From: Yona <[email protected]>
Subject: [Fwd: [Fwd: FW: Bersyukur dan Bahagia]]
To: [email protected]
Date: Wednesday, February 11, 2009, 12:18 AM


 Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia. Beberapa cerita berikut ini 
menggambarkannya...

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir 
pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si sopir menjawab, "Cuaca 
hari ini adalah cuaca yang saya sukai." Merasa penasaran dengan jawaban 
tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa
begitu yakin?"

Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu 
mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang 
saya dapatkan".

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas 
hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa 
damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan 
senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang
dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada 
apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, 
pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang. Pikiran 
Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah 
yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih 
banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus 
memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya 
menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. 
Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi "kaya" 
dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya" 
bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati 
apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, 
tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat 
mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah 
lihat keadaan di se keli ling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. 
Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan 
orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, 
setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat 
membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat 
seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek 
berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan 
membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih 
beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih 
tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput 
tetangga memang sering keli hatan lebih hijau dari rumput di pekarangan 
sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien 
pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu." Seorang 
pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter 
menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si 
pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat 
penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, 
Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter 
kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. 
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena 
kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia 
menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, 
yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia 
karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, 
saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya yg 
telah meninggal."

Kirim email ke