Mencari Dan Membina Pasangan Hidup
« on:
20 August 2007, 03:01:38 PM »
Quote
Oleh: Bhikkhu Uttamo
Thera
Pertapaan
sebagai kondisi pengembangan batin sempurna amatlah terpuji; namun
perkawinan dengan seorang wanita (pria) dan setia kepadanya adalah
salah satu bentuk pertapaan juga. Poligami dikritik Sang Buddha sebagai
kegelapan batin dan menambah ketamakan.
(Anguttara Nikaya IV, 55)
PENDAHULUAN
Dalam
pandangan Agama Buddha, perkawinan adalah suatu pilihan bukan
kewajiban. Artinya, seseorang dalam menjalani kehidupan ini boleh
memilih hidup berumah tangga ataupun hidup sendiri. Hidup sendiri dapat
menjadi pertapa di vihara —sebagai bhikkhu, samanera, anagarini,
silacarini —ataupun tinggal di rumah sebagai anggota masyarakat biasa.
Hidup berumah tangga ataupun tidak hanyalah merupakan satu sarana untuk
mencapai kebahagiaan di dunia sebagai salah satu dari tiga tujuan
beragama Buddha.
Tiga tujuan itu adalah pertama, memperoleh
kebahagiaan di dunia; kedua, terlahir di salah satu dari dua puluh enam
alam surga setelah kehidupan ini dan ketiga, tercapainya Nibbana
sebagai tujuan tertinggi seorang umat manusia.
Sesungguhnya
dalam Agama Buddha, hidup berumah tangga ataupun tidak adalah sama
saja. Masalah terpenting di sini adalah kualitas kehidupannya. Apabila
seseorang berniat berumah tangga maka hendaknya ia konsekuen dan setia
dengan pilihannya, melaksanakan segala tugas dan kewajibannya dengan
sebaik-baiknya. Orang yang demikian ini sesungguhnya adalah seperti
seorang pertapa tetapi hidup dalam rumah tangga. Sikap ini pula yang
dipuji oleh Sang Buddha, seperti dalam syair di atas.
Namun,
apabila seseorang memutuskan untuk hidup membiara, menjadi bhikkhu,
samanera ataupun anagarini, maka hendaknya ia juga berjuang sekuat
tenaga untuk mencapai cita-citanya sekaligus memberikan pelayanan yang
terbaik kepada masyarakat. Dan, jika seseorang memutuskan untuk tidak
berumah tangga
serta tidak juga hidup membiara, ia hendaknya juga
dapat memberikan yang terbaik kepada masyarakat sekitarnya ketika ia
masih dalam usia produktif dan tidak merepotkan lingkungan ketika sudah
habis usia produktifnya.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang
salah satu pilihan jalan hidup yaitu berumah tangga dan memiliki
pasangan hidup. Di sini akan diterangkan tentang cara mencari dan
membina pasangan hidup.
PERMASALAHAN
Dengan berbagai
macam alasan, banyak orang kebingungan mencari pasangan hidup. Selama
usia mudanya, bahkan mungkin sepanjang usianya, dipergunakan untuk
'berburu' calon pasangannya. Berbagai cara digunakan untuk mencapai
tujuan itu. Cara paling halus sampai yang sangat kasar dikeluarkan.
Apabila
ia telah berhasil mendapatkan pasangan hidup yang
diharapkan, sungguh terasa berbahagia hidupnya. Ia akan segera
melanjutkan hubungannya dalam ikatan perkawinan. Sebagai pasangan suami
istri baru, kebanyakan mereka jarang menjumpai masalah yang berarti.
Jika ada permasalahan pun akan dapat cepat
diselesaikan. Namun
sejalan dengan berlalunya sang waktu, masalah yang timbul pun bertambah
banyak. Sedikit saja terdapat perbedaan pendapat akan dapat menjadi
masalah besar. Percekcokan semakin ramai mengisi hari-hari
perkawinannya. Kebosanan timbul. Kejengkelan muncul. Akhirnya, kadang
timbunan permasalahan ini menyebabkan mereka putus hubungan perkawinan,
cerai.
Dalam benak mereka, perceraian adalah jalan keluar yang
terbaik. Ternyata, bukan. Masalah di antara suami istri memang mungkin
sedikit terpecahkan, tetapi timbul masalah baru pada diri anak-anak.
