waktu itu belum
ada hp).

Seiring waktu berjalan, mungkin karena pemahaman Buddha Dharma yang
lebih baik, aku mulai melihat ada yang salah dalam hubunganku dengan
Mama. Terutama saat membaca buku Sutrabakti Seorang Anak, dan
mengetahui keniscayaan membalas budi ibu,  lulu lantaklah hati ini. 

Apalagi ketika aku sudah rutin meditasi di ruang meditasi Ekayana,
yang pertamanya untuk memakai ruang itu harus kucing-kucingan dengan
Awi yang front officer, karena masih orang baru di Ekayana.

Terkadang saat sedang meditasi seorang diri, bayangan Mama suka
melintas. Terbayang akan kesulitan yang beliau pikul saat melahirkan
kami berempat, saat ia harus membesarkan kami yang masih kecil tanpa
suami, saat ia harus kucing-kucingan menjual nomor buntut, saat ia
harus menjadi pencuci baju, saat ia harus berjalan berkilo-kilo meter
menagih utang kode buntut yang itupun suka tak dibayar, atau saat ia
harus menggelar dagangan kaki lima di depan sekolah. 

Belum lagi disertai cercaan dari orang-orang yang bisanya hanya
mencerca. Aku tahu Mama tak memiliki tempat mengadu. Papa telah tiada
sejak aku bayi. Mungkin Mama hanya bisa mengadu pada sepi, atau
menangis di depan altar Kuan Im saat sembahyang di Vihara Sakyakirti
Jambi.

Membayangkan wajah mama di foto yang mudanya sangat cantik, yang kini
telah tua, bongkok dan beruban diiris waktu dan penderitaan,  air mata
ini mengalir deras dari kedua pelupuk mata saya. Aku bisa menanggis
terisak-isak dalam remang ruangan meditasi di depan altar Guru Buddha.

Berangkat dari situlah, dan dari contoh seorang teman yang sangat
berbakti pada mamanya, aku mulai memperbaiki hubungan dengan Mama. Aku
coba memeluk dia, aku coba mencium dia, sesuatu yang sangat asing
dalam hidup aku, karena tumbuh sendiri di alam bebas. Mula-mula semua
berjalan aneh. Namun seiring waktu, kekakuan yang ada mencair satu
persatu.

Perlahan tapi pasti, hubungan dengan Mama kian dekat, yang bahkan
Bhante Aryamaitri terkasih pernah bercerita, sangat tersentuh akan
kedekatan aku dan Mama, saat aku membawanya ikut kebaktian Minggu sore
 di Vihara Ekayana.

Aku membonceng Mama dengan motor dari kontrakan, menuntun Mama yang
beruban dan agak bongkok masuk vihara, lalu mengajarkannya tata cara
kebaktian dan melafahkan nama Buddha dengan metode paling sederhana,
yang mana tetap Mama lakukan tiap pagi sampai akhir hayatnya.

Tentang bentol-bentol yang ada di tubuh Mama pun, mulai menjadi
masalah aku. Semenjak membawanya ke Jakarta, aku mencarikan obat untuknya.

Oleh cerita Mama yang telah memakai banyak obat di Jambi dan tak
sembuh, dan keibaan melihatnya di kamar saat bentol-bentol alergi
datang, aku mulai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita yang
telah melahirkan aku dengan penuh kasih ini. 

Saat itulah, entah sadar atau tidak, aku berkata pada diriku sendiri
dalam hati, ‘kalau diijinkan, biarlah apa yang diderita Mama,
diberikan pada diriku. Aku siap menerima penderitaan yang dipikul Mama’

Aku tak tahu, obat itu yang manjur atau tekatku yang manjur. Setelah
pulang ke Jambi, aku dapat kabar dari Mama, penyakit yang sangat
menyiksanya telah hilang. Obat yang aku beli di Glodok sangat manjur,
katanya

Yah, aku ikut berbahagia atas kesembuhan Mama. Hanya aku tak
bercerita, kalau penyakit itu kini ada pada aku.

Suatu ketika, saat mengendarai motor di Jembatan Lima, saking besarnya
bengkak alergi di sekujur tubuhku, terutama di wajah, aku hampir jatuh
pingsan. 

Terutama bengkak-bengkak di wajah, membuat mataku hampir tak bisa
dibuka untuk melihat jalan. Padahal sebelumnya aku baru dari kantor
rekanan pekerjaan design graphic dalam kondisi baik-baik hingga
menjelang pulang.
 
Karena beranjak malam, bergegas aku mencari dokter terdekat. Yang aku
temukan adalah apotik di pinggir jalan. Dari apotik itu aku dirujuk ke
dokter praktek berjarak sepuluh meteran dari apotik itu.

