--- On Sun, 2/22/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: 50 tahun salah paham
To:
Date: Sunday, February 22, 2009, 7:11 PM
50 tahun salah paham
Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat
senior
istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang
ke-50.
Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting
seperti
para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta
seniman-seniman
terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta
kolega dari
kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun
perkawinan pun
berlangsung dengan megah dan sangat meriah.
Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak
acara,
yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati
kamuan
tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan
istimewa
dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak
lain adalah
sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang
mahal. Ikan
emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat
terkenal.
"Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi,
inilah
ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya
apa-apa
sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan
segala
keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan,
kemesraan,
kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat
senior dalam
pidato singkatnya.
Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin
tampak
khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil
piring,
lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas.
Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring
berisikan
potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya.
Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin
bertepuk
tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut
terbawa
oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.
Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar
isak
tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu
meledak
dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa
bahagia
mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang
pejabat
tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan
bertanya
Mengapa engkau menangis, isteriku?"
Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan "Suamiku
sudah 50 tahun
usia
pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan
suka
tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu
makan
kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak
kusangka, di
hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama.
Ketahuilah
suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai." tutur sang
isteri.
Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata
berkaca-kaca
pula, ia berkata kepada isterinya," Isteriku yang tercinta
50
tahun yang
lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku.
Aku
sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah
pada
diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras,
membahagiakanmu,
membalas cinta kasih dan pengorbananmu. "
Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi
Tuhan,
setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala
dan
ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan
emas
itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling
berharga
buatmu."
Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi "Walaupun telah
hidup
bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita
tidak
cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu
bagaimana
cara membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya
dengan
erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi
dan
mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.
Moral cerita diatas:
Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah
selama
bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada
saling
keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya
rawan
dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena
seperti
menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan
sebagai
ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka,
dan
ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan semakin tak
tertahankan
dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah seperti ini,
tentulah luka
yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa lebih
menyakitkan.
Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan
dilandasi
kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan
berpikir
positif.
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat
tersebut
untuk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu
kesempatan itu
saja untuk menjelaskan.
Oleh: Tidak Diketahui
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **
** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo!
Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/