Mereka menjadi
korban. Sedangkan mereka tidak mengetahui dengan
jelas permasalahan sebenarnya yang terjadi di antara orangtuanya.
Mereka tidak bersalah. Mereka kecewa. Frustrasi. Akhirnya mereka dapat
terjebak dalam kenakalan remaja. Atau, kepahitan hidup yang ditemuinya
dalam usia dini ini akan memunculkan gagasan di bawah sadarnya: Takut
berumah tangga!
PEMBAHASAN
Agama Buddha dalam menguraikan
tujuan hidup manusia, disebutkan salah satunya tentang adanya
pencapaian kebahagiaan di dunia. Dengan demikian, pasti ada cara untuk
mencapai kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. Pasti ada pula
petunjuk dan cara-cara mendapatkan pasangan hidup yang sesuai serta
membina hubungan baik, mempertahankan komunikasi serasi setelah menjadi suami
istri.
Memang,
hal tersebut dapat diperoleh dalam Kitab Suci Tripitaka, Digha Nikaya
III, 152, 232 atau dalam Anguttara Nikaya II, 32. Diuraikan di sana
bahwa ada minimal empat sikap hidup yang dapat dipergunakan untuk
mencari pasangan hidup sekaligus membina hubungan sebagai suami istri
yang harmonis.
Keempat hal itu adalah:
1. KERELAAN = DANA
Konsep
berdana adalah konsep dasar dalam kehidupan ini. Dana berupa materi
maupun bukan materi akan mampu menghasilkan kedekatan hati. Reaksi ini
bersifat alami, termasuk juga dalam dunia binatang. Seekor kucing akan
muncul
kesetiaannya dengan orang yang selalu memberi makan kepadanya. Hal
serupa juga terjadi pada manusia. Tidak jarang kita jumpai seorang anak
lebih dekat dengan ibunya daripada dengan ayahnya. Kedekatan hati ini
timbul karena, pada umumnya, pengorbanan ibu kepada anak jauh lebih
besar daripada
seorang ayah. Oleh karena itu, sebenarnya tidak akan
ada kebahagiaan yang kita peroleh apabila kita tidak berusaha
mendapatkannya. Dalam Hukum Karma (Samyutta Nikaya III, 415) telah
disebutkan bahwa sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah
yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.
Dengan demikian, apabila kita ingin diperhatikan orang, mulailah dengan
memberikan perhatian kepada orang lain. Apabila kita ingin dicintai
orang, mulailah dengan mencintainya. Cinta di sini bukanlah
sekedar
keinginan untuk menguasai, melainkan hasrat untuk membahagiakan orang
yang dicintainya. Kualitas cinta ini seperti seorang ibu yang
menyayangi anak tunggalnya. Ia akan mempertahankan anak tercintanya
dengan seluruh kehidupannya. Ia akan melindungi anak tersayangnya dari
segala macam bahaya dan bencana. Ia akan memberikan segalanya demi
kebahagiaan anaknya. Ia akan rela memaafkan segala kesalahan anaknya.
Ia, bahkan, memberikan keakuannya; tidak ada istilah 'jaga gengsi'
dihadapan anaknya. Memang, dana yang paling sulit dalam hidup ini
adalah mendanakan keakuan kita sendiri.
Kemampuan berdana
keakuan dan perhatian ini dapat dilatih dengan berdana materi terlebih
dahulu. Dana materi lebih mudah dilakukan. Dana materi digunakan untuk
membentuk kebiasaan berpikir: Semoga semua mahluk berbahagia.
Apabila
dana materi telah menjadi kebiasaan, maka hendaknya kualitas diri ini
dikembangkan dengan latihan merelakan perhatian dan keakuan kepada
fihak lain. Hal ini menjadi lebih mudah karena memang konsep: 'Semoga
semua mahluk berbahagia' telah ada dalam diri kita. Sebagai tanda
berkurangnya keakuan
adalah timbulnya kesabaran, berurangnya iri hati dan banyaknya pikiran positif
dalam menghadapi segala bentuk kesulitan hidup.
Dalam
mencari dan membina pasangan hidup, kerelaan jelas amat diperlukan.
