NIBBANA & ANATTA (2) Oleh: Nanavira Thera
Hal yang penting dicatat ialah bahwa kedua Unsur Kepadaman itu berupa 'penghancuran' atau 'pengakhiran'. Unsur Kepadaman Dengan Sisa adalah penghancuran nafsu, kebencian dan ketidaktahuan; penghancuran itulah yang disebut Unsur Kepadaman, bukan sisanya--daya batin/indriya--bukan pula sensasi yang bergantung padanya. (Seperti halnya, 'tidak adanya' penyakit disebut 'kesehatan', dan bukan tubuh itu sendiri, yang hanya dapat dikatakan 'memiliki kesehatan' atau 'menjadi sehat'.) Tambahan pula, penghancuran itu bersifat permanen, oleh karena nafsu, kebencian, dan ketidaktahuan yang telah lenyap tidak mungkin muncul kembali dalam hidup ini atau dalam hidup yang akan datang; dan juga, karena adanya ketiga hal itu diperlukan bagi munculnya penderitaan batiniah, maka penghancuran ini, Unsur Kepadaman ini, adalah "menyenangkan", dalam arti bahwa tidak adanya penderitaan batiniah adalah menyenangkan. (Penderitaan jasmaniah, seperti kita lihat, tidak terpengaruh selama daya-daya batin/indriya masih ada.) Pada Unsur Kepadaman Tanpa Sisa, sisanya--daya-daya batin/indriya--yang sebelumnya tidak hancur, sekarang hancur juga, dan kelima kelompok [pembentuk makhluk] akhirnya tidak muncul lagi. Unsur Kepadaman ini pun--pengakhiran yang terakhir--bersifat permanen, dan itu "menyenangkan" dalam arti tidak ada lagi perasaan apa pun sepenuhnya, baik batiniah maupun jasmaniah: "YM Saariputta berkata kepada para bhikkhu, 'Kepadaman itulah, para sahabat, yang menyenangkan; kepadaman itulah, para sahabat, yang menyenangkan.' Ketika ini dikatakan, maka YM Udayi bertanya kepada YM Saariputta, 'Tetapi apakah, Sahabat Saariputta, yang menyenangkan di sini, karena di sini tidak ada perasaan lagi?' 'Justru itulah, para sahabat, yang menyenangkan di sini, bahwa di sini tidak ada perasaan lagi.'" (Anguttara Nikaya,IX.34) Jadi, kedua Unsur Kepadaman itu tidak dinyatakan mengandung, atau terdiri dari, semua atau salah satu dari kelima kelompok; keduanya diungkapkan dalam pengertian 'tidak adanya' hal-hal yang tidak dikehendaki; keduanya permanen dan menyenangkan. Maka 'nibbaana', atau kepadaman, bersifat negatif seperti "minus tiga jeruk" bersifat negatif: tetapi seperti halnya ada seonggok buah jeruk sebelum kita bisa berkata "minus tiga jeruk", maka harus ada makhluk hidup yang penuh nafsu, kebencian dan ketidaktahuan, sebelum kita bisa berkata 'nibbaana'. 'Nibbana' bukan 'ketiadaan': itu suatu 'pengakhiran' dari proses eksistensi. "Bhavanirodho nibbaanam, bhavanirodho nibbaananti." "Kepadaman adalah pengakhiran keberadaan! Kepadaman adalah pengakhiran keberadaan!" (Anguttara Nikaya, X.6) Lalu, apakah ini bukan pemusnahan? Memang begitu tampaknya bagi setiap orang yang percaya bahwa ada sesuatu yang kekal abadi dan tak berubah, suatu diri yang menetap, yang akan dihancurkan: "'Bhante, mungkinkah ada kecemasan tentang ketiadaan secara batiniah?' 'Mungkin saja, bhikkhu,' kata Sang Bhagava. 