Dengan segenap tenaga bersisa, aku mencari tempat praktek dokter itu.
Sampai di sana sudah banyak pasien yang antri. Tapi karena kondisiku
kritis, matanya yang sudah sipit makin sipit karena penbengkakan, aku
langsung dibawah ke ruang dokter.

Apa dinyana, setelah melihat tanganku yang membengkak dan membiru,
dokter itu angkat tangan. 

Kata dokter itu keracunan.

“Disuntik aja dok,” kata beberapa orang yang membawaku ke dalam.

“Tak bisa, tangannya bengkak dan membiru, kemarin ada yang kondisinya
begini disuntik mati” katanya, walah-walah.

“Jadi bagaimana, Dok?” Tanya aku.

“Ke rumah sakit saja, diinfus” katanya menyebut sebuah rumah sakit.

Mendengar nama rumah sakit, apalagi harus masuk rumah sakit, yang
tebayangkan adalah tumpukan uang yang tak pernah cukup. Jadi
prinsipnya jangan deh, sampai masuk rumah sakit. 

Tapi harus bagaimana? Ada beberapa orang yang coba memanggilkan taksi,
tapi aku menolak, karena memikirkan biaya dan nasib motor aku. 

“Ada saudaranya tidak?” tanya seorang wanita sambil mengeluarkan
hpnya, yang ditahun 99an itu termasuk barang mewah.

Aku ingat adik mama yang rumahnya tak jauh dari situ. Aku minta
meneleponnya,menceritakan kondisi aku dan minta dijemput, seingat aku
dia punya mobil. 

Sambil menunggu, oleh kondisi aku yang tak kuat, sementara dokter
menolak aku, aku mencari meja jualan pedagang makanan kaki lima yang
pedagangnya libur. 

Berbaringlah aku sendiri di situ. Di tepi jalan antara jembatan lima
dan jembatan dua, di tepi kali angke dibatasi trotoar dua arah. Karena
berpikir ini keracunan seperti kata dokter, aku membuka susu bubuk
yang aku beli di Mangga Dua, menelannya ditemani botol air yang selalu
aku bawa.

Sesaat kemudian, aku berbaring dalam diam, tapi aku tak tidur. 

Samar aku mendengar suara orang-orang yang tadi mengantre di dokter
praktik mendekat dan berbicara diantara mereka, “lihat, dia sudah tak
bergerak” yang disahut yang lain, “mungkin sudah mati?”

Mereka terus berbisik dari jarak antara. 

Anehnya, melihat tingkah mereka keisengan aku muncul, bukannya memberi
reaksi kalau aku belum mati seperti sangkaan mereka, aku malah makin
tak mau bergerak, biar mereka kian heboh menduga aku mati,hehe.

Sesaat ada beberapa orang yang berjalan mendekati aku. 

Wah, kalau ada yang mendekat beneran begini, aku batuk sajalah: “Hm.
Ehm,” memberi tanda aku belum mati. 

Mereka menjauh lagi, berbisik dari kejauhan lagi.

Malam kian larut. Aku mulai sadar tak mungkin dijemput adik mama,
karena jarak rumahnya dari tempatku cuma 15 menit, sedangkan aku telah
berbaring satu jam lebih di sini. 

Oleh kondisi mulai pulih, pembengkakan berkurang, aku melanjutkan
perjalanan dibawah tatapan orang-orang yang tadi mengawasi aku, ke
tempat adik mama.

Sampai di sana, A’I (adik mama) aku tak berkata apa-apa. Ia memintaku
berbaring di sofa ruang tamu, lalu menarik-narik urat di leher aku.
Setelah itu ia memberiku segelas teh pahit. 

“Kamu masuk anginnya udah kelewat parah,” katanya. Setelah itu aku
tertidur sebentar, untuk kemudian aneh bin ajaib setelah bangun
kondisiku membaik dan aku segera pamit.

Di awal tahun 2000, saat aku menjadi samanera (samanera milenium
ceritanya, hehe) penyakit ini awalnya masih suka muncul, terutama
kalau habis makan sayur jamur, pasti bentol-bentol. Namun untunglah,
kondisi ini bisa diatasi dengan meditasi anapanasati yang saat itu aku
praktekan. 

Dalam tempo setengah jam bisa lenyap. Maka sudah terbiasa bagi guruku
terkasih, Bhante Dharmavimala, kalau berpegian dengan beliau, aku suka
bermeditasi berselimutkan jubah menutupi sekujur tubuh dan wajahku
kalau bentol-bentol itu ‘bertamu’.

Aku lupa terakhir kali penyakit itu muncul, mungkin saat mengisi acara
waisak sekolah di Sunter, bersama Bhante Dharmavimala dan Bhante
Badraruci yang waktu itu masih samanera.


Batavia, 8 Februari 2009 (12:42 am)
Harpin


Sumber: http//harpin.wordpress.com


Kirim email ke