Kerelaan materi di awal perkenalan dapat dikembangkan dengan kemampuan
merelakan keakuan. Kerelaan keakuan ini berbentuk pengembangan sifat
saling pengertian. Saling memaafkan. Kesalahan pasangan hidup,
seringkali bukanlah
karena disengaja. Oleh karena itu, menyadari
kenyataan ini menjadikan seseorang lebih sabar dan rela memberikan
kesempatan berkali-kali kepada pasangan untuk dapat membangun kualitas
dirinya. Berilah pasangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Maafkanlah
kesalahan yang telah dilakukan. Kemarahan
bukanlah tanda cinta.
Kemarahan adalah tanda keakuan. Ingin segala harapannya terpenuhi.
Dengan kerelaan, orang akan lebih mudah mengerti serta menerima
kekurangan dan kelemahan orang lain. Sikap ini akan menjadi salah satu
tiang kokoh dalam menjalin hubungan dengan orang lain, khususnya dengan
pasangan hidup.
2. UCAPAN YANG BAIK/HALUS = PIYAVACA
Kemampuan
untuk mengutarakan segala perasaan dengan ucapan halus sesungguhnya
masih dapat dikategorikan berdana juga. Menghindari caci maki dan gemar
berdana ucapan yang menyenangkan pendengar akan sangat membantu
memperbanyak kawan. Semakin banyak kawan, akan semakin besar pula
kemungkinan
memperoleh pasangan hidup. Dalam dunia ini, siapapun pasti akan suka
mendengar kata-kata yang halus, termasuk pula pasangan hidup. Tidak ada
orang yang suka mendengar kata kasar, walaupun orang itu sendiri kasar
kata-katanya. Dengan kata halus tetapi berisi kebenaran akan menjadi
daya tarik yang kuat dalam mencari dan membina pasangan hidup.
Sampaikanlah
pujian kita pada pasangan hidup dengan kalimat yang menyenangkan.
Demikian pula, ucapkan kritikan pada pasangan hidup dengan bahasa yang
halus dan saat yang tepat, untuk menghindari kesalahfahaman. Perlu
direnungkan, menyakiti hati orang yang dicintai dengan kata-kata pedas
sesungguhnya sama dengan menyakiti diri sendiri. Sebab, orang tentunya
akan menjadi sedih apabila orang yang dicintainya juga sedang sedih.
* MELAKUKAN HAL YANG BERMANFAAT BAGINYA = ATTHACARIYA
Sekali
lagi berdana timbul dalam bentuk yang lain. Dalam pengembangan konsep
berdana, sudah ditekankan akan adanya pembentukan sikap mental: Semoga
semua mahluk hidup berbahagia. Demikian pula dengan pasangan hidup. Ia
adalah mahluk pula. Berarti, ia harus diberi kesempatan berbahagia
pula. Orang harus berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan pasangan
hidupnya. Sesungguhnya, kebahagiaan orang yang dicinta adalah
kebahagiaan orang yang mencintainya.
Dengan demikian, kalau di
atas telah diuraikan tentang kata yang halus sebagai sarana
membahagiakan pasangan hidup, maka sekarang lebih tegas lagi, berkenaan
dengan tingkah laku. Tingkah laku hendaknya selalu dipikirkan untuk
membahagiakan orang yang dicintai. Banyak pendapat umum yang menganggap
bahwa cinta adalah menuntut. Orang yang dicintai haruslah mampu
memenuhi harapan orang yang mencintai. Konsep ini sesungguhnya tidak
tepat. Sebab, apabila orang yang dicintai sudah tidak mampu lagi
memenuhi harapan, apakah ia kemudian diceraikan?
Oleh karena
itu, cinta sesungguhnya memberi, merelakan. Cinta mengharapkan orang
yang dicintai berbahagia dengan caranya sendiri, bukan dengan cara
orang yang mencintai. Jika konsep ini telah dapat ditanamkan dengan
baik dalam setiap insan, maka mencari pasangan hidup bukanlah masalah
lagi. Siapakah di dunia ini yang tidak ingin dibahagiakan?
Pola
pikir 'ingin membahagiakan orang yang dicintai' hendaknya terus dipupuk
dan dipertahankan termasuk dalam kehidupan perkawinan. Apabila bukan
pasangan hidupnya sendiri yang membahagiakannya, apakah seseorang akan
meminta orang lain untuk membahagiakan dirinya?