'Bhikkhu, ada orang yang berpegang pada pandangan ini, "Itulah dunia, itulah diri; bila aku pergi, aku akan kekal, menetap, abadi, tidak berubah; dan seperti inilah aku akan tetap ada, selamanya." Ia mendengarkan Sang Tathagata atau siswanya mengajarkan Dhamma untuk mencabut sampai ke akarnya semua pandangan, prasangka, obsesi, dorongan, dan kecenderungan, untuk menenangkan semua faktor bentukan batin, untuk pelepasan semua landasan, untuk penghancuran keinginan, untuk padamnya gairah, untuk pengakhiran, untuk kepadaman. Terpikir olehnya, "Saya akan terputus! Saya akan musnah! Saya akan tidak ada lagi!" Ia bersedih hati, murung, meratap, dan memukuli dadanya dan menangis, ia jatuh ke dalam kebingungan. Demikianlah, bhikkhu, terdapat kecemasan tentang ketiadaan secara batiniah.'" (Majjhima Nikaya, 22) Hanya apabila dunia dari kelima kelompok tidak lagi dipandang sebagai 'diri' yang kekal dan tidak berubah (dan kita akan melihat bahwa gagasan tentang 'diri' hanyalah sekadar pandangan yang salah tentang kelima kelompok itu), hanya di situ kepadaman keberadaan tidak lagi tampak sebagai penghancuran 'diri'. Khotbah kedua Sang Buddha kepada kelima bhikkhu pertama, Anattalakkhana-sutta (Khandha Samyutta, 59), adalah salah satu Sutta terkenal, dan tidak seorang pun pada dewasa ini mempermasalahkan bahwa Sang Buddha secara tegas mengingkari adanya 'attaa', 'diri' atau 'roh', yang bersemayam di dalam kelima kelompok. Tetapi kepercayaan terhadap adanya 'diri' sangat kuat, dan sukar dilepaskan; dan banyak orang, dengan dilarang mencari 'diri' di dalam kelima kelompok, berharap dapat menemukannya di luar; dan kadang-kadang mereka berpikir bahwa 'nibbaana' tentulah mengandung, atau merupakan, 'diri'. Di dalam orang mengira bahwa 'nibbaana' adalah 'diri', terdapat dua kesalahan. Yang pertama dapat dilihat dari teks ini: "Para bhikkhu, bila ada petapa dan brahmana yang berpikir tentang 'diri' dalam berbagai bentuk, mereka semua berpikir dalam kaitan dengan kelima kelompok kelekatan atau salah satu darinya." (Khandha Samyutta, 47) Semua pikiran tentang 'diri'--entah si pemikir menyadarinya atau tidak--selalu berkaitan dengan kelima kelompok kelekatan; dan berpikir bahwa 'nibbaana' adalah 'diri' berarti berpikir bahwa 'nibbaana' terdiri dari satu atau lebih dari kelima kelompok ini. Kesalahan kedua adalah percaya bahwa sesungguhnya ada yang disebut 'diri'. Teks berikut tidak meninggalkan keraguan lagi mengenai hal itu: "'Jika, Aananda, ketika ditanya, "Apakah 'diri' ada?", saya menjawab petapa-kelana Vacchagotta, "'Diri' ada"; apakah itu sesuai dengan pengetahuan yang kumiliki, "Segala sesuatu 'bukan-diri'"?' 'Tidak, Bhante.'" (Avyaakata Samyutta, 10) Apa pun makna dari "sabbe dhammaa anattaa" (yang akan dibahas belakangan), suatu jawaban pembenaran terhadap pertanyaan, "Apakah 'diri' ada?" tidak akan sesuai dengan pengetahuan Sang Buddha. Jadi jelas sekali bahwa orang tidak bisa berkata "nibbaana adalah 'diri'". Tergantung apakah ada air atau tidak, sehelai kain mungkin basah atau kering; tanpa ada kemungkinan ketiga: dan tampaknya alternatif ini berlaku bagi semua benda. Segala sesuatu yang tidak basah tentu harus kering; segala sesuatu yang tidak kering tentu harus basah. Demikian pula dapat dipikirkan, segala sesuatu yang bukan 'attaa' haruslah 'anattaa', dan segala sesuatu yang bukan 'anattaa' haruslah 'attaa'. Oleh karena kita tidak bisa berkata, "nibbanaa adalah attaa", maka 'nibbaana' haruslah 'anattaa'. Tetapi seandainya dibuat lubang pada kain itu dengan menggunting sepotong kecil bahan dari tengah kain itu: sekalipun kain itu sendiri seharusnya kering atau basah, lubang itu sendiri bukanlah kering atau basah. Sebuah lubang adalah sesuatu yang negatif, suatu ketiadaan dari suatu substansi material--dalam hal ini serat-serat katun--dan kita tidak dapat mengenakan kepadanya sifat-sifat, seperti kering atau basah, yang sebenarnya hanya berlaku bagi substansi material yang aktual. 