* BATIN SEIMBANG, TIDAK SOMBONG = SAMANATTATA
Pengembangan
sikap penuh kerelaan, ungkapan dengan kata yang halus dan tingkah laku
yang bermanfaat untuk orang yang dicintai hendaknya tidak memunculkan
kesombongan. Jangan pernah merasa bahwa tanpa diri ini segala sesuatu
tidak akan terjadi. Dalam konsep Buddhis, segala sesuatu selalu
disebabkan oleh banyak hal. Tidak akan pernah ada penyebab tunggal.
Demikian pula dengan adanya kebahagiaan seseorang, pasti bukan
disebabkan hanya karena satu orang saja. Banyak unsur lain yang
mendukung timbulnya kondisi
tersebut.
Keseimbangan batin
sebagai hasil selalu menyadari bahwa kebahagiaan adalah karena berbagai
sebab dan kebahagiaan muncul karena buah karmanya masing-masing akan
dapat menghindarkan seseorang dari sifat sombong. Kesombongan selain
tidak sedap didengar juga akan menjengkelkan calon maupun
pasangan
kita. Kesombongan mempunyai pengertian bahwa pasangan kita tidak mampu
melakukan apapun juga apabila tanpa kita. Kesombongan adalah meniadakan
usaha baik seseorang yang kita cintai. Perjuangan yang tidak dihargai
akan sangat menyakitkan. Kurangnya penghargaan yang layak akan
menimbulkan masalah besar dalam masa pacaran maupun setelah memasuki
kehidupan berumah tangga.
TAMBAHAN
Dalam usaha mencari
dan membina pasangan hidup, selain selalu berusaha melaksanakan empat
sikap di atas, hendaknya jangan melupakan adanya beberapa hal yang
perlu dijadikan pertimbangan. Hal ini apabila terpenuhi akan menjadi
faktor tambahan yang akan lebih membahagiakan kehidupan berumah tangga.
Terdapat empat faktor yang membuat rumah tangga lebih berbahagia. Empat
hal tersebut telah diuraikan dalam Anguttara Nikaya II, 60 yaitu bahwa
pasangan hendaknya memiliki kesamaan dalam Keyakinan (agama), Sila,
Kedermawanan, dan Kebijaksanaan.
a. Kesamaan keyakinan (agama)
Perbedaan
agama sering dianggap kecil oleh para pasangan baru. Muda-mudi apabila
diingatkan tentang hal ini pun seakan tidak percaya. Mereka meremehkan
adanya kenyataan ini. Padahal, perbedaan agama sering sudah menjadi
masalah pada saat pacaran. Setiap hari Minggu, pasangan menjadi sulit
menentukan akan mengikuti kebaktian di tempat ibadah yang mana. Ke
vihara atau ke tempat lain. Kadang mereka malah tidak pergi ke
mana-mana. Lebih parah lagi, mungkin, mereka memilih satu agama yang
sama sekali berbeda dengan agama yang telah mereka anut selama ini.
Sikap ini menunjukkan bahwa sering agama hanya dijadikan sekedar
pengisi kolom dalam KTP saja, bukan sebagai pedoman hidup yang penting
untuk diikuti.
Begitu pula apabila hubungan akan dilanjutkan
dalam ikatan perkawinan. Menentukan tempat pemberkahan pernikahan
menjadi beban ekstra mereka. Setelah memiliki anak pun masalah ini
masih terus berlanjut. Pasangan akan terus terlibat dalam diskusi
berkepanjangan dan mungkin perdebatan sengit tentang pembinaan agama
bagi keturunan mereka. Bahkan di ambang kematian pun masalah ini akan
timbul. Ketika seseorang sedang sakit keras, maka sering dijumpai ada
beberapa orang yang terus berusaha mengajak si sakit pindah ke agama
tertentu. Hal ini kadang justru membingungkan si sakit dan juga
keluarganya. Tidak jarang, setelah meninggal, masalah perbedaan agama
ini masih terus mengejar. Keluarga akan terlibat diskusi seru tentang
agama yang akan digunakan untuk upacara penyempurnaan jenazah,
sekaligus memilih tempat
pemakaman ataupun kremasi jenazah. Masalah
ini masih dapat ditarik lebih panjang lagi. Namun, intinya: perbedaan
agama dalam keluarga akan menambah masalah yang tidak perlu!
b. Kesamaan kemoralan (sila)
Apabila
agama telah sama yaitu Agama Buddha, maka hendaknya pasangan memiliki
keserasian dalam tingkah laku. Pasangan hendaknya selalu berusaha
bersama-sama melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis terdiri
dari lima latihan kemoralan yaitu usaha untuk menghindari pembunuhan,
pencurian,
pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan
(Anguttara Nikaya III, 203). Pelaksanaan kelima latihan kemoralan ini
akan banyak menghindarkan masalah dalam masyarakat dan rumah tangga.
Dalam segala lapisan masyarakat, pelanggaran kelima latihan kemoralan
ini akan dipandang sebagai kesalahan.
Pelaksana kelima latihan
kemoralan ini akan menjadikan seseorang diterima masyarakat dengan
baik. Pelaksanaan latihan kemoralan ini dalam rumah tangga akan
membebaskan seseorang dari rasa bersalah. Membuka wawasan komunikasi
yang baik. Menghindarkan saling curiga dan was-was di antara pasangan.
c. Kesamaan kedermawanan (caga)
Memiliki
watak kedermawanan yang sama dimaksudkan agar masing-masing individu
mengerti bahwa cinta sesungguhnya adalah memberi segalanya demi
kebahagiaan orang yang kita cintai. Selama sikap ini masih belum
tertanam baik-baik di pikiran setiap pasangan, masalah sebagai akibat
tuntutan agar
pasangan dapat memenuhi harapan kita akan selalu muncul.
d. Kesamaan kebijaksanaan (pañña)
Kesamaan
dalam kebijaksanaan diperlukan agar bila menghadapi masalah hidup,
pasangan mempunyai wawasan yang sama. Wawasan yang sama akan
mempercepat penyelesaian masalah. Perbedaan kebijaksanaan akan
menghambat dan memboroskan waktu. Pasangan membutuhkan waktu lebih lama
untuk adu argumentasi menyamakan sikap dan pola pikir terlebih dahulu
sebelum memikirkan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.
Kebijaksanaan yang dimaksud tentu yang sesuai dengan Buddha Dhamma.
Buddha Dhamma telah mengajarkan bahwa hidup ini berisikan
ketidakpuasan. Penyebab adanya ketidakpuasan ini hanyalah karena
keinginan sendiri yang tidak terkendali. Oleh karena itu, apabila
seseorang dapat mengendalikan keinginannya maka ketidakpuasannya pun
akan dapat segera diatasi. Lalu, akhirnya Dhamma memberikan jalan
keluar untuk mengatasi dan mengendalikan keinginan. Dengan memiliki
konsep berpikir seperti ini, maka tidak akan ada masalah yang tidak
dapat diselesaikan. Sesungguhnya, dengan melaksanakan hidup sesuai
dengan Dhamma, kebahagiaan pasti akan dapat dirasakan.
KESIMPULAN
1. Perkawinan adalah pilihan pribadi, bukan kewajiban dalam hidup.
2.
Terdapat satu 'jurus' dalam Agama Buddha yang dapat digunakan untuk
mencari pasangan hidup sekaligus membina hubungan baik setelah menjadi
suami-istri.
3. 'Jurus' itu terdiri dari: Kerelaan, Ucapan
yang lemah lembut, Perbuatan yang memberikan manfaat untuk orang yang
dicintai dan menghindari sifat sombong.
4. Tanamkanlah dalam pikiran: Kebahagiaan orang yang dicintai adalah merupakan
kebahagiaan orang yang mencintai.
5.
Sebagai tambahan untuk kebahagiaan rumah tangga, pasangan hendaknya
memiliki kesamaan agama, kemoralan, kedermawanan dan kebijaksanaan.
Dikutip dari Naskah Simposium Mencari Dan Membina Pasangan Hidup, Jakarta,
23 Nopember 1997.
Best Rgrds,
Tristina Ferdianty (Nana)
Purchasing Officer
PT Sinar Antjol B29
Ph. 021-69-11-777 ext 221
HP. 021-9293-6729
[Non-text portions of this message have been removed]