'Nibbaana', seperti sebuah lubang pada kain, adalah sesuatu yang negatif, suatu ketiadaan dari apa yang sebelumnya ada; dan 'attaa' atau 'anattaa' sebenarnya hanya dapat dikenakan--'attaa' secara salah, dan 'anattaa' secara benar--terhadap kelima kelompok yang ada (yang positif). Upaya untuk mengenakan sifat-sifat ini kepada 'nibbaana' akan menghasilkan absurditas, seperti mungkin kita lihat bila Anattalakkhana Sutta (Khandha Samyutta, 59) diplintir dengan menggunakan 'nibbaana' menggantikan kelima kelompok: "'Nibbaana', para bhikkhu, adalah 'bukan-diri'. Oleh karena, para bhikkhu, jika 'nibbaana' adalah 'diri', maka 'nibbaana' tidak akan menghasilkan penderitaan, dan orang akan bisa memperoleh dari 'nibbaana', "Biarlah 'nibbaana'-ku begini, biarlah 'nibbaana'-ku tidak begitu." Sesungguhnya, para bhikkhu, 'nibbaana' adalah 'bukan-diri'; maka 'nibbaana' menghasilkan penderitaan, dan tidak bisa diperoleh dari 'nibbaana', "Biarlah 'nibbaana'-ku begini, biarlah 'nibbaana'-ku tidak begitu.'" Mengatakan, "'nibbaana' adalah 'diri'" berarti berpikir bahwa kita bisa mengubah kepadaman pribadi kita agar sesuai dengan selera kita, yang merupakan gagasan yang sangat aneh; tetapi mengatakan, "'nibbaana' adalah 'bukan-diri'" karena kita tergesa-gesa ingin memperbaiki pandangan salah bahwa "'nibbaana' adalah 'diri'", berarti mengatakan bahwa 'nibbaana' menghasilkan penderitaan--menghasilkan perubahan, kelapukan, dan kematian--; dan kita lolos dari api hanya untuk jatuh ke dalam penggorengan. Mereka yang berpegang pada pandangan "'nibbaana' adalah 'diri' sesungguhnya membuat kesalahan dua kali--mereka tidak memahami 'nibbaana' dan mereka percaya pada realitas 'diri'. Tetapi, sekalipun mereka yang berpegang bahwa "'nibbaana' adalah 'bukan-diri'" mungkin tidak percaya akan adanya 'diri', atau mungkin berpikir mereka tidak percaya akan itu, mereka masih mengacaukan 'nibbaana' dengan kelima kelompok, disadari atau tidak. Jika diingat bahwa 'diri' yang kekal abadi hanya terpikirkan dalam kaitan dengan kelima kelompok; bahwa sesungguhnya pikiran seperti itu salah, karena berdasarkan pada suatu tipuan, fatamorgana ontologis, ilusi "aku ada"; bahwa oleh karena itu kelima kelompok itu tanpa 'diri', tanpa suatu prinsip atau esensi yang tak berubah; dan, oleh karena mereka tidak memiliki prinsip atau esensi yang tak berubah, mereka tidak berdaya melawan ketidakkekalan dan mau tidak mau "menghasilkan penderitaan"--menghasilkan perubahan, kelapukan dan kematian--; dan bahwa ketakberdayaan terhadap perubahan ini adalah sifat dari 'bukan-diri'; dan jika diingat juga bahwa 'nibbaana' tidak mengandung kelima kelompok, lagipula permanen, maka tidak sulit melihat bahwa tiada apa pun merupakan 'diri', mengapa kelima kelompok itu 'bukan-diri', dan mengapa 'nibbaana' tidak dapat dikatakan 'diri' maupun 'bukan-diri'. Yang jelas, tidak ditemukan pernyataan dari Sang Buddha bahwa "'nibbaana' adalah 'diri'" atau bahwa "'nibbaana' adalah 'bukan-diri'" di dalam Sutta Pitaka. [bersambung] Catatan: Di sini Nanavira Thera meruntuhkan ajaran Abhidhamma Pitaka bahwa 'nibbaana' sebagai 'asankhata-dhamma' adalah 'anattaa'. /Hudoyo ========================================